Sahabatmu Nikah, Kamu Bagaimana?

Duh, lihat judulnya serem gak sih? Atau malah terkesan lebay? Ahahahaha! Apapun itu, kita pasti akan mengalami rasanya ditinggal sahabat atau teman dekat menikah, sedang kita sendiri dalam kejombloan yang entah kapan berakhir.

Namanya sahabat, kemana-mana seringnya bareng. Apalagi kalau satu kos, satu kelas kuliahnya, atau teman kerja. Wuiihhh! Aku pernah mengalaminya. Eh?!

Waktu itu usiaku 23 tahun 6 bulan. Sahabat dekat, satu kontrakan, teman curhat, teman makan, bahkan teman berbagi kamar. Banyak hal sudah dilalui bersama, senasib setakdir menanti jodoh. Tiba-tiba saja doi kasih kabar pekan depan akan menikah. Oh, dear! Rasanya sesuatu, kata incess Syahrini.

Kalau mau disebutkan, yang dominan adalah rasa bahagia, kemudian ada campuran nyesek, khawatir, sampai ingin menolak takdir. Ish, kalau ingat sesuatu bingits. Hewhewhew!

Tentang rasa bahagia, ini pasti. Akhirnya pangeran yang sering diobrolkan datang juga dengan kuda putihnya. Akhirnya konsep-konsep pernikahan yang menjadi impian akan segera digelar, bahkan konsep keluarga yang didiskusikan dengan sok serius akan diaplikasikan. Senang, bahagia akhirnya sabahat tercinta melepas status jomblo. Mungkin karena hawa pernikahan itu memang hawa membahagiakan, sehingga ikut senang.

Tentang rasa nyesek. Ini lebih ke diri sendiri sih. Tentang menerima takdir bahwa sahabat kita akan menikah dan itu artinya teman jomblo kita berkurang atau bahkan gak ada. “Duh, kapan ya giliranku?” Kepikiran itu.

Berikutnya, tentang khawatir. Khawatir nantinya akan main dan bareng2 sama siapa, merasa calon suami sohib kita itu adalah pencuri. Pencuri segala kebersamaan yang lebih dahulu erat bernama persahabatan. Dan ujungnya adalah merasa kehilangan. Duh!

Waktu itu aku baru tahu sohibku akan menikah tanggal 28 Oktober. Hanya seminggu sebelumnya aku dikabari. Rasanya seperti tidak dianggap, Idear! Hikz. Bayangkan saja, teman sekamar, seperjuangan di medan kejombloan! Susah cerita, senang bersama. Kantong kering bareng puasa, rezeki melimpah makan bersama. Tapi saat momen penting, kita dikasih tahu bareng undangan disebar. Fyuhhh, memang persahabatan ini apa? Itu yang aku pikirkan.

Ya, namanya merasa sebagai sahabat dekat, sohib kental gitu ya, ekspektasinya akan dapat share rahasia-rahasiaan gitu. “Eh, aku mau nikah, tapi jangan bilang-bilang dulu ya, doakan saja!” Kalimat macam itu misalnya yang ingin aku dengar. Bahkan kalau memang malu-malu tidak mau siapapun tahu sebelum dekat hari H, paling tidak H-1 menit dikabari dulu. Oh, lebay gak sih? Tapi penting bingits menurutku.

Lantas, apa yang aku pilih sebagai penyikapan kondisi saat itu?

Saat itu, saat campuran rasa bergemuruh di hatiku. eh, kayak nulis cerpen! Ahahahaha… Singkat kata, saat tahu sohibku itu akan menikah dan dikabari bareng launching undangan, saat campuran rasa muncul, aku memilih memeluk rasa yang mendominasi. Iya, rasa bahagia.
Aku memilihnya sebab aku berpikir, pernikahan ini adalah impian sahabatku, bahkan mungkin ini impianku juga, yang kurancang dengannya bersama-sama di tengah kegalauan kami menjalani biduk kejombloan. Eeaaa!

Aku sempat protes, “Kok gak bilang-bilang sebelumnya kalau mau nikah?”
Tapi setelah itu aku memilih tersenyum, memeluk sohibku dengan erat, dan mendoakan agar berkah prosesnya dan lancar hingga akad nikah (nanti setelah akad ada doa lain kan, jadi sampai akad dulu doanya).

Bahagia aku pilih sebagai rasa yang menyetir semua rasa. Agar rasa-rasa yang lain tertutup atau bahkan lenyaplah! Sudah sepatutnya kita berbahagia saat sahabat kita bertemu jodohnya.

Ceritaku masih berlanjut, Idear! Sudah susah payah dan dengan terengah-engah aku mengontrol rasa bahagia sebagai sopir rasa lainnya, saat walimahan, suami sahabatku itu berulah.

“Kapan nyusul, Ukh?” katanya.

Jediieerr! Pertanyaan macam apa itu? Malah diucapkan di ending acara lagi, sudah bersiap pulang, pamit kedua pengantin yang asyik poto-poto. Saat disamperin, disalam amplopi, eh, malah tanya seperti itu!

Sontak saja, sepertinya setir kemudi rasa bahagia diambil alih secara berebutan dan dimenangkan rasa nyesek. Ahahahaha…..

Nyesek, Idear! Di nikahan sohib, status jomblo belum terang sampai kapan bertahan, lha kok ya ditanya begitu.
Ada rasa kesal juga yang akhirnya membuatku menjawab, “Tahun depan insyaallah.”

Wow! Langsung heboh…. Tapi sebelum heboh, ada kata keramat dari pengantin, yaitu, “Aamiin!”

Dan ternyata benar, kejadian. Tepat di tahun depannya, di bulan yang sama, tapi beda tanggal aku menikah. Yeyyy!!!!
Sahabatku menikah di 28 Oktober 2012 dan aku menikah 20 Oktober 2013. Allah Maha Besar! Dialah yang menguasai segala kejadian di semesta, termasuk pesahabatan kami.

Jadi, Idear, saat ditinggal sahabat menikah, bukan berarti kita tidak sedih. Pasti ada, tapi tugas kita adalah berbahagia dalam kebahagiaan sahabat kita. Iya kan?

So, kalau kamu mengalami hal ini, sahabatmu menikah sedang kamu masih jomblo yang tidak jelas sampai kapan, maka pertama yang harus kamu lakukan adalah memanajemen hati, buat rasa bahagia sebagai sopir rasa2 lain yang ada.

Kedua, peluklah takdirmu dengan hangat! Saat ini, yang mendapat rezeki menikah adalah sahabatmu. Next time, rezeki itu akan datang padamu. Pasti, insyaallah. Jadi, tidak perlu mendominasikan rasa nyesek. Ada masanya masing-masing, ada momennya masing-masih, dan ini tidak dapat ditukar.

Ketiga, berlapang hati. Perlu a big heart untuk strong. Bersyukur akan membuat hati lapang, ikhlas dengan ketentuan akan membuat hati lapang, insyaallah. Nikmati saja masamu, pernak-pernik jomblo, betapa waktu memberimu keluangan u.banyak berkarya, kesempatan mematangkan persiapan bertambah, bahkan peluang menabung untuk pernikahan impian masih terbuka lebar. Intinya, nikmati saja apa yang Allah swt.kasih. niscaya Allah swt.akan tambah.

Tentang kekhawatiran. Semua itu tidak berdasar. Bahkan kalau kita mau merenungkannya, pernikahan itu membawa berkah. Jadi jika sahabat kita menikah, anggap persahabatan kalian akan kecipratan berkahnya. Aamiin.
Tidak ada yang namanya pencuri di gelanggang persahabata. Justru anggaplah mendapat sahabat baru. Belum kalau nanti krucil-krucil lahir, persahabatan kalian akan menggemuk. Weh…!

Cukup itu yang bisa aku sampaikan. Semoga bermanfaat yes! Salam penuh ide, Idear![]