Ada Apa dengan KAMMI

Desember tahun 2018 adalah masa-masa aku genap 5 tahunan purna dari gerakan mahasiswa bermana KAMMI. Selain bukan lagi mahasiswa, amanah KAMMI memang sudah berpindah estafet ke generasi selanjutnya.

Namun ternyata, penghujung 2018 mengantarkanku untuk mengemban amanah, menjadi delegasi PD KAMMI Jombang untuk bergabung dengan Gerakan 100 Tokoh Perempuan KAMMI. Ada semangat yang memuda, saat harus pulang ke rumah bernama KAMMI.

Dan Desember tahun kemarin memang masih beberapa hari saja berlalu. Tapi aku akan ceritakan bagaimana aku telah memilih KAMMI menjadi bagian hidupku sejak 19 tahun yang lalu.

Banyak yang berkata bahwa mahasiswa adalah pemuda hebat di masanya. Dia sanggup melakukan apapun dengan energi terbaiknya, tinggal memilih mau menjadi baik ataukah menjadi buruk. Berkutat dengan kegiatan positif ataukah berkubang dalam kenegatifan. Saat itu aku memilih dekat dengan teman-teman yang aneh (menurutku) berharap aku dapat berkutat dalam kebaikan.

Tahun 2007 mahasiswa menjadi gelar baru dalam hidupku, dengan segala drama yang menyertainya. Tak perlu kubahas disini yes. Belum banyak kata hijrah mendominasi dialog muda mudi saat itu, bahkan tentang hijrah dianggap hal tabu untuk dibahas bersama. Awal kuliah aku memilih aktif di HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika), bergabung kemudian dengan UKM Kerohanian Islam yang bernama PEMAS (Pemuda Islam) di tahun 2008.

Masih sangat ingat, aku dengan susah payah ikut kegiatan rekrutmentnya yang dipanitiai oleh 4 orang saja yang tampak di depan (ternyata semangat di belakang mereka luar biasa), terdiri dari yang kusebut Mbak Anik, Mbak Fina, Pak Pendik, dan Pak Yunus. Ada satu lagi sebenarnya, aku lupa namanya, tapi yang tampak perjuangannya adalah empat sosok itu. Saat itu aku bersama air mata ikrar kesetiaan anggota bertekad untuk semangat memperbaiki diriku dengan menggunakan islam sebagi cerminnya.

Banyak hal seru terjadi, salah satunya adalah terlibat di pergantian sulit nama UKM PEMAS(Pemuda Masjid) akhirnya berubah menjadi UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam). Hari-hariku di kampus lebih banyak tentang UKKI daripada kuliah itu sendiri. Pikiranku apalagi, aku begitu tertarik dengan hal tentang dakwah kampus dibandingkan mata kuliah-mata kuliah yang ada.

Hingga pada tahun 2009 aku mengenal KAMMI. Berawal dari banyaknya teman-teman UKKI yang ternyata masih rela berpeluh energi untuk dakwah di ekstra kampus. Karena ukhuwah akhirnya akupun dapat mengikuti kegiatan-kegiatan KAMMI. Sangat mudah, sebab waktunya lebih banyak di luar jam-jam kuliah, dan tempatnya di luar kampus yang masih sekitaran juga.

Setiap KAMMI mengadakan DM 1, aku ditawari untuk bergabung dan jawabanku adalah TIDAK. Alasannya macam-macam, mulai dari ingin fokus UKKI, khawatir terlalu banyak hal yang dipikir, KAMMI terlalu banyak ikut campur politik, dan lain-lain. Namun yang tidak habis pikir saat itu, meski tidak mau menjadi kader KAMMI, ternyata agenda-agenda KAMMI tetap aku ikuti.

Hingga di tahun 2010, aku ikut agenda yang bertajuk Bedah Buku “Mengapa Aku Mencintai KAMMI” yang mana pengisi acaranya adalah ustadz yang pada akhirnya menjadi ustadz terbaik bagiku, Ust. Fathoni. Bukunya masih baru terbit saat itu, dan sangat  ringan isinya. Sekedar kumpulan semacam diary kader KAMMI tengang itu tadi, perasaan cintanya pada KAMMI. Sebab kakak-kakak di KAMMI baik hati, aku dipinjami buku itu dan tentu saja aku membacanya.

Cintaku pada KAMMI muncul dari buku itu. Membacanya membuatku terinspirasi tentang membuka hati dan mulai menyambut energi cinta dari KAMMI. Akhirnya di tahun 2011 aku menjadi kader KAMMI. DM 1 kulalui dengan istilah DM 1 akselerasi, seperti apa? Kalau mau tahu kontak langsung aku yes! Hehehehe. Kemudian DM 2 kujalankan saat aku sudah selesai wisuda. Ikut PD Malang Raya yang saat itu diketuai oleh orang yang kemudian hari tampil di acara audisi stand up komedi.

Aku ada di KAMMI karena aku membaca dan berada di pelukan KAMMI aku membaca banyak hal. Tentang ukhuwah tanpa koma, kepemimpinan yang beradab, ketaatan yang utuh, hingga konflik yang teduh.

KAMMI mengajarkan aku tentang ukhuwah tanpa koma. Jeda dalam ukhuwah di KAMMI aku rasakan telah menghilang, tak pernah kujumpai. Bersama bukan lagi tentang organisasi semata, tapi lebih dari keluarga. Satu sakit, semua datang untuk menguatkan. Satu menang, semua datang untuk merayakan penub kesyukuran. Jika benar, dukungan penuh akan dihadirkan dan jika salah maka penyelamatan dilakukan habis-habisan.

KAMMI mengajarkan aku tentang kepemimpinan yang beradab. Bahwa jabatan tidak untuk diminta melainkan untuk diemban dengan tanggungjawab sepenuhnya. Menjadi pemimpin yang kemudian hari dilepas dan kembali berbaris sebagai prajurit adalah hal yang tidak untuk dirisaukan, sebaliknya itu adalah kewajaran yang harus dilaksanakan. Menjadi pemimpin dijalankan dengan penuh, menjadi prajurit dilaksanakan dengan utuh. Tak ada ajaran ambisius untuk sebuah posisi tertinggi, sebab yang terpenting bukanlah posisi melainkan kontribusi.

KAMMI mengajar aku tentang ketaatan yang utuh. Taat pada Allah swt. dan Rasul-Nya dengan utuh, taat kepada pemimpin yang ada dengan utuh, dan taat pada manhaj dengan utuh. Tentu saja aku tidak lepas dari pembangkangan dan sanggahan, namun ujung yang kudapat adalah pelajaran tentang taat yang utuh.

KAMMI mengajarkan aku tentang konflik yang teduh. Mustahil tidak ada konflik dalam kumpulan pikiran yang beda-beda. Namun, semuanya terselesaikan dengan teduh. Duduk bersama hingga pada kesepakatan tamat dan setelahnya baik-baik saja. KAMMI mengajarkanku betapa kerja-kerja dakwah sangat besar, memerlukan banyak energi, sehingga sangat rugi jika energi habis untuk hal-hal yang seharusnya dapat selesai dengan cepat. Apalagi jika untuk urusan internal, tentang ukhuwah yang koyak, atau bahkan untuk urusan pribadi.

Terakhir, KAMMI juga mengajarkanku tentang cinta yang lurus. Unik, selama aku di KAMMI, aku menyaksikan sendiri Allah swt.memasangkan banyak sekali hati dan hati kader KAMMI dalam ikatan sakral bernama pernikahan. Kehebohan menjadi kejutan tiap periode masa, setahun sekali bahkan lebih itu ada. Tiba-tiba dapat pengumuman untuk membantu pernikahan Ukhti A dengan Akhi X adalah hal biasa yang selalu mempesona. Ketua Komsat menikah dengan bendahara, Ketumda menikah dengan Ketua Bidang Perempuan, ini menikah dengan itu, selalu ada. Bahkan akupun mengalami. Ahahahaha! Iya, aku dan suami adalah kader KAMMI.

Lantas, benarkah Cinta Bersemi dalam Dakwah KAMMI?

Tentang ini aku akan bercerita kisahku, tahun 2009 aku mulai ikut kegiatan KAMMI, dan saat itu akupun memiliki sebuah kenalan nama sosok yang kemudian hari menjadi suamiku. Sebab batasan pergaulan laki-laki dan perempuan sangat dijunjung tinggi dalam KAMMI, maka saat itu tak ada komunikasi apapun antara aku dengannya. Nomor HP dia tentu saja aku simpan, tapi tidak pernah aku gunakan. Saat aku sudah menjadi kader KAMMI bahkan sudah diamanahi menjadi pengurus daerah saat itu, barulah aku komunikasi dengannya. Hanya 1 tema tentang organisasiorgan aku bahas, aku mengirim SMS tidak dibalas, karena penting telepon kulakukan tapi tidak diangkat, bahkan aku email juga tidak dibalas. Dan saat itu adalah komunikasi tak bersambut yang menjadi komunikasi satu-satunya hingga kemudian akad nikah terjadi, tahun 2013.

Teman-teman KAMMI yang saya kenal juga berkisah yang sama. Meski sama-sama dalam barisan dakwah KAMMI, tidak ada yang kemudian tahu bahwa mereka akan diproses dan menjadi suami istri. Pernikahan KAMMI utuh dalam bingkai islami yang indah. Melalui perantara orang shalih, para ustadz/ah, diproses dengan syar’i dan yang pasti bukan kami yang memilih, tapi Allah swt yang memilihkan KAMMI menjadi background pernikahan kami.

Apakah rasa kecenderungan antar kader tidak ada?

Tentang ini, aku akan kabarkan bahwa kami yang ada dalam kawah candradimuka KAMMI adalah pemuda-pemudi biasa. Hati kami bahkan lebih lembut dan tetap bergelora sesuai fitrahnya. Usia-usia jelang pernikahan yang ranum dan penuh pesona. Perasaan itu pasti ada, seolah terkagum dengan si A, meras GR karena si dia memberi perhatian lebih, ingin diperhatikan yang itu, tentu saja ada. Namun itu tadi, taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya kami junjung dengan utuh. Adab pergaulan kami jaga sekuat mungkin, manajemen hati diikhtiyarkan hingga titik darah penghabisan. Saling menjaga. Kami mungkin saling berdoa, harapan ada, tapi usaha untuk tidak membuatnya membuncah itu adalah utama. Bagi kami, ekspresi cinta terbaik adalah dengan penghambaan yang utuh kepada Pemilik Cinta.

Adakah yang gugur dari KAMMI karena masalah hati?

Ada pastinya. Beberapa temanku mengalami. Cinta tak bersambut berakhir pada gugurnyag dia dari medan dakwah KAMMIM atau bahkan cinta bersambut dan keduanya hengkang. Bukan karena dikeluarkan, tapi karena ia tidak sanggup bertahan.  Merasa stigma menempel, malu yang tebal mungkin, lalu tidak sabar menunggu waktu sebagai penyembuh keadaan, akhirnya memilih mundur. Namun hal mendasar sebenarnya adalah pada niatan. Jika niat bergabung di KAMMI adalah karena Allah swt. maka rintangan apapun, terjatuhnya hati sekalipun tidak akan membuatkan hengkang dari barisan mulia ini. Jatuh dalam lubang salah adalah hal yang mungkin dialami. Saat sudah jatuh, pilihannya hanya dua: Hengkang atau bertahan. Jika memilih hengkang maka usai sudah, kereta dakwah akan melaju tanpamu, namun jika memilih bertahan, maka inilah kader dakwah sesungguhnya.

Tidak adakah pelanggaran di KAMMI?

Ada, bahkan banyak. Namun yang menjadi sorotan bukan kekhilafan yang dilakukan melainkan besarnya usaha pertaubatan. Yang menyalahgunakan amanah ada, namun perbaikannya yang menjadi prioritas. Bagaimana kader KAMMI menerima kesalahannya kemudian berusaha memperbaiki diri, inilah point pentingnya. KAMMI mengajarkan padaku, bahwa kesalahan diri itu untuk diterima sebagai kesalahan, setelah itu mengiringinya dengan pertaubatan dan berbagai kebaikan-kebaikan yang mampu dilakukan. Kesalahan bukan untuk dibela habis-habisan dengan terang-terangan, cukup diterima dan diazzamkan untuk perbaikan.

Ah, berbicara tentang KAMMI tak ada habisnya. Kucukupkan saja sampai disini. Sebagai penutup aku ingin sampaikan bahwa perjuangan KAMMI itu mulia, mahasiswa, pemuda terbaiklah yang ada di dalamnya. Maka istiqomahlah, wahai hati yang telah menetapkan pilihan pada KAMMI! Allah swt. adalah alasan kita bertahan, dengan demikian tak akan sanggup kecewa tengang manusia menggoyahkannya. Jikapun ada keterjatuhanmu di dalamnya, akuilah kamu sedang jatuh dan segeralah bangkit memperbaikinya!

Salam Mahasiswa Muslim Indonesia!