Anak Sakit, Harus Bagaimana?

 Terakhir aku nulis dengan judul de javu Dzulki. Iya, Dzulki harus opname lagi. Sebulan opname dua kali. Kalau boleh aku menyebut, dalam bulan ini ujianku adalah tentang kesehatan. Semua ibu pasti sepakat, andai saja sakit itu bisa berpindah, inginnya sakit si kecil dialihkan saja. iya kan, Bun?

Sepulang dari opname tanggal 12 – 18 Februari, kondisi Dzulki stabil. Dia bahkan mengalami nafsu makan yang sangat baik, kelewat baik malah. Sehari bisa makan lebih dari tiga kali dan kebingungan cara menghentikan keinginannya unutk makan. Sayur yang biasanya sulit mendadak lancar begitu saja dia nikmati. Hingga tepat dua pekan setelah masa-masa menyenangkan itu, dia harus kembali demam, batuk, pilek, dan lemas.

Aku sudah pernah dapat info jika pneumonia atau radang paru-paru untuk anak usia Dzulki bisa saja kambuh, hingga nanti seiring bertumbuhnya dia, maka kekuatan tubuhnya akan terbentuk dan penyakit ini akan hilang. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka jika akan dia alami lagi dalam rentang waktu yang pendek, 2 pekan saja.

Karena merasa sudah tidak mau lagi kembali berhubungan dengan rumah sakit, maka berbagai cara untuk sembuh dilakukan. Mulai dari pijat, membeli berbagai macam herbal, bahkan berbagai obat dibeli. Tidak bereaksi hingga hari kelima, berangkatlah ke dokter umum yang praktek di rumah.

Aku menyampaikan riwayat sakitnya, bahwa dia punya asma dari usia 5 bulan dan tiga pekan yang lalu dia ada radang paru-paru. Hasilnya adalah Dzulki harus menghindari berbagai hal yang memicu alergi, mulai dari es, coklat, hingga suusnya harus berganti soya. Aku ikuti saja saran dokter, pulang periksa langsung beli susu soya. Tidak ada masalah, Dzulki masih mau-mau saja minum susunya, meski ternyata susu soya memiliki bau yang lebih menyengat.

Kondisi Dzulki memuncak setelah esok harinya tidak ada perubahan. Demamnya masih tidak mau turun, batuknya masih terus, pileknya apalagi dan dia mulai asma. Rasanya sudah tidak snaggup melihat kondisinya. Aku sering mencuri-curi saat untuk menyendiri, aku butuh ruang sepi untuk menangis.

Mendengar Dzulki batuk sedemikian rupa rasanya tidak tega, terbayang sakitnya, sesaknya, dan semua sakit yang dia rasa.

Semua ibu pasti merasakan, aku ingin menyerah, tapi anakku sedang berjuang untuk sembuh. Mau mengadu sama Allah swt. bahwa sudah tidak kuat rasanya tidak pantas, tapi kondisinya benar-benar sudah diambang kesanggupanku.

Terus istighfar, hanya itu yang bisa kulakukan. Sambil terus menguatkan Dzulki, berusa amemberi dia ketenangan agar kondisinya membaik.

Sore, sekitar jam 16.00, dibonceng suami, kami ke RS Muslimat. Ini adalah ikhtiar puncak yang bisa kami lakukan. Ada optimis tidak akan opname, namun jika pun harus opname kami akan menerima.

“Ibu, kita mau kemana?” tanya Dzulki saat motor akan dilajukan ayahya.

“Kita jalan-jalan ya, nanti mampir rumah sakit untuk periksa ke dokter!” jawabku dengan menahan air mata.

Dzulki mengangguk, “Aku main pasir (ajaib) ya!”

Aku memeluknya erat. Sepanjang perjalanan dia lemas, sesekali matanya tertutup, sayu.

Mengambil antrian dokter siaga, Dzulki diminta cek lab. Magrib, jelang dokternya salat magrib, hasil lab dibacakan.

“Ibu, harus MRS, lain kali tolong tidak diulangi ya, Bu. Demam tiga hari langsung cek lab!”

Aku lemas mendengar itu. “Bolehkah rawat jalan, Dok?” kataku mencoba menawar.

“Saya tidak berani, Bu,” jawab dokternya

“Sakitnya apa, Dok?”

“DBD dan Typus. Trombositnya sangat rendah, saya tidak berani lepas. Kalau tidak di rumah sakit ini tidak apa-apa, yang penting MRS.”

Aku sudah manangis, Dzulki kuserahkan ayahnya. Ayahnya menggendongnya sambil berusaha mengode agar aku kuat dan tidak menangis.

De javu kembali terjadi, kami tidak mendapatkan kamar sesuai dengan BPJS yang kami punya. Aku mebali menelepon beberapa rumah sakit, namun belum rampung, suami sudah menghentikan.

“Disini saja, tanpa BPJS! Lebih nyaman buat semuanya,”katanya.

Dan kembalilah kami harus menginap di rumah sakit. Dzulki kembali dipasang infus dan dengan segala hal yang tidak siap, kami bermalam di rumah sakit sampai lima hari ke depan.

Aku tidak akan membandingkan bagaimana fasilitas rumah sakit, jelas berbeda, yang jelas keduanya saya rasakan sangat pelayanannya, dengan segala keterbatasan masing-masing. Semewah apapun fasilitas, rumah sakit adalah tempat untuk banyak-banyak istighfar. Sebab sakit adalah ujian.

Dzulki sakit, aku yakin utamanya ini adalah ujian bagiku dan suami. Jika sakit adalah pelebur dosa, maka ini lebih ditujukan padaku dan suami. Dzulki di usianya sekarang pasti bersih, tapi orangtuanya? Aku dan suami benar-benar meraba, kelalaian iman, ibadah, kedekatan dengan Allah swt., dan banyak hal lagi yang harus diperbaiki. Allah swt. ingin menegur lalai yang sebelah mana, Allah swt. ingin memperbaiki sisi yang mana, semuanya adalah untukku dan untuk suami.

Sebab sakit adalah kondisi yang tidak bisa dipisah dari spiritual, rukhiyah kita. Obat dan dokter adalah bagian dari ikhtiyar, sedangkan kesembuhan datangnya dari Allah swt. segala ikhtiyar yang kita lakukan bukanlah penyebab sakit itu hilang dan berganti kesembuhan, itu hanyalah bagian dari ikhtiyar.

Aku maish ingat saat jelang opname di RSUD. Jam 17.00 Dzulki cek lab, trombositnya 81.000 dan dokter sudah memintaku membawanya ke IGD untuk mendapat pertolongan lanjutan. Sampai di IGD RSUD jam 19.00 kemudian sekitar jam 20.00 cek lab kembali dilakukan ternyata hasilnya negatif semua.

“Bagaimana bisa, Dok dalam waktu tiga jam hasilnya berbalik?” tanyaku ke dokter IGD saat itu.

Ya, aku heran, dalam rentang waktu sekitar tiga jam hasil berubah. DBD dan typus yang didiagnosa awal menjadi negatif. Padahal dalam rentang waktu itu Dzulki hanya minum air putih saja itu pun beberapa teguk tanpa makan apapun. Hanya memang selama rentang tiga jam itu, aku terus beristighfar, dan mengajak Dzulki berdoa.

Apalagi yang bisa kulakukan di saat genting begitu selain baca istighfar. Baca Al-Ma’tsurat rasanya sudah kebingungan, mengamalkan surat-surat pendek juga sudah panik duluan, hanya bisa istighfar, dan Dzulki terus kubimbing untuk membaca hafalan yang dia ingat, smabil terus berdoa minta kesembuhan. Aku percaya kekuatan istighfar, dan dalam kondiis itu aku merasakan efeknya.

Begitupun saat opname kedua, di RS Muslimat. Dzulki MRS dengan trombosit 91.000, dan keesokan harinya trombositnya turun.

“Ibu, tolong susunya ditelateni ya, trombositnya Adik turun,” kata perawat.

Aku langsung beristighfar. Dzulki memang cukup sulit untuk makan dan minum. Aku berusaha tenang, sembari memaklumi sebab ini baru hari pertama di rumah sakit. Akhirnya ada aide untuk beberapa hal, seperti meminta ayahnya pulang mengambil extrafood dan sari kurma HPAI, membeli angcu, memberinya makan ikan lele, daging bebek, dan lain-lain.

Namun, aku sadar betul bahwa semua itu butuh proses, harus beli dan lain-lain, akhirnya aku memutar murotal al-ma’tsurat, mulai mengajak Dzulki mengaji, dan terus membacakan doa ke ubun-ubunnya:

“Allahumma anta syafi, isyfi Dzulkifli Halvi Amrulloh bin Yuhyihal Amirulloh. Laa syifa’a illa syifa’uka syifa’an laa yughadiru saqamaa”

Itu terus kulakukan. Sambil istighfar saat sudah tidak kuat mengucapkan doa dan wirid pagi-petang itu.

“Ayo, Nak, kita minta sama Allah agar Dzulki segera sembuh!” Begitu terus aku memotivasinya.

Qadarullah, sore jelang ashar, dokter spesialis anaknya visit, dan bilang, “Ibu, ini tadi sudah saya cek, ternyata DBD negatif. Kita fokus pada pengobatan radangnya ya!”

Allahu Akbar!!!!!

Aku benar-benar tidak percaya, bagaimana bisa? Padahal Ayahnya lupa, tidak membawa segala pesananku yang kurencanakan, seperti sari kurma, extrafood, dll. Dia tidak mau makan nasibsama sekali, susunya dengan memaksa baru mau minum.

Allah berkehendak terjadi maka terjadilah.

Kisah ini kutulis untuk sharing. Dimanapun pasti para bunda mengalami hal yang mirip denganku. Semoga ini menjadi salah satu referensi cara yang bisa ditempuh saat anak sakit. Intinya adalah pada keyakinan hati bahwa sakit ini adalah cara Allah swt.memeluk kita, agar hubungan kita dengan-Nya menjadi lebih hangat. Oleh karenanya, kekuatan rukhiyah berperan penting dalam pengobatannya. Banyak istighfar, dan libatkan Allah swt. sebagai penentu keberhasilan ikhtiyar kita.

Semoga bermanfaat!

Suatu hari nanti, kamu akan membaca ini, Nak. Semoga menjadi catatan manis untukmu!
*Dzulkifli Halvi Amrulloh*