Kemudahan dalam Kesulitan

Kemudahan dalam Kesulitan

Tulisan ini jadi pada tanggal 30 Maret, pekan pertama perpanjangan masa darurat bencana wabah covid-19. Ada banyak hal yang telah kita lalui dalam dua pekan terakhir ini. Semoga membawa keberkahan dan hikmah istimewa bagi hidup kita.

Sedikit curhat, sebelum pembahasan ini saya sampaikan. Saya sendiri, sempat jatuh dalam masa darurat dua pekan kemarin. Pekan pertama saya terserang psikosomatik hampir tiap malam dan hendak keluar rumah. Ada rasa ketakutan yang luar biasa, membayangkan orang-orang terdekat saya mengalami hal-hal buruk.

Pekan kedua, saya mulai berdamai. Menenangkan diri, menata amanah-amanah yang sempat tak maksimal di pekan sebelumnya.
Nah, di pekan ketiga, saya berharap tidak ada lagi psikosomatik dan apapun yang menghambat saya untuk menjalani masa-masa sulit ini. Saya targetkan, mulai pekan ini untuk bangkit.

Saya menceritakan ini dengan harapan, andaikata ada yang mengalami hal serupa, semoga segera bangkit dan berjuang. Setiap orang memiliki masa terjatuh. Kemudian dia menikmati segala lukanya. Namun, jeda jatuh itu jangan lama-lama. Percepat dan teruskan perjuangan. Apapun bentuk kesedihan itu.

Saya akan membagikan kisah Nabi saw yang termaktub dalam tafsir QS. Asy-Syarh. Surah yang sangat kita hafal. Bahkan di surah itu ada bunyi kalimat yang diulang dalam 2 ayat.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh:5-6)

Surah ini mengisahkan kondisi Muhammad saw yang merasa gelisah dan cemas atas reaksi kaumnya terhadap dakwah yang diserukan. Kemudian, Allah swt menghibur dengan melapangkan hati beliau dengan janji pertolongan dalam perjalanan dakwah yang dinisbahkanNya.

Dalam setiap kesempitan, terdapat kelapangan. Dalam setiap kekurangan sarana untuk mencapai suatu keinginan, terdapat pula jalan keluar. Kunci untuk mencapai itu adalah berpegang pada kesabaran dan tawakal kepada Allah swt.

Dalam tafsirnya disebutkan, ayat ini seakan-akan menyatakan bahwa bila keadaan telah terlalu gawat, maka dengan sendirinya kita akan keluar dengan selamat dari kesusahan tersebut, dengan melalui segala jalan yang ditempuh, sambil tawakal kepada Allah swt.

Jadi, jangan mengeluh, kapan datangnya kemudahan, kapan selesainya kesempitan ini, dan seterusnya. Fokuslah pada satu hal: syukur.

Dalam surah ini, cara bersyukur seorang mukmin adalah dengan tekun beramal salih dan tawakal. Tekun beramal salih sambil tawakal diwujudkan dengan terus beramal. Setelah selesai satu urusan, segera beralih pada urusan selanjutnya. Mengapa begitu?

Karena terus beramal salih akan membuat jiwa menemui ketenangan dan kelapangan hati.

Mari ambil hikmah dari surah ini. Dalam masa-masa sulit ini. Covid-19 bukan sekadar bencana wabah, tapi juga bencana sosial, bahkan bencana mental. Imun jasadiyah, imun ruhiyah, dan imun fikriyah harus seimbang.

Sudah banyak informasi mengenai menjaga kesehatan dan kebersihan sebagai wujud penguatan imun jasadiyah. Begitu pula dengan imun fikriyah. Berbagai informasi banyak diposting di berbagai media sosial. Bahkan, para psikolog sudah bersama-sama melayani konsultasi agar secara mental masyarakat kuat.

Nah, sudah saatnya kita mengambil peran untuk menguatkan ruhiyah. Mari mulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang sekitar kita yang dapat kita jangkau. Kuatkan ruhiyah dengan rasa syukur. Tekun beramal salih, istilah kekiniannya adalah produktif. Ayo, produktif dimana saja!

Sekalipun mobilitas terbatas, kita harus tetap produktif. Targetkan hal baik dengan sebaik mungkin.

Kelak, saat bencana wabah ini berakhir, kita akan kembali normal. Jangan sampai kita bingung akan melakukan apa setelah begitu lama membatasi mobilitas, di rumah saja.

Anggaplah saat ini adalah masa untuk mengumpulkan kekuatan, sehingga kita akan keluar dari masa sulit ini dengan mempersembahkan karya terbaik kita.

Apa saja yang bisa kita lakukan, masing-masing kita pasti bisa merumuskan. Intinya, mulai targetkan diri untuk menekuni amal salih. Jangan lupa, disambi dengan tawakal. Sebab Allah swt adalah satu-satunya Penguasa Alam Semesta.

Wallahu’alam bish shawwab.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

With loveūüíôūü§ó

Menulis

Menulis

Setiap orang pasti memiliki motivasi dalam bertindak, termasuk menulis. Pasti ada hal yang yang membuat menulis itu istimewa, dan motivasiku menulis ada minimal 3 hal, yaitu:


Pertama, menulis itu cara santun menghargai kenangan.


Ya, bagiku kenangan adalah bagian penting dari proses kehidupan. Partikel-partikelnya menyusun capaian hidup saat ini, bahkan untuk masa yang akan datang. Apapun rasa yang dia hadirkan, bahagia, puas, latihan sabar, menerima kecewa, bahkan kehilangan. Semuanya adalah bagian terbaik dalam kehidupan kita.
Hebatnya lagi, kenangan satu orang saja, dapat menggugah, memotivasi, bahkan menginspirasi banyak hati. Kisah yang mungkin secara umum sama, namun bisa saling mengajarkan, saling mendidik, bahkan saling menguatkan satu sama lain.

Karenanya, cara yang kupilih untuk menghargai kenangan adalah menulis. Pelajaran tentang menulis yang pertama kali aku dapat adalah menulis dengan jujur. Sejak saat itu, aku tergugah untuk menulis dengan ringan, jujur, tanpa mengada-ada.

Kejujuran memberi dampak langsung pada tulisan kita. Kepercayaan pembaca akan kejujuran tulisan kita adalah modal terbaik untuk tersampaikannya amanat tulisan kita.

Membingkai kejujuran dalam tulisan adalah proses kreatif dalam menulis. Berkisah dengan jujur, embari menjaga adab dan nilai-nilai kehidupan adalah bentuk kita menghargai kenangan.

Ini, benar-benar memotivasi aku untuk terus menulis, menuliskan kisahku, pengalamanku, dan juga ide-ideku sebagai upaya menghargai kenangan dengan santun. Membuatnya lahir sebagai karya yang mengantarkan jiwa untuk berkontemplasi, menginspirasi, juga menguatkan banyak hati di luar sana.

Dua, menulis itu cara ampuh mengendapkan hikmah.


Tebaran hikmah dalam hidup ini sangat berlimpah. Apapun yang hadir pada kita memiliki hikmah. Baik itu yang secara langsung hadir untuk kita maupun untuk orang-orang sekitar yang masih terjangkau oleh kita.


Hikmah yang terserak dengan sangat berlimpah itu agaknya memerlukan kepekaan. Melatih hati untuk peka terhadap hikmah yang dikaruniakan Allah swt. adalah kemuliaan. Sebab hati yang peka akan mampu mengendapkan hikmah dalam jiwa.


Menulis adalah cara ampuh mengendapkan hikmah. Banyak sekali pelajaran-pelajaran hidup yang berhikmah, namun mengingatnya sepanjang waktu itu ada batasannya. Batasan itu adalah kelenyapannya yang tak meninggalkan beban apapun.

Menulis membuat kita terpaku, termangu, dan sampai ter mengendap di hati kita, inilah keniscayaan

Salah satu cara ampuh mengendapkan hikmah adalah menulis. Aku benar-benar mengakui, banyak tergugah nilai-nilai hikmah setelah membaca sebuah tulisan. Tulisan begitu kuat mengantarkanku pada proses kontemplasi terbaik dalam mengambil hikmah sebuah hal kemudian mengendapkannya di hatiku.

Tulisan sangat ampuh membuatku menyesap hikmah. Itulah mengapa aku menulis. Berupaya untuk mengantar orang lain menyesap hikmah dari tulisan yang kubuat.


Tiga, menulis itu bersama menuju surga.

Saya selalu sampaikan di kelas menulis yang saya ampu, bahwasanya menulis itu bebas, tidak perlu takut salah dan jelek, sebab tugas kita adalah menulis. Kita tidak akan pernah tahu apakah tulisan kita jelek atau salah sampai kita menyelesaikannya dan mempublish-nya. Oleh karena itu, menulislah!

Satu yang membedakan dari aktivitas menulis saya adalah tentang kebermanfaatan. Menulis apa saja, yang penting bermanfaat. Saat disuguhkan kepada pembaca punya nilai manfaat, minimal yang disampaikan adalah kebenaran.


Bagi saya, ide tulisan ada rezeki dari Allah swt.. Karena rezeki, maka tidak boleh disia-siakan. Menyelesaikannya hingga tuntas, jadi sebuah tulisan yang utuh adalah tanggung-jawab kita. Jadi, itulah mengapa, jika ada ide tulisan kemudian di tengah jalan macet atau bertemu ide lain, maka boleh beralih menulis yang lain, namun dengan tekad akan menyelesaikan yang belum rampung.

Menulis adalah aktivitas surga. Melalui tulisan kita bisa menyesap nikmat surga, insyaallah. Tulisan yang bermanfaat dan terbaca, kemudian teramalkan dapat menjadi amal istimewa buat penulisnya. Kebaikan yang kita tulis kemudian diikuti oleh banyak orang, pembaca, sungguh luar biasa. Kebenaran yang menyadarkan, menggugah pembaca, masyaallah, ini bisa membuat kita ke surga bersama-sama.

Ya, menulis itu bersama menuju surga. Aamiin, Insyaallah![]

Sakit Gigi Saat Hamil Dzulki

Sakit Gigi Saat Hamil Dzulki

Tentang lirik lagu yang melegenda, “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”, aku sama sekali tidak sepakat. Sebab nyatanya, aku lebih berhasil bertahan saat sakit hati daripada sakit gigi. Ini serius,. No bokis. No kaleng-kaleng.


Alhamdulillah, aku sangat jarang sakit gigi. Pertama sakit gigi, saat itu aku kelas IV SD. Sakitnya sejak maghrib sampai keesokan harinya. Tidak makan obat oral saat itu, hanya pipiku dioles minyak tawon semalam suntuk. Sakitnya? Duh, jangan ditanya! Sakitnya kelas IV SD, rasa sakitnya masih terus terkenang sampai sekarang.


Cenut-cenutnya luar biasa. Dipakai tidur malah ritmenya jelas sekali, dipakai nonton film kesukaan tidak mempan, bahkan mendengar orang berdialog rasanya ingin marah.


Sendirian di kamar dengan cenut-cenut rasanya nelangsa. Ingin diperhatikan, tapi siapa juga yang menjenguk orang sakit gigi? Ingin ditemani, tapi tiap melihat orang yang baik-baik saja, apalagi mengajak bicara, rasanya ingin marah saat itu juga.


Sakit gigi kembali aku alami, untuk yang kedua kalinya adalah saat aku hamil Dzulki. Seorang temanku pernah berbagi pengalaman, dia sakit gigi hanya saat mengandung saja. Usai meahirkan, gifi yang sakit copot dengan sendirinya.


“Anak empat, ya, empat gigi copot,” begitu katanya. Serem banhetz ya!!!?


Konon, kata Mbah Putri saat melihat gigiku, beliau memprediksi aku bakalan jarang sakit gigi. Gigiku, tambah beliau, adalah jenis gigi yang kuat, tidak sensitif.
Dan, setelah masa kanak-kanakku berganti menuju masa emak-emak, ternyata aku kembali sakit gigi. Di usia kehamilan yang baru dua minggu, gigiku tiba-tiba sakit.


Cenut-cenutnya tidak sedahsyat saat aku kelas IV SD, tapi karena hari itu aku ada jam mengajar full, benar-benar full dari jam pertama sampai jam terakhir, maka kelelahan membuat sakit gigiku terasa lumayan. Sampai di jam keempat selesai, aku memutuskan ke dokter.

Diantar suami waktu itu, tapi hanya diantar, sebab jam pelajaran menantinya. Tentu saja, dengan janji menjemput setelah 2 jam pelajarannya selesai. Aku berhitung kebiasaan ke dokter gigi, waktunya akan pas, pikirku.
Dental Care yang kukunjungi tidak seberapa ramai. Oh, ya, ini adalah pertama kalinya aku ke dental care. Namanya apa aku lupa. Biasanya aku ke klinik faskes 1 BPJS, tapi berhitung antrian, maka aku putuskan ke dengal care.

Setelah registrasi, aku diajak masuk ke ruang dokter. Masyaallah, ruangannya bagus sekali. Nyaman, sejuk, harum, dan tentu saja, dokternya ramah sekali. Ah, lagi-lagi aku lupa nama dokter cantik yang bermata sipit itu.


Aku mendapatkan pelayanan prima. Begitu duduk di kursi khusus itu, monitor di depanku menyala. Gigiku jelas tampak di layat yang cukup luas itu. Bahkan sangat detail.


“Bagus semua giginya, Mbak. Bersih‚Ķ” pujinya. Sayangnya pujian tidak meringankan cenut-cenut gigiku.


“Tapi ini sakit, Dok,” keluhku.
Dokter cantik itu mulai memeriksa seluruh gigiku dengan detail. Sesekali memakai memintaku berkumur.

“Sebelumnya pernah sakit gigi?”
Aku mengangguk, “Saat kelas empat, dan baru ini terjadi lagi.”


Dokternya manggut-manggut.
“Apakah pengaruh kehamilan ya, Dok?” tanyaku sambil santai leyeh-leyeh di kursi khusus itu.


“Mbak lagi hamil?”


Ekspresi dokter lucu. Rupa-rupa ekspresinya saat aku mengangguk sebagai jawaban. Pikirku dokter itu tidak percaya, sebab memang saat itu BB ku hanya 36 kg.

“Berapa bulan?”


“2 pekan, Dok.”


Seluruh peralatan praktik langsung terlepas dari jangkauan, dokter itu langsung kembali ke kursinya.


“Kita belum bisa observasi lebih jauh, Mbak, sebab bahaya bagi kehamilan. Diagnosa saya, gigi bungsu mau tumbuh.”


“Tapi sakit, Dok,” rengekku.


“Saya tidak berani, Mbak. Sembilan bulan lagi, setelah melahirkan balik kesini ya, kita lihat lagi,” jelasnya dengan ramah.

“Tidak ada obatnya, Dok?”

“Saya resep obat kumur, nanti pulang dipakai satu kali setelah itu stop!”

Akhirnya aku mengangguk. Menyerah, undur diri dari ruang dokter yang nyaman itu.

Seorang berbaju perawat menghampiriku, memintaku duduk menunggu obat yang diresepkan. Obat apa? Obat kumur. Hehehe….


Tak lama, aku dapat juga obat kumurnya dan tak lupa pesan penting: minum sekali, hentikan!


Tibalah aku ke kasir untuk pembayaran, aku sudah siapkan lahir batin untuk kesembuhan sakit gigiku. Aku siapkan budget sekitar sejuta untuk itu.

Melihat kondisi tempat, fasilitas, pelayanan yang sangat mewah, pasti harganya kisaran 1-2 juta, pikirku. Dan ternyata oh ternyata…..


“Sepuluh ribu, Mbak.”


Aku masih tidak percaya. Sepuluh ribu?

“Biaya konsultasinya, Mbak?” Tanyaku.

“Free, Mbak, sebab dokternya belum melakukan apa-apa. Kalau hamil jamgan ke dokter gigi ya, Mbak!”

Heheheeee…. Mana aku tahu coba.


Yup, aku keluar dari dental care super mewah hanya habis uang sepuluh ribu saja. Fantastis!!!!


Karena tidak mungkin menunggu jemputan, maka aku balik ke tempat kerja naik becak. Haduuhhh, ada-ada saja, ke dental care bayar sepuluh ribu, pulang naik becak, duduk sendiri sambil memangku helm seolah sudah hamil 9 bulan. Wkwkwk…. tapi bumil kan selalu benar. Hewhew!


Akhirnya, aku memutuskan untuk sedekah ke tukang becak. Sambil yerus berdoa agar segera sembuh.


Sampai di tempat kerja, semua heboh mendengar aku bercerita pengalamanku. Bahkan ada yang keesokan harinya ke dental care hanya karena tergiur dengan ceritaku. Pelayanan keren, harga murah pakai bingitz.


Seminggu kemudian saat aku sudah bebas dari sakit gigi, Bu Yoni, teman sejawatku heboh sendiri.


“Bu Syilviiiii‚Ķ‚Ķ Sepuluh ribu apanya????!!!!”


“Iya, sepuluh ribu‚Ķ. Bu Yoni dari sana?” Tanyaku.

“Iya, kemarin.” Wajahnya kusut menjawabnya


“Habis berapa?” Tanyaku


“Tujuh ratus ribu, belum perawatannya.”
Haaaaa!!!!!


“Tapi bagus kan?”


“Iya, Bagus. Tapi mahal‚Ķ..” Wajahnya memelas.


Aku nyengir saja. Memang aku benar kan ya, pengalamanku hanya bayar swpuluh ribu saja.


“Bu Syilvi sembuhnya pakai apa?”


Akunya senyum-senyum.


“Periksa ke bidan, habis tiga puluh tiga ribu.”


Semua yang menyimakku langsung tepuk jidat.[]

Tahun kelima Menjadi Seorang Ibu

Tahun kelima Menjadi Seorang Ibu

Hari ini, 9 Oktober. Di tanggal yang sama, Dzulki lahir, dan otomatis membuatku berpredikat sebagai seorang‚Äúibu‚ÄĚ. Banyak hal luar biasa yang kunikmati terkait keberadaannya dalam hidupku.

Sejak dia bisa diajak berkomunikasi, aku sering menemukan keunikan darinya. Mungkin setiap anak di fasenya mengalami gaya bahasa dan proses berpikir yang sama, namun, tetap saja, momentum keunikan Dzulki sepertinya perlu kutulis. Setidaknya, ini dapat menjadi sebuah tanda cinta yang kelak mampu memotivasi dia. Mungkin saat dia sudah tumbuh besar dan aku telah menua. Hehehe….

Beberapa dialog kami biasanya aku posting di status WA. Beberapa teman merespon: Kenapa tidak dibukukan saja.

Ah, benar! Tapi sayangnya banyak yang sudah lupa. Beberapa yang sempat kucatat dan kuingat sementara beberapa hal berikut ini:

Air Rasa Kuda

Di suatu acara, aku mengisi ulang botol air minum dari gallon air yang gucinya bergambar dua ekor kuda. Dzulki membuntutiku, kemudian mengamati gallon yang krannya mulai kubuka untuk mengisi botol.

Dzulki    : Bu, ini rasa kuda ya? (Tanyanya sambil menyentuh guci bergambar kuda.

Ibu         : (Nyengir saja, fokus mengisi air terpecah untuk mencari jawaban untuknya)

Dzulki: Aku nanti mau merasakan air rasa kuda.

Ibu         : (mengangguk dan menahan tawa)

Film Anak-Anak

Sore itu, Dzulki sedang menonton Film Upin dan Ipin di TV. Buyutnya berbaring di kasur depan TV seperti biasanya, sednagkan aku asyik bersih-bersih dapaur. Tiba-Tiba Dzulki berlari menghampiriku.

Dzulki    : Ibu, Buyut itu sudah besar ya?

Ibu         : Iya.

Dzulki    : Tapi kenapa buyut nonton film anak-anak?

Hahahahaha!

Bayi Tinggi

Entah apa yang sedang merasukinya, sore itu Dzulki lagi manja, minta gendong.

Ibu: Masyaallah, ada bayi gede minta gendong!

Dzulki: Aku bukan bayi gede.

Ibu         : Terus apa kalau bukan bayi gede? Bayi besar?

Dzulki    : Bukan. Aku lho bayi tinggi.

Hehehehe…

Cita-Cita

Ibu         : Dzulki kalau sudah besar  mau buat apa?

Dzulki    : Buat kereta panjang yang bisa terbang.

Ibu         : Masyaallah! Terus, Mas Dzulki jadi apanya? Sopir kereta terbang itu?

Dzulki    : Bukan, aku jadi polisinya.

Mikir sih, polisinya punya pos polisi di udara atau bagaimana ya? Hewhew….

Marka Jalan

Saat perjalanan ke sekolah, lampu merah menyala.

Dzulki    : Bu, kenapa tidak ada garisnya?

Ib            : Garis apa, Ki?

Dzulki    : Garis itu kan harusnya ada disini. (sambil menunjuk aspal tempat ban motor bagian depan menempel).

Ibu         : O, itu. Garisnya ada, tapi hilang.

Dzulki    : Kenapa bisa hilang?

Ibu         : Sebab kena hujan dan panas matahari.

Dzulki    : Kenapa tidak dicat lagi?

Ibu         : Iya juga ya?

Dzulki    : gak punya uang mungkin buat beli cat.

Hahahaha!

Susu Panda

Saat di tempat belanja

Dzulki    : Bu, aku boleh beli susu panda?

Ibu         : Itu namanya susu beruang, Ki.

Dzulki    : Bukan, ini ada gambarnya panda.

Ibu         : Beruang, Ki.

Dzulki    : Panda, Bu. Pandanya sedang duduk pegang air di gelas. Lihat!

Ibu         : Itu segelas susu, Ki.

Dzulki    : bukan, ini air. Susunya kan ada di dalam kaleng.

Ibu menyerah, gaes!

Nasehat Ayah

Waktu menjemput Dzulki, ustadzahnya laporan kalau dia tidak mau makan siang. Di perjalanan pulang, aku menawarinya makan.

Ibu         : Mas Dzulki mau makan apa? Ayam goreng?

Dzulki    : Beli ayam goreng ta?

Ibu         : Iya, boleh. Kita beli ayam goreng

Dzulki    : Bu, kata ayah lho gak boleh beli-beli terus.

Ibu         : (Nyengir) O, gitu! Kemarin sudah beli ya sama ayah?

Dzulki    : Iya, aku beli susu panda.

Ibu         : Ya, sudah berarti pulang saja ya, nanti makannya bisa goreng tahu atau telur di rumah.

Dzulki    : Ya beli ayam goreng saja.

Ibu         : Katanya tadi tidak boleh beli terus?

Dzulki    : Itu kan sama ayah. Sama ibu belum beli.

Kucing

Dzulki sedang mengulang pelajaran tentang gender.

Dzulki    : Kalau Dzulki sama ayah sama Mbahkung itu muslim. Kalau Ibu sama Mbahbuk sama Buyut itu muslimah.

Ibu         : Betul.

Dzulki    : Kalau Mas Ihsan itu muslim ya, Bu?

Ibu         : Iya.

Dzulki    : Kalau adek Azka muslim?

Ibu         : Iya.

Dzulki    : Kalau Aca muslimah ya?

Ibu         : Iya, Aca muslimah kayak ibu.

Dzulki    : Kalau kucing, muslim atau muslimah?

Hihihihi…….. Habis manusia kok jadi kucing sih, Ki.

Perut Berisi Adik

Dzulki    : Bu, dulu aku di perutnya ibu ta?

Ibu         : Iya, dulu. Terus Mas Dzulki keluar jadi bayi. Kecil sekali!

Dzulki    : Perut tempatnya adik bayi? (wajahnya gusar)

Ibu         : Iya.

Dzulki    : (Membuka bajunya) Perutku besar, Bu, lihat! Apa nanti keluar bayinya?

Ibu         : Tidak, perutnya muslim tidak ada bayinya.

Dzulki    : (tersenyum lega) yeyyy, perutku gak ada adiknya!

$#%$%&&^

Ibu Gak Sayang

Saat bersiap tidur, Dzulki menepuk-nepuk perutku.

Dzulki    : Perutnya ibu besar.

Ibu         : (pengen gulung-gulung menyadari kegendutanku)

Dzulki    : Adiknya nanti keluar ta ini?

Ibu         : Kalau iya bagaimana?

Dzulki    : (diam sebentar, terus pindah posisi memunggungiku) Ibu gak sayang ta sama aku?

Ow, so sweet!

Cinta Saja atau Cinta Banget

Ibu         : I love you, Ki.

Dzulki    : (diam saja)

Ibu         : Dzulki cinta kan sama ibu?

Dzulki    : Iya cinta. (sambil bermain)

Ibu         : Cinta saja atau cinta banget? (Emaknya mulai lebay)

Dzulki    : Cinta banget.

Love you, dear!!!!

Ibu Jangan Tua

Dzulki    : Bu, nanti aku bisa tinggi ya, kayak Ayah?

Ibu         : Bisa donk. Makan sayur yang banyak dan olahraga biar tubuhnya sehat dan tinggi.

Dzulki    : Nanti tinggi lebih dari ibu?

Ibu         : Iya. Nanti kalau ibu sudah tua, gendong Ibu ya, Ki!

Dzulki    : (matanya berkaca-kaca) Ibu jangan tua, nanti aku sedih!

Hidung Ayah

Dzulki    : Bu, kenapa hidungku tidak tinggi kayak hidungnya Ayah?

Ibu         : Dzulki kayak ibu, hidungnya pas, tidak terlalu tinggi. (wkwkwkwk)

Dzulki    : O‚Ķ.

Ibu         : Kira-kira kalau sudah besar nanti, hidung Dzulki bisa jadi tinggi kayak Ayah gak ya?

Dzulki    : Enggak.

Ibu         : Siapa tahu, Ki.

Dzulki    : Enggak, Bu. Hidungku segini aja.

Eh????

Hidup Tanpa Rasa Kecewa

Hidup Tanpa Rasa Kecewa

Gambar ilustrasi: Dzulki harus memaksa diri ikut lomba “Cepat pakai Baju Berkancing”, sebab dia tidak suka baju berkancing. hehehe

Kecewa memang salah satu isi kehidupan. Tapi jika meladeni kecewa selalu mampir di kehidupan kita maka kita akan terus tersiksa dan tidak bahagia. Oleh sebab itu, jangan terlalu sering kecewa dengan apa yang kita peroleh!

Pada waktu kita mendapatkan nikmat dari Allah, ternyata kita masih sering merasa kurang. Dalam bekerja, kita merasa pekerjaan kita melelahkan, gaji sedikit, bahkan jabatan tidak naik-naik. Di rumah juga demikian, kita merasa sering tidak cocok dengan pasangan kita, merasa anak-anak kita kurang pandai, kurang berbakti, dan sebagainya. Sebenarnya, semua rangkaian keluhan itulah yang membuat kita tidak bersyukur, yang akhirnya kita merasa kecewa.

Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh! Coba kita renungkan, apa yang kita pikirkan pada saat mencari pekerjaan? Pasti yang terpikir adalah yang penting dapat pekerjaan. Kita tidak berpikir apakah pekerjaan itu akan membuat kita lelah, kapan gaji naik, apalagi kapan naik jabatan. Dapat pekerjaan saja, kita sudah puas dan bersyukur. Iya kan? Saat itu kita cukup bersyukur karena masih banyak yang belum mendapat pekerjaan atau bahkan yang tidak mampu bekerja.

Misal yang lain, tentang saat kita berharap jodoh. Cukup kita dapat dan sampai di pelaminan kita sudah sangat bersyukur. Wah, kebahagiaan menyelimuti dengan sangat hangat! Kita tidak pernah berpikir nanti akan ada gesekan, ketidakcocokan, perbedaan pandangan, ide, dan sebagainya. Saat itu kita cukup bersyukur karena masih banyak yang menunggu jodoh atau bahkan ditinggal pasangannya.

Juga saat kita berada di detik-detik menunggu anak kita lahir. Anak kita lahir dengan selamat adalah alasan terbesar kita untuk sangat bersyukur dan bahagia. Pada saat itu kita tidak berpikir ranking berapa dia saat sekolah nantinya, sejenius apa anak kita kelak, sebaik apa dia nantinya, dan hal-hal lain. Saat itu kita bersyukur karena masih banyak yang menunggu momongan atau bahkan kehilangan buah hati.

Hiduplah tanpa rasa kecewa! Jika sekarang pekerjaan sedang menumpuk dan menuntut banyak energi dari kita, disyukuri saja. Andai saat ini keluarga kita sedang meminta kesabaran kita, ayo, persembahkan yang terbaik untuk keluarga kita. Terlebih jika memang saat ini anak kita sedang menjadi ujian bagi kita, mari, berjuang bersama mereka untuk mewujudkan harapan bersama. Ingat kembali momentum awal saat kita menerima semua itu dengan rasa syukur dan bahagia yang tiada bersyarat.

Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh! Itulah mengapa dalam doa sehari-hari, hendaknya kita tidak hanya sibuk meminta kepada Allah swt., tetapi kita juga perlu mengungkapkan rasa syukur kita.[]