Snorkeling di Gili Ketapang

Snorkeling di Gili Ketapang

Gali informasinya tentang Gili Labak, giliran berangkat tujuannya Gili Ketapang. Sebenarnya Gili Labak itu terinspirasi sama teman-teman FLP Jatim waktu itu Silatwil ke Gili Labak, Madura. Saat itu karena bersamaan dengan agenda kantor, saya absen. Dari hasil lihat-lihat poto yang diunggah teman-teman di grup jadilah mupeng.

Dari situlah, saat akhirnya jadi panitia liburan kantor, aku mengusulkan alternatif tujuan yang salah satunya Gili Labak. Tim liburan akhirnya cari info, termasuk aku, dengan sangat semangat menghubungi teman FLP Pamekasan yang dulu jadi panitia Silatwil FLP Jatim.

Gili Labak memang indah, dan bagus sekali untuk snorkeling, infonya demikian. Pun kondisi pantainya, masih dari sumber informan, masih sangat kondusif alias tidak banyak pencemaran. Lalu, apa yang membuat berpindah gili?

Ternyata, jauhnya pakai banget. Pihak travel tidak merekomendasikan saat peserta rihlah anak bayi-nya. Haduh, dari ini saja, mana mungkin! Di kantor, tahun ini, ada beberapa bayi mungil lahir. Nak kanak usia balita jangan ditanya, lumayan banyak. Yup, kantor kami produktif memang, termasuk dalam hal nak kanak.

Benarkah sebegitu jauhnya? Masih dari informasi, penyeberangan ke Gili Labak bisa 4 sampai 5 jam itupun jika gelombang laut bersahabat. Salah seorang anggota FLP Jombang sendiri komentar, “Jauh, Bun. Siap-siap mabuk laut!”

Nah, kan, jadi ngeri, belum juga berangkat liburan sudah disuruh siap-siap mabuk laut!

Dari situlah tujuan berubah. Jadilah kami pergi ke Gili Ketapang.

Rombongan ada sekitar 50 orang. Setengah di dalamnya adalah anak-anak, balita, dan bayi. Berangkat dari Jombang jam 06.00, perjalanan 3 jam dengan 2 kali rehat, sampailah di Pelabuhan Gili Ketapang. Seturunnya dari bus, langsung disambut guide yang cantik lagi ramah. Kami diajak naik ke kapal yang muat menampung jumlah kami.

Duh, Si Ayah, ke Gili ketapang pakai baju Singapore! Pas pulang malah pakai baju Manado oleh-oleh Bunaken. hahaha

Semua wajah merona, kena sinar matahari jelang siang. Emak-emak rempong pakai sunscreen dan sejenisnya, termausk aku. Bapak-bapak mulai mengenakan topi, kecuali suamiku, sibuk dengan tongsisnya dan ngajak poto. Perjalanan pakai kapal sekitar 30 menit, dan sampailah kami di Gili Ketapang.

Ini bukan suamiku, ini Pak Faishol, yang dengan terpaksa liburan menjomblo karena istri dan anaknya bertugas di negara api. Hehehe

Seperti namanya, gili, pulau kecil ini benar-benar kecil. Kami beruntung karena datang di hari Jumat, serasa pulau ini milik kami. Kabarnya, keesokan harinya sudah ada rombongan sekitar 300 orang yang akan berlibur kesini. Wow! Ada gazebo-gazebo bambu yang siap dikavling per keluarga. Tentu saja dekat sekali dengan pantai.

Sesampai di Gili Ketapang, bapak-bapak sudah bersiap diri untuk Salat Jumat. Emak-emak dan anak-anak mulai berkreasi. Yang punya bayi, pilihan terbaik adalah mulai menidurkan si kecil tanpa menyalakan kipas angin. Angin pantai sudah semilir. Kreasi yang lainnya palagi sekalian main di pantai.

Yang unik di pulau ini, menurutku adalah domba yang cara hidupnya mirip kucing. Kalau di desaku, domba diikat, ditempatkan di kandang khusus, dikasih makan dan minum. Nah, disini, domba tanpa tali, bisa jalan-jalan sesukanya, dan mengendus dan memakan apapun yang dapat dia jangkau. Duh, anak-anak senangnya bukan main, mereka malah mengejar domba-domba dengan riang. Bahkan kata suami saat di masjid juga domba-domba itu berkeliaran di halaman masjid, sampai-sampai menganggu jalan orang yang akan ke tempat wudhu. Mungkin karena tidak terbiasa, jadinya seolah menganggu.

Usai Salat Jumat, kami bersiap untuk snorkeling. Inilah yang ditunggu-tunggu, inti dari liburan kami kali ini. Wajib, poto dulu sebelum snorkeling. Rata-rata para jomblowati dan bapak-bapak yang snorkeling, emak-emak pada megangi anak-anaknya, lagi-lagi termasuk diriku. Byiuh, diriku sudah benar-benar jadi emak!

kembali kami naik kapal, menuju tengah laut, dan disitulah satu per satu menceburkan diri untuk snorkeling. Hemm… mupeng diriku! Ayahnya Dzulki sudah antusias, turun duluan dan dengan kemampuan renang yang sangat tipis berusaha menikmati asinnya air laut. Giliran salah satu ibu-ibu yang kelar nyemplung dengan dipegangi anak dan suami, aku maju untuk meminjam pelampung dan alat lainnya. Kemana, Mak? Snorkeling donk. Meski dipegangi suami terus. Hahahaha

Eh, Dzuki bagaimana? Dia anteng saja duduk didampingi temanku sambil menyemangati diriku yang terkatung-katung di laut.

Ini saat sudah selesai, mau naik, eh, lupa belum take a picture!

Pemandangan bawah lautnya bagus, ada ikan nemo, tapi aku tidak bisa poto. Sangat tidak kuat bertahan lama di air, ya, karena aku tidak bisa berenang. Inilah supernya, tidak bisa berenang tapi maksa buat snorkeling.

ini Pak Choifin. Nemonya sedang sembunyi.

Puas snorkeling kurang lebih 2 jam, kami balik lagi ke pulau kecil tadi. Menikmati makan siang yang sudah disiapkan dengan menu cumi asam pedas manis, ikan bakar, sambel pedes pakai banget, dan nasi yang hangat. Sedap banget, terlebih ikan bakarnya!

Oh, ya, kami ambil paket liburan Gili Ketapang ini biaya per orang 90k dengan paket lengkap. Mulai dari perahu selama liburan, makan siang, snorkeling plus poto di dalam laut. Untuk emak-emak dan anak-anak yang tidak snorkeling biayanya 50k/per orang.

Sore hari, sekitar jam 15.30 kami naik kapal untuk kembali ke Pelabuhan Gili Ketapang, lanjut pulang naik bus, mampir di pusat oleh-oleh Probolinggo sambil salat, lanjut lagi perjalanan, mampir di Mojokerto untuk makan malam. Sampai di Jombang jam 20.30.

Bagi sekawanan manusia yang lebih suka liburan tipis-tipis, seperti aku dan teman-teman di kantor, Gili ketapang cocok banget. Dari Jombang, tidak seberapa jauh, dan cukup memuaskan. Setidaknya, bagi orang Jombang, ketemu pantai ini istimewa.[]

Perdana ke Bioskop karena Film Hayya

Perdana ke Bioskop karena Film Hayya

Aku lahir tahun 1989 bulan April tanggal 16 dan aku baru ke bioskop kemarin itu, tanggal 23 September 2019. Ini serius. Hahahaha!

Bukan karena menganggap pergi ke bioskop itu tabu, dilarang orang tua atau apapun yang prinsipil, tapi memang tidak pernah keturutan saja. Lahir dan besar di Jombang, kota kecil yang konon terkenal banyak pesantren dengan jumlah santri yang yuhui membuatku jauh dari gedung bioskop. Ingat sih, dulu waktu masih SD, sekitar akhir tahun ’90an, di desaku masih sering ada layar tancap. Aku membayangkan bioskop mungkin mirip-mirip itulah, hanya berbeda antara indoor dan outdoor.

Pernah saat awal kuliah, tahun 2007/2008, sangat ingin nonton film di bioskop. Waktu itu film Ayat-Ayat Cinta tayang menggemparkan anak-anak muda yang sedang semangat hijrah. Tapi keinginan itu tidak kesampaian. Disusul kemudian Film Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 yang benar-benar heboh. Teman-teman pada rombongan pergi ke Suarabaya, ke Malang, atau sekedar ke Kediri untuk nonton. Aku bukannya tidak mau ikut nonton, tapi selalu ketinggalan. Ada saja hal yang membuatku tidak nonton.

Sampai kemarin itu, ada info film bagus, Hayya. Teman di ODOJ menawarkan untuk sinergi dengan FLP Jombang mau menggelar NOBAR alias Nonton Bareng Hayya di bioskop bahkan mendatangkan Hamas Syahid.

Jombang memang baru memiliki gedung bioskop lagi setelah sekian purnama gedung bioskop bernama Plaza Teater berubah menjadi gedung yang sedikit menyeramkan (menurutku). Nama bioskop barunya adalah NSC. Please, jangan tanya kepanjangannya apa aku tidak tahu dan malas mencari tahu. Tempatnya ada di Mall mungil kebanggaan Jombang, Linggajati lantai 2. Ada dua studia dengan setiap studio kapasitasnya 180 penonton. Begitulah info yang kudapat dari salah seorang panitia.

Aku yakinkan bahwa ini benar-benar bioskop. Itu tadi, setelah sekian purnama, sekarang di Jombang ada bioskop. Saat aku share publikasi NOBAR Film Hayya di sebuah member grup, member grup ragu.

“Benarkah di Jombang ada bioskop? Jangan-jangan hoax seperti bukit teletubies yang ternyata toilet. Hahahaha….”

Sungguh, memang begitulah Jombang. Eits, tapi yang ini benar-benar bioskop. Sumpil! Wkwkwkwk

balik lagi ke Nobar Hayya. Panitia hanya punya waktu dua pekan saja menyiapkan segalanya. Dan karena aku sudah bukan lagi ketua FLP Jombang maka aku tidak terlibat secara teknis. Rapat panitia tidak datang (karena tidak ada pemberitahuan), tidak masuk grup panitia, bahkan baru beli tiket seminggu sebelum acara.

Aku pesan 3 tiket, untuk aku, Dzulki, dan suami. Aku menegaskan lagi ke teman-teman yang jadi panitia: Apakah aku perlu terlibat?

Jawabannya adalah TIDAK.

Baiklah, aku mengagendakan hari itu full nonton tanpa diribeti dengan amanah sebagai panitia. Aku senang sekali, karena ini adalah debut nonton di bioskop sepanjang hidupku. Hahahaha

Sampai di H-2 acara, salah seorang panitia merayuku agar melepas tiket yang sudah kupesan. Alasannya pendaftar membludak dan diutamakan orang umum dulu sebagai bagian dari syiar kita tentang Palestina. Baiklah, aku iya saja, apalagi saat tahu ternyata H+1 bioskop masih akan memutar dan pantia akan nonton di H+1. Yup, panitia pun tak dapat kursi buat nonton. Saking antusiasnya warga Jombang menyambut Film Hayya. Keren!

Maka, aku dan suami beralih agenda. Aku janji akan pulang tepat waktu dan seru-seruan sendiri di rumah. Dzulki juga sudah aku sounding kalau batal, sebab sebelumnya dia sudah menunggu-nunggu akan menonton film di layar yang lebar sekali.

Tibalah hari H. Saat makan siang, telepon masuk dari ketua panitia. Entah kenapa aku meng-iyakan saja saat dia memintaku menyiapkan puisi, dan pembaca puisi untuk ditampilkan sebagai rangkaian acara Nobar.

Agak bingung awalnya. Mau buat puisi aku blank sebab belum nonton Hayya dan sama sekali tidak tahu filmnya seperti apa. Maka kuputuskan menghubungi Pak Ali Muakhir. Alhamdulillah, beliau merekomendasikan dua puisi Bunda Helvy Tiana Rosa yang menjadi lirik soundtrack Hayya itu sendiri. Oke, puisi beres.

Kedua, aku share di grup pengurus FLP Jombang, dan sudah ada dua orang yang siap membaca puisi. Keren, good job, FLP Jombang! Karena dua orang itu masih perjalanan dari Surabaya menuju Jombang, maka kami janjian untuk berlatih baca puisi sore hari, sepulang aku kerja.

Sore hari datang, aku segera ke Abata, basecamp tercinta, untuk latihan puisi. Lebih tepatnya sih, aku jadi komentator, sebab aku tidak jago perpuisian. Hahahaha

Suami sudah aku telepon, mengabari kalau aku akan pulang terlambat karena harus membantu persiapan pertunjukan puisi dulu. Oiya, film diputar jam 18.00. Jadi, perkiraanku maghrib latihan akan selesai dan aku bisa pulang. Tapi ternyata, semuanya berubah.

Bunda Umi meminta kami pindah tempat latihan puisi. Beliau minta kami semua ke Edotel sebab Bunda Umi sendirian menunggu kedatangan Hamas dan rombongan. Sesampainya di Edotel, keseruan dimulai.

Tersebab suatu hal, semua panitia berkumpul untuk koordinasi. Info terbarunya adalah Hamas tidak akan bertahan sampai acara selesai sedangkan ada dua studio yang dipesan. Diskusi panitia mengalir begitu saja. Aku yang bukan bagian dari panitia berusaha menarik diri dari kerumunan diskusi panitia. Namun apa, saat aku berdiri dari duduk dengan tujuan mau berlalu, Bunda Umi dan teh Eka yang ada di samping kanan dan kiriku menarikku untuk duduk kembali.

Baiklah, aku menurut. Ternyata, di satu kesimpulan diskusi, Bunda Umi berkata, “Tidak ada solusi lain, kita perlu satu MC lagi dan itu adalah dikau!” Sambil menunjukku dan ulala…..

Aku menolak dengan berbagai jurus dan tidak mempan. Maka lihatlah ketidakjelasanku. Mulai dari seragam panitia, yang harusnya merah merona aku biru penuh haru. Eh, yang dipoto ada satu cowok pakai kemeja biru itu bukan suamiku, melainkan ketua ODOJ Jombang. Entah kenapa bisa samaan berdua saja gitu. Katanya sih tidak sempat pulang, jadi pakai seragam ngajar. Hahaha! Semuanya datang cantik mewangi, aku pulang kantor, pakai seragam kantor itu dari bawah sampai atas. Wajah super lecek, habis makan cilok dengan gaya anak SD nongkrong di alun-alun, belum mandi, tiba-tiba harus jadi MC artis Mas Gagah, eh, Mas Hamas.

Itu sudah jam 17.00 maka kuputusakan untuk ke kamar mandi Edotel, sekedar cuci muka, memperbaiki tatanan jilbab, salat maghrib, dan berangkat ke bioskop. Yeyyy! Akhirnya ke bioskop. Bukan untuk nonton karena tidak punya tiket. Ke bioskop pertama kali untuk jadi MC Tahu Bulat alias dadakan.

Setelah jadi MC, lanjut menenangkan diri. Panitia heboh menanti giliran poto sama Hamas, artisnya. Nah, sebelum poto sama artis, adik-adik FLP Jombang mau poto sama aku dulu. Artis MC Tahu Bulat dengan debut pertamanya ke bioskop tapi gak nonton film. Wwkwkwkwkwk

Setelah itu poto bersama semua panitia. Nah, di tengah-tengah poto bersama panitia itulah, tiba-tiba Hamas keluar dari ruangan, bersiap melayani permintaan poto panitia. Lihat ekspresi kami saat asyik poto tiba-tiba artisnya muncul.

Tapi tahu tidak, yang menarik bagiku adalah, ternyata sekarang kalau ketemu artis itu tidak lagi ramai minta tandatangan, tapi ramai minta poto. Di tempat yang lain begitu juga tidak ya?[]

Bukti Manfaat Hebat Chia Seed

Bukti Manfaat Hebat Chia Seed

Chia seed sedang lebih populer akhir-akhir ini, setidaknya di kalangan sekitar saya. Banyak info tentang manfaatnya yang hebat dan luar biasa, mulai dari sebutan makanan premium terbaik untuk menjaga kesehatan hingga ampuh menurunkan berat badan. Saya sendiri tahu tentang chia seed baru di awal tahun 2019 lalu, dan memakannya pertama kali sekitar bulan Juni setelah lebaran kemarin. Sampai saat ini hampir setiap hari saya mengonsumsinya

Saya tidak akan membahas kandungan chia seed ya, sebab meskipun SMA jurusan IPA, ending-nya saya bukan peneliti. Hahahaha…. Apalagi jualan, malah tidak. Tapi kalau cerita kondisi saya sejak makan chia seed boleh ya, semoga bermanfaat dan menambah wawasan tentang kehebatan chia seed!

Waktu itu dapat chia seed dari seorang teman yang sedang memulai jualan online. Tidak tanggung-tanggung saya beli 1 kg langsung. Byiuh, saking apanya coba? Bukan percaya banget sih, sebab saya belum membuktikan langsung. Hanya beli begitu saja biar teman semangat jualan. Harganya waktu itu 150k sekilo.

Mulailah saya cari info bagaimana cara mengonsumsinya. Google memberi info banyak sekali tentang cara mengonsumsi chia seed yang ternyata memang mudah dan mirip makan krupuk, boleh dicampur apapun dan kapanpun. Dari youtube channel Shireen Sungkar juga saya dapat informasi, waktu episode masak dan buat infuse water.

Nah, saya awali makan chia seed dengan cara mencampurnya dengan air. Air setengah gelas (150 ml.) dan chia seed 1 sendok makan saya aduk dan diamkan selama 15 menit, baru saya makan mirip makan puding encer. Rasanya hampir hambar seperti info yang banyak saya temukan di internet dan benar, dia mengembang. Mirip sekali dengan biji selasih, bahkan saya tidak bisa membedakannya.

Setelah 5 menit saya mengonsumsi chia seed, perut saya jadi aneh. Seperti kembung tapi lebih berat dari kembung biasanya. Rasanya lambung penuh, makan sedikit langsung kenyang dan keras, tapi kerasnya masih lebih keras perut ibu hamil. Kondisi ini 24 jam terjadi dari 5 menit setelah mengonsumsinya. Semula saya masih ragu itu efek chia seed, masih berpikir kemungkinan salah makan di hari itu atau ada yang sedang tidak stabil di tubuh. Sampai saya benar-benar yakin itu efek chia seed adalah setelah 3 kali praktikum saya lakukan dengan objek tubuh sendiri.

Sempat terpikir tidak melanjutkan mengonsumsi chia seed. Tapi saya penasaran, biji yang disebut sebagai makan premium, mahal, dan banyak situs bilang manfaatnya sangat hebat, kenapa tidak bisa diterima tubuh saya? Maka saya kembali googling, dan ternyata saya salah resep. Nah, lho!

Mengonsumsi chia seed harus diimbangi dengan mengonsumsi air putih yang cukup. Chia seed-nya gak masalah, kuantitas minum saya yang salah. Sejak tahu itulah, maka saya selalu konsumsi chia seed dengan jumlah minum yang banyak. Jadi, chia seed membantu saya untuk disiplin memenuhi kebutuhan air tubuh. Bolehlah ini dijadikan salah satu manfaat chia seed (bagi saya).

Manfaat hebat kedua, chia seed benar-benar melancarkan sistem pencernaan dari awal sampai akhir. Tidak ada lagi resah BAB. Lancarnya pakai bangetz bahkan benar-benar tuntas tak berbekas. Tidak hanya saya, tapi hampir semua teman sepakat tentang manfaat satu ini.

Manfaat hebat lainnya adalah, benar saya buktikan sendiri, makan chia seed membuat saya lebih kenyang dan mengurangi porsi makan. Mungkin ini yang kemudian menjadikan chia seed dipercaya bisa menurunkan berat badan. Dibandingkan dengan saat saya pakai kentang, biskuit gandum, bahkan oat untuk sarapan, chia seed lebih paripurna efeknya. Tapi apakah sekarang berat badan saya sudah turun drastis? Big no! Tapi turun iya. Tiga bulan ini turun 2 kg. Mungkin karena usaha saya tidak komplit, olahraga ala kadarnya saja. Namun, yang pasti badan lebih enteng dan lemak sudah tidak muncul di area ekstrim favoritnya.

Saya sepakat dengan ungkapan bahwa mengonsumsi makan sehat dan pola hidup sehat itu agar tubuh kita sehat. Tentang langsing adalah bonus. Meskipun memang gemuk identik dengan tidak sehat, namun saya merasakan sendiri, saat fokus menurunkan berat badan, kesehatan dapat terbengkalai. Tapi saat fokus kita adalah sehat, ditambah kita bahagia menjalankannya maka berat badan terkontrol dengan sendirinya.

Kalau tentang manfaat untuk kesehatan seperti kolesterol, apa, dan apa saya tidak berani cerita karena saya tidak teridentifikasi itu sebelumnya, alhamdulillah. Selain itu, saya juga sudah dua tahun terakhir ini rajin infuse water, jadi, khawatirnya rundom antara manfaat yang saya rasakan antara infuse water dan chia seed. Perbedaannya, sebelum mengonsumsi chia seed, infuse water saja, saya masih sering lapar kalau porsi nasi putih saya kurangi, dan sembelit hampir mewarnai pagi yang harusnya cerah ceria. Nah, sejak infuse water saya tambahi chia seed, semua itu berkurang bahkan hilang.

Sampai sekarang, chia seed jadi makanan yang hampir selalu saya konsumsi. Botol air minum saya kasih chia seed, makan salad juga ditaburi chia seed. Infuse water juga ditaburi chia seed. Sehari chia seed yang saya konsumsi 1 – 2 sendok makan.

O iya, tentang penyimpanan chia seed, saya taruh di toples yang tertutup rapat (saya pakai tupperware) dan simpan di lemari es. Awet insyaallah yang penting tidak kena air. Jika terkena air, maka bisa jadi kecambah. Kok tahu? Saya pernah lupa mencuci botol bekas infuse water. Di dalam botol tersisa biji chia seed beberapa biji saya dan kadar air hanya sebatas lembab. Hanya dua hari, saat saya buka ternyata biji itu sudah jadi kecambah. Saat itu jadi mikir sih, bagaimana jika ditanam? Apakah biji yang katanya khas Amerika itu bisa dibudidayakan di rumah saya?

Sudah, ah! Ribet, saya tidak akan mencobanya. Saya bukan peneliti. Hehehe![]

Olahraga Ala-Ala

Olahraga Ala-Ala

Weekend selalu ditunggu-tunggu, setidaknya bagiku. Sebab inilah hari terbaik, menjelang libut esok hari. Hahaha!

Banyak yang mengreasikan weekend, ada yang digunakan untuk berlibur, silaturrahim, bahkan olahraga. Nah, khusus yang terakhir, olahraga, kayaknya ini istimewa bingitz.

Aku sendiri untuk weekend tidak teelalu ribet, bahkan seringnya sengaja untuk tidak mengagendakan apapun di saat weekend. Mungkin yang selalu wajib ingin aku lakukan saat weekend adalah cuci baju dan setrika. Yang emak-emak sama kayak aku gak ya?

Sabtu, kantor memang pulang lebih awal, jam 12.30. Seringnya sih gak langsung pulang. Terkadang harus rapat kominitas, Sabtu terakhir tiap bulan ada agenda “Cafe Curhat Plasma”, kadang-kadang juga belanja, kadang-kadang lagi sekedar makan siang sama teman-teman. Selepas itu baru pulang. Gak ada yang menarik kayaknya.

Kalau untuk olahraga, aku memang tidak menjadikan weekend untuk sport day. Malah weekend bagiku adalah hari bebas. Makan bebas, tidur bebas, bahkan gak olahraga. Lalu kapan aku olahraga?

Hihihihi…. Pertanyaannya kayak kuntil-emak (emaknya kuntilanak) keliar daei zona nyamanya. Eitz, siapa bilang aku gak olahraga?

Aku memilih malam hari untuk olahraga, tapi tidak di weekend. Biasanya aku melakukannya di hari Selasa dan Jumat. Olahraga yang kulakukan apalagi kalau bukan senam. Yoga ala-ala, aerobik ala-ala, dan zumba ala-ala. Aku menyebutnya ala-ala sebab aku memodifikisi gerakannya sesuai kemampuanku. Cukup berefek bugar pada diriku.

Olahraga adalah kegiatan fital untuk menunjang kehidupan kita. Kesehatan fisik urgen sekali untuk support kerja-kerja kebaikan dalam hidup ini. Itulah mengapa, sesibuk apapun, olahraga harus diluangkan waktu. Tidak bisa di luar, lakukan di dalam rumah. Tidak ada dana, maka senamlah ala-ala sepertiku, pakai video.

Bagi emak-emak, pagi hari rempong dengan dapur plus marathon dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Maka istirahatnya bisa menunggu anak tertidur di malam hari.

Manusia memang akan merasa berat awal-awalnya untuk olahraga, tapi setelahnya akan muncul kesadaran. Dulu, saat usia baru 23-24 tahun mau kemanapun pakai motor, tidak berjaket, semua oke-oke saja. Sekarang sudah kepala 3 ternyata ada beberapa perubahan.

Aerobic yang aku lakukan sangat ampuh sekali efeknya. Pertama kali senam AE, berat. Gerakannya cepat, ini hal dasar yang saya lupa. Tapi rutinkan itu, dalam 3 hari kita akan merasakan tubuh lebih ringan melangkah, pencernaan lancar, bahkan berat badan turun.

Di kantor juga Sabtu pertama setiap bulan ada peogram sport day. Ini ajang untuk karyawan olahraga bersama. Tapi apa yang terjadi? Olahraganya brl mengeluarkan keringat, nasi uduk, gorengan, bubur, dan entah apa lagi, yang jelas porsinya lebih gede. Keringat mungkin keluar dengan cara berdiri di bawah terik matahari langsung. Hahahahaha!

Nuansa Cinta Bulan Dzulhijjah

Nuansa Cinta Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa bagi kaum muslim di seluruh dunia. Ada ibadah besar di bulan ini yakni ibadah haji, ibadah qurban, yang menyimpan sejuta hikmah di dalamnya. Perjuangan dan romantisme keluarga Ibrahim teruji di bulan ini. Bagaimana makna sebuah kehidupan cinta suami istri, konsep keluarga Ibrahim menjalankan tugas dan perannya sebagai ayah, Ismail sebagai anak, Hajar sebagai istri, semua terangkum apik di Bulan Dzulhijjah. Keren!

Aku sendiri menikmati Dzulhijjah dengan unik sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya sejak aku bekerja di LAZ (Lembaga Amil Zakat). Bagi lembaga seperti kami, dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua momen penting dan samgat sibuk. Namun, dibandingkan dengan Syawal, Dzulhijjah lebih benar-benar hari raya bagiku. Why?

Satu, sebab tidak ada lembur di malam takbiran. Ini menjadi penting, terutama setelah menikah. H-1 sebelum hari raya Idul Fitri, adalah waktu yang sangat sibuk. Sehingga, saya tidak pernah mudik. Ya, masih sama-sama Jombang kan umumnya mudik H-1, tapi karena H-1 selalu sibuk, jadinya mudik lokalnya benar-benar pas Hari H nya lebaran. Nah, di Dzulhijjah, saya bisa mudik. Menikmati takbiran di rumah mertua dan esoknya sholat Ied di masjid dengan saudara-saudara ipar.

Ya, sebagai amil zakat, Idul Adha selalu disibukkan dengan kegiatan qurban. Setiap tahun, program qurban selalu memberikan tantangan dan pengalaman berharga, sebab kami selalu menembus daerah-daerah pedalamana untuk penyaluran hewan qurban.

Meskipun petualangan bukan hobi, disini aku banyak belajar untuk lebih berani dan menyukai penjelejahan. Setidaknya aku berhasil untuk ikut menembus hutan, menyeberangi sungai tanpa jembatan, hingga tersesat saat pencarian satu titik lokasi pedalaman. Di Jombang, daerah pedalaman yang pernah aku kunjungi karena program qurban ini diantara adalah Rapahombo, Nampu, dan Cepit. Ketiganya akan kubagikan ceritanya.

Rapahombo. Ini adalah dusun yang akses ke kotanya sangat rumit. Hutan belantara sejauh 2 km harus ditempuh dengan jalan yang sangat sulit medannya. Ada beberapa alternatif jalan menurut warga sana, namun bagiku jalan manapun itu, tetap sulit medannya. Karena letaknya yang terpencil dan akses ke kota sangat jauh, tentu saja fasilitas umum disana sangat terbatas. Ada sekolah SD Negeri, dan itu adalah satu-satunya sekolah. Alhasil, warga sana mayoritas lulusan SD saja. Klinik kesehatan juga belum ada, sehingga untuk berobat manakala sakit, warga perlu perjuangan besar. Tandu yang diangkat bersama-sama, menjadi pilihan satu-satunya hingga saat ini. Sebab mobil tidak bisa mengakses tempat ini. Jika kamu pernah menonton film Jenderal Soedirman, begitulah cara warga menandu orang sakit atau wanita hendak melahirkan. Yes, disana tidak ada bidan, jadi untuk melahirkan, harus ditandu dulu sampai ke puskesmas kecamatan.

Iya, Dusun Rapahombo ada di Desa Klitih Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang.

Saat ke Rapahombo, kami bertemu dengan seorang guru swasta di SDN disana, usia masih samgat belia, tiga puluhan tahun, dan beliau tinggal di Kecamatan Diwek. Diwek itu kecamatan sebelah tempat tinggalku.

Setiap hari guru itu pulang pergi mengajar. Berangkat sekitar pukul 06.00 menggunakan motor trail, sepatu boot, helm pembalap dan jaket tebal. Penampilan ini jauh dari umumnya penampilan guru. Semua itu dilakukan sebab tidak jarang dia jatuh saat berkendara. Jalan yang licinnya liar biasa saat hujan dan debunya sangat tebal di musim kemarau membuatnya sering jatuh di tengah-tengah hutan itu. Demi pendidikan anak-anak disana, Pak Guru ini berjuang dengan sangat istimewa. Keren!

Idul Adha setelah di Rapahombo, berikutnya kami berhasil menembus Dusun Nampu. Masih di Plandaan, daerah pedalaman satu ini istimewa sebab menuju kesana, harus menyeberangi sungai tujuh kali. Duh, mirip film-film kolosal ya. Hehehehe….

Bersyukur sekali saat itu musim kemarau, sungai jelaa sedang surut, sehingga motor-motor rombangan kami cukup mudah menyeberangi sungai yang tidak memiliki jembatan itu. Dibandingkan dengan Rapahombo, Nampu lebih terpencil. Sisana penduduknya juga lebih sedikit., Sekitar 40 KK dan jumlah lansianya cukup banyam dibandingkan dengan jumlah anak balitanya.

Selain itu, di Idul Adha berikitnya ada Desa target kami bernama Dusun Cepit. Sesuai namanya, dusun itu terjepit di tengah-tengah hutan. Akses jalan lebih dekat dibandingkan dua daerah sebelumnya, mobil juga bisa masuk, namun fasilitas dosana sangat terbatas. Tidak ada sekolahan, klinik kesehatab apalagi, bahkan ketua dusunnya tidak tinggal disitu.

Toko kelontong sama sekali tidak ada. Seriap hari anak-anak harus menempuh jalan menyusuro hutan untuk sekolah. Kalau musim hujan, para ayah dan ibu harus menggendong anak-anaknya untuk menuju sekolah sebab jalanan sangat licin. Ya, benar-benar perjuangan!

Itu mungkin kenapa saat Idul Adha, aku juga tidak bisa libur panjang, sebab harus menjalankan amanah sebagai amil zakat. Namun nuansa cinta aku dapatkan di aktivitasku sebagai amil. Sambutan warga yang hangat dan keterbukaan mereka dengan orang asing membuat hati ini terenyuh. Betapa rasa syukur hinggal di hati mereka, yang bertahan untuk hidup di daerah pedalaman seperti itu.

Aku berpikir, krnapa mereka tidak memilih untuk pergi dan mencari penghidupan yang lebih layak? Cinta kamping halaman menjadi alasan utama mereka bertahan. Nah, kan, lagi-lagi nuansa cinta kutemukan di Bulan Berkah Dzulhijjah.

Dua, Dzulhijjah itu istimewa, sejak aku mengenal arti sebuah cinta. Sebab pernikahanku terjadi di Bulan Dzulhijjah. Ya, mirip-mirip lebaran jomloku lah. Dzulhijjah adalah bulan aku tidak lagi berstatus JOMLO. Hehehehe….

Tahun 2013, hijriyahnya tahun 1434, hari tasyrik yang terakhir, itulah tanggal akad nikah terucap. Eciiiee….

Setahun setelahnya, di hari tasyrik yang terakhir pula, aku menjadi seorang ibu. Dzulki lahir. Oh, betapa bahagianya!

Kedua momen besar itu aku alami di bulan Dzulhijjah. Bagiku ini istimewa. Keluarga Ibrahim mengukir jejak rahasia keluarga sesurga di bulan Dzulhijjah. Semoga aku juga bisa mengukir kisah sesurga. Aamiin.[]