Market Day

Market Day

Anak kecil itu tercipta menyenangkan dan menarik perhatian. Apa saja yang mereka lakukan selalu jadi cerita yang unik. Iya gak sih? Seperti tingkah nak kanak di sekolahnya Dzulki. Setiap video aktivitas di sekolah diunggah ke grup wali santri, maka berbagai emot tertawa, emot bahagia, pujian-pujian akan muncul betebaran. Tiap wali santri akan mencari anaknya masing-masing. Kalau tidak ketemu? Maka ustadzahnya yang diserbu pertanyaan: Anak saya dimana, Ustadzah? Mas A gak mau ikut kegiatan apa, Ustadzah? Mbak C kok diam saja gak mau bunyi hafalannya? Dan banyak lagi pertanyaan serupa. Lucccuuuu!!!!!

Hari Jumat kemarin kelucuan-kelucuan juga menghiasi acara market day. Bahkan kelucuan mungkin terjadi sejak acara market day diumumkan seminggu sebelum acara. Dzulki sendiri tampak stay cool, meski sejak diumumkan Emaknya ini selalu membahas. Jadi, emaknya yes yang lucu?

“Ki, hari Jumat market day ya?” Tanyaku. Ssssstttt…. Ini adalah pertanyaan pancingan!

Dzulki dengan mantap mengangguk, “Iya, Ibu yang tumbas.”

Aku mengangguk cepat.

“Nanti aku kayak Mail, bilang: Beli beli! Beli beli!” Katanya.

“Iya, nanti Ibu dan Ayah yang tumbas.”

Tiba-tiba wajah cerahnya berubah masam. “Enggak, Bu!!!! Ibu yang tumbas, Dzulki yang jualan, ayah juga jualan,” Sanggahnya.

“Lho, ayah sama kayak ibu, bagian tumbas, Nak,” Mak Ngeyel beraksi.

“Ibu salah. Ayah kan muslim sama kayak Dzulki. Ibu itu muslimah, gak sama dengan ayah.”

Ahahahahahaaa! Aku berpikir konyol, mana ada hubungan market day dengan gender.?Baiklah, sampaiaku tidak lagi membahas tentang peran ayah di market day.

Kehebohan selanjutnya adalah berpikir produk yang akan dijual. Kelas Dzulki kebagian menjual aneka kue basah. Aduh, ke dapur saja inginnya patas, lha kok malah rencana buat kue-kuean segala. Sepuluh menit pengumuman disebar oleh Ustadzah, grup masih sepi.

Aku chat sama wali santri yang memiliki kedekatan emosional denganku. Saling bertukar kekonyolan ide tentang produk yang akan dijual. Alternatif yang muncul adalah kue lapis, pisang coklat, atau nagasari. Pilihan lagi, mau buat sendiri alias home made atau berangkat lebih pagi dan mampir pasar. Dialog berakhir dengan meruncing ke alternatif kedua, sebab kalau yang diambil nomor satu, entah nanti beneran jadi sesuai namanya atau malah hancur rupa dan rasa. Wkwkwkwk!

“Tidak ada keterangan harus home made kan?” Begitulah kesimpulan kami, Emak-Emak berangan-angan praktis.

Baru mengakhiri chat ala emak-emak, ternyata di grup ada satu wali santri yang muncul dengan polos bertanya, “Ini harus buat sendiri atau bagaimana, Ustadzah?”

Mampuslah buat kue!!!!!

Of course, Ustadzah menekankan agar ananda dilibatkan. Baiklah, alternatif tidak berubah, berangkat lebih awal, mampir pasar, beli kue basah, dan tidak lupa melibatkan ananda, “Nak, ini namanya pengadaan produk. Produk itu tidak harus buat sendiri, bisa sinergi alias kulakan.” Hihihihi!

Fix, list mulai merayap, para wali santri setor rencana produk yang akan dijual. Dengan santai nama Dzulki kuiisi nama produk jualan: mendut. Idear tahu mendut kan?

Sampai H-3, grup sepi dari persiapan market day, barulah H-2 muncul pertanyaan yang memporak-porandakan rencanaku.

“Bunda, kue moci-moci itu sama dengan mendut,” ujar salah seorang wali santri.

Ow ow ow! Aku harus memutar otak untuk mengganti menu mendut. Ternyata beda istilah, moci-moci itu ya mendut. Dan akhirnya muncullah pertanyaan polosku, tentu saja di grup yang membernya emak-emak dan bapak-bapak ketce wali santri.

“Kalau lumpia itu kue basah bukan ya?”

Krik krik krik!!!!

Lama, baru ada yang respon. Responnya positif, lumpia masuk kategori kue basah. I don’t know, itu benar atau tidak, yang pasti aku langsung edit mendut jadi lumpia. Anggap saja lumpia basah berarti kue basah, sebab tidak ada lumpia kering.

Ya, namanya juga emak-emak, yang dipikir lapis, yang ditulis mendut, editannya lumpia, ternyata malam sebelum market day yang dimasak adalah roti kukus. Jangan heran, ini B aja! Namanya juga emak-emak gitu lho!
Yup, masak roti kukus. Dengan segala kerempongan. Mulai dari takaran tepung dan gula yang tidak akurat, kertas kue yang kebesaran, hingga Dzulki yang antusias buru-buru ingin incip. Alhasil, kuenya bantat, Mak! Hikz!

Tapi secara rasa oke, gulanya kebanyakan. Manisnya aduhai mirip akyu. Eh?

Yang sukses adalah kukusan terakhir, sekitar 10 cup. Dan itulah yang dibawa ke sekolah untuk market day.

Taaarraaa!!!!

Paginya, wali santri yang kebanyakan para Bunda saling sapa ala emak-emak, membahas serba-serbi persiapan market day. Satu yang dominan adalah kisah buru-buru ke pasar alias hampir semuanya pengadaan produknya sinergi. Hihihihi!

Okey, lanjuy membahas tampilan anak-anak sebelum acara puncak market day yang seru. Penampilan pertama adalah kelas Ar-Rahman. Nah, ini kelas Dzulki. Saat MC memanggil mereka, satu per satu anak baris, naik ke panggung sambil membawa kertas karton ukuran kurang lebih A4. Kertasnya dibalik, sepertinya kertas itu berisi kata yang akan membentuk kalimat saat dibuka bersamaan.

Baiklah, seketika krucil-krucil itu naik ke panggung kecil, para bunda sudah bersiap kamera. Mereka tampil membawakan Doa Al-Qur’an dengan kompak meski suaranya timbul tenggelam. Dan diakhir penampilan, mereka membalik kertasnya dan… Taaarrraaa! Ada tulisan: AR RAHMAN CINTA AL-QUR’AN.

Karena bahagia, para Bunda yang mengabadikan minta anak-anak itu berpose agar dapat didokumentasikan.
“Tunggu, tahan ya!” Seruan itu muncul bersahutan.

Sedetik dua detik mereka mengangkat kertas itu tinggi-tinggi dengan semangat, tapi 5 detik berikutnya, seorang anak menyeletuk, “Ustadzah, kok lama sih!”
Sontak semuanya tertawa. Kehebohan berlangsung kembali saat kelas lainnya, Ar Rahim dan Al Quds tampil. Kelas Ar Rahim tampil bernyanyi koor, dan Al Quds tampil dengan separuh hapalan dan separuhnya lagi menyanyi. Menurut keterangan Ustadzahnya, yang muslim terbiasa hafalan jadi tidak mau tampil nyanyi. Jadilah tampilannya, parapmuslimah nyanyi naik kereta api tut tut tut, dan yang muslim hafalan qur’an. Bersamaan, so, begitulah!  Yang pasti para Bunda tetap saja terhibur dan bangga dengan anak-anak.

Itulah anak-anak. Mereka menyenangkan dan selalu menarik perhatian.

Nah, yang kutnggu adalah saat jualan. Dzulki terus berteriak kecil, “Beli beli! Beli-beli!”

Roti kukus seribuan laku, teman-temannya belum habis, dia sudah membawa baki kemana-mana dalam keadaan kosong. Entah karena iba melihat kue kukus yang bantet ataukah memang ingin segera mencicipi kue itu. Yang penting laku deh! Terbayar deh gundahku sepekan persiapan market day. (Apaan coba???!!!)

Yang lucu adalah Cilla, gadis mungil temannya Dzulki. Dia paling akhir, dagangannya masih banyak. Mamanya membesarkan hatinya dengan berniat memborong semua kue, “Kesini, Mbak Cilla, Mama beli kuenya!”

Akhirnya, ibu-ibu yang berkerumun ikut membeli kue itu, termasuk aku. Nah, uniknya, wajah Cilla berubah manyun saat kuenya dibeli.

“Jangan beli, nanti kueku habis!”Ujarnya.

What???!!!!

Pantesan jualannya gak habis-habis, ternyata memang dia gak mau jual. Ahahahaha….!

Anak-anak selalu menyenangkan dan menarik perhatian kan?[]

Tips Masak 30 Menit Siap Saji

Tips Masak 30 Menit Siap Saji

Bagi sebagian emak-emak jaman now pasti ogah kalau berlama-lama di dapur. Ya, ini sebenarnya tipe saya sih. Berlama-lama di dapur adalah hal yang paling saya hindari. Inti memasak bagi saya adalah memenuhi kebutuhan makan. Kenyang pasti, nikmat itu relatif. Jadi, yang utama adalah masak untuk kenyang. Ahahaha! (Dengan kesadaran akan kebutuhan gizi dan nutrisi tubuh tentunya)

Lihat potonya, pasti terjawab tulisan ini maunya apa. Masak biar gak ribet dan cepat solusinya adalah bumbu yang siap pakai. Tapi tidak sebatas itu, Mak Idear, bumbu siap pakai yang kita stok bisa jadi akan memusingkan kita jika manajemen dapur lainnya tidak kita tata sedemikian rupa kerapiannya.

Nah, berikut ini saya share tips biar masak secepat kilat. Hanya 30 menit masakan siap saji. Ini berdasar pada pengalaman 5 tahun punya dapur sendiri alias harus masak tiap hari.

Tips pertama: Pastikan momen memasak fokusnya adalah (benar-benar) memasak!

Jika memasak di pagi hari, maka start di dapur adalah langsung mengolah bahan untuk jadi makanan, bukan start cuci piring. Saran saya, ritual cuci piring lakukan di malam hari, setelah kegiatan makan malam selesai. Jangan tunda cuci piring sampai besok pagi, sebab itu akan membuat acara masak pagi hari lebih panjang. Kalau start masak kondisi dapur bersih tanpa piring kotor menumpuk, acara masak akan menyenangkan dan dalam 30 menit masakan siap saji di meja makan.

Tips kedua: Tentukan tema masakan dan persiapkan bahan di malam hari.

Nah, bagi Mak Idear yang tiap pagi masak, maksimal malam sebelumnya harus clear “besok mau masak apa”. Serap aspirasi anggota keluarga, inginnya besok makan apa, atau bahkan menu sudah terancang seminggu kedepan mau masak apa saja. Wow!

Jangan sampai pagi-pagi masuk dapur baru mikir “Enaknya masak apa ya?”, ini bisa mengacaukan dapurmu, Mak Idear. Minimal mengacaukan kulkasmu hanya untuk bongkar bahan masak. Iya kan?

Nah, jika tema masak sudah disiapkan, malam itu juga siapkan bahan-bahannya! Acara potong-potong sayur, kupas-kupas bawang, dilakukan di malam harinya. Pagi tinggal eksekusi, cuci sayur, masukkan bahan ke wajan, panci, dan waktu masak menjadi  singkat, tidak pakai duduk lama di dapur hanya untuk kupas bawang atau sayur. Biar santai, kegiatan ini bisa disambi dengan santai bersama keluarga.

Tips ketiga: Stok bahan dan bumbu siap pakai dan bumbui masakan dengan simpel

Sekarang berbagai bumbu siap pakai ada dan banyak pilihannya. Mulai dari yang harga bersahabat hingga yang harga berkelas. Tidak perlu ribet nguleg atau blender yang turun tangan, beli jadi banyak. Untuk dapat santan juga tinggal tuang, apalagi yang ribet? Tidak ada. Stok bumbu siap pakai pasti menjadi andalan Mak Idear dalam mempercepat prosesi memasak di pagi hari. Hanya 30 menit masak siap saji.

Kalau saya, bumbu siap pakai yang menjadi andalan adalah yang ribet-ribet, seperti lodeh, opor, soto, rawon, bumbu rujak, rendang, krengseng, tongseng, bali, eh, kok hampir semua ribet? Hewhewhew!

Alhamdulillah, sejak akhir 2018 kemarin, ada temannya teman (Nah lho…) yang produksi bumbu siap pakai. Harganya mirip dengan harga bumbu yang standar dijual di warung-warung. Namun, komitmennya yang non MSG membuatku jatuh hati. Rasa, aroma, dan tekstur bumbunya memang beda, lebih homely, eh? Maksudnya, mirip yang biasanya My Mom alias Emak saya buat.

Saya biasanya nyetok 20 sampai 25 sachet, taruh di wadah rapat, simpan di kulkas. Sudah, aman dapur saya sebulan ke depan.

Lain itu, untuk sayur simpel seperti sayur sop, sayur asem, sayur bening, eksekusi sendiri. Itupun ala-ala saya, yang simpel dan gak ribet. Dan pasti, masak singkat, dalam 30 menit siap saji.

Bumbu sayur sop: bawang putih, bawang merah ditumis tipis-tipis sampai harum, lalu masukkan ke rebusan air dan sayur-mayurnya (wajib seledri). Tambah gula dan garam secukupnya. Fix, jadi sayur sop, hanya 30 menit masak siap jadi. Sayur yang sering saya pakai adalah wortel (wajib), brokoli, kubis. Kalau selera boleh tambah makaroni, bakso, tahu, dll.

Bumbu sayur asem: bawang putih, bawang merah, lengkuas, dan sensasi asem iris tipis langsung masukkan ke rebusan air dan sayuran. Tambah gula dan garam secukupnya, beres! Masak 30 menit siap saji. Sensasi asem bagi saya tidak harus buah asem beneran, bisa diganti belimbing sayur atau tomat. Sayurnya sesiapnya bahan, bisa kacang panjang dan kubis, kubis dan mentimun krai, kacang panjang dan kangkung, kacang panjang dan kecambah besar, mix antara mereka deh intinya.

Bumbu sayur bening: bawang merah, kunci (apa ya nama umumnya rempah ini? Pokoknya saya menyebutnya kunci), daun kemangi masukkan ke rebusan air dan sayur. Lagi-lagi, tambah gula dan garam secukupnya, jadi deh masak 30 menit siap saji. Pilihan sayurnya bisa beragam: bayam saja, bayam plus gambas, bayam plus waluh sayur, daun katuk, dll.

Berbicara stok bahan, sekali belanja, minimal untuk 3 hari. PR nya adalah kreasi masak dengan bahan yang sama. Misal wortel, hari ini sayur sop, besok tahu isi wortel, lusa lodeh wortel. Terong hari ini dimasak balado, besok terong krispi, lusa sambel terong. Dan banyak kreasi yang bisa kita cari diinternet kan?

Oke, itulah tips ala saya untuk dapur Mak Idear yes. Insyaallah kalau model masaknya kayak ini akan cepat, apalagi jika kompornya lebih dari satu, dua tungku. Satu untuk masak sayur dan lauk pelengkapnya, satunya lagi untuk masak nasi, 30 menit masakan akan tersaji dan siap dinikmati. Eh, saya masak nasi manual lho, tidak pakai sekali colok matang. Kapan-kapan insyaallah saya bagi tips masak nasi. Hehehe….penting gak sih?

Closingnya begini, Mak Idear, semua tips yang saya tulis itu butuh niat kokoh Mak Idear. Niat kokoh untuk benar-benar mau masak. Jangan sampai stok bumbu, stok sayur, dan stok bahan-bahan masakan itu hanya menjadi hiasan kulkas belaka! Salam panci dari dapur ya, Mak Idear! Semangat masak sehat lezat untuk keluarga tercinta![]

Ada Apa dengan KAMMI

Ada Apa dengan KAMMI

Desember tahun 2018 adalah masa-masa aku genap 5 tahunan purna dari gerakan mahasiswa bermana KAMMI. Selain bukan lagi mahasiswa, amanah KAMMI memang sudah berpindah estafet ke generasi selanjutnya.

Namun ternyata, penghujung 2018 mengantarkanku untuk mengemban amanah, menjadi delegasi PD KAMMI Jombang untuk bergabung dengan Gerakan 100 Tokoh Perempuan KAMMI. Ada semangat yang memuda, saat harus pulang ke rumah bernama KAMMI.

Dan Desember tahun kemarin memang masih beberapa hari saja berlalu. Tapi aku akan ceritakan bagaimana aku telah memilih KAMMI menjadi bagian hidupku sejak 19 tahun yang lalu.

Banyak yang berkata bahwa mahasiswa adalah pemuda hebat di masanya. Dia sanggup melakukan apapun dengan energi terbaiknya, tinggal memilih mau menjadi baik ataukah menjadi buruk. Berkutat dengan kegiatan positif ataukah berkubang dalam kenegatifan. Saat itu aku memilih dekat dengan teman-teman yang aneh (menurutku) berharap aku dapat berkutat dalam kebaikan.

Tahun 2007 mahasiswa menjadi gelar baru dalam hidupku, dengan segala drama yang menyertainya. Tak perlu kubahas disini yes. Belum banyak kata hijrah mendominasi dialog muda mudi saat itu, bahkan tentang hijrah dianggap hal tabu untuk dibahas bersama. Awal kuliah aku memilih aktif di HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika), bergabung kemudian dengan UKM Kerohanian Islam yang bernama PEMAS (Pemuda Islam) di tahun 2008.

Masih sangat ingat, aku dengan susah payah ikut kegiatan rekrutmentnya yang dipanitiai oleh 4 orang saja yang tampak di depan (ternyata semangat di belakang mereka luar biasa), terdiri dari yang kusebut Mbak Anik, Mbak Fina, Pak Pendik, dan Pak Yunus. Ada satu lagi sebenarnya, aku lupa namanya, tapi yang tampak perjuangannya adalah empat sosok itu. Saat itu aku bersama air mata ikrar kesetiaan anggota bertekad untuk semangat memperbaiki diriku dengan menggunakan islam sebagi cerminnya.

Banyak hal seru terjadi, salah satunya adalah terlibat di pergantian sulit nama UKM PEMAS(Pemuda Masjid) akhirnya berubah menjadi UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam). Hari-hariku di kampus lebih banyak tentang UKKI daripada kuliah itu sendiri. Pikiranku apalagi, aku begitu tertarik dengan hal tentang dakwah kampus dibandingkan mata kuliah-mata kuliah yang ada.

Hingga pada tahun 2009 aku mengenal KAMMI. Berawal dari banyaknya teman-teman UKKI yang ternyata masih rela berpeluh energi untuk dakwah di ekstra kampus. Karena ukhuwah akhirnya akupun dapat mengikuti kegiatan-kegiatan KAMMI. Sangat mudah, sebab waktunya lebih banyak di luar jam-jam kuliah, dan tempatnya di luar kampus yang masih sekitaran juga.

Setiap KAMMI mengadakan DM 1, aku ditawari untuk bergabung dan jawabanku adalah TIDAK. Alasannya macam-macam, mulai dari ingin fokus UKKI, khawatir terlalu banyak hal yang dipikir, KAMMI terlalu banyak ikut campur politik, dan lain-lain. Namun yang tidak habis pikir saat itu, meski tidak mau menjadi kader KAMMI, ternyata agenda-agenda KAMMI tetap aku ikuti.

Hingga di tahun 2010, aku ikut agenda yang bertajuk Bedah Buku “Mengapa Aku Mencintai KAMMI” yang mana pengisi acaranya adalah ustadz yang pada akhirnya menjadi ustadz terbaik bagiku, Ust. Fathoni. Bukunya masih baru terbit saat itu, dan sangat  ringan isinya. Sekedar kumpulan semacam diary kader KAMMI tengang itu tadi, perasaan cintanya pada KAMMI. Sebab kakak-kakak di KAMMI baik hati, aku dipinjami buku itu dan tentu saja aku membacanya.

Cintaku pada KAMMI muncul dari buku itu. Membacanya membuatku terinspirasi tentang membuka hati dan mulai menyambut energi cinta dari KAMMI. Akhirnya di tahun 2011 aku menjadi kader KAMMI. DM 1 kulalui dengan istilah DM 1 akselerasi, seperti apa? Kalau mau tahu kontak langsung aku yes! Hehehehe. Kemudian DM 2 kujalankan saat aku sudah selesai wisuda. Ikut PD Malang Raya yang saat itu diketuai oleh orang yang kemudian hari tampil di acara audisi stand up komedi.

Aku ada di KAMMI karena aku membaca dan berada di pelukan KAMMI aku membaca banyak hal. Tentang ukhuwah tanpa koma, kepemimpinan yang beradab, ketaatan yang utuh, hingga konflik yang teduh.

KAMMI mengajarkan aku tentang ukhuwah tanpa koma. Jeda dalam ukhuwah di KAMMI aku rasakan telah menghilang, tak pernah kujumpai. Bersama bukan lagi tentang organisasi semata, tapi lebih dari keluarga. Satu sakit, semua datang untuk menguatkan. Satu menang, semua datang untuk merayakan penub kesyukuran. Jika benar, dukungan penuh akan dihadirkan dan jika salah maka penyelamatan dilakukan habis-habisan.

KAMMI mengajarkan aku tentang kepemimpinan yang beradab. Bahwa jabatan tidak untuk diminta melainkan untuk diemban dengan tanggungjawab sepenuhnya. Menjadi pemimpin yang kemudian hari dilepas dan kembali berbaris sebagai prajurit adalah hal yang tidak untuk dirisaukan, sebaliknya itu adalah kewajaran yang harus dilaksanakan. Menjadi pemimpin dijalankan dengan penuh, menjadi prajurit dilaksanakan dengan utuh. Tak ada ajaran ambisius untuk sebuah posisi tertinggi, sebab yang terpenting bukanlah posisi melainkan kontribusi.

KAMMI mengajar aku tentang ketaatan yang utuh. Taat pada Allah swt. dan Rasul-Nya dengan utuh, taat kepada pemimpin yang ada dengan utuh, dan taat pada manhaj dengan utuh. Tentu saja aku tidak lepas dari pembangkangan dan sanggahan, namun ujung yang kudapat adalah pelajaran tentang taat yang utuh.

KAMMI mengajarkan aku tentang konflik yang teduh. Mustahil tidak ada konflik dalam kumpulan pikiran yang beda-beda. Namun, semuanya terselesaikan dengan teduh. Duduk bersama hingga pada kesepakatan tamat dan setelahnya baik-baik saja. KAMMI mengajarkanku betapa kerja-kerja dakwah sangat besar, memerlukan banyak energi, sehingga sangat rugi jika energi habis untuk hal-hal yang seharusnya dapat selesai dengan cepat. Apalagi jika untuk urusan internal, tentang ukhuwah yang koyak, atau bahkan untuk urusan pribadi.

Terakhir, KAMMI juga mengajarkanku tentang cinta yang lurus. Unik, selama aku di KAMMI, aku menyaksikan sendiri Allah swt.memasangkan banyak sekali hati dan hati kader KAMMI dalam ikatan sakral bernama pernikahan. Kehebohan menjadi kejutan tiap periode masa, setahun sekali bahkan lebih itu ada. Tiba-tiba dapat pengumuman untuk membantu pernikahan Ukhti A dengan Akhi X adalah hal biasa yang selalu mempesona. Ketua Komsat menikah dengan bendahara, Ketumda menikah dengan Ketua Bidang Perempuan, ini menikah dengan itu, selalu ada. Bahkan akupun mengalami. Ahahahaha! Iya, aku dan suami adalah kader KAMMI.

Lantas, benarkah Cinta Bersemi dalam Dakwah KAMMI?

Tentang ini aku akan bercerita kisahku, tahun 2009 aku mulai ikut kegiatan KAMMI, dan saat itu akupun memiliki sebuah kenalan nama sosok yang kemudian hari menjadi suamiku. Sebab batasan pergaulan laki-laki dan perempuan sangat dijunjung tinggi dalam KAMMI, maka saat itu tak ada komunikasi apapun antara aku dengannya. Nomor HP dia tentu saja aku simpan, tapi tidak pernah aku gunakan. Saat aku sudah menjadi kader KAMMI bahkan sudah diamanahi menjadi pengurus daerah saat itu, barulah aku komunikasi dengannya. Hanya 1 tema tentang organisasiorgan aku bahas, aku mengirim SMS tidak dibalas, karena penting telepon kulakukan tapi tidak diangkat, bahkan aku email juga tidak dibalas. Dan saat itu adalah komunikasi tak bersambut yang menjadi komunikasi satu-satunya hingga kemudian akad nikah terjadi, tahun 2013.

Teman-teman KAMMI yang saya kenal juga berkisah yang sama. Meski sama-sama dalam barisan dakwah KAMMI, tidak ada yang kemudian tahu bahwa mereka akan diproses dan menjadi suami istri. Pernikahan KAMMI utuh dalam bingkai islami yang indah. Melalui perantara orang shalih, para ustadz/ah, diproses dengan syar’i dan yang pasti bukan kami yang memilih, tapi Allah swt yang memilihkan KAMMI menjadi background pernikahan kami.

Apakah rasa kecenderungan antar kader tidak ada?

Tentang ini, aku akan kabarkan bahwa kami yang ada dalam kawah candradimuka KAMMI adalah pemuda-pemudi biasa. Hati kami bahkan lebih lembut dan tetap bergelora sesuai fitrahnya. Usia-usia jelang pernikahan yang ranum dan penuh pesona. Perasaan itu pasti ada, seolah terkagum dengan si A, meras GR karena si dia memberi perhatian lebih, ingin diperhatikan yang itu, tentu saja ada. Namun itu tadi, taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya kami junjung dengan utuh. Adab pergaulan kami jaga sekuat mungkin, manajemen hati diikhtiyarkan hingga titik darah penghabisan. Saling menjaga. Kami mungkin saling berdoa, harapan ada, tapi usaha untuk tidak membuatnya membuncah itu adalah utama. Bagi kami, ekspresi cinta terbaik adalah dengan penghambaan yang utuh kepada Pemilik Cinta.

Adakah yang gugur dari KAMMI karena masalah hati?

Ada pastinya. Beberapa temanku mengalami. Cinta tak bersambut berakhir pada gugurnyag dia dari medan dakwah KAMMIM atau bahkan cinta bersambut dan keduanya hengkang. Bukan karena dikeluarkan, tapi karena ia tidak sanggup bertahan.  Merasa stigma menempel, malu yang tebal mungkin, lalu tidak sabar menunggu waktu sebagai penyembuh keadaan, akhirnya memilih mundur. Namun hal mendasar sebenarnya adalah pada niatan. Jika niat bergabung di KAMMI adalah karena Allah swt. maka rintangan apapun, terjatuhnya hati sekalipun tidak akan membuatkan hengkang dari barisan mulia ini. Jatuh dalam lubang salah adalah hal yang mungkin dialami. Saat sudah jatuh, pilihannya hanya dua: Hengkang atau bertahan. Jika memilih hengkang maka usai sudah, kereta dakwah akan melaju tanpamu, namun jika memilih bertahan, maka inilah kader dakwah sesungguhnya.

Tidak adakah pelanggaran di KAMMI?

Ada, bahkan banyak. Namun yang menjadi sorotan bukan kekhilafan yang dilakukan melainkan besarnya usaha pertaubatan. Yang menyalahgunakan amanah ada, namun perbaikannya yang menjadi prioritas. Bagaimana kader KAMMI menerima kesalahannya kemudian berusaha memperbaiki diri, inilah point pentingnya. KAMMI mengajarkan padaku, bahwa kesalahan diri itu untuk diterima sebagai kesalahan, setelah itu mengiringinya dengan pertaubatan dan berbagai kebaikan-kebaikan yang mampu dilakukan. Kesalahan bukan untuk dibela habis-habisan dengan terang-terangan, cukup diterima dan diazzamkan untuk perbaikan.

Ah, berbicara tentang KAMMI tak ada habisnya. Kucukupkan saja sampai disini. Sebagai penutup aku ingin sampaikan bahwa perjuangan KAMMI itu mulia, mahasiswa, pemuda terbaiklah yang ada di dalamnya. Maka istiqomahlah, wahai hati yang telah menetapkan pilihan pada KAMMI! Allah swt. adalah alasan kita bertahan, dengan demikian tak akan sanggup kecewa tengang manusia menggoyahkannya. Jikapun ada keterjatuhanmu di dalamnya, akuilah kamu sedang jatuh dan segeralah bangkit memperbaikinya!

Salam Mahasiswa Muslim Indonesia!

Merancang Masa Depan

Merancang Masa Depan

Hai, Idears! Tahun baru segera datang, apa yang kamu siapkan untuk menyambutnya? Please, jangan jawab dengan persiapan kalian di jam 00.00, please, jangan! Kuharap kalian sudah siap dengan berbagai resolusi unik nan menawan untuk menjalani kehidupan di tahun baru nanti.

Nah, sebelum Desember habis, yang belum menyusun rancangan masa depan di tahun baru, segeralah buat! Sebab rancangan masa depan berperan 50% untuk kenyataan yang diinginkan. Kira-kira begitu kata motivasi tentang rancang-merancang. Bahkan ada kalimat motivasi yang lebih ekstrim tentang merancang masa depan: Merancang masa depan dengan baik sama dengan menempuh separuh perjalanan menuju keberhasilan. So, tunggu apa lagi, kerjakan!!!!

Membahas tentang merancang masa depan, Idear semua mulai benar-benar merancang masa depan saat usia berapa? Kalau aku, merancang masa depan sampai ditulis bahkan digambar macam skema itu saat tahun 2007, akhir masa SMA. Berawal dari menonton video Danang Sang pembuat Jejak, kisah mahasiwa IPB yang membuat daftar target hidup yang ternyata setiap target hidupnya satu per satu terwujud dengan cara Allah swt.. Kemudian dilanjut dengan terbitnya novel Kang Abik yang fenomenal waktu itu, Ayat-Ayat Cinta. Karakter Fahri begitu kuat menghipnotis banyak remaja muslim saat itu. Hingga gaya hidupnya membuat peta kehidupan diikuti banyak orang pada masanya, termasuk aku.

Tradisi ini terus berlanjut dan seolah menguat saat tahun 2011, aku kerja di sebuah lembaga amil zakat dan direktur yang menjabat waktu itu lebih gokil tentang rancang-merancang. karena jaman sudah mulai serba dikomputerisasi waktu itu, rancangannya ada di laptop dengan folder data yang sangat rapi. Pada satu moment beliau menyampaikan bagaimana beliau menyusun rancangan target-targetnya dengan detail, baik urusan kantor sampai urusan keluarga. Beliau memiliki 1 istri dengan 6 anak. Ditunjukkan secara terbuka bagaimana setiap orang yang menjadi tanggungjawab Beliau dibuatkan folder masing-masing. Ada folder istri, anak pertama, kedua, ketiga, dst. Belum lagi ditambah bapak, ibu, mertua, adik perempuan, dan lain sebagainya. Semuanya detail dan Beliau memiliki target untuk masing-masing. Bahkan aku mengulik dari istri beliau, ternyata rancangan itu dibuat bersama-sama. Setiap tahun ada RAKER KELUARGA. Hah, keluarga ada rakernya???? Keren, Idears! Akhirnya, sejak jombloku berakhir akupun mengikuti jejak beliau: RAKER KELUARGA. Hehehe! 

Sebenarnya, aku memang tipe orang yang terencana, bahkan terlalu sampai-sampai sahabatku  banyak yang kesal. Apapun yang di luar rencana sulit aku terima, ini menjadi bekal untuk aku selalu rajin membuat peta hidup atau rancangan masa depan macam Pak Danang ataupun tokoh fiktif Fahri.

Dari 2007 sampai sekarang, keajaiban-keajaiban seperti yang dirasakan Danang Sang pembuat Jejak hampir selalu kualami, bahkan yang dramatis full romantis seperti Fahri dalam Novel Ayat-Ayat cinta pun ada. Salah satunya saat sejak 2007 aku menargetkan menikah di usia 25 tahun, ternyata kesampaian. Benar-benar dengan cara Allah swt.  Padahal di detik-detik menuju usia itu, 2 tahun terakhir tidak ada laki-laki yang datang. Amazing!

Oke, back to topic! Selama 10 tahun lebih aku merancang masa depan, membuat peta kehidupan, meski tidak sedetail Pak Direktur, aku menyadari satu hal dalam penyusunan rancangan masa depan. Apakah itu?

Ternyata selama ini rancangan itu menyusunkan daftar impian saja. Daftar keinginan-keinginan tersusun menjulang luar biasa. Padahal semakin tinggi pohon, pucuknya akan digelitik sepoi angin. Harusnya rancangan masa depan berisi dua hal: Siap bersyukur saat target tercapai dan lapang menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Aku belajar pada lembaran-lembaran rancangan masa depan yang kubuat (akhir tahun ada evaluasi), pada target yang tercapai ternyata bahagia tiada tara itu terasa seolah keajaiban khusus Allah swt.kasih untukku dengan sangat spesial. Namun, saat hantaman masalah datang di tengah-tengah rancangan masa depan, kesiapan menerimanya tidak ada. Syukur sering hampir terlewat karena bahagia luar biasa, dan kesanggupan menerima hantaman sangat terbatas, intinya, sering tidak siap.

Jadi, mari kita siapkan dua rubrik untuk menyambut tahun baru! Rubrik kesiapan untuk bersyukur atas impian yang tercapai, dan rubrik kesediaan untuk menerima hantaman yang tidak kita inginkan, hal-hal yang harus kita lepaskan, sesuatu yang bukan untuk kebaikan kita sekalipun baik di mata kita.

Oke, the last, manusia bisa merancang dan Allah mutlak merevisinya hingga sempurna![]

Saling Percaya (1)

Saling Percaya (1)

Hai, Idear Mak, Para Emak yang kaya ide luar biasa! Dari judulnya, ketebak pastinya kalau coretan kali ini terdiri dari beberapa bagian. Maklum, Mak, sedang rindu menulis cerbung. hihihi…

Aku hanya akan share tentang hubungan orangtua dan anak. Widih, mirip materi parenting prolognya yes? Tenang, Mak! kita kalem wae yes. Parenting tipis-tipis lah. Okey.

Pada bagian ini pembahasan pada Anak yang percaya kepada orangtuanya. Dalem bingitz yes??!!! Oke, cuss….

DRAMA ROMANTIS DALAM SEKEPING BISKUIT

“Ada coklatnya ta?” Tanya Dzulki saat emaknya ini sedang asyik makan biskuit bermerk B*SVIT.

Aku mengangguk sambil menyodorkan biskuit padanya. Dia mengambil sekeping biskuit.

“Langsung dimakan ya, tidak dipisah-pisah!” Kataku. Yang emak-emak pasti tahu, anak selalu ‘mreteli’ alias membongkar biskuit sandwich kemudian yang dimakan isinya saja. Dan emaknya dapat biskuitnya yang hambar tanpa rasa. Eh?

Dzulki tidak menurut ternyata!!!!!!
Dia tetap ‘mreteli’ biskuit itu, dan berbaris kalimat sudah siap aku ucapkan, tapi terhenti saat dia menyodorkan tangannya bergerak ingin menyuapiku.

“Coklatnya buat ibu ya!” Katanya.
Uhhh, melted, Mak!!!!

Kali ini, aku mengunyah coklat. Barisan kalimat itu menyusut menjadi satu kata, “Kenapa?”

Dia menggeleng, sebelum kemudian menjawab, “Aku rotinya saja,”

Aku masih berusaha investigasi hasil perbuatan romantisnya. Pokoknya Emak pantang menyerah!!!!

“Apa karena Dzulki sedang batuk, jadi stop dulu makan coklat?”

Yang ditanya asyik makan biskuitnya. krik krik krik!

Baiklah, yang jelas kamu sukses akting drama romantis kali ini, my dear!

TIDAK LOMPAT-LOMPAT SAAT SENTRA

Saat menjemput Dzulki di sekolah, ustadzahnya memberikan evaluasi singkat kegiatan hari ini.

“Batuk terus, Bunda,” Kata Ustadzah favorit Dzulki. Satu waktu nanti aku akan ceritakan tentang beliau.

Aku tersenyum, meyakinkan bahwa batuknya memang demikian adanya dan tidak perlu dikhawatirkan.

“Tadi saat sentra diminta untuk lompat di huruf-huruf hijaiyah Mas Dzulki tidak mau,” Jelas beliau lagi.

Ow, kenapa ya, Ustadzah?” Tanyaku, sebab lompat, lari, memanjat adalah kegiatan favorit Dzulki.

“Katanya ‘masih batuk, tidak boleh lompat-lompat dulu‘”

Wew!!!!!!!

(Flashback: Di rumah sering aku ingatkan untuk tidak lompat dan lari dulu saat dia batuk, sebab kalau terlalu capek asmanya sering kambuh.)

Sesampai di rumah, ustadzah fasilitatornya mengirim chat WA padaku, isinya pemberitahuan bahwa kelas hari ini pemberian hadiah untuk ananda berupa pasta coklat, tapi Dzulki tidak dibukakan, coklatnya boleh dibawa pulang dan untuk makan harus izin ibu.

Aku tengok tas, coklat tidak ada. Aku tidak yakin Dzulki memakan coklat itu.

“Tadi dapat coklat dari ustadzah?” Tanyaku, dan dia mengangguk.

“Sekarang dimana coklatnya?” Tanyaku lagi.

“Dimakan Mas Al,” Jawabnya sambil asyik mainan.

Well, dia benar-benar tidak makan, Mak!

Bahkan ada dua hari berturut-turut tiap pulang sekolah di tas Dzulki ada permen Y*PI. Dia bilang bikasih ustadzah, tapi makannya sama ibu. Akhirnya, setiap kali makan, permen berbentuk tanda cinta itu kami pegang barengan di sisi-sisi yang berlawanan. Kali ini aku harus menang, mendapatkan bagian yang paling banyak tanpa ada protes darinya.

“Ayo, Ki, kita tarik bareng ya! Dzulki masih batuk jadi permennya harus berbagi dengan ibu.”

Dia mengangguk gembira. Mungkin baginya yang penting makan permen, meski hanya secuil. Hahahaha!

CUKUP SATU SAJA

Dari awal, jika Dzulki ingin sesuatu maka boleh memiliki tidak lebih dari satu. Ikut belanja ingin jajan, maka boleh memilih 1 item saja. Perjanjian ini sebenarnya tidak sengaja aku lakukan padanya, tapi ternyata mengendap. Setiap ikut ke toko, dia akan membeli 1 barang keinginannya. Agak galau sih, kadang bisa berganti sampai 5 kali juga sebelum menentukan 1 item barang yang dia beli.

Hingga saat di sekolah ada bazar buku, biasa, selalu ada promo, beli 3 lebih hemat. Dan Emaknya tertarik!!!!

“Yang mana saja, Ki?” Aku menawarkan agar dia memilih 3 item.

“Yang Thomas,” Jawabnya sambil mainan pasir.

“Lalu yang mana lagi?”

“Yang Thomas ibu!!!!”

Kemudian ada walisantri lain yang ikut menggodanya, “Jangan beli satu, beli yang banyak!”

“Satu cukup,” Jawabnya ringan.

“Kalau satu cepat habis, beli yang banyak biar tidak cepat habis!”

“Satu saja, Ustadz!!!” Katanya dengan emosi. Eeeaaa! (Entah inspirasi darimana hingga walisantri itu dia panggil ustadz. tapi mending daripada dipanggil yang lain. wkwkwkw!)

Akhirnya, terbeli 1 buku mewarnai dengan harga 3.500. Fix!

SALING PERCAYA

Aku semakin yakin, sebagai Emak Dzulki, aku harus terus belajar menjadi orangtua yang baik.

Anak dan orangtua harus saling percaya. Sebab tidak selamanya ada bersama. Sebagai orangtua, mari ajarkan anak dengan penuh kejujuran dan kejujuran penuh, sehingga anak akan percaya kepada orangtuanya dengan penuh pula. Prinsip baik yang ditanamkan pada anak sejak dini akan membuat anak tumbuh sebagai manusia yang memiliki prinsip baik yang akan dia pegang teguh.

Satu lagi yang terkadang khilaf bagi emak-emak, apalagi macam saya. Tanpa sadar terkadang kita sendiri yang menghancurkan konsep yang sudah tertanam pada anak kita. Seperti saat anak sudah kekeh beli 1 item, emaknya tergiur promo. Heheheh!

Mari belajar menjadi orangtua yang baik, ya, Mak![]