….. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al-Mulk:3)
Allah menciptakan
segalanya adalah dengan prinsip seimbang. Dalam penciptaan langit, Allah
menciptakan pula bumi, dalam penciptaan malam, siangpun ada. juga laki-laki dan
perempuan, baik dan buruk, besar dan kecil, miskin dan kaya, hingga surga dan
neraka. Subhanallah! Semuanya seimbang.
Berbicara tentang
keseimbangan miskin dan kaya, dua keadaan ini adalah sebuah sunatullah dalam
hidup manusia. Kondisi ini akan tetap ada dalam kehidupan dan semua punya
peluang sama untuk mencapai salah satunya. Hanya saja setiap manusia berbeda
dalam menyikapi kondisi ini.
Bukan karena
bekerja manusia kaya dan karena tidak bekerja manusia miskin, karena bekerja
bukanlah sebab datangnya rezeki bagi manusia. Rezeki adalah pemberian Allah
swt. pemberian yang mana ada pertanggungjawaban bagi manusia. Nah, pertanggungjawaban
inilah yang kemudian membuat kondisi miskin dan kaya seimbang.
Allah SWT berfirman, Katakanlah:
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”.
dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan
Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba’ : 39)
Zakat dalam aturan
Allah swt. adalah ibadah wajib bagi ummat muslim. Dan ibadah ini adalah bentuk
menyeimbangkan antara miskin dan kaya.
Dalam QS At-taubah
ayat 103, Allah berfirman:
“Ambilah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

Rasulullah saw. juga bersabda, “Islam dibangun atas lima rukun : syahadat
“la ilaha illaLah muhammadar rosululLoh”,
menegakkan sholat, membayar
zakat,
menunaikan ibadah haji dan shoum di bulan ramadhan.”

Menurut bahasa, zakat adalah tumbuh (numuww),Suci (thaharah) dan bersih Berkembang
dan bertambah (ziyadah) , sedangkan menurut Istilah Fiqh artinya menyerahkan
sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orangorang
yang berhak menerimanya

Dari sini, maka tujuan zakat ada 2,
yakni:
Yang pertama, membersihkan : Membersihkan jiwa orang yang memiliki kelebihan harta
dari kekikiran, membersihkan hati fakir miskin dari sifat iri dan dengki, membersihkan
masyarakat dari benih perpecahan, dan membersihkan harta dari hak
orang lain
Tujuan zakat yang kedua adalah mengembangkan: Mengembangkan
kepribadian orang yang memiliki kelebihan harta dari eksistensi
moralnya, Mengembangkan kepribadian fakir miskin, mengembangkan dan
melipatgandakan nilai harta, sebagai Sarana jaminan sosial dalam islam
dan sebagai sarana mengurangi terjadinya kesenjangan sosial
Selain zakat, ada ibadah sunnah yang berkaitan dengan
harta, yakni infaq dan sedekah. Sebagai ibadah sunnah, infaq punya tujuan,
yaitu mengharap ridho Allah dan melatih diri untuk berbagi dengan yang
memerlukan. Dan manfaat sedekah adalah untuk dapat mencegah datangnya bala. Untuk
dapat memelihara harta dari hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk
mengharap keberkahan harta yang dimiliki.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:177)

Selain itu, ada juga firman Allah swt yang artinya:
Dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros.(QS.Al-Isra’:26)

Juga telah disampaikan bahwa bekerja merupakan bentuk
ikhtiarnya manusia memperoleh rezeki, namun, bekerja bukanlah sebab dari
datangnya rezeki karena rezeki itu adalah pemberian Allah swt. Manusia
mendapatkan rezekinya adalah karena Allah swt yang memberi, bukan karena ia
bekerja.
Oleh sebab itu, maka dalam penerimaan rezeki dari
Allah swt. disitu juga ada hak yang bukan hak kita. Dalam QS.Al-Isra’:26 yang
senada dengan QS.Ar-Rum:38, telah Allah swt. sampaikan bahwa dalam harta
(rezeki) yang kita terima ada hak orang lain.

Oleh karenanya, rezeki yang Allah berikan kepada
manusia bukanlah bulat-bulat milik kita pribadi, ada hak orang lain disana,
orng yang memerlukan. Dan saat kita menyerahkan hak mereka atas rezeki kita
maka Allah swt. menjanjikan pahala dan nikmat yang berlipat pula. Wallahu’alam
bish shawwab![
red-].