Kemudahan dalam Kesulitan

Kemudahan dalam Kesulitan

Tulisan ini jadi pada tanggal 30 Maret, pekan pertama perpanjangan masa darurat bencana wabah covid-19. Ada banyak hal yang telah kita lalui dalam dua pekan terakhir ini. Semoga membawa keberkahan dan hikmah istimewa bagi hidup kita.

Sedikit curhat, sebelum pembahasan ini saya sampaikan. Saya sendiri, sempat jatuh dalam masa darurat dua pekan kemarin. Pekan pertama saya terserang psikosomatik hampir tiap malam dan hendak keluar rumah. Ada rasa ketakutan yang luar biasa, membayangkan orang-orang terdekat saya mengalami hal-hal buruk.

Pekan kedua, saya mulai berdamai. Menenangkan diri, menata amanah-amanah yang sempat tak maksimal di pekan sebelumnya.
Nah, di pekan ketiga, saya berharap tidak ada lagi psikosomatik dan apapun yang menghambat saya untuk menjalani masa-masa sulit ini. Saya targetkan, mulai pekan ini untuk bangkit.

Saya menceritakan ini dengan harapan, andaikata ada yang mengalami hal serupa, semoga segera bangkit dan berjuang. Setiap orang memiliki masa terjatuh. Kemudian dia menikmati segala lukanya. Namun, jeda jatuh itu jangan lama-lama. Percepat dan teruskan perjuangan. Apapun bentuk kesedihan itu.

Saya akan membagikan kisah Nabi saw yang termaktub dalam tafsir QS. Asy-Syarh. Surah yang sangat kita hafal. Bahkan di surah itu ada bunyi kalimat yang diulang dalam 2 ayat.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh:5-6)

Surah ini mengisahkan kondisi Muhammad saw yang merasa gelisah dan cemas atas reaksi kaumnya terhadap dakwah yang diserukan. Kemudian, Allah swt menghibur dengan melapangkan hati beliau dengan janji pertolongan dalam perjalanan dakwah yang dinisbahkanNya.

Dalam setiap kesempitan, terdapat kelapangan. Dalam setiap kekurangan sarana untuk mencapai suatu keinginan, terdapat pula jalan keluar. Kunci untuk mencapai itu adalah berpegang pada kesabaran dan tawakal kepada Allah swt.

Dalam tafsirnya disebutkan, ayat ini seakan-akan menyatakan bahwa bila keadaan telah terlalu gawat, maka dengan sendirinya kita akan keluar dengan selamat dari kesusahan tersebut, dengan melalui segala jalan yang ditempuh, sambil tawakal kepada Allah swt.

Jadi, jangan mengeluh, kapan datangnya kemudahan, kapan selesainya kesempitan ini, dan seterusnya. Fokuslah pada satu hal: syukur.

Dalam surah ini, cara bersyukur seorang mukmin adalah dengan tekun beramal salih dan tawakal. Tekun beramal salih sambil tawakal diwujudkan dengan terus beramal. Setelah selesai satu urusan, segera beralih pada urusan selanjutnya. Mengapa begitu?

Karena terus beramal salih akan membuat jiwa menemui ketenangan dan kelapangan hati.

Mari ambil hikmah dari surah ini. Dalam masa-masa sulit ini. Covid-19 bukan sekadar bencana wabah, tapi juga bencana sosial, bahkan bencana mental. Imun jasadiyah, imun ruhiyah, dan imun fikriyah harus seimbang.

Sudah banyak informasi mengenai menjaga kesehatan dan kebersihan sebagai wujud penguatan imun jasadiyah. Begitu pula dengan imun fikriyah. Berbagai informasi banyak diposting di berbagai media sosial. Bahkan, para psikolog sudah bersama-sama melayani konsultasi agar secara mental masyarakat kuat.

Nah, sudah saatnya kita mengambil peran untuk menguatkan ruhiyah. Mari mulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang sekitar kita yang dapat kita jangkau. Kuatkan ruhiyah dengan rasa syukur. Tekun beramal salih, istilah kekiniannya adalah produktif. Ayo, produktif dimana saja!

Sekalipun mobilitas terbatas, kita harus tetap produktif. Targetkan hal baik dengan sebaik mungkin.

Kelak, saat bencana wabah ini berakhir, kita akan kembali normal. Jangan sampai kita bingung akan melakukan apa setelah begitu lama membatasi mobilitas, di rumah saja.

Anggaplah saat ini adalah masa untuk mengumpulkan kekuatan, sehingga kita akan keluar dari masa sulit ini dengan mempersembahkan karya terbaik kita.

Apa saja yang bisa kita lakukan, masing-masing kita pasti bisa merumuskan. Intinya, mulai targetkan diri untuk menekuni amal salih. Jangan lupa, disambi dengan tawakal. Sebab Allah swt adalah satu-satunya Penguasa Alam Semesta.

Wallahu’alam bish shawwab.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

With loveūüíôūü§ó

Menulis

Menulis

Setiap orang pasti memiliki motivasi dalam bertindak, termasuk menulis. Pasti ada hal yang yang membuat menulis itu istimewa, dan motivasiku menulis ada minimal 3 hal, yaitu:


Pertama, menulis itu cara santun menghargai kenangan.


Ya, bagiku kenangan adalah bagian penting dari proses kehidupan. Partikel-partikelnya menyusun capaian hidup saat ini, bahkan untuk masa yang akan datang. Apapun rasa yang dia hadirkan, bahagia, puas, latihan sabar, menerima kecewa, bahkan kehilangan. Semuanya adalah bagian terbaik dalam kehidupan kita.
Hebatnya lagi, kenangan satu orang saja, dapat menggugah, memotivasi, bahkan menginspirasi banyak hati. Kisah yang mungkin secara umum sama, namun bisa saling mengajarkan, saling mendidik, bahkan saling menguatkan satu sama lain.

Karenanya, cara yang kupilih untuk menghargai kenangan adalah menulis. Pelajaran tentang menulis yang pertama kali aku dapat adalah menulis dengan jujur. Sejak saat itu, aku tergugah untuk menulis dengan ringan, jujur, tanpa mengada-ada.

Kejujuran memberi dampak langsung pada tulisan kita. Kepercayaan pembaca akan kejujuran tulisan kita adalah modal terbaik untuk tersampaikannya amanat tulisan kita.

Membingkai kejujuran dalam tulisan adalah proses kreatif dalam menulis. Berkisah dengan jujur, embari menjaga adab dan nilai-nilai kehidupan adalah bentuk kita menghargai kenangan.

Ini, benar-benar memotivasi aku untuk terus menulis, menuliskan kisahku, pengalamanku, dan juga ide-ideku sebagai upaya menghargai kenangan dengan santun. Membuatnya lahir sebagai karya yang mengantarkan jiwa untuk berkontemplasi, menginspirasi, juga menguatkan banyak hati di luar sana.

Dua, menulis itu cara ampuh mengendapkan hikmah.


Tebaran hikmah dalam hidup ini sangat berlimpah. Apapun yang hadir pada kita memiliki hikmah. Baik itu yang secara langsung hadir untuk kita maupun untuk orang-orang sekitar yang masih terjangkau oleh kita.


Hikmah yang terserak dengan sangat berlimpah itu agaknya memerlukan kepekaan. Melatih hati untuk peka terhadap hikmah yang dikaruniakan Allah swt. adalah kemuliaan. Sebab hati yang peka akan mampu mengendapkan hikmah dalam jiwa.


Menulis adalah cara ampuh mengendapkan hikmah. Banyak sekali pelajaran-pelajaran hidup yang berhikmah, namun mengingatnya sepanjang waktu itu ada batasannya. Batasan itu adalah kelenyapannya yang tak meninggalkan beban apapun.

Menulis membuat kita terpaku, termangu, dan sampai ter mengendap di hati kita, inilah keniscayaan

Salah satu cara ampuh mengendapkan hikmah adalah menulis. Aku benar-benar mengakui, banyak tergugah nilai-nilai hikmah setelah membaca sebuah tulisan. Tulisan begitu kuat mengantarkanku pada proses kontemplasi terbaik dalam mengambil hikmah sebuah hal kemudian mengendapkannya di hatiku.

Tulisan sangat ampuh membuatku menyesap hikmah. Itulah mengapa aku menulis. Berupaya untuk mengantar orang lain menyesap hikmah dari tulisan yang kubuat.


Tiga, menulis itu bersama menuju surga.

Saya selalu sampaikan di kelas menulis yang saya ampu, bahwasanya menulis itu bebas, tidak perlu takut salah dan jelek, sebab tugas kita adalah menulis. Kita tidak akan pernah tahu apakah tulisan kita jelek atau salah sampai kita menyelesaikannya dan mempublish-nya. Oleh karena itu, menulislah!

Satu yang membedakan dari aktivitas menulis saya adalah tentang kebermanfaatan. Menulis apa saja, yang penting bermanfaat. Saat disuguhkan kepada pembaca punya nilai manfaat, minimal yang disampaikan adalah kebenaran.


Bagi saya, ide tulisan ada rezeki dari Allah swt.. Karena rezeki, maka tidak boleh disia-siakan. Menyelesaikannya hingga tuntas, jadi sebuah tulisan yang utuh adalah tanggung-jawab kita. Jadi, itulah mengapa, jika ada ide tulisan kemudian di tengah jalan macet atau bertemu ide lain, maka boleh beralih menulis yang lain, namun dengan tekad akan menyelesaikan yang belum rampung.

Menulis adalah aktivitas surga. Melalui tulisan kita bisa menyesap nikmat surga, insyaallah. Tulisan yang bermanfaat dan terbaca, kemudian teramalkan dapat menjadi amal istimewa buat penulisnya. Kebaikan yang kita tulis kemudian diikuti oleh banyak orang, pembaca, sungguh luar biasa. Kebenaran yang menyadarkan, menggugah pembaca, masyaallah, ini bisa membuat kita ke surga bersama-sama.

Ya, menulis itu bersama menuju surga. Aamiin, Insyaallah![]

Sakit Gigi Saat Hamil Dzulki

Sakit Gigi Saat Hamil Dzulki

Tentang lirik lagu yang melegenda, “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”, aku sama sekali tidak sepakat. Sebab nyatanya, aku lebih berhasil bertahan saat sakit hati daripada sakit gigi. Ini serius,. No bokis. No kaleng-kaleng.


Alhamdulillah, aku sangat jarang sakit gigi. Pertama sakit gigi, saat itu aku kelas IV SD. Sakitnya sejak maghrib sampai keesokan harinya. Tidak makan obat oral saat itu, hanya pipiku dioles minyak tawon semalam suntuk. Sakitnya? Duh, jangan ditanya! Sakitnya kelas IV SD, rasa sakitnya masih terus terkenang sampai sekarang.


Cenut-cenutnya luar biasa. Dipakai tidur malah ritmenya jelas sekali, dipakai nonton film kesukaan tidak mempan, bahkan mendengar orang berdialog rasanya ingin marah.


Sendirian di kamar dengan cenut-cenut rasanya nelangsa. Ingin diperhatikan, tapi siapa juga yang menjenguk orang sakit gigi? Ingin ditemani, tapi tiap melihat orang yang baik-baik saja, apalagi mengajak bicara, rasanya ingin marah saat itu juga.


Sakit gigi kembali aku alami, untuk yang kedua kalinya adalah saat aku hamil Dzulki. Seorang temanku pernah berbagi pengalaman, dia sakit gigi hanya saat mengandung saja. Usai meahirkan, gifi yang sakit copot dengan sendirinya.


“Anak empat, ya, empat gigi copot,” begitu katanya. Serem banhetz ya!!!?


Konon, kata Mbah Putri saat melihat gigiku, beliau memprediksi aku bakalan jarang sakit gigi. Gigiku, tambah beliau, adalah jenis gigi yang kuat, tidak sensitif.
Dan, setelah masa kanak-kanakku berganti menuju masa emak-emak, ternyata aku kembali sakit gigi. Di usia kehamilan yang baru dua minggu, gigiku tiba-tiba sakit.


Cenut-cenutnya tidak sedahsyat saat aku kelas IV SD, tapi karena hari itu aku ada jam mengajar full, benar-benar full dari jam pertama sampai jam terakhir, maka kelelahan membuat sakit gigiku terasa lumayan. Sampai di jam keempat selesai, aku memutuskan ke dokter.

Diantar suami waktu itu, tapi hanya diantar, sebab jam pelajaran menantinya. Tentu saja, dengan janji menjemput setelah 2 jam pelajarannya selesai. Aku berhitung kebiasaan ke dokter gigi, waktunya akan pas, pikirku.
Dental Care yang kukunjungi tidak seberapa ramai. Oh, ya, ini adalah pertama kalinya aku ke dental care. Namanya apa aku lupa. Biasanya aku ke klinik faskes 1 BPJS, tapi berhitung antrian, maka aku putuskan ke dengal care.

Setelah registrasi, aku diajak masuk ke ruang dokter. Masyaallah, ruangannya bagus sekali. Nyaman, sejuk, harum, dan tentu saja, dokternya ramah sekali. Ah, lagi-lagi aku lupa nama dokter cantik yang bermata sipit itu.


Aku mendapatkan pelayanan prima. Begitu duduk di kursi khusus itu, monitor di depanku menyala. Gigiku jelas tampak di layat yang cukup luas itu. Bahkan sangat detail.


“Bagus semua giginya, Mbak. Bersih‚Ķ” pujinya. Sayangnya pujian tidak meringankan cenut-cenut gigiku.


“Tapi ini sakit, Dok,” keluhku.
Dokter cantik itu mulai memeriksa seluruh gigiku dengan detail. Sesekali memakai memintaku berkumur.

“Sebelumnya pernah sakit gigi?”
Aku mengangguk, “Saat kelas empat, dan baru ini terjadi lagi.”


Dokternya manggut-manggut.
“Apakah pengaruh kehamilan ya, Dok?” tanyaku sambil santai leyeh-leyeh di kursi khusus itu.


“Mbak lagi hamil?”


Ekspresi dokter lucu. Rupa-rupa ekspresinya saat aku mengangguk sebagai jawaban. Pikirku dokter itu tidak percaya, sebab memang saat itu BB ku hanya 36 kg.

“Berapa bulan?”


“2 pekan, Dok.”


Seluruh peralatan praktik langsung terlepas dari jangkauan, dokter itu langsung kembali ke kursinya.


“Kita belum bisa observasi lebih jauh, Mbak, sebab bahaya bagi kehamilan. Diagnosa saya, gigi bungsu mau tumbuh.”


“Tapi sakit, Dok,” rengekku.


“Saya tidak berani, Mbak. Sembilan bulan lagi, setelah melahirkan balik kesini ya, kita lihat lagi,” jelasnya dengan ramah.

“Tidak ada obatnya, Dok?”

“Saya resep obat kumur, nanti pulang dipakai satu kali setelah itu stop!”

Akhirnya aku mengangguk. Menyerah, undur diri dari ruang dokter yang nyaman itu.

Seorang berbaju perawat menghampiriku, memintaku duduk menunggu obat yang diresepkan. Obat apa? Obat kumur. Hehehe….


Tak lama, aku dapat juga obat kumurnya dan tak lupa pesan penting: minum sekali, hentikan!


Tibalah aku ke kasir untuk pembayaran, aku sudah siapkan lahir batin untuk kesembuhan sakit gigiku. Aku siapkan budget sekitar sejuta untuk itu.

Melihat kondisi tempat, fasilitas, pelayanan yang sangat mewah, pasti harganya kisaran 1-2 juta, pikirku. Dan ternyata oh ternyata…..


“Sepuluh ribu, Mbak.”


Aku masih tidak percaya. Sepuluh ribu?

“Biaya konsultasinya, Mbak?” Tanyaku.

“Free, Mbak, sebab dokternya belum melakukan apa-apa. Kalau hamil jamgan ke dokter gigi ya, Mbak!”

Heheheeee…. Mana aku tahu coba.


Yup, aku keluar dari dental care super mewah hanya habis uang sepuluh ribu saja. Fantastis!!!!


Karena tidak mungkin menunggu jemputan, maka aku balik ke tempat kerja naik becak. Haduuhhh, ada-ada saja, ke dental care bayar sepuluh ribu, pulang naik becak, duduk sendiri sambil memangku helm seolah sudah hamil 9 bulan. Wkwkwk…. tapi bumil kan selalu benar. Hewhew!


Akhirnya, aku memutuskan untuk sedekah ke tukang becak. Sambil yerus berdoa agar segera sembuh.


Sampai di tempat kerja, semua heboh mendengar aku bercerita pengalamanku. Bahkan ada yang keesokan harinya ke dental care hanya karena tergiur dengan ceritaku. Pelayanan keren, harga murah pakai bingitz.


Seminggu kemudian saat aku sudah bebas dari sakit gigi, Bu Yoni, teman sejawatku heboh sendiri.


“Bu Syilviiiii‚Ķ‚Ķ Sepuluh ribu apanya????!!!!”


“Iya, sepuluh ribu‚Ķ. Bu Yoni dari sana?” Tanyaku.

“Iya, kemarin.” Wajahnya kusut menjawabnya


“Habis berapa?” Tanyaku


“Tujuh ratus ribu, belum perawatannya.”
Haaaaa!!!!!


“Tapi bagus kan?”


“Iya, Bagus. Tapi mahal‚Ķ..” Wajahnya memelas.


Aku nyengir saja. Memang aku benar kan ya, pengalamanku hanya bayar swpuluh ribu saja.


“Bu Syilvi sembuhnya pakai apa?”


Akunya senyum-senyum.


“Periksa ke bidan, habis tiga puluh tiga ribu.”


Semua yang menyimakku langsung tepuk jidat.[]

Tahun kelima Menjadi Seorang Ibu

Tahun kelima Menjadi Seorang Ibu

Hari ini, 9 Oktober. Di tanggal yang sama, Dzulki lahir, dan otomatis membuatku berpredikat sebagai seorang‚Äúibu‚ÄĚ. Banyak hal luar biasa yang kunikmati terkait keberadaannya dalam hidupku.

Sejak dia bisa diajak berkomunikasi, aku sering menemukan keunikan darinya. Mungkin setiap anak di fasenya mengalami gaya bahasa dan proses berpikir yang sama, namun, tetap saja, momentum keunikan Dzulki sepertinya perlu kutulis. Setidaknya, ini dapat menjadi sebuah tanda cinta yang kelak mampu memotivasi dia. Mungkin saat dia sudah tumbuh besar dan aku telah menua. Hehehe….

Beberapa dialog kami biasanya aku posting di status WA. Beberapa teman merespon: Kenapa tidak dibukukan saja.

Ah, benar! Tapi sayangnya banyak yang sudah lupa. Beberapa yang sempat kucatat dan kuingat sementara beberapa hal berikut ini:

Air Rasa Kuda

Di suatu acara, aku mengisi ulang botol air minum dari gallon air yang gucinya bergambar dua ekor kuda. Dzulki membuntutiku, kemudian mengamati gallon yang krannya mulai kubuka untuk mengisi botol.

Dzulki    : Bu, ini rasa kuda ya? (Tanyanya sambil menyentuh guci bergambar kuda.

Ibu         : (Nyengir saja, fokus mengisi air terpecah untuk mencari jawaban untuknya)

Dzulki: Aku nanti mau merasakan air rasa kuda.

Ibu         : (mengangguk dan menahan tawa)

Film Anak-Anak

Sore itu, Dzulki sedang menonton Film Upin dan Ipin di TV. Buyutnya berbaring di kasur depan TV seperti biasanya, sednagkan aku asyik bersih-bersih dapaur. Tiba-Tiba Dzulki berlari menghampiriku.

Dzulki    : Ibu, Buyut itu sudah besar ya?

Ibu         : Iya.

Dzulki    : Tapi kenapa buyut nonton film anak-anak?

Hahahahaha!

Bayi Tinggi

Entah apa yang sedang merasukinya, sore itu Dzulki lagi manja, minta gendong.

Ibu: Masyaallah, ada bayi gede minta gendong!

Dzulki: Aku bukan bayi gede.

Ibu         : Terus apa kalau bukan bayi gede? Bayi besar?

Dzulki    : Bukan. Aku lho bayi tinggi.

Hehehehe…

Cita-Cita

Ibu         : Dzulki kalau sudah besar  mau buat apa?

Dzulki    : Buat kereta panjang yang bisa terbang.

Ibu         : Masyaallah! Terus, Mas Dzulki jadi apanya? Sopir kereta terbang itu?

Dzulki    : Bukan, aku jadi polisinya.

Mikir sih, polisinya punya pos polisi di udara atau bagaimana ya? Hewhew….

Marka Jalan

Saat perjalanan ke sekolah, lampu merah menyala.

Dzulki    : Bu, kenapa tidak ada garisnya?

Ib            : Garis apa, Ki?

Dzulki    : Garis itu kan harusnya ada disini. (sambil menunjuk aspal tempat ban motor bagian depan menempel).

Ibu         : O, itu. Garisnya ada, tapi hilang.

Dzulki    : Kenapa bisa hilang?

Ibu         : Sebab kena hujan dan panas matahari.

Dzulki    : Kenapa tidak dicat lagi?

Ibu         : Iya juga ya?

Dzulki    : gak punya uang mungkin buat beli cat.

Hahahaha!

Susu Panda

Saat di tempat belanja

Dzulki    : Bu, aku boleh beli susu panda?

Ibu         : Itu namanya susu beruang, Ki.

Dzulki    : Bukan, ini ada gambarnya panda.

Ibu         : Beruang, Ki.

Dzulki    : Panda, Bu. Pandanya sedang duduk pegang air di gelas. Lihat!

Ibu         : Itu segelas susu, Ki.

Dzulki    : bukan, ini air. Susunya kan ada di dalam kaleng.

Ibu menyerah, gaes!

Nasehat Ayah

Waktu menjemput Dzulki, ustadzahnya laporan kalau dia tidak mau makan siang. Di perjalanan pulang, aku menawarinya makan.

Ibu         : Mas Dzulki mau makan apa? Ayam goreng?

Dzulki    : Beli ayam goreng ta?

Ibu         : Iya, boleh. Kita beli ayam goreng

Dzulki    : Bu, kata ayah lho gak boleh beli-beli terus.

Ibu         : (Nyengir) O, gitu! Kemarin sudah beli ya sama ayah?

Dzulki    : Iya, aku beli susu panda.

Ibu         : Ya, sudah berarti pulang saja ya, nanti makannya bisa goreng tahu atau telur di rumah.

Dzulki    : Ya beli ayam goreng saja.

Ibu         : Katanya tadi tidak boleh beli terus?

Dzulki    : Itu kan sama ayah. Sama ibu belum beli.

Kucing

Dzulki sedang mengulang pelajaran tentang gender.

Dzulki    : Kalau Dzulki sama ayah sama Mbahkung itu muslim. Kalau Ibu sama Mbahbuk sama Buyut itu muslimah.

Ibu         : Betul.

Dzulki    : Kalau Mas Ihsan itu muslim ya, Bu?

Ibu         : Iya.

Dzulki    : Kalau adek Azka muslim?

Ibu         : Iya.

Dzulki    : Kalau Aca muslimah ya?

Ibu         : Iya, Aca muslimah kayak ibu.

Dzulki    : Kalau kucing, muslim atau muslimah?

Hihihihi…….. Habis manusia kok jadi kucing sih, Ki.

Perut Berisi Adik

Dzulki    : Bu, dulu aku di perutnya ibu ta?

Ibu         : Iya, dulu. Terus Mas Dzulki keluar jadi bayi. Kecil sekali!

Dzulki    : Perut tempatnya adik bayi? (wajahnya gusar)

Ibu         : Iya.

Dzulki    : (Membuka bajunya) Perutku besar, Bu, lihat! Apa nanti keluar bayinya?

Ibu         : Tidak, perutnya muslim tidak ada bayinya.

Dzulki    : (tersenyum lega) yeyyy, perutku gak ada adiknya!

$#%$%&&^

Ibu Gak Sayang

Saat bersiap tidur, Dzulki menepuk-nepuk perutku.

Dzulki    : Perutnya ibu besar.

Ibu         : (pengen gulung-gulung menyadari kegendutanku)

Dzulki    : Adiknya nanti keluar ta ini?

Ibu         : Kalau iya bagaimana?

Dzulki    : (diam sebentar, terus pindah posisi memunggungiku) Ibu gak sayang ta sama aku?

Ow, so sweet!

Cinta Saja atau Cinta Banget

Ibu         : I love you, Ki.

Dzulki    : (diam saja)

Ibu         : Dzulki cinta kan sama ibu?

Dzulki    : Iya cinta. (sambil bermain)

Ibu         : Cinta saja atau cinta banget? (Emaknya mulai lebay)

Dzulki    : Cinta banget.

Love you, dear!!!!

Ibu Jangan Tua

Dzulki    : Bu, nanti aku bisa tinggi ya, kayak Ayah?

Ibu         : Bisa donk. Makan sayur yang banyak dan olahraga biar tubuhnya sehat dan tinggi.

Dzulki    : Nanti tinggi lebih dari ibu?

Ibu         : Iya. Nanti kalau ibu sudah tua, gendong Ibu ya, Ki!

Dzulki    : (matanya berkaca-kaca) Ibu jangan tua, nanti aku sedih!

Hidung Ayah

Dzulki    : Bu, kenapa hidungku tidak tinggi kayak hidungnya Ayah?

Ibu         : Dzulki kayak ibu, hidungnya pas, tidak terlalu tinggi. (wkwkwkwk)

Dzulki    : O‚Ķ.

Ibu         : Kira-kira kalau sudah besar nanti, hidung Dzulki bisa jadi tinggi kayak Ayah gak ya?

Dzulki    : Enggak.

Ibu         : Siapa tahu, Ki.

Dzulki    : Enggak, Bu. Hidungku segini aja.

Eh????

Snorkeling di Gili Ketapang

Snorkeling di Gili Ketapang

Gali informasinya tentang Gili Labak, giliran berangkat tujuannya Gili Ketapang. Sebenarnya Gili Labak itu terinspirasi sama teman-teman FLP Jatim waktu itu Silatwil ke Gili Labak, Madura. Saat itu karena bersamaan dengan agenda kantor, saya absen. Dari hasil lihat-lihat poto yang diunggah teman-teman di grup jadilah mupeng.

Dari situlah, saat akhirnya jadi panitia liburan kantor, aku mengusulkan alternatif tujuan yang salah satunya Gili Labak. Tim liburan akhirnya cari info, termasuk aku, dengan sangat semangat menghubungi teman FLP Pamekasan yang dulu jadi panitia Silatwil FLP Jatim.

Gili Labak memang indah, dan bagus sekali untuk snorkeling, infonya demikian. Pun kondisi pantainya, masih dari sumber informan, masih sangat kondusif alias tidak banyak pencemaran. Lalu, apa yang membuat berpindah gili?

Ternyata, jauhnya pakai banget. Pihak travel tidak merekomendasikan saat peserta rihlah anak bayi-nya. Haduh, dari ini saja, mana mungkin! Di kantor, tahun ini, ada beberapa bayi mungil lahir. Nak kanak usia balita jangan ditanya, lumayan banyak. Yup, kantor kami produktif memang, termasuk dalam hal nak kanak.

Benarkah sebegitu jauhnya? Masih dari informasi, penyeberangan ke Gili Labak bisa 4 sampai 5 jam itupun jika gelombang laut bersahabat. Salah seorang anggota FLP Jombang sendiri komentar, “Jauh, Bun. Siap-siap mabuk laut!”

Nah, kan, jadi ngeri, belum juga berangkat liburan sudah disuruh siap-siap mabuk laut!

Dari situlah tujuan berubah. Jadilah kami pergi ke Gili Ketapang.

Rombongan ada sekitar 50 orang. Setengah di dalamnya adalah anak-anak, balita, dan bayi. Berangkat dari Jombang jam 06.00, perjalanan 3 jam dengan 2 kali rehat, sampailah di Pelabuhan Gili Ketapang. Seturunnya dari bus, langsung disambut guide yang cantik lagi ramah. Kami diajak naik ke kapal yang muat menampung jumlah kami.

Duh, Si Ayah, ke Gili ketapang pakai baju Singapore! Pas pulang malah pakai baju Manado oleh-oleh Bunaken. hahaha

Semua wajah merona, kena sinar matahari jelang siang. Emak-emak rempong pakai sunscreen dan sejenisnya, termausk aku. Bapak-bapak mulai mengenakan topi, kecuali suamiku, sibuk dengan tongsisnya dan ngajak poto. Perjalanan pakai kapal sekitar 30 menit, dan sampailah kami di Gili Ketapang.

Ini bukan suamiku, ini Pak Faishol, yang dengan terpaksa liburan menjomblo karena istri dan anaknya bertugas di negara api. Hehehe

Seperti namanya, gili, pulau kecil ini benar-benar kecil. Kami beruntung karena datang di hari Jumat, serasa pulau ini milik kami. Kabarnya, keesokan harinya sudah ada rombongan sekitar 300 orang yang akan berlibur kesini. Wow! Ada gazebo-gazebo bambu yang siap dikavling per keluarga. Tentu saja dekat sekali dengan pantai.

Sesampai di Gili Ketapang, bapak-bapak sudah bersiap diri untuk Salat Jumat. Emak-emak dan anak-anak mulai berkreasi. Yang punya bayi, pilihan terbaik adalah mulai menidurkan si kecil tanpa menyalakan kipas angin. Angin pantai sudah semilir. Kreasi yang lainnya palagi sekalian main di pantai.

Yang unik di pulau ini, menurutku adalah domba yang cara hidupnya mirip kucing. Kalau di desaku, domba diikat, ditempatkan di kandang khusus, dikasih makan dan minum. Nah, disini, domba tanpa tali, bisa jalan-jalan sesukanya, dan mengendus dan memakan apapun yang dapat dia jangkau. Duh, anak-anak senangnya bukan main, mereka malah mengejar domba-domba dengan riang. Bahkan kata suami saat di masjid juga domba-domba itu berkeliaran di halaman masjid, sampai-sampai menganggu jalan orang yang akan ke tempat wudhu. Mungkin karena tidak terbiasa, jadinya seolah menganggu.

Usai Salat Jumat, kami bersiap untuk snorkeling. Inilah yang ditunggu-tunggu, inti dari liburan kami kali ini. Wajib, poto dulu sebelum snorkeling. Rata-rata para jomblowati dan bapak-bapak yang snorkeling, emak-emak pada megangi anak-anaknya, lagi-lagi termasuk diriku. Byiuh, diriku sudah benar-benar jadi emak!

kembali kami naik kapal, menuju tengah laut, dan disitulah satu per satu menceburkan diri untuk snorkeling. Hemm… mupeng diriku! Ayahnya Dzulki sudah antusias, turun duluan dan dengan kemampuan renang yang sangat tipis berusaha menikmati asinnya air laut. Giliran salah satu ibu-ibu yang kelar nyemplung dengan dipegangi anak dan suami, aku maju untuk meminjam pelampung dan alat lainnya. Kemana, Mak? Snorkeling donk. Meski dipegangi suami terus. Hahahaha

Eh, Dzuki bagaimana? Dia anteng saja duduk didampingi temanku sambil menyemangati diriku yang terkatung-katung di laut.

Ini saat sudah selesai, mau naik, eh, lupa belum take a picture!

Pemandangan bawah lautnya bagus, ada ikan nemo, tapi aku tidak bisa poto. Sangat tidak kuat bertahan lama di air, ya, karena aku tidak bisa berenang. Inilah supernya, tidak bisa berenang tapi maksa buat snorkeling.

ini Pak Choifin. Nemonya sedang sembunyi.

Puas snorkeling kurang lebih 2 jam, kami balik lagi ke pulau kecil tadi. Menikmati makan siang yang sudah disiapkan dengan menu cumi asam pedas manis, ikan bakar, sambel pedes pakai banget, dan nasi yang hangat. Sedap banget, terlebih ikan bakarnya!

Oh, ya, kami ambil paket liburan Gili Ketapang ini biaya per orang 90k dengan paket lengkap. Mulai dari perahu selama liburan, makan siang, snorkeling plus poto di dalam laut. Untuk emak-emak dan anak-anak yang tidak snorkeling biayanya 50k/per orang.

Sore hari, sekitar jam 15.30 kami naik kapal untuk kembali ke Pelabuhan Gili Ketapang, lanjut pulang naik bus, mampir di pusat oleh-oleh Probolinggo sambil salat, lanjut lagi perjalanan, mampir di Mojokerto untuk makan malam. Sampai di Jombang jam 20.30.

Bagi sekawanan manusia yang lebih suka liburan tipis-tipis, seperti aku dan teman-teman di kantor, Gili ketapang cocok banget. Dari Jombang, tidak seberapa jauh, dan cukup memuaskan. Setidaknya, bagi orang Jombang, ketemu pantai ini istimewa.[]

Perdana ke Bioskop karena Film Hayya

Perdana ke Bioskop karena Film Hayya

Aku lahir tahun 1989 bulan April tanggal 16 dan aku baru ke bioskop kemarin itu, tanggal 23 September 2019. Ini serius. Hahahaha!

Bukan karena menganggap pergi ke bioskop itu tabu, dilarang orang tua atau apapun yang prinsipil, tapi memang tidak pernah keturutan saja. Lahir dan besar di Jombang, kota kecil yang konon terkenal banyak pesantren dengan jumlah santri yang yuhui membuatku jauh dari gedung bioskop. Ingat sih, dulu waktu masih SD, sekitar akhir tahun ’90an, di desaku masih sering ada layar tancap. Aku membayangkan bioskop mungkin mirip-mirip itulah, hanya berbeda antara indoor dan outdoor.

Pernah saat awal kuliah, tahun 2007/2008, sangat ingin nonton film di bioskop. Waktu itu film Ayat-Ayat Cinta tayang menggemparkan anak-anak muda yang sedang semangat hijrah. Tapi keinginan itu tidak kesampaian. Disusul kemudian Film Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 yang benar-benar heboh. Teman-teman pada rombongan pergi ke Suarabaya, ke Malang, atau sekedar ke Kediri untuk nonton. Aku bukannya tidak mau ikut nonton, tapi selalu ketinggalan. Ada saja hal yang membuatku tidak nonton.

Sampai kemarin itu, ada info film bagus, Hayya. Teman di ODOJ menawarkan untuk sinergi dengan FLP Jombang mau menggelar NOBAR alias Nonton Bareng Hayya di bioskop bahkan mendatangkan Hamas Syahid.

Jombang memang baru memiliki gedung bioskop lagi setelah sekian purnama gedung bioskop bernama Plaza Teater berubah menjadi gedung yang sedikit menyeramkan (menurutku). Nama bioskop barunya adalah NSC. Please, jangan tanya kepanjangannya apa aku tidak tahu dan malas mencari tahu. Tempatnya ada di Mall mungil kebanggaan Jombang, Linggajati lantai 2. Ada dua studia dengan setiap studio kapasitasnya 180 penonton. Begitulah info yang kudapat dari salah seorang panitia.

Aku yakinkan bahwa ini benar-benar bioskop. Itu tadi, setelah sekian purnama, sekarang di Jombang ada bioskop. Saat aku share publikasi NOBAR Film Hayya di sebuah member grup, member grup ragu.

“Benarkah di Jombang ada bioskop? Jangan-jangan hoax seperti bukit teletubies yang ternyata toilet. Hahahaha….”

Sungguh, memang begitulah Jombang. Eits, tapi yang ini benar-benar bioskop. Sumpil! Wkwkwkwk

balik lagi ke Nobar Hayya. Panitia hanya punya waktu dua pekan saja menyiapkan segalanya. Dan karena aku sudah bukan lagi ketua FLP Jombang maka aku tidak terlibat secara teknis. Rapat panitia tidak datang (karena tidak ada pemberitahuan), tidak masuk grup panitia, bahkan baru beli tiket seminggu sebelum acara.

Aku pesan 3 tiket, untuk aku, Dzulki, dan suami. Aku menegaskan lagi ke teman-teman yang jadi panitia: Apakah aku perlu terlibat?

Jawabannya adalah TIDAK.

Baiklah, aku mengagendakan hari itu full nonton tanpa diribeti dengan amanah sebagai panitia. Aku senang sekali, karena ini adalah debut nonton di bioskop sepanjang hidupku. Hahahaha

Sampai di H-2 acara, salah seorang panitia merayuku agar melepas tiket yang sudah kupesan. Alasannya pendaftar membludak dan diutamakan orang umum dulu sebagai bagian dari syiar kita tentang Palestina. Baiklah, aku iya saja, apalagi saat tahu ternyata H+1 bioskop masih akan memutar dan pantia akan nonton di H+1. Yup, panitia pun tak dapat kursi buat nonton. Saking antusiasnya warga Jombang menyambut Film Hayya. Keren!

Maka, aku dan suami beralih agenda. Aku janji akan pulang tepat waktu dan seru-seruan sendiri di rumah. Dzulki juga sudah aku sounding kalau batal, sebab sebelumnya dia sudah menunggu-nunggu akan menonton film di layar yang lebar sekali.

Tibalah hari H. Saat makan siang, telepon masuk dari ketua panitia. Entah kenapa aku meng-iyakan saja saat dia memintaku menyiapkan puisi, dan pembaca puisi untuk ditampilkan sebagai rangkaian acara Nobar.

Agak bingung awalnya. Mau buat puisi aku blank sebab belum nonton Hayya dan sama sekali tidak tahu filmnya seperti apa. Maka kuputuskan menghubungi Pak Ali Muakhir. Alhamdulillah, beliau merekomendasikan dua puisi Bunda Helvy Tiana Rosa yang menjadi lirik soundtrack Hayya itu sendiri. Oke, puisi beres.

Kedua, aku share di grup pengurus FLP Jombang, dan sudah ada dua orang yang siap membaca puisi. Keren, good job, FLP Jombang! Karena dua orang itu masih perjalanan dari Surabaya menuju Jombang, maka kami janjian untuk berlatih baca puisi sore hari, sepulang aku kerja.

Sore hari datang, aku segera ke Abata, basecamp tercinta, untuk latihan puisi. Lebih tepatnya sih, aku jadi komentator, sebab aku tidak jago perpuisian. Hahahaha

Suami sudah aku telepon, mengabari kalau aku akan pulang terlambat karena harus membantu persiapan pertunjukan puisi dulu. Oiya, film diputar jam 18.00. Jadi, perkiraanku maghrib latihan akan selesai dan aku bisa pulang. Tapi ternyata, semuanya berubah.

Bunda Umi meminta kami pindah tempat latihan puisi. Beliau minta kami semua ke Edotel sebab Bunda Umi sendirian menunggu kedatangan Hamas dan rombongan. Sesampainya di Edotel, keseruan dimulai.

Tersebab suatu hal, semua panitia berkumpul untuk koordinasi. Info terbarunya adalah Hamas tidak akan bertahan sampai acara selesai sedangkan ada dua studio yang dipesan. Diskusi panitia mengalir begitu saja. Aku yang bukan bagian dari panitia berusaha menarik diri dari kerumunan diskusi panitia. Namun apa, saat aku berdiri dari duduk dengan tujuan mau berlalu, Bunda Umi dan teh Eka yang ada di samping kanan dan kiriku menarikku untuk duduk kembali.

Baiklah, aku menurut. Ternyata, di satu kesimpulan diskusi, Bunda Umi berkata, “Tidak ada solusi lain, kita perlu satu MC lagi dan itu adalah dikau!” Sambil menunjukku dan ulala…..

Aku menolak dengan berbagai jurus dan tidak mempan. Maka lihatlah ketidakjelasanku. Mulai dari seragam panitia, yang harusnya merah merona aku biru penuh haru. Eh, yang dipoto ada satu cowok pakai kemeja biru itu bukan suamiku, melainkan ketua ODOJ Jombang. Entah kenapa bisa samaan berdua saja gitu. Katanya sih tidak sempat pulang, jadi pakai seragam ngajar. Hahaha! Semuanya datang cantik mewangi, aku pulang kantor, pakai seragam kantor itu dari bawah sampai atas. Wajah super lecek, habis makan cilok dengan gaya anak SD nongkrong di alun-alun, belum mandi, tiba-tiba harus jadi MC artis Mas Gagah, eh, Mas Hamas.

Itu sudah jam 17.00 maka kuputusakan untuk ke kamar mandi Edotel, sekedar cuci muka, memperbaiki tatanan jilbab, salat maghrib, dan berangkat ke bioskop. Yeyyy! Akhirnya ke bioskop. Bukan untuk nonton karena tidak punya tiket. Ke bioskop pertama kali untuk jadi MC Tahu Bulat alias dadakan.

Setelah jadi MC, lanjut menenangkan diri. Panitia heboh menanti giliran poto sama Hamas, artisnya. Nah, sebelum poto sama artis, adik-adik FLP Jombang mau poto sama aku dulu. Artis MC Tahu Bulat dengan debut pertamanya ke bioskop tapi gak nonton film. Wwkwkwkwkwk

Setelah itu poto bersama semua panitia. Nah, di tengah-tengah poto bersama panitia itulah, tiba-tiba Hamas keluar dari ruangan, bersiap melayani permintaan poto panitia. Lihat ekspresi kami saat asyik poto tiba-tiba artisnya muncul.

Tapi tahu tidak, yang menarik bagiku adalah, ternyata sekarang kalau ketemu artis itu tidak lagi ramai minta tandatangan, tapi ramai minta poto. Di tempat yang lain begitu juga tidak ya?[]