Bukti Manfaat Hebat Chia Seed

Bukti Manfaat Hebat Chia Seed

Chia seed sedang lebih populer akhir-akhir ini, setidaknya di kalangan sekitar saya. Banyak info tentang manfaatnya yang hebat dan luar biasa, mulai dari sebutan makanan premium terbaik untuk menjaga kesehatan hingga ampuh menurunkan berat badan. Saya sendiri tahu tentang chia seed baru di awal tahun 2019 lalu, dan memakannya pertama kali sekitar bulan Juni setelah lebaran kemarin. Sampai saat ini hampir setiap hari saya mengonsumsinya

Saya tidak akan membahas kandungan chia seed ya, sebab meskipun SMA jurusan IPA, ending-nya saya bukan peneliti. Hahahaha…. Apalagi jualan, malah tidak. Tapi kalau cerita kondisi saya sejak makan chia seed boleh ya, semoga bermanfaat dan menambah wawasan tentang kehebatan chia seed!

Waktu itu dapat chia seed dari seorang teman yang sedang memulai jualan online. Tidak tanggung-tanggung saya beli 1 kg langsung. Byiuh, saking apanya coba? Bukan percaya banget sih, sebab saya belum membuktikan langsung. Hanya beli begitu saja biar teman semangat jualan. Harganya waktu itu 150k sekilo.

Mulailah saya cari info bagaimana cara mengonsumsinya. Google memberi info banyak sekali tentang cara mengonsumsi chia seed yang ternyata memang mudah dan mirip makan krupuk, boleh dicampur apapun dan kapanpun. Dari youtube channel Shireen Sungkar juga saya dapat informasi, waktu episode masak dan buat infuse water.

Nah, saya awali makan chia seed dengan cara mencampurnya dengan air. Air setengah gelas (150 ml.) dan chia seed 1 sendok makan saya aduk dan diamkan selama 15 menit, baru saya makan mirip makan puding encer. Rasanya hampir hambar seperti info yang banyak saya temukan di internet dan benar, dia mengembang. Mirip sekali dengan biji selasih, bahkan saya tidak bisa membedakannya.

Setelah 5 menit saya mengonsumsi chia seed, perut saya jadi aneh. Seperti kembung tapi lebih berat dari kembung biasanya. Rasanya lambung penuh, makan sedikit langsung kenyang dan keras, tapi kerasnya masih lebih keras perut ibu hamil. Kondisi ini 24 jam terjadi dari 5 menit setelah mengonsumsinya. Semula saya masih ragu itu efek chia seed, masih berpikir kemungkinan salah makan di hari itu atau ada yang sedang tidak stabil di tubuh. Sampai saya benar-benar yakin itu efek chia seed adalah setelah 3 kali praktikum saya lakukan dengan objek tubuh sendiri.

Sempat terpikir tidak melanjutkan mengonsumsi chia seed. Tapi saya penasaran, biji yang disebut sebagai makan premium, mahal, dan banyak situs bilang manfaatnya sangat hebat, kenapa tidak bisa diterima tubuh saya? Maka saya kembali googling, dan ternyata saya salah resep. Nah, lho!

Mengonsumsi chia seed harus diimbangi dengan mengonsumsi air putih yang cukup. Chia seed-nya gak masalah, kuantitas minum saya yang salah. Sejak tahu itulah, maka saya selalu konsumsi chia seed dengan jumlah minum yang banyak. Jadi, chia seed membantu saya untuk disiplin memenuhi kebutuhan air tubuh. Bolehlah ini dijadikan salah satu manfaat chia seed (bagi saya).

Manfaat hebat kedua, chia seed benar-benar melancarkan sistem pencernaan dari awal sampai akhir. Tidak ada lagi resah BAB. Lancarnya pakai bangetz bahkan benar-benar tuntas tak berbekas. Tidak hanya saya, tapi hampir semua teman sepakat tentang manfaat satu ini.

Manfaat hebat lainnya adalah, benar saya buktikan sendiri, makan chia seed membuat saya lebih kenyang dan mengurangi porsi makan. Mungkin ini yang kemudian menjadikan chia seed dipercaya bisa menurunkan berat badan. Dibandingkan dengan saat saya pakai kentang, biskuit gandum, bahkan oat untuk sarapan, chia seed lebih paripurna efeknya. Tapi apakah sekarang berat badan saya sudah turun drastis? Big no! Tapi turun iya. Tiga bulan ini turun 2 kg. Mungkin karena usaha saya tidak komplit, olahraga ala kadarnya saja. Namun, yang pasti badan lebih enteng dan lemak sudah tidak muncul di area ekstrim favoritnya.

Saya sepakat dengan ungkapan bahwa mengonsumsi makan sehat dan pola hidup sehat itu agar tubuh kita sehat. Tentang langsing adalah bonus. Meskipun memang gemuk identik dengan tidak sehat, namun saya merasakan sendiri, saat fokus menurunkan berat badan, kesehatan dapat terbengkalai. Tapi saat fokus kita adalah sehat, ditambah kita bahagia menjalankannya maka berat badan terkontrol dengan sendirinya.

Kalau tentang manfaat untuk kesehatan seperti kolesterol, apa, dan apa saya tidak berani cerita karena saya tidak teridentifikasi itu sebelumnya, alhamdulillah. Selain itu, saya juga sudah dua tahun terakhir ini rajin infuse water, jadi, khawatirnya rundom antara manfaat yang saya rasakan antara infuse water dan chia seed. Perbedaannya, sebelum mengonsumsi chia seed, infuse water saja, saya masih sering lapar kalau porsi nasi putih saya kurangi, dan sembelit hampir mewarnai pagi yang harusnya cerah ceria. Nah, sejak infuse water saya tambahi chia seed, semua itu berkurang bahkan hilang.

Sampai sekarang, chia seed jadi makanan yang hampir selalu saya konsumsi. Botol air minum saya kasih chia seed, makan salad juga ditaburi chia seed. Infuse water juga ditaburi chia seed. Sehari chia seed yang saya konsumsi 1 – 2 sendok makan.

O iya, tentang penyimpanan chia seed, saya taruh di toples yang tertutup rapat (saya pakai tupperware) dan simpan di lemari es. Awet insyaallah yang penting tidak kena air. Jika terkena air, maka bisa jadi kecambah. Kok tahu? Saya pernah lupa mencuci botol bekas infuse water. Di dalam botol tersisa biji chia seed beberapa biji saya dan kadar air hanya sebatas lembab. Hanya dua hari, saat saya buka ternyata biji itu sudah jadi kecambah. Saat itu jadi mikir sih, bagaimana jika ditanam? Apakah biji yang katanya khas Amerika itu bisa dibudidayakan di rumah saya?

Sudah, ah! Ribet, saya tidak akan mencobanya. Saya bukan peneliti. Hehehe![]

Olahraga Ala-Ala

Olahraga Ala-Ala

Weekend selalu ditunggu-tunggu, setidaknya bagiku. Sebab inilah hari terbaik, menjelang libut esok hari. Hahaha!

Banyak yang mengreasikan weekend, ada yang digunakan untuk berlibur, silaturrahim, bahkan olahraga. Nah, khusus yang terakhir, olahraga, kayaknya ini istimewa bingitz.

Aku sendiri untuk weekend tidak teelalu ribet, bahkan seringnya sengaja untuk tidak mengagendakan apapun di saat weekend. Mungkin yang selalu wajib ingin aku lakukan saat weekend adalah cuci baju dan setrika. Yang emak-emak sama kayak aku gak ya?

Sabtu, kantor memang pulang lebih awal, jam 12.30. Seringnya sih gak langsung pulang. Terkadang harus rapat kominitas, Sabtu terakhir tiap bulan ada agenda “Cafe Curhat Plasma”, kadang-kadang juga belanja, kadang-kadang lagi sekedar makan siang sama teman-teman. Selepas itu baru pulang. Gak ada yang menarik kayaknya.

Kalau untuk olahraga, aku memang tidak menjadikan weekend untuk sport day. Malah weekend bagiku adalah hari bebas. Makan bebas, tidur bebas, bahkan gak olahraga. Lalu kapan aku olahraga?

Hihihihi…. Pertanyaannya kayak kuntil-emak (emaknya kuntilanak) keliar daei zona nyamanya. Eitz, siapa bilang aku gak olahraga?

Aku memilih malam hari untuk olahraga, tapi tidak di weekend. Biasanya aku melakukannya di hari Selasa dan Jumat. Olahraga yang kulakukan apalagi kalau bukan senam. Yoga ala-ala, aerobik ala-ala, dan zumba ala-ala. Aku menyebutnya ala-ala sebab aku memodifikisi gerakannya sesuai kemampuanku. Cukup berefek bugar pada diriku.

Olahraga adalah kegiatan fital untuk menunjang kehidupan kita. Kesehatan fisik urgen sekali untuk support kerja-kerja kebaikan dalam hidup ini. Itulah mengapa, sesibuk apapun, olahraga harus diluangkan waktu. Tidak bisa di luar, lakukan di dalam rumah. Tidak ada dana, maka senamlah ala-ala sepertiku, pakai video.

Bagi emak-emak, pagi hari rempong dengan dapur plus marathon dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Maka istirahatnya bisa menunggu anak tertidur di malam hari.

Manusia memang akan merasa berat awal-awalnya untuk olahraga, tapi setelahnya akan muncul kesadaran. Dulu, saat usia baru 23-24 tahun mau kemanapun pakai motor, tidak berjaket, semua oke-oke saja. Sekarang sudah kepala 3 ternyata ada beberapa perubahan.

Aerobic yang aku lakukan sangat ampuh sekali efeknya. Pertama kali senam AE, berat. Gerakannya cepat, ini hal dasar yang saya lupa. Tapi rutinkan itu, dalam 3 hari kita akan merasakan tubuh lebih ringan melangkah, pencernaan lancar, bahkan berat badan turun.

Di kantor juga Sabtu pertama setiap bulan ada peogram sport day. Ini ajang untuk karyawan olahraga bersama. Tapi apa yang terjadi? Olahraganya brl mengeluarkan keringat, nasi uduk, gorengan, bubur, dan entah apa lagi, yang jelas porsinya lebih gede. Keringat mungkin keluar dengan cara berdiri di bawah terik matahari langsung. Hahahahaha!

Nuansa Cinta Bulan Dzulhijjah

Nuansa Cinta Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa bagi kaum muslim di seluruh dunia. Ada ibadah besar di bulan ini yakni ibadah haji, ibadah qurban, yang menyimpan sejuta hikmah di dalamnya. Perjuangan dan romantisme keluarga Ibrahim teruji di bulan ini. Bagaimana makna sebuah kehidupan cinta suami istri, konsep keluarga Ibrahim menjalankan tugas dan perannya sebagai ayah, Ismail sebagai anak, Hajar sebagai istri, semua terangkum apik di Bulan Dzulhijjah. Keren!

Aku sendiri menikmati Dzulhijjah dengan unik sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya sejak aku bekerja di LAZ (Lembaga Amil Zakat). Bagi lembaga seperti kami, dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua momen penting dan samgat sibuk. Namun, dibandingkan dengan Syawal, Dzulhijjah lebih benar-benar hari raya bagiku. Why?

Satu, sebab tidak ada lembur di malam takbiran. Ini menjadi penting, terutama setelah menikah. H-1 sebelum hari raya Idul Fitri, adalah waktu yang sangat sibuk. Sehingga, saya tidak pernah mudik. Ya, masih sama-sama Jombang kan umumnya mudik H-1, tapi karena H-1 selalu sibuk, jadinya mudik lokalnya benar-benar pas Hari H nya lebaran. Nah, di Dzulhijjah, saya bisa mudik. Menikmati takbiran di rumah mertua dan esoknya sholat Ied di masjid dengan saudara-saudara ipar.

Ya, sebagai amil zakat, Idul Adha selalu disibukkan dengan kegiatan qurban. Setiap tahun, program qurban selalu memberikan tantangan dan pengalaman berharga, sebab kami selalu menembus daerah-daerah pedalamana untuk penyaluran hewan qurban.

Meskipun petualangan bukan hobi, disini aku banyak belajar untuk lebih berani dan menyukai penjelejahan. Setidaknya aku berhasil untuk ikut menembus hutan, menyeberangi sungai tanpa jembatan, hingga tersesat saat pencarian satu titik lokasi pedalaman. Di Jombang, daerah pedalaman yang pernah aku kunjungi karena program qurban ini diantara adalah Rapahombo, Nampu, dan Cepit. Ketiganya akan kubagikan ceritanya.

Rapahombo. Ini adalah dusun yang akses ke kotanya sangat rumit. Hutan belantara sejauh 2 km harus ditempuh dengan jalan yang sangat sulit medannya. Ada beberapa alternatif jalan menurut warga sana, namun bagiku jalan manapun itu, tetap sulit medannya. Karena letaknya yang terpencil dan akses ke kota sangat jauh, tentu saja fasilitas umum disana sangat terbatas. Ada sekolah SD Negeri, dan itu adalah satu-satunya sekolah. Alhasil, warga sana mayoritas lulusan SD saja. Klinik kesehatan juga belum ada, sehingga untuk berobat manakala sakit, warga perlu perjuangan besar. Tandu yang diangkat bersama-sama, menjadi pilihan satu-satunya hingga saat ini. Sebab mobil tidak bisa mengakses tempat ini. Jika kamu pernah menonton film Jenderal Soedirman, begitulah cara warga menandu orang sakit atau wanita hendak melahirkan. Yes, disana tidak ada bidan, jadi untuk melahirkan, harus ditandu dulu sampai ke puskesmas kecamatan.

Iya, Dusun Rapahombo ada di Desa Klitih Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang.

Saat ke Rapahombo, kami bertemu dengan seorang guru swasta di SDN disana, usia masih samgat belia, tiga puluhan tahun, dan beliau tinggal di Kecamatan Diwek. Diwek itu kecamatan sebelah tempat tinggalku.

Setiap hari guru itu pulang pergi mengajar. Berangkat sekitar pukul 06.00 menggunakan motor trail, sepatu boot, helm pembalap dan jaket tebal. Penampilan ini jauh dari umumnya penampilan guru. Semua itu dilakukan sebab tidak jarang dia jatuh saat berkendara. Jalan yang licinnya liar biasa saat hujan dan debunya sangat tebal di musim kemarau membuatnya sering jatuh di tengah-tengah hutan itu. Demi pendidikan anak-anak disana, Pak Guru ini berjuang dengan sangat istimewa. Keren!

Idul Adha setelah di Rapahombo, berikutnya kami berhasil menembus Dusun Nampu. Masih di Plandaan, daerah pedalaman satu ini istimewa sebab menuju kesana, harus menyeberangi sungai tujuh kali. Duh, mirip film-film kolosal ya. Hehehehe….

Bersyukur sekali saat itu musim kemarau, sungai jelaa sedang surut, sehingga motor-motor rombangan kami cukup mudah menyeberangi sungai yang tidak memiliki jembatan itu. Dibandingkan dengan Rapahombo, Nampu lebih terpencil. Sisana penduduknya juga lebih sedikit., Sekitar 40 KK dan jumlah lansianya cukup banyam dibandingkan dengan jumlah anak balitanya.

Selain itu, di Idul Adha berikitnya ada Desa target kami bernama Dusun Cepit. Sesuai namanya, dusun itu terjepit di tengah-tengah hutan. Akses jalan lebih dekat dibandingkan dua daerah sebelumnya, mobil juga bisa masuk, namun fasilitas dosana sangat terbatas. Tidak ada sekolahan, klinik kesehatab apalagi, bahkan ketua dusunnya tidak tinggal disitu.

Toko kelontong sama sekali tidak ada. Seriap hari anak-anak harus menempuh jalan menyusuro hutan untuk sekolah. Kalau musim hujan, para ayah dan ibu harus menggendong anak-anaknya untuk menuju sekolah sebab jalanan sangat licin. Ya, benar-benar perjuangan!

Itu mungkin kenapa saat Idul Adha, aku juga tidak bisa libur panjang, sebab harus menjalankan amanah sebagai amil zakat. Namun nuansa cinta aku dapatkan di aktivitasku sebagai amil. Sambutan warga yang hangat dan keterbukaan mereka dengan orang asing membuat hati ini terenyuh. Betapa rasa syukur hinggal di hati mereka, yang bertahan untuk hidup di daerah pedalaman seperti itu.

Aku berpikir, krnapa mereka tidak memilih untuk pergi dan mencari penghidupan yang lebih layak? Cinta kamping halaman menjadi alasan utama mereka bertahan. Nah, kan, lagi-lagi nuansa cinta kutemukan di Bulan Berkah Dzulhijjah.

Dua, Dzulhijjah itu istimewa, sejak aku mengenal arti sebuah cinta. Sebab pernikahanku terjadi di Bulan Dzulhijjah. Ya, mirip-mirip lebaran jomloku lah. Dzulhijjah adalah bulan aku tidak lagi berstatus JOMLO. Hehehehe….

Tahun 2013, hijriyahnya tahun 1434, hari tasyrik yang terakhir, itulah tanggal akad nikah terucap. Eciiiee….

Setahun setelahnya, di hari tasyrik yang terakhir pula, aku menjadi seorang ibu. Dzulki lahir. Oh, betapa bahagianya!

Kedua momen besar itu aku alami di bulan Dzulhijjah. Bagiku ini istimewa. Keluarga Ibrahim mengukir jejak rahasia keluarga sesurga di bulan Dzulhijjah. Semoga aku juga bisa mengukir kisah sesurga. Aamiin.[]

Kecanduan Transportasi Online

Kecanduan Transportasi Online

Dulu, bepergian ke luar kota memakai transportasi umum pasti ribet. Perlu mencatat , bahkan bertanya kendaraan apa, adanya jam berapa, turun mana, oper apa, dan berapa ongkosnya. Sekarang, semua itu terjawab oleh transpostasi online. Ke luar kota dengan transportasi online tak perlu lagi bingung harus naik apa, jam beroperasinya jam berapa, bahkan tanpa perlu oper langsung sampai tujuan. Tentang harga, secara umum sangat terjangkau. Yang bilang mahal pasti ujungnya memaklumi sebab fasilitas yang dihadirkan sepadan.


Meski jarang sekali naik transportasi online, aku menilai kini ia menjadi alternatif pilihan mayoritas orang untuk pergi tanpa ribet. Segala masalah tentang perjalanan, jawabannya transportasi online. Tidak ada lagi alasan tidak bisa pergi karena tidak ada kendaraan atau tidak ada yang mengantar, pakai transportasi online semua beres.

da temanku yang LDM. sehari-hari dia mengurus dua anak balitanya dan jauh dengan suami. Awal aku berpikir akan sulit untuk bertemu dengannya di suatu tempat yang dia harus keluar rumah. Supernya, janjian dengannya untuk pertemuan kajian, atau menghadiri acara tertentu sangat mudah baginya. Always, transportasi online andalannya. Simpel dan aman membawa anak-anak dibanding harus motoran sendiri.

Aku sendiri termasuk yang jarang memakai transportasi online. Pertama naik itu saat di Bandung, Munas FLP. Waktu itu bareng sama rombongan FLP Sidoarjo. Selepas belanja di pasar (entah apa nama pasarnya) kami memutuskan untuk naik transportasi online menuju penginapan. Aku yang belum pernah sama sekali bahkan aplikasinya tidak kupunya saat itu memilih untuk manut. Kami berlima waktu itu, dan bersepakat u.menanggung bersama biayanya.


Aku takjub waktu itu, tidak ada lima menit dari klik pemesanan, mobil sudah datang. Begitu masuk mobil, kenyamanan pasti, dan sopirnya WOW!!!!


Bandung kuterka sebagai alasan utama keramahan sopirnya. Orang Bandung bicaranya super sopan, di pasar saja, penjual yang tampangnya garang, begitu menawarkan barang jualannya super ramah. Satu saat aku akan cerita tentang Bandung yang sempat kucicipi selama tiga hari.


Kembali ke tranposrtasi online di Bandung. Sopirnya super ramah. Perbincangan standar, saling bertanya asal, tujuan kami di Bandung ikut acara apa, dan sedikit-sedikit dia cerita tentang jalanan Bandung yang ada saat-saat dan titik tertentu kemacetan, dan sebagainya. Tentu saja, dengan gaya komunikasinya yang sangat ramah


Ditambah lagi wajah Sundanya khas, aku langsung ingat Raffi Ahmad dan Ariel Noah. Iya, beneran, Kang sopirnya tampan dan sopan. Hehehe.


Lebih takjub lagi saat ketua rombongan menyerahkan uang warna hijau yang hanya selembar itu ke Kang Sopir.


Apalagi yang kurang dengan tranportasi online macam ini, murah untuk ukuran bepergian yang tanpa kerempongan haqiuqiu. Nyaman pula, belum lagi kalau ketemu Kang Sopir ramah, baik parasnya, lembut nyetirnya. Uh, komplit! Bisa menikmati indahnya kota Bandung.


Setelah Bandung, aku kembali memilih transportasi online di perjalananku saat di Surabaya. Dua kali aku memakai transportasi online di Surabaya seturun daei stasiun. Yang pertama saat turun di stasiun Gubeng menuju hotel yang aku lupa namanya. Satu lainnya dari stasiun Wonokromo ke Hotel Cleo untuk ikut acara Google. Kedua kesempatan pakai transportaso online ini menyisakan kesan yang sama dengan saat di Bandung. Kenyamanan berkendara, privasi, dan terjangkau. Tentang keramahan sopir, basicly sama sekalipun khas berbeda. Tidak lagi kebayang Raffi Ahmad atau Ariel Noah lagi, tapi sama-sama ramah.


Namun, zona merah transportasi online membuat mood berantakan diawal. Keluar daei stasiun tidak serta merta bisa masuk mobil dan melesat ke tujuan. Harus berjalan sekian meter untuk bisa naik. Saat balik ke stasiun juga begitu, mobil tidak bisa mengantar dekat pintu masuk statiun. Mereka harus memarkir di jarak beberapa meter untuk menurunkan penumpang.


Itu saja sih pengalamanku naik transportasi online. Pengalaman yang gak berpengalaman kali ya, sebab hanya tiga kali saja itupun transportasi online berupa mobil. Untuk motor aku gak bisa review sih, cuma sekali aku dapati suami pulang dengan ojek motor online sebab gak bawa motor dan aku langsung ketagihan dibuatnya. Pasalnya, kini tidak ada lagi ketidakmampuan kita yang beralasan tentang terbatasnya mobilitas dan kendaraan. Transportasi online bisa jadi alternatif.


Bahkan akhir-akhir ini tim ciwi-ciwi di kantor juga mengandalkan transportasi online untuk order makanan terutama saat makan siang. Relatif mahal sih kalau makanan, menurutku. Tapi daripada beli sendiri, harus bayar parkir, mengantri, tersengat cahaya matahari, dan bahan bakar. Oh, ada lagi keuntungannya, order kita sesuai pesanan, gak harus ada lagi tambahan-tambahan, efeknya lagi-lagi lebih terjangkau dan hemat.

Saking candunya, sekarang untuk CODan untuk mengirim barang, dokumen, dan lain sebagainya pakai transportasi online. Sebab demgan begitu, setidaknya kemampuan kerja tidak terkerdilkan dengan kegiatan mengatar surat. Lebih efektif dan efesien, sehingga meningkatkan kinerja[]

Drama Usia Sekolah Anak

Drama Usia Sekolah Anak

Dzulki lahir tanggal 9 Oktober 2014. Tanggal lahir menjadi penting saat ini untuk keperluan sekolah. Ini isu lama sih, yang terbaru domisili menjadi penting untuk keperluan sekolah. Zonasi, euy!

Balik ke tanggal lahir Dzulki. Sebab lahirnya bulan oktober, bukan Juni, euuuu, agak repot mengatur sekolahnya. Dia masuk Kelompok Bermain di usia 3 tahun 8 bulan, kemudian tahun ini dia berusia 4 tahun 8 bulan. Setelah KB (Kelompok Bermain) harusnya TK kan? Tapi kalau dia TK tahun ini, nanti masuk SD usianya 6 tahun 8 bulan. Belum 7 tahun!!!

Ya, semua tahu pasti, kalau aturannya sekarang anak masuk SD usianya harus 7 tahun. Ada yang bilang 6,5 tahun boleh, ada yang bilang harus pas 7 tahun. Aku belum cari informasi valid dan terkini sih, tapi pengalaman anak dari kakak sepupuku, minimal harus 7 tahun. Anaknya itu sampai harus menempuh TK 3 tahun lantaran daftar SD tidak diterima dan tidak disarankan oleh guru SD maupun guru TK-nya.

Nah, mengaca pada anaknya sepupuku dan hasil konsultasi sana-sini, curhat kesana-kemari, maka daripada Dzulki TK 3 tahun, lebih baik Play Group 2 tahun. Yes, tahun ini tidak TK dulu, stay di Play Group.

Aku akan sharing beberapa jejak pendapat hasil konsul dan curhatku :

Pertama, pengalaman pribadiku. Aku memasuki jenjang pendidikan di usia yang dianjurkan alias normal. Selama sekolah semua berjalan sangat lancar. Hampir tidak ada kendala. Selalu juara 1, cerdas cermat tingkat kecamatan dan kabupaten ikut, beberapa kali juara, dipuji dan dibanggakan guru hingga tetangga, dibully anak-anak istimewa dan selalu semangat sangat jam istirahat tiba. Tapi apa yang terjadi? Aku sempat ada di titik bosan sekolah saat kelas 4 SD.

Bosan yang benar-benar bosan. Tiap hari jadi uring-uringan Emak karena bangun tidur begitu sulit, sarapan ogah-ogahan sampai muntah, ke sekolah malas-malasan, hingga tidak belajar. Hingga aku ingin tidak melanjutkan sekolah.

Sayangnya, aku hanya turun di peringkat 2. Dan tidak pernah kepenatanku itu aku sampaikan ke orangtua atau guru. Semua berjalan normal dan biasa-biasa saja seiring waktu beranjak membawaku lebih dewasa, lebih matang, yaitu saat aku sudah mulai berangan tentang cita-cita.

Di kelas 5 SD, barulah aku kembali semangat, sebab aku sudah mulai punya tujuan akan menjadi apa dan bagaimana.

Pengalamanku ini yang membuatku bertekad agar Dzulki tidak mengalaminya. Biar dia sekarang tetap di Playgroup dengan harapan saat dia sudah masuk SD, kematangan jiwanya sudah baik dan dia akan mengerti tujuannya sekolah apa.

Keputusanku ini dikuatka oleh beberapa sahabat.

“Kalau belum tujuh sudah SD, nanti pas kelas empat tampak efeknya,” begitu kata teman yang berprofesi sebagai guru SD.

“Biar SD nya tujuh tahun lebih, apalagi dia laki-laki, psikologisnya beda sama perempuan.”

“Beban anak sekolah sekarang berat. Biar saja dia masuk SD usia tujuh lebih daripada tujuh tahun kurang.”

Begitulah, dan masih banyak lagi suara-suara sejenia yang akhirnya menguatkan tekadku untuk Dzulki stay di playgroup tahun ini.

Kedua, untuk menguatkan fisiknya. Harapanku dan suami, biar Dzulki tetap playgroup dulu, menguatkan fisiknya. Semoga saat SD, kekebalan tubuhnya oke sehingga dia bisa optimal belajar di sekolah.

Setahun kemarin, hampir tiap bulan dia tidak masuk seminggu karena sakit. Bahkan yang opname kemarim dia harus 2 pekan lebih dalam sebulan tidak masuk.

Ketiga, Dzulki anak jaman now. Hehehe…..

Dulu, aku gak pernah nyeletuk bilang, “Aku gak mau sekolah.” Bukan karena takut, tapi memang gak pernah saja bilang begitu sekalipum sedang bosan, paling aku rasakan saja tanpa diungkapkan. Lha, anak jaman now kayaknya beda.

Dzulki, kalau tiba hari Rabu atau Kamis, pasti bertanya kapan dia libur. Kalau sedang asyik bermain di pagi hari, selalu bilang gak mau sekolah kalau diajak mandi. Kesadaran dan kemauannya untuk sekolah tidak setinggi anak jaman old. Bisa jadi karena dia belum paham kenapa harus sekolah. Belum punya cita-cita.

Baik, setidaknya tiga hal itu yang bisa aku bagi kali ini. Semoga bermanfaat, Emak Idear!

Sekarang semua sudah terjadi, tinggal orangtuanya tebal kuping saat banyak yang heran, “Lho, kok belum TK?”

Playgroup ada remidi.

Hahahahahahaha!!!!!![]

Tahun Kedua Dzulki di Rutaba

Tahun Kedua Dzulki di Rutaba

Satu sore saat Dzulki menikmati waktu-waktu menanti kereta api melintas, Ustadzahnya yang cantik nan baik hati merespon statusku yang kontennya poto itu.

Dzulki memang sangat suka dengan alat transportasi, kereta api, bus, mobil, dan sejenisnya. Tapi bukan itu yang hendak kubahas. Pesan ustadzahnya Dzulki, mengingatkan aku yang nyatanya Dzulki sudah satu tahun sekolah. Dalam beberapa hari kedepan, dia akan menjalani tahun kedua sekolahnya.

Ingat pasti dengan drama haru hura awal-awal dia sekolah. Emaknya yang baper nyetrum ke anaknya. Ahahahaha! Baca disini

Ada banyak pengalaman yang berhikmah di tahun pertama sekolah. Mulai dari kisahnya yang harus mengondisikan kesehatan fisik, hingga membangun mentalnya bersosial, bahkan eksplore potensinya. Usianya 3 tahun 8 bulan saat pertama sekolah. Semoga apa-apa yang sudah dia lalui setahun di sekolah menjadi bekal kebaikan untuk masa depannya kelak.

Tentang kesehatan, layaknya anak-anak usianya, aku harus jadi emak-emak super protective. Pneumonia katanya memang sakitnya anak-anak, tapi aku gak mau lengah. Semoga sehat selalu, dear!

Kisah tentang itu bisa baca artikelnya

Tentang mentalnya. Jiwa pemberaninya mulai tumbuh. Kemandiriannya sedikit demi sedikit terbina, dan seni mengambil keputusannya mulai nampak. Weh!

Dia sudah bisa menentukan sikap, ada kala dia tidak mau dipoto, tidak mau tampil, mau menghandle satu pekerjaan, mau menekuni satu kegiatan, dan seterusnya.

Kehidupan sosialnya juga mulai beragam. Pernah ustadzahnya sharing yang intinya Dzulki sangat polos, dia hanya kenal dunia ini putih dan sebagai emaknya aku diminta untuk mengenalkannya akan beragamnya warna dunia ini dan bagaimana dia harus menyikapi. Alhamdulillah, tidak sulit mengondisikannya tentang ini!

Yang masih jadi PR besarku dan ayahnya adalah mengajarkannya tentang sopan santun. Mungkin belum waktunya saja, kami akan bersabar. Jadi, sekarang, bagi Dzulki semua orang adalah temannya. Dia bertingkah layaknya dengan temannya. Masih PR banget mengenalkan padanya tentang hormat kepada yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Next artikel, aku akan share saat PR ini tuntas. Insyaallah.

Terakhir tentang eksplorasi potensinya. Ini bukan kesimpulan, bahkan masih terlalu dini untuk dijadikan asumsi awal. Dzulki beda denganku dan ini tantangan istimewa bagiku sebagai emaknya. Ahahahaha!

Melihat kemampuannya berkreasi pada gambar-gambar yang dia buat, jelas bukan aku asalnya. Di usianya 3 tahunan, dia sudah bisa menghambar detail barang yang ada di hadapannya. Sampai hal-hal terkecil dia mampu menggambarkan. Secara keindahan belum tentunya, tapi secara dasar bentuk, lekuk, dan tata letaknya membuatku kagum. Aku gak bisa gambar sama sekali soalnya. Heheheh….

Kalau untuk hafalan Al-Qur’an, aku akan sharing di artikel berikutnya ya, Moms! Insyaallah.

Yang jelas, masuk tahun kedua Dzulki di sekolah di Rutaba kali ini dramanya masih ada sih, meski tidak seheboh tahun pertama sekolah. Hari pertama: Dia sudah bilang “Aku gak mau sekolah” berujung dengan berangkat agak siang.

Hari kedua: drama tidak mau pakai sepatu. Okelah, pakai sandal jepit tayo kesayangannya.

Hari ketiga: Maksa bawa mainan truk tanki size besar nan panjang. Setelah nego alot dengan Ayah, jadilah bawa kepala truk-nya saja, tanki-nya ditinggal di rumah. Wkwkwkkw!

Hari keempat: Masih besok.

Ya, begitulah catatan drama sekolahnya seorang Dzulki. Idear Moms punya kisah unik juga tentang sekolah anak? Sharing, yuk![]