Oase

Suatu hari saat para manejer perusahaan elit sedang berkumpul,
salah seorang diantara mereka ada yang menyampaikan tentang kehidupannya, “Dulu
saya dan keluarga hidup sederhana. Kami berangan-angan untuk bisa hidup lebih.
Akhirnya sekarang angan-angan itu jaid kenyataan… Jika dulu kami tinggal di
rumah kontrakan, sekarang kami bisa memiliki 2 rumah, anak-anak bisa aku
sekolahkan di sekolah yang elit, mobil nyaman, dan semua kebutuhan bisa kami
penuhi….”
Tidak berhenti sampai disitu, Sang manejer melanjutkan kisahnya,
“tapi kadang saya masih merasa sumpek. Ada kegundahan yang saya rasakan.”
“Kenapa?” Tanya rekannya yang lain.
“Aku tidak tahu….”
Ya, sangat sering kisah seperti diatas terjadi. Kapanpun, dan pada
siapapun. Setiap manusia pasti akan berusaha untuk memenuhi setiap
keinginannya, memenuhi setiap kebutuhannya. Ini dikarenakan semata-mata untuk
mencapai kepuasan yang berujung rasa bahagia. Rasa bahagia ini tidak serta
merta konstan, ada satu titik dimana saat semua telah terpenuhi, perasaan tidak
bahagia justru muncul. Dan ini bisa terjadi pada semua manusia.
Seperti manejer yang telah mengungkapkan kisah hidupnya diatas,
semua kebutuhannya sudah dipenuhi tapi masih juga muncul negasi kebahagiaan
tanpa ia tahu apa sebabnya.
Allah swt. berfirman: Allah
telah menurunkan perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur’an serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu
mengingat Allah….(QS. Az-Zumar: 23)

Al-Qur’an,.Bisa jadi manejer yang menceritakan kegundahan tanpa
diketahui sebabnya itu jawabannya adalah AL-Qur’an. Membaca dan mengajarkan
Al-Qur’an itu bisa menenangkan hati. Dengan berdekatan dengan Al-Qur’an itu
artinya kita belajar banyak tentang islam, kita dekat dengan Allah swt. dengan
demikian, hati kita akan menjadi tenang dan tentram.[]

Sampai Mana Bangunan Kita

Banyak kebahagiaan yang bisa kita dapatkan dengan cara yang sederhana. Bangun tidur di pagi hari kemudian mengawali hari dengan rasa syukur kepada Allah swt. adalah salah satu cara sederhana untuk bisa mendapatkan kebahagiaan di sepanjang hari kita. Dengan syukur itu, kita tidak akan merasa ada yang mengganggu ketentraman hati kita.

Nah, meski sederhana, sejatinya mengawali hari dengan rasa syukur itu perlu iman dan kepercayaan yang kuat akan janji Allah swt. seperti yang kita tahu, Allah berfirman bahwa Dia akan menambah nikmat bagi manusia yang mau bersyukur. Janji ini Allah swt. yang buat, dan perlu keyakinan bahwa Allah swt. tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.
Hal ini seiring dengan janji Allah swt. yang akan memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga. Dan yang diinginkan manusia adalah agar terhindar dari neraka. Janji Allah swt. tentang surge ini membawa konsekuensi bagi manusia dalam bentuk aturan-aturan yang berupa larangan dan perintah. Nah, inilah mengapa selain iman seorang mukmin juga perlu takwa. Ibaratnya bangunan iman adalah pondasi, sedangkan hiasan-hiasan rumah adalah takwa.

Setelah beriman, maka hendaknya kita menghiasi iman kita dengan ketakwaan. Memperintah agama dengan mencintai yang baik meski tidak diwajibkan dan meninggalkan yang buruk meskipun sebenarnya itu tidak dilarang (hal makruh). Ini adalah takwa yang indah yang oenuh dengan ke-hati-hati-an.

Maka, sampai mana kita? sudahkan kita menghias rumah kita dengan takwa? Atau… ternyata kita masih sebatas membangun rumah kosong dengan pondasi saja?[]