Memeluk-mu dalam Taat

Rasa memiliki seringkali kita simpan di diri kita. Merasa memiliki ayah, ibu, pasangan, anak, bahkan sahabat dan rekan kerja. Merasa memiliki uang, baju, makanan, kendaraan, rumah, dan lain-lain. Pun juga rasa memiliki kesabaran, rasa syukur, dan iman.

“Milik Allah SWT segala yang ada di langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284)

Ayah kita, ibu kita, pasangan kita, anak-anak, hingga sahabat karib kita, dan semua manusia yang terhubung dengan kita bukanlah milik kita. Sebab bukan milik kita, maka jangan pernah bergantung pada mereka.

Rasulullah SAW adalah manusia yang disetting Allah SWT untuk tidak bergantung pada manusia. Ayahanda Rasul meninggal dunia saat beliau masih di dalam kandungan. Ibunda juga meninggal dunia saat beliau masih sangat kecil. Dalam asuhan kakek yang sangat mencintai, beliau juga masih harus merasakan ditinggal.

Sepeninggal kakek Abdul Muthalib, Rasulullah SAW aman dan nyaman dalam asuhan pamanda, Abu Thalib. Namun, lagi-lagi Rasulullah SAW merasakan kehilangan. Abu Thalib meninggal di masa-masa awal kenabian. Padahal saat itu yang paling bisa menjamin Rasulullah SAW dari kegarangan musuh Islam adalah pamanda. Ternyata, Allah swt tidak menginginkan Nabi SAW bergantung dengan manusia.

Dari sisi romantisme, Rasul harus kehilangan sosok yang paling dicinta, Khadijah RA. padahal, Rasul benar-benar mendapat dukungan yang utuh dan hangat dari sosok istri tercinta. Nyatanya, Allah SWT memisahkan Rasul SAW dengan Khadijah RA di dunia begitu cepat. Tak terganti, sekalipun setelahnya dikaruniakan sosok muda nan cantik jelita, Aisyah RA.

Allah SWT menjaga Rasulullah SAW agar tidak pernah bergantung pada manusia. Sebab memang yang layak atas semua hal pada diri kita adalah Allah SWT. Semua bentuk cinta, kenyamanan, dan rasa aman sekalipun, bukan milik kita atau milik manusia yang seolah milik kita. Semua itu adalah milik Allah SWT.

Jadi, cara “memeluk’ orang-orang yang kita sayangi adalah dengan melepaskan semua ‘kebergantungan’ kepada mereka. Memeluk orang-orang tercinta dalam taat adalah mencintai mereka tanpa menggantungkan apapun padanya. Sebab, hanya Allah SWT tempat kita bergantung dan meminta segalanya.

Selain kepada manusia, seringkali kita merasa memiliki keduniawian, seperti harta dan popularitas. Dua yang saya sebut adalah perhiasan dunia yang sangat melenakan. Rasa memiliki dua hal itu sering datang dengan tiba-tiba dan sangat halus.

Rasul SAW mencontohkan kepada kita untuk memeluknya dengan santai. Beliau hidup dengan snagat sederhana, tapi tidak pernah merasa kaya atau miskin. Sahabat RA yang menangisi alas tidurnya justru dihibur.

Rasul SAW memang memberikan rumah masing-masing kepada para istri. Tetapi, jika ditilik kembali, rumah-rumah itu sangat sederhana. Pun rumah beliau sendiri ukurannya sangat sempit. Bahkan, dikisahkan saat beliau mendirikan salat malam hari, Aisyah harus melungker.

Harta itu letakkan di luar pikiran, bukan di dalam pikiran. Tidak perlu cemas harta tidak banyak. Pun saat harta berlimpah, jangan bangga! Allah SWT sudah menjamin kehidupan seluruh makhluknya.

“Dan tiada satupun makhluk yang bergerak di bumi melainkan dijamin Allah SWT rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Kuncinya ada pada ‘bergerak (ikhtiar). Selama kita ikhtiar, rezeki akan Allah SWT jamin.

Harta yang ada di genggaman kita itu bukan milik kita. Jadi, kenapa masih ragu untuk membelanjakannya di jalan Allah SWT? bahkan, pada harta yang ada di genggaman kita ada hak saudara-saudara kita. Para fakir, miskin, dan seterusnya.

Begitu juga dengan harta yang tidak tergenggam, itu bukan milik kita. Untuk apa kita melampaui batas dalam mengejarnya? Allah SWT pemiliknya, bukan kita.

Pun tentang popularitas. Sepenting apa popularitas di dunia jika surga tak mengenal kita? Nama baik kita tidak lebih dan tidak kurang karena Allah SWT sedang menutup aib kita. Jika Allah SWT yang melakukan itu semua, maka sebenarnya siapa yang layak terkenal?

Berhentilah membuka mata dan mulut dunia agar memuji kita! Buka mata dan mulut kita untuk menghadap kepada Allah SWT! banyak berdzikirdan pujilah Allah SWT dengan pujian setinggi-tingginya. Sebab puja dan puji adalah milik Allah SWT.

Jadi, memeluk harta dan popularitas dalam taat adalah dengan tidak menjadi budak harta dan popularitas.

Terakhir, tentang rasa memiliki kesabaran, kesyukuran, bahkan iman. Keimanan dan ketakwaan adalah ujian yang tiada pernah ada wisudanya. Mungkin wisudanya ada, tapi bukan di dunia. Kelak di akhirat. Hidup di dunia ini adalah momen untuk terus memperbaiki iman dan takwa dan memupuk sabar dan syukur. Tidak ada istirahatnya.

Bagaimana agar semua itu ringan? Peluklah semua itu dengan taat. Peluklah dengan kesadaran terbaik bahwa semua itu milik Allah SWT bukan milik kita. Rasa sabar adalah milik Allah SWT, minta pada-Nya agar rasa itu ada pada kegelisan kita. Rasa syukur itu adalah milik Allah SWT maka minta pada-Nya agar rasa itu ada pada kebahagiaan kita.

Memeluk semua itu dalam taat adalah proses untuk senantiasa menjadi hamba Allah SWT seutuhnya. Melekatkan dalam jiwa dan raga bahwasanya Allah SWT adalah Dzat yang menguasai seluruh alam semesta beserta isinya. Kita adalah bagian dari kepunyaan-Nya. Lantas, bagaimana bisa bagian itu memiliki bagian yang lain?[]

“Milik Allah SWT segala yang ada di langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284).[]

Artikel ini ditulis sebagai materi Tabligh Akbar Dakwah Muslimah Indonesia yang dilaksanakan pada Kamis, 19 November 2020 melalui WAG.

Hidup Tanpa Rasa Kecewa

Hidup Tanpa Rasa Kecewa

Gambar ilustrasi: Dzulki harus memaksa diri ikut lomba “Cepat pakai Baju Berkancing”, sebab dia tidak suka baju berkancing. hehehe

Kecewa memang salah satu isi kehidupan. Tapi jika meladeni kecewa selalu mampir di kehidupan kita maka kita akan terus tersiksa dan tidak bahagia. Oleh sebab itu, jangan terlalu sering kecewa dengan apa yang kita peroleh!

Pada waktu kita mendapatkan nikmat dari Allah, ternyata kita masih sering merasa kurang. Dalam bekerja, kita merasa pekerjaan kita melelahkan, gaji sedikit, bahkan jabatan tidak naik-naik. Di rumah juga demikian, kita merasa sering tidak cocok dengan pasangan kita, merasa anak-anak kita kurang pandai, kurang berbakti, dan sebagainya. Sebenarnya, semua rangkaian keluhan itulah yang membuat kita tidak bersyukur, yang akhirnya kita merasa kecewa.

Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh! Coba kita renungkan, apa yang kita pikirkan pada saat mencari pekerjaan? Pasti yang terpikir adalah yang penting dapat pekerjaan. Kita tidak berpikir apakah pekerjaan itu akan membuat kita lelah, kapan gaji naik, apalagi kapan naik jabatan. Dapat pekerjaan saja, kita sudah puas dan bersyukur. Iya kan? Saat itu kita cukup bersyukur karena masih banyak yang belum mendapat pekerjaan atau bahkan yang tidak mampu bekerja.

Misal yang lain, tentang saat kita berharap jodoh. Cukup kita dapat dan sampai di pelaminan kita sudah sangat bersyukur. Wah, kebahagiaan menyelimuti dengan sangat hangat! Kita tidak pernah berpikir nanti akan ada gesekan, ketidakcocokan, perbedaan pandangan, ide, dan sebagainya. Saat itu kita cukup bersyukur karena masih banyak yang menunggu jodoh atau bahkan ditinggal pasangannya.

Juga saat kita berada di detik-detik menunggu anak kita lahir. Anak kita lahir dengan selamat adalah alasan terbesar kita untuk sangat bersyukur dan bahagia. Pada saat itu kita tidak berpikir ranking berapa dia saat sekolah nantinya, sejenius apa anak kita kelak, sebaik apa dia nantinya, dan hal-hal lain. Saat itu kita bersyukur karena masih banyak yang menunggu momongan atau bahkan kehilangan buah hati.

Hiduplah tanpa rasa kecewa! Jika sekarang pekerjaan sedang menumpuk dan menuntut banyak energi dari kita, disyukuri saja. Andai saat ini keluarga kita sedang meminta kesabaran kita, ayo, persembahkan yang terbaik untuk keluarga kita. Terlebih jika memang saat ini anak kita sedang menjadi ujian bagi kita, mari, berjuang bersama mereka untuk mewujudkan harapan bersama. Ingat kembali momentum awal saat kita menerima semua itu dengan rasa syukur dan bahagia yang tiada bersyarat.

Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh! Itulah mengapa dalam doa sehari-hari, hendaknya kita tidak hanya sibuk meminta kepada Allah swt., tetapi kita juga perlu mengungkapkan rasa syukur kita.[]

Semua Itu Terjadi Di Bumi

Semua Itu Terjadi Di Bumi

Mengapa perjalanan semalam itu begitu sempurna? Seorang manusia diajak rihlah, berkunjung dari satu langit ke tingkatan-tingkatan di atasnya, berkunjung ke Singgasana Terbaik, kemudian pulang dengan hadiah istimewa berupa sholat lima waktu dalam sehari yang hikmahnya terasa bagi seluruh ummat manusia. Dalam perjalan yang tersebut sebagai isra’mi’raj, kisah perjalan Rasulullah saw. ini menjadi fenomenal sepanjang sejarah kehidupan.

Setiap tahun kita bahkan mengenangnya, sebab memang banyak hikmah yang dapat kita petik dari sepenggal kisah perjalanan istimewa itu. Mengapa perjalanan semalam itu begitu sempurna?

Sebelum Rasulullah saw. melaksanakan perjalan ke langit, oleh malaikat, hati beliau dibersihkan dengan tingkat suci tertinggi bagi manusia. Kemudian para malaikat menyiapkan kendaraan terbaik, digambarkan lebih besar dari keledai tapi lebih rendah dari baghal dengan kecepatan secepat kilat. Juga malaikat mengajarkan kepada beliau membaca doa agar terhindar dari gangguan selama perjalanan. Ini berhikmah pada kita bahwa, perjalanan yang luar biasa itu tidak terjadi begitu saja.

Perjalanan yang sempurna dalam semalam itu sebelumnya telah melalui sebuah persiapan. Proses penyucian hati yang sempurna, kendaraan yang disiapkan dengan sebaik mungkin, dan doa terbaik diajarkan untuk dibaca. Inilah bagian dari perjalan sempurna itu.

Pertanyaannya sekarang, dimanakah semua itu terjadi? Jawabannya adalah bumi.
Persiapan matang untuk perjalanan istimewa itu terjadi di bumi. Tiga malaikat, yaitu, Jibril, Mikail, dan Israfil menjemput Rasulullah saw., dibawa ke sumur zam-zam untuk pembelahan dada dan penyucian tingkat tertinggi, bukan langsung menunaikan perjalanan, meskipun secara logika, waktunya
terbatas: semalam saja.
Mari ambil hikmahnya! Jika ada tempat yang paling penuh dengan cinta, maka jawabannya adalah bumi. Sehingga untuk menyucikan hati Rasul tercinta dilakukan di bumi dengan salah satu komposisi bumi itu sendiri, yaitu air, dalam hal ini air suci zam-zam. Kita semua tahu bahwa air zam-zam adalah air cinta yang kisahnya tidak lepas dari rasa cinta antara Allah swt. kepada hambanya hingga cinta seorang ibu, yakni Hajar kepada putranya.
Betapa Allah swt. menciptakan bumi dengan sepenuh cinta, kemudian memilihnya pula untuk menjadi pendaratan Adam dan Hawa merajut cinta. Penciptaan bumi adalah dengan kesempurnaan cinta dari Allah swt. semuanya sempurna, tidak ada pemakluman sekecil apapun. Ukurannya, komposisinya, strukturnya, pergerakannya di tata surya, hingga pada makhluk-makhluk ciptaanNya yang menghuni.
Tempat itu bernama bumi. Sebelum manusia melaksanakan perjalan jauh menuju Rabb-nya, maka bumi adalah tempat persiapan segalanya. Perjalanan manusia menuju Allah swt. adalah bukan perjalanan yang begitu saja. Jika Rasul saw. dalam peristiwa isra’mi’raj saja disiapkan sedemikian rupa sebelum berkunjung ke Arsy’Nya, maka apalah kita sebagai manusia biasa kelak ketika perjumpaan dengan-Nya tiba.
Setiap kehidupan kita di bumi adalah dalam rangka menyiapkan perjalanan panjang menuju alam kekal bernama akhirat. Apa lagi yang pantas kita lakukan selain menyiapkan perjalanan yang tidak biasa itu selain menyambut kematian dengan sebaik mungkin? Menyiapkan amal-amal terbaik sebagai kendaraan yang mumpuni untuk melewati jauhnya perjalanan menuju Allah swt., dan doa-doa tawakkal yang seharusnya senantiasa kita panjatkan: Semoga Allah swt. merahmati kita, dan kelak kita dapat bertemu dengan-Nya.
Sekali lagi, segala persiapan itu (bisa) terjadi di bumi.[]
Manusia dan Pensil

Manusia dan Pensil

Benarlah, usia manusia itu ibarat pensil, yang terus tergerus karena rautan masa guna menajamkan akal dan hatinya untuk menggoreskan hikmah kehidupan yang ada. Setiap perjalanan peristiwa, meninggalkan hikmah untuk kita semua. Masih segar ingatan kita bagaimana nuansa syahdu ramadhan yang terjadi pada pertengahan bulan Juni hingga Juli kemarin. Di bulan itu, kita sebagai muslim dilatih oleh Allah swt. berlomba dalam kebaikan, dalam beribadah. Sebulan itu kita berlatih untuk menahan diri dari hawa nafsu, berlatih ikhlas dan sabar.
Selesai bulan ramadhan, tidak berapa lama kemudian kita memasuki bulan agustus. Jika bulan ramadhan adalah bulan perayaannya ummat muslim di seluruh dunia, maka bulan agustus bisa dikatakan sebagai bulan perayaannya masyarakat Indonesia karena di bulan Agustus Indonesia merdeka dan setiap tahun masyarakat Indonesia di lapisan mana saja akan merayakannya. Bentuk perayaan yang paling sering dilakukan masyarakat untuk memperingati HUT RI adalah dengan
menggelar berbagai macam perlombaan yang diikuti baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Dari dua moment, bulan ramadhan dan bulan kemerdekaan yang telah kita lalui baru-baru ini, secara tidak sadar memberikan kita hikmah, bahwasanya secara berulang-ulang sebenarnya kita berlatih, kita berlomba. Dari perlombaan religius di bulan ramadhan disambung perlombaan nasionalisme dulan kemerdekaan.
Banyak hikmah yang bisa kita ambil perlombaan yang kita alami, salah satunya adalah managemen diri kita, mengenai stragtegi untuk bertahan menang dalam kebaikan seperti menahan hawa nafsu, menahan amarah saat puasa, yang pada intinya adalah kemenangan yang ingin diraih. Selain itu kita juga bisa melajar sportifitas. Bahwasanya dalam perlombaan melakukan kebaikan itu bukan saling menjatuhkan tapi bagaimana bisa bersama-sama mencapai kebenaran yang menjadi tujuan.
Satu hal lagi yaitu Allah memberikan pelajaran dalam perlombaan berupa keikhlasan yang membuat kita bahagia dalam berjuang. Bisa melaksanakan puasa, berlapar lapar tapi hati kita bahagia, kita mengikuti perlombaan tarik tambang, balap karung dan sebagainya juga dengan bahagia meski sebenarnya menguras energy kemanusiaan kita. inilah yang hendaknya menjadi oase dalam hidup kita. di zaman yang serba sulit seperti sekarang semoga kita bisa mengambil hikmah dari setia[ peristiwa, berjuang dengan gembira, penuh khusyuk dalm menjalani hari-hari kita seperti saat kita menjalani bulan ramadhan dan perayaan kemerdekaan.[]

Bilamana Kita Harus Berbagi?


Sabda Rasulullah saw.:
Dari Abu Musa Al-Asyary ra. dari Nabi Muhammad saw. bersabda, “Tiap-tiap
Muslim haruslah bersedekah”; Sahabat bertanya; “Bagaimana kalau dia
tidak mampu Ya Rasulullah?”; Nabi menjawab, “Dia harus berusaha
dengan kedua tangan (tenaga)nya hingga berhasil untuk dirinya dan untuk
bersedekah”; Sahabat bertanya, “bagaimana kalau dia tidak
mampu?”; Nabi menjawab; ” menolong orang yang mempunyai
kebutuhan dan keluhan”; Sahabat bertanya, “bagaimana kalau dia tidak
mampu?”; Nabi menjawab, “Dia melakukan sesuatu perbuatan baik atau
menahan dirinya dari perbuatan munkar (kejahatan) itupun merupakan shodaqoh
baginya”.
Allah swt.
berfirman:
…….. dan tetaplah kamu ber-INFAQ untuk agama Allah, dan janganlah kamu
menjerumuskan diri dengan tanganmu sendiri kelembah kecelakaan (karena
menghentikan INFAQ itu).” (Q-S. Al Baqarah ayat 195)
Dari firman Allah swt. dan sabda Rosul saw.,
maka telah sangat terang bahwa berbagi dalam bentuk infaq dan sedekah adalah
amalan yang implementasinya harus tumbuh subur dalam kehidupan kita. Dengan
upaya yang maksimal seperti yang termaktub dalam hadist diatas, saat tidak
mampu bersedekah dengan harta, maka ada alternatif-alternatif keringanan, yang
pada intinya adalah setiap muslim bersedekah, dalam keadaan sempit maupun
lapang. Dan Allah swt.telah memperingatkan agar kita tidak menjerumuskan diri
sendiri karena kita tidak berinfaq.
Sebuah potret hidup seorang sahabat yang
implementasi berbaginya (infaq dan sedekah) tumbuh mendarah daging, beliau
adalah Ikrimah, sosok yang jiwa dermanya luar biasa meski dalam keadaan sempit
sekalipun.
Terkisah, setelah masuk Islam, Ikrimah bersumpah,
“Demi Dzat yang telah menyelamatkanku di saat perang Badar.” Ia bersyukur
kepada Tuhannya karena ia tidak mati terbunuh dalam perang Badar. Ia masih
tetap hidup sampai akhirnya Allah pun memuliakannya dengan Islam. Ia selalu
membawa Mushaf sambil menangis, “Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.”
Pada saat perang Yarmuk meletus dengan
hebatnya dan pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam, maka singa yang
buas, Ikrimah, pun bangkit dan berkata, “Minggirlah wahai Khalid bin Walid,
biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi
Rasulullah saw. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi? Demi Allah
tidak, selamanya tidak akan terjadi!”
Ikrimah berteriak, “Siapakah yang akan
membaiatku untuk mati?” Pamannya, Harits bin Hisyam, dan juga Dhirar bin
Al-Azwar berdiri untuk membaiatnya. Ikut bersama mereka empat ratus pasukan
muslim. Mereka memasuki arena peperangan hingga mereka dapat mengalahkan
pasukan Romawi, dan Allah pun memberikan kemenangan dan kemuliaan bagi
pasukan-Nya.
Perang
pun selesai. Ikrimah tegeletak terkena tujuh puluh tikaman di dadanya. Sedang
di sampingnya adalah Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Al-Harits
memanggil-manggil meminta air. Namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan, maka
ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy bin Abi
Rabi’ah juga sangat kehausan. Ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ayyasy.”
Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air
dengan cepat menuju Ikrimah dan Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada.
Subhaanallaah!!!

Saudara, marilah
kita suburkan berbagi dengan sesama dalam diri dan hidup kita. Sempit dan
lapang hanyalah kondisi, bukan alasan berbagi atau tidak. Setiap detakan waktu
adalah kesempatan kita untuk beramal, dan berbagi tidak ada batasan waktu. Oleh
karena itu semoga kita semua senantiasa saling berbagi dengan kemampuan
masing-masing. []

Berbagi adalah Keseimbangan

….. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al-Mulk:3)
Allah menciptakan
segalanya adalah dengan prinsip seimbang. Dalam penciptaan langit, Allah
menciptakan pula bumi, dalam penciptaan malam, siangpun ada. juga laki-laki dan
perempuan, baik dan buruk, besar dan kecil, miskin dan kaya, hingga surga dan
neraka. Subhanallah! Semuanya seimbang.
Berbicara tentang
keseimbangan miskin dan kaya, dua keadaan ini adalah sebuah sunatullah dalam
hidup manusia. Kondisi ini akan tetap ada dalam kehidupan dan semua punya
peluang sama untuk mencapai salah satunya. Hanya saja setiap manusia berbeda
dalam menyikapi kondisi ini.
Bukan karena
bekerja manusia kaya dan karena tidak bekerja manusia miskin, karena bekerja
bukanlah sebab datangnya rezeki bagi manusia. Rezeki adalah pemberian Allah
swt. pemberian yang mana ada pertanggungjawaban bagi manusia. Nah, pertanggungjawaban
inilah yang kemudian membuat kondisi miskin dan kaya seimbang.
Allah SWT berfirman, Katakanlah:
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”.
dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan
Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba’ : 39)
Zakat dalam aturan
Allah swt. adalah ibadah wajib bagi ummat muslim. Dan ibadah ini adalah bentuk
menyeimbangkan antara miskin dan kaya.
Dalam QS At-taubah
ayat 103, Allah berfirman:
“Ambilah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

Rasulullah saw. juga bersabda, “Islam dibangun atas lima rukun : syahadat
“la ilaha illaLah muhammadar rosululLoh”,
menegakkan sholat, membayar
zakat,
menunaikan ibadah haji dan shoum di bulan ramadhan.”

Menurut bahasa, zakat adalah tumbuh (numuww),Suci (thaharah) dan bersih Berkembang
dan bertambah (ziyadah) , sedangkan menurut Istilah Fiqh artinya menyerahkan
sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orangorang
yang berhak menerimanya

Dari sini, maka tujuan zakat ada 2,
yakni:
Yang pertama, membersihkan : Membersihkan jiwa orang yang memiliki kelebihan harta
dari kekikiran, membersihkan hati fakir miskin dari sifat iri dan dengki, membersihkan
masyarakat dari benih perpecahan, dan membersihkan harta dari hak
orang lain
Tujuan zakat yang kedua adalah mengembangkan: Mengembangkan
kepribadian orang yang memiliki kelebihan harta dari eksistensi
moralnya, Mengembangkan kepribadian fakir miskin, mengembangkan dan
melipatgandakan nilai harta, sebagai Sarana jaminan sosial dalam islam
dan sebagai sarana mengurangi terjadinya kesenjangan sosial
Selain zakat, ada ibadah sunnah yang berkaitan dengan
harta, yakni infaq dan sedekah. Sebagai ibadah sunnah, infaq punya tujuan,
yaitu mengharap ridho Allah dan melatih diri untuk berbagi dengan yang
memerlukan. Dan manfaat sedekah adalah untuk dapat mencegah datangnya bala. Untuk
dapat memelihara harta dari hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk
mengharap keberkahan harta yang dimiliki.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:177)

Selain itu, ada juga firman Allah swt yang artinya:
Dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros.(QS.Al-Isra’:26)

Juga telah disampaikan bahwa bekerja merupakan bentuk
ikhtiarnya manusia memperoleh rezeki, namun, bekerja bukanlah sebab dari
datangnya rezeki karena rezeki itu adalah pemberian Allah swt. Manusia
mendapatkan rezekinya adalah karena Allah swt yang memberi, bukan karena ia
bekerja.
Oleh sebab itu, maka dalam penerimaan rezeki dari
Allah swt. disitu juga ada hak yang bukan hak kita. Dalam QS.Al-Isra’:26 yang
senada dengan QS.Ar-Rum:38, telah Allah swt. sampaikan bahwa dalam harta
(rezeki) yang kita terima ada hak orang lain.

Oleh karenanya, rezeki yang Allah berikan kepada
manusia bukanlah bulat-bulat milik kita pribadi, ada hak orang lain disana,
orng yang memerlukan. Dan saat kita menyerahkan hak mereka atas rezeki kita
maka Allah swt. menjanjikan pahala dan nikmat yang berlipat pula. Wallahu’alam
bish shawwab![
red-].