Hidup Tanpa Rasa Kecewa

Hidup Tanpa Rasa Kecewa

Gambar ilustrasi: Dzulki harus memaksa diri ikut lomba “Cepat pakai Baju Berkancing”, sebab dia tidak suka baju berkancing. hehehe

Kecewa memang salah satu isi kehidupan. Tapi jika meladeni kecewa selalu mampir di kehidupan kita maka kita akan terus tersiksa dan tidak bahagia. Oleh sebab itu, jangan terlalu sering kecewa dengan apa yang kita peroleh!

Pada waktu kita mendapatkan nikmat dari Allah, ternyata kita masih sering merasa kurang. Dalam bekerja, kita merasa pekerjaan kita melelahkan, gaji sedikit, bahkan jabatan tidak naik-naik. Di rumah juga demikian, kita merasa sering tidak cocok dengan pasangan kita, merasa anak-anak kita kurang pandai, kurang berbakti, dan sebagainya. Sebenarnya, semua rangkaian keluhan itulah yang membuat kita tidak bersyukur, yang akhirnya kita merasa kecewa.

Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh! Coba kita renungkan, apa yang kita pikirkan pada saat mencari pekerjaan? Pasti yang terpikir adalah yang penting dapat pekerjaan. Kita tidak berpikir apakah pekerjaan itu akan membuat kita lelah, kapan gaji naik, apalagi kapan naik jabatan. Dapat pekerjaan saja, kita sudah puas dan bersyukur. Iya kan? Saat itu kita cukup bersyukur karena masih banyak yang belum mendapat pekerjaan atau bahkan yang tidak mampu bekerja.

Misal yang lain, tentang saat kita berharap jodoh. Cukup kita dapat dan sampai di pelaminan kita sudah sangat bersyukur. Wah, kebahagiaan menyelimuti dengan sangat hangat! Kita tidak pernah berpikir nanti akan ada gesekan, ketidakcocokan, perbedaan pandangan, ide, dan sebagainya. Saat itu kita cukup bersyukur karena masih banyak yang menunggu jodoh atau bahkan ditinggal pasangannya.

Juga saat kita berada di detik-detik menunggu anak kita lahir. Anak kita lahir dengan selamat adalah alasan terbesar kita untuk sangat bersyukur dan bahagia. Pada saat itu kita tidak berpikir ranking berapa dia saat sekolah nantinya, sejenius apa anak kita kelak, sebaik apa dia nantinya, dan hal-hal lain. Saat itu kita bersyukur karena masih banyak yang menunggu momongan atau bahkan kehilangan buah hati.

Hiduplah tanpa rasa kecewa! Jika sekarang pekerjaan sedang menumpuk dan menuntut banyak energi dari kita, disyukuri saja. Andai saat ini keluarga kita sedang meminta kesabaran kita, ayo, persembahkan yang terbaik untuk keluarga kita. Terlebih jika memang saat ini anak kita sedang menjadi ujian bagi kita, mari, berjuang bersama mereka untuk mewujudkan harapan bersama. Ingat kembali momentum awal saat kita menerima semua itu dengan rasa syukur dan bahagia yang tiada bersyarat.

Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh! Itulah mengapa dalam doa sehari-hari, hendaknya kita tidak hanya sibuk meminta kepada Allah swt., tetapi kita juga perlu mengungkapkan rasa syukur kita.[]

Semua Itu Terjadi Di Bumi

Semua Itu Terjadi Di Bumi

Mengapa perjalanan semalam itu begitu sempurna? Seorang manusia diajak rihlah, berkunjung dari satu langit ke tingkatan-tingkatan di atasnya, berkunjung ke Singgasana Terbaik, kemudian pulang dengan hadiah istimewa berupa sholat lima waktu dalam sehari yang hikmahnya terasa bagi seluruh ummat manusia. Dalam perjalan yang tersebut sebagai isra’mi’raj, kisah perjalan Rasulullah saw. ini menjadi fenomenal sepanjang sejarah kehidupan.

Setiap tahun kita bahkan mengenangnya, sebab memang banyak hikmah yang dapat kita petik dari sepenggal kisah perjalanan istimewa itu. Mengapa perjalanan semalam itu begitu sempurna?

Sebelum Rasulullah saw. melaksanakan perjalan ke langit, oleh malaikat, hati beliau dibersihkan dengan tingkat suci tertinggi bagi manusia. Kemudian para malaikat menyiapkan kendaraan terbaik, digambarkan lebih besar dari keledai tapi lebih rendah dari baghal dengan kecepatan secepat kilat. Juga malaikat mengajarkan kepada beliau membaca doa agar terhindar dari gangguan selama perjalanan. Ini berhikmah pada kita bahwa, perjalanan yang luar biasa itu tidak terjadi begitu saja.

Perjalanan yang sempurna dalam semalam itu sebelumnya telah melalui sebuah persiapan. Proses penyucian hati yang sempurna, kendaraan yang disiapkan dengan sebaik mungkin, dan doa terbaik diajarkan untuk dibaca. Inilah bagian dari perjalan sempurna itu.

Pertanyaannya sekarang, dimanakah semua itu terjadi? Jawabannya adalah bumi.
Persiapan matang untuk perjalanan istimewa itu terjadi di bumi. Tiga malaikat, yaitu, Jibril, Mikail, dan Israfil menjemput Rasulullah saw., dibawa ke sumur zam-zam untuk pembelahan dada dan penyucian tingkat tertinggi, bukan langsung menunaikan perjalanan, meskipun secara logika, waktunya
terbatas: semalam saja.
Mari ambil hikmahnya! Jika ada tempat yang paling penuh dengan cinta, maka jawabannya adalah bumi. Sehingga untuk menyucikan hati Rasul tercinta dilakukan di bumi dengan salah satu komposisi bumi itu sendiri, yaitu air, dalam hal ini air suci zam-zam. Kita semua tahu bahwa air zam-zam adalah air cinta yang kisahnya tidak lepas dari rasa cinta antara Allah swt. kepada hambanya hingga cinta seorang ibu, yakni Hajar kepada putranya.
Betapa Allah swt. menciptakan bumi dengan sepenuh cinta, kemudian memilihnya pula untuk menjadi pendaratan Adam dan Hawa merajut cinta. Penciptaan bumi adalah dengan kesempurnaan cinta dari Allah swt. semuanya sempurna, tidak ada pemakluman sekecil apapun. Ukurannya, komposisinya, strukturnya, pergerakannya di tata surya, hingga pada makhluk-makhluk ciptaanNya yang menghuni.
Tempat itu bernama bumi. Sebelum manusia melaksanakan perjalan jauh menuju Rabb-nya, maka bumi adalah tempat persiapan segalanya. Perjalanan manusia menuju Allah swt. adalah bukan perjalanan yang begitu saja. Jika Rasul saw. dalam peristiwa isra’mi’raj saja disiapkan sedemikian rupa sebelum berkunjung ke Arsy’Nya, maka apalah kita sebagai manusia biasa kelak ketika perjumpaan dengan-Nya tiba.
Setiap kehidupan kita di bumi adalah dalam rangka menyiapkan perjalanan panjang menuju alam kekal bernama akhirat. Apa lagi yang pantas kita lakukan selain menyiapkan perjalanan yang tidak biasa itu selain menyambut kematian dengan sebaik mungkin? Menyiapkan amal-amal terbaik sebagai kendaraan yang mumpuni untuk melewati jauhnya perjalanan menuju Allah swt., dan doa-doa tawakkal yang seharusnya senantiasa kita panjatkan: Semoga Allah swt. merahmati kita, dan kelak kita dapat bertemu dengan-Nya.
Sekali lagi, segala persiapan itu (bisa) terjadi di bumi.[]
Manusia dan Pensil

Manusia dan Pensil

Benarlah, usia manusia itu ibarat pensil, yang terus tergerus karena rautan masa guna menajamkan akal dan hatinya untuk menggoreskan hikmah kehidupan yang ada. Setiap perjalanan peristiwa, meninggalkan hikmah untuk kita semua. Masih segar ingatan kita bagaimana nuansa syahdu ramadhan yang terjadi pada pertengahan bulan Juni hingga Juli kemarin. Di bulan itu, kita sebagai muslim dilatih oleh Allah swt. berlomba dalam kebaikan, dalam beribadah. Sebulan itu kita berlatih untuk menahan diri dari hawa nafsu, berlatih ikhlas dan sabar.
Selesai bulan ramadhan, tidak berapa lama kemudian kita memasuki bulan agustus. Jika bulan ramadhan adalah bulan perayaannya ummat muslim di seluruh dunia, maka bulan agustus bisa dikatakan sebagai bulan perayaannya masyarakat Indonesia karena di bulan Agustus Indonesia merdeka dan setiap tahun masyarakat Indonesia di lapisan mana saja akan merayakannya. Bentuk perayaan yang paling sering dilakukan masyarakat untuk memperingati HUT RI adalah dengan
menggelar berbagai macam perlombaan yang diikuti baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Dari dua moment, bulan ramadhan dan bulan kemerdekaan yang telah kita lalui baru-baru ini, secara tidak sadar memberikan kita hikmah, bahwasanya secara berulang-ulang sebenarnya kita berlatih, kita berlomba. Dari perlombaan religius di bulan ramadhan disambung perlombaan nasionalisme dulan kemerdekaan.
Banyak hikmah yang bisa kita ambil perlombaan yang kita alami, salah satunya adalah managemen diri kita, mengenai stragtegi untuk bertahan menang dalam kebaikan seperti menahan hawa nafsu, menahan amarah saat puasa, yang pada intinya adalah kemenangan yang ingin diraih. Selain itu kita juga bisa melajar sportifitas. Bahwasanya dalam perlombaan melakukan kebaikan itu bukan saling menjatuhkan tapi bagaimana bisa bersama-sama mencapai kebenaran yang menjadi tujuan.
Satu hal lagi yaitu Allah memberikan pelajaran dalam perlombaan berupa keikhlasan yang membuat kita bahagia dalam berjuang. Bisa melaksanakan puasa, berlapar lapar tapi hati kita bahagia, kita mengikuti perlombaan tarik tambang, balap karung dan sebagainya juga dengan bahagia meski sebenarnya menguras energy kemanusiaan kita. inilah yang hendaknya menjadi oase dalam hidup kita. di zaman yang serba sulit seperti sekarang semoga kita bisa mengambil hikmah dari setia[ peristiwa, berjuang dengan gembira, penuh khusyuk dalm menjalani hari-hari kita seperti saat kita menjalani bulan ramadhan dan perayaan kemerdekaan.[]

Bilamana Kita Harus Berbagi?


Sabda Rasulullah saw.:
Dari Abu Musa Al-Asyary ra. dari Nabi Muhammad saw. bersabda, “Tiap-tiap
Muslim haruslah bersedekah”; Sahabat bertanya; “Bagaimana kalau dia
tidak mampu Ya Rasulullah?”; Nabi menjawab, “Dia harus berusaha
dengan kedua tangan (tenaga)nya hingga berhasil untuk dirinya dan untuk
bersedekah”; Sahabat bertanya, “bagaimana kalau dia tidak
mampu?”; Nabi menjawab; ” menolong orang yang mempunyai
kebutuhan dan keluhan”; Sahabat bertanya, “bagaimana kalau dia tidak
mampu?”; Nabi menjawab, “Dia melakukan sesuatu perbuatan baik atau
menahan dirinya dari perbuatan munkar (kejahatan) itupun merupakan shodaqoh
baginya”.
Allah swt.
berfirman:
…….. dan tetaplah kamu ber-INFAQ untuk agama Allah, dan janganlah kamu
menjerumuskan diri dengan tanganmu sendiri kelembah kecelakaan (karena
menghentikan INFAQ itu).” (Q-S. Al Baqarah ayat 195)
Dari firman Allah swt. dan sabda Rosul saw.,
maka telah sangat terang bahwa berbagi dalam bentuk infaq dan sedekah adalah
amalan yang implementasinya harus tumbuh subur dalam kehidupan kita. Dengan
upaya yang maksimal seperti yang termaktub dalam hadist diatas, saat tidak
mampu bersedekah dengan harta, maka ada alternatif-alternatif keringanan, yang
pada intinya adalah setiap muslim bersedekah, dalam keadaan sempit maupun
lapang. Dan Allah swt.telah memperingatkan agar kita tidak menjerumuskan diri
sendiri karena kita tidak berinfaq.
Sebuah potret hidup seorang sahabat yang
implementasi berbaginya (infaq dan sedekah) tumbuh mendarah daging, beliau
adalah Ikrimah, sosok yang jiwa dermanya luar biasa meski dalam keadaan sempit
sekalipun.
Terkisah, setelah masuk Islam, Ikrimah bersumpah,
“Demi Dzat yang telah menyelamatkanku di saat perang Badar.” Ia bersyukur
kepada Tuhannya karena ia tidak mati terbunuh dalam perang Badar. Ia masih
tetap hidup sampai akhirnya Allah pun memuliakannya dengan Islam. Ia selalu
membawa Mushaf sambil menangis, “Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.”
Pada saat perang Yarmuk meletus dengan
hebatnya dan pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam, maka singa yang
buas, Ikrimah, pun bangkit dan berkata, “Minggirlah wahai Khalid bin Walid,
biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi
Rasulullah saw. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi? Demi Allah
tidak, selamanya tidak akan terjadi!”
Ikrimah berteriak, “Siapakah yang akan
membaiatku untuk mati?” Pamannya, Harits bin Hisyam, dan juga Dhirar bin
Al-Azwar berdiri untuk membaiatnya. Ikut bersama mereka empat ratus pasukan
muslim. Mereka memasuki arena peperangan hingga mereka dapat mengalahkan
pasukan Romawi, dan Allah pun memberikan kemenangan dan kemuliaan bagi
pasukan-Nya.
Perang
pun selesai. Ikrimah tegeletak terkena tujuh puluh tikaman di dadanya. Sedang
di sampingnya adalah Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Al-Harits
memanggil-manggil meminta air. Namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan, maka
ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy bin Abi
Rabi’ah juga sangat kehausan. Ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ayyasy.”
Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air
dengan cepat menuju Ikrimah dan Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada.
Subhaanallaah!!!

Saudara, marilah
kita suburkan berbagi dengan sesama dalam diri dan hidup kita. Sempit dan
lapang hanyalah kondisi, bukan alasan berbagi atau tidak. Setiap detakan waktu
adalah kesempatan kita untuk beramal, dan berbagi tidak ada batasan waktu. Oleh
karena itu semoga kita semua senantiasa saling berbagi dengan kemampuan
masing-masing. []

Berbagi adalah Keseimbangan

….. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al-Mulk:3)
Allah menciptakan
segalanya adalah dengan prinsip seimbang. Dalam penciptaan langit, Allah
menciptakan pula bumi, dalam penciptaan malam, siangpun ada. juga laki-laki dan
perempuan, baik dan buruk, besar dan kecil, miskin dan kaya, hingga surga dan
neraka. Subhanallah! Semuanya seimbang.
Berbicara tentang
keseimbangan miskin dan kaya, dua keadaan ini adalah sebuah sunatullah dalam
hidup manusia. Kondisi ini akan tetap ada dalam kehidupan dan semua punya
peluang sama untuk mencapai salah satunya. Hanya saja setiap manusia berbeda
dalam menyikapi kondisi ini.
Bukan karena
bekerja manusia kaya dan karena tidak bekerja manusia miskin, karena bekerja
bukanlah sebab datangnya rezeki bagi manusia. Rezeki adalah pemberian Allah
swt. pemberian yang mana ada pertanggungjawaban bagi manusia. Nah, pertanggungjawaban
inilah yang kemudian membuat kondisi miskin dan kaya seimbang.
Allah SWT berfirman, Katakanlah:
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”.
dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan
Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba’ : 39)
Zakat dalam aturan
Allah swt. adalah ibadah wajib bagi ummat muslim. Dan ibadah ini adalah bentuk
menyeimbangkan antara miskin dan kaya.
Dalam QS At-taubah
ayat 103, Allah berfirman:
“Ambilah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

Rasulullah saw. juga bersabda, “Islam dibangun atas lima rukun : syahadat
“la ilaha illaLah muhammadar rosululLoh”,
menegakkan sholat, membayar
zakat,
menunaikan ibadah haji dan shoum di bulan ramadhan.”

Menurut bahasa, zakat adalah tumbuh (numuww),Suci (thaharah) dan bersih Berkembang
dan bertambah (ziyadah) , sedangkan menurut Istilah Fiqh artinya menyerahkan
sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orangorang
yang berhak menerimanya

Dari sini, maka tujuan zakat ada 2,
yakni:
Yang pertama, membersihkan : Membersihkan jiwa orang yang memiliki kelebihan harta
dari kekikiran, membersihkan hati fakir miskin dari sifat iri dan dengki, membersihkan
masyarakat dari benih perpecahan, dan membersihkan harta dari hak
orang lain
Tujuan zakat yang kedua adalah mengembangkan: Mengembangkan
kepribadian orang yang memiliki kelebihan harta dari eksistensi
moralnya, Mengembangkan kepribadian fakir miskin, mengembangkan dan
melipatgandakan nilai harta, sebagai Sarana jaminan sosial dalam islam
dan sebagai sarana mengurangi terjadinya kesenjangan sosial
Selain zakat, ada ibadah sunnah yang berkaitan dengan
harta, yakni infaq dan sedekah. Sebagai ibadah sunnah, infaq punya tujuan,
yaitu mengharap ridho Allah dan melatih diri untuk berbagi dengan yang
memerlukan. Dan manfaat sedekah adalah untuk dapat mencegah datangnya bala. Untuk
dapat memelihara harta dari hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk
mengharap keberkahan harta yang dimiliki.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:177)

Selain itu, ada juga firman Allah swt yang artinya:
Dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros.(QS.Al-Isra’:26)

Juga telah disampaikan bahwa bekerja merupakan bentuk
ikhtiarnya manusia memperoleh rezeki, namun, bekerja bukanlah sebab dari
datangnya rezeki karena rezeki itu adalah pemberian Allah swt. Manusia
mendapatkan rezekinya adalah karena Allah swt yang memberi, bukan karena ia
bekerja.
Oleh sebab itu, maka dalam penerimaan rezeki dari
Allah swt. disitu juga ada hak yang bukan hak kita. Dalam QS.Al-Isra’:26 yang
senada dengan QS.Ar-Rum:38, telah Allah swt. sampaikan bahwa dalam harta
(rezeki) yang kita terima ada hak orang lain.

Oleh karenanya, rezeki yang Allah berikan kepada
manusia bukanlah bulat-bulat milik kita pribadi, ada hak orang lain disana,
orng yang memerlukan. Dan saat kita menyerahkan hak mereka atas rezeki kita
maka Allah swt. menjanjikan pahala dan nikmat yang berlipat pula. Wallahu’alam
bish shawwab![
red-].

Semua adalah Ibadah

Suatu hari saat sedang berkumpul dengan
sahabat-sahabatku, kami dengan enjoy sedang membicarakan tentang pendidikan
untuk anak kami masing-masing. Seorang teman membuka percakapan ini dengan
keluhan hatinya yang galau memilih sekolah untuk anak pertamanya. Satu sekolah
sudah cocok, ternyata ada info bla-bla-bla sehingga goyah kembali.
Pembicaraan dengan teman ini ternyata cukup berat dan
memakan waktu yang lama. Ada yang bercerita pengalamannya, ada yang
menyampaikan info yang dia punya, macam-macam. Bahkan ada yang hanya
manggut-manggut saja lantaran belum sampai masanya mengalami kegalauan untuk
pendidikan anaknya.
Pembaca yang budiman,
Dari pembicaraan yang lumayan panjang itu, bisa kita
pahami ternyata semua keputusan itu mengandung resiko. Saran yang
direkomendasikan, sebaik apapun pasti ada resikonya saat kita jalani.
Memutuskan anak kita untuk sekolah di sekolah full day misalnya, kita akan
menemukan resiko seperti waktu dirumah bagi anak akan terbatas sehingga anak
tidak seberapa baik jiwa sosialnya dengan orang-orang di rumah dan sekitarnya,
atau anak akan terus mengeluh capek Karena jam belajarnya lama, dan sebagainya.
Saat memutuskan untuk anak sekolah di sekolah yang
normal, pulang siang. Sebagai orangtua kadang ada yang merasa tidak maksimal
pembelajarannya, ekstra-nya kurang, anak akan terytinggal dengan anak-anak
fullday, dll. Belum kalau kita membandinagkan satu sekolah dengan sekolah yang
lain tentang kualitasnya, sarana prasarana, jurusannya (bagi yang kejuruan),
dan masih banyak lagi yang tentu saja semua itu mengandung resiko.
Para orangtua yang bijak,
Sebenarnya tugas kita sebagai orangtua yang utama
bukanlah memusingkan diri untuk mencari sekolah yang pas untuk anak kita.
Memang itu hal penting, tapi ada yanglebih utama, yaitu mendidik anak kita
untuk hakikat mencari ilmu. Sebagai orangtua kita punya kewajiban untuk
menanamkan kepada anak kita bahwa sebagai manusia dia mempunyai tugas khusus,
yaitu beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah di bumi ini. Kondisi ini yang
harus kita pantau terus menerus dalam diri anak kita. Supaya mereka menjadi
manusia yang selalu tunduk kepada Allah swt. dan ia akan menjadi pemimpin
(pemelihara) bumi ini.
Dengan demikian, ia akan merajut ilmunya dengan aqidah
yang benar karena ia sudah tahu misi besarnya sebagai manusia dalam
hidupnya. Sehingga dimanapun ia menuntut ilmu, dan suatu saat ia sukses, maka
ia akan sukses dalam bingkai syar’i. ilmunya akan manfaat, ia mau tekun di
bidang apa, ia kursus apapun, ia jadi apapun tidak masalah, karena ia akan
menjadi manusia yang bisa mengemban tugas khususnya.
Sebagai orangtua kita juga tidak akan
merasa kecewa dengan anak yang diimpikan menjadi dokter ternyata ia menjadi
akuntan handal, anak yang diharapkan menjadi polisi ternyata ia jadi pengusaha,
dst. Kekecewaan itu tidak akan terjadi, karena yang menjadi visi besar orangtua
adalah bagaimana anak ini sukses dalam bingkai syar’i. Dan ini adalah masa yang
akan ia jalani dengan cukup panjang, begitu juga bagi orangtua.[]