Sering tidak kita sadari, ternyata lisan
ataupun perbuatan kita begitu berbahaya jika kita tidak menjaganya. Perkataan
yang terucap dari lisan tanpa kita sadari terkadang menyakiti hati orang
lain. Perilaku kita terkadang juga demikian, tanpa sadar itu melukai yang lain.
Semakin sering kita berinteraksi dan melakukan komunikasi dengan seseorang,
maka semakin besar peluang kita menyakiti orang tersebut.
Ketika kita telah berkata yang menyakiti orang
lain, maka kita tidak akan bisa menarik kembali ucapan. biasanya, kita
akan menggunakan kata maaf sebagai penghapus kata yang melukai itu. Tapi apakah
kata maaf itu benar-benar menghapus dan mengobati luka itu?
Ibarat sebuah batu yang dilempar ke dalam
danau yang airnya tenang. Saat sebuah batu di lemparkan, seketika danau yang tenang itu tentu akan beriak. Namun, lama-kelamaan riak itu
menghilang dan danau kembali tenang seperti semula. Tapi sadarkah kita
perubahan apa yang terjadi pada danau tenang itu? Ternyata, tidak bisa
dihilangkan bahwasanya danau tenang itu dalamnya telah terdapat batu.
Saudara muslim,                                            
Begitulah kondisi hati manusia. Terkadang saat
sebuah hati kita sakiti dengan lemparan perkataan kita yang menyakitkan, hati
saudara kita sakit dan dia melakukan perlawanan seperti kecewa, marah, dan
sebagainya. Ketika itu kita sebagai pelempar batu biasanya
mengandalkan kata “Maaf” untuk membuat semuanya kembali seperti semula. Bisa
berhasil memang, tapi kenyataan yang tidak bisa diubah adalah hati itu telah tergores oleh ucapan buruk kita, ia tak sama seperti dulu lagi.
Oleh karena itu, marilah kita menjaga benar
diri kita agar sikap, lisan dan apapun dari kita tidak melukai orang lain.
Karena apa yang telah kita lakukan tidak dapat kita tarik kembali, dan
perbaikan pun jikalau bisa tetap saja akan meninggalkan bekas di dalam hati
orang lain.[]