Saat masih jomblo, aku menghabiskan Ramadhan dengan tak lepas berdoa tentang jodoh. Tidak peduli dianggap agresif menikah. Toh agresifnya sama Allah. hehehe…. Bahkan sejak di bangku SMP, sejak Guru Pendidikan Agama Islam menganjurkan berdoa tentang masa depan, salah satunya jodoh, aku selalu berdoa, seperti mantra yang lanyah terucap, tiap habis sholat terucap.

“Yaa Allah, pertemukan hamba dengan jodoh hamba di usia 25 tahun….”

kalimat itu ada di kutipan doa-doa rutin. Padahal masih SMP, baligh saja belum. Hew? Pacaran juga belum tahu tata caranya, bahkan kalau digojloki masih sesekali nangis dan mengadu ke guru. Huwahahaha….!

Dan doa itu seolah menjadi garansi, tenang-tenang saja meski gak punya gebetan di sekolah. Biasa-biasa saja saat dipanasi status “kejombloan yang bertakdir sendiri dan terus dibully”. Karena belum 25 tahun gitu loh. Ada ke-PD-an yang terlalu tinggi: Tenang, Nanti di usia 25, Allah akan datangkan. hihihi….

Tapi kepercayaan itu juga sempat goyah, Guys. Bayangkan, usia 21 tahun, usia yang aduhai, lulus kuliah tapi pas wisuda gak ada wajah baru yang diajak poto pakai toga. Eeaa… akhirnya aku pilih poto sendiri pakai toge. eh, gak begitu juga sih!

Baru wisuda, pertanyaannya: Kapan menikah?

Tiga bulan aman, jawabannya: Cari kerja dulu.

Tiga bulan kemudian dapat kerjaan. Semua memberi selamat dengan ujungnya pertanyaan: Kapan nikah? Adooww!

Sang Emak di rumah juga mulai nostalgia, cerita masa emasnya, berapa banyak yang mengajak menikah, dan akhirnya bapakku yang menikahi beliau di usia 22 Tahun.

“Emak nikah umur 22 tahun, lho….” Ledekan itu selalu tertuju padaku. Sebel? Tidakkk! Tapi saat usiaku 24 tahun aku mulai sebel.

Nah, pas sudah 24 tahun, doa yang rutin terpanjatkan ternyata goyah. Kepercayaan seolah rontok satu per satu seperti rambutnya mbah buyutku. Lah? Ditambah saat Emak panik. Tetangga selatan rumah menawarkan, utara rumah apalagi, 2 kali. Dan tidak ada yang jodoh. Hikz!

“Cari yang kerja kantoran ya? Kalau ngantornya ke sawah ora gelem, engko siji macul, siji sepatuan jinjit.” (Entah apa hubungan pacul/cangkul dengan sepatu jinjit)

“Minta belanja berapa juta, sama pegawai bank gak mau.” (Nah, yang ini berat….)

Masih banyak, dan semua kutanggai dengan senyum pe*so*d*n. Ada ragu sih, jangan-jangan kena karma, terus jadi gak bisa nikah di usia 25 tahun. jelek deh pikiran saat itu.

Sampai di awal ramadhan, setelah ada drama pengembalian peningset. Amplop coklat datang lagi. Usiaku 24 tahun 3 bulan.

“Sudah tahu ikhwannya siapa?” Begitu Tanya Ustadz disaat aku diminta datang mengambil biodatanya.

“Saya lelah, Ustadz. Biar saya fokus ibadah ramadhan,bertaubat, memperbaiki diri dulu. Jangan diproses lagi secepat ini,” Jawabku waktu ini. Baru kusadari, ternyata cukup melow adegan ini. Huaaaa!

“Ini hanya ikhtiar, Mbak Syilvi. Dijalani saja. Allah yang akan mengatur semua.”

Seperti ajaib, tanganku menerima amplop coklat lagi. Aku putuskan langsung memberikan biodatanya ke Emak dan Bapak.

Ekspresi Emak, senyum-senyum saat baca, terus keluar suara, “Kayak Ustadz.” Dieeeenggg…. Mampuslah aku dapat suami wajah ustadz!

Bapak hanya bilang, “Dijalani saja, keputusan terserah kamu!”

Aku kembali mengamati biodata. kali ini lebih cermat, tapi kepalaku pusing. Silsilah keluarga yang dicantumkan di biodata lebih mengerikan dari susunan unsur kimia. Dimulai dari Nabi Adam lho…. Wkwkwkwk…..

Daripada pusing, aku putuskan ta’aruf saja. Tanpa babibu, besoknya sudah ta’aruf. Kilat!

Ta’aruf ternyata lebih memusingkan. Dari semua pertanyaannku tidak ada yang dijawab dengan pasti. Ujung-ujungnya: Lihat nanti… Wallahu’alam….. Bisa dibicarakan. Adduuuhh, buat gue bangetz!

Daripada pusing, aku tutup forum ta’aruf dengan kalimat, “Yang pasti saja. Kalau memang niat menikah untuk beribadah maka cepat saja kita putuskan, prosesnya lanjut atau kalau tidak ya segera kita hentikan prosesnya.”

“Tuh, Akh. Akhwatnya sudah iya, tinggal minta kepastian antum.” Ddiiiieeerrr! Ustadz ini mantap kalau memproses pernikahan.

“Ane minta waktu 3 hari untuk berpikir,” Jawab lelaki itu.

Kesuwen. Dua hari saja ya,” Tawar Ustadz, dan kami menyerah, menutup forum perasaan yang entah apa. Campur aduk.

Ajaibnya, tidak ada 24 jam, aku sudah dapat kabar: Ikhwannya lanjut. Hari Selasa mau ke rumah untuk ta’aruf dengan keluarga.

Wow! Paniklah aku, ke rumah? Ketemu keluargaku? Selasa? Aku sudah janjian sama Emak mau membagi parcel lebaran untuk yatim di desa yang agak jauh dari rumah.

Dan Hari Selasa begitu memburuku. Sampai maghrib, buka puasa, Aku dan Emak belum ada di rumah. Ditambah diperjalanan pulang, temanku (yang ikut membagi parcel) tersesat. Dia anak Mojokerto, gak begitu paham Jombang, tapi naik motornya kencang sekali dan saat waktunya belok, dia malah melaju lurus.

Aku dan Emak putar balik, mencarinya lumayan jauh, tidak ketemu. Akhirnya, aku harus ke rumahnya dulu, memastikan dia sudah di rumah, menunggunya sampai pulang. Hingga jam 20.00.

Sampai rumah, sholat tarawih sudah selesai, aku lari ke warung tetangga, membeli makanan ringan untuk disuguhkan ke tamu spesial. Hahaha…. lucu sih, tamu spesial tapi gak disiapkan apa-apa.

Tidak sampai 15 menit kemudian, lelaki itu datang, dengan 2 orang ustadz yang mendampingi.

Aku melipir masuk ke kamar, niat menguping, karena kamarku bersebelahan dengan ruang tamu. Tapi tak berhasil, Entah apa yang dibicarakan. Satu jam kemudian tamunya hilang. Eh, pulang.

Aku tanya Emak apa yang dibahas, katanya gak ada. Hahahah…..Yo wes lah.

Seminggu kemudian, aku dapat kabar, Tanggal 5 Syawal khitbah. Kilat lagi!

Oiya, Semua kabar dan komunikasi kami melalui perantara ustadz dan usadzah yang memproses, tidak ada komunikasi langsung. Itu permintaanku, dan lelaki itu sepakat.

Setelah dapat tanggal khitbah, sudah. Fokus ibadah Ramadhan. Ciiieee…. Sampai ustadz yang mendampingi agak kesal. Hahaha…

“Berapa nomor sepatu, sandal? Apa ukuran baju? Warna kesukaan apa?” Wkwkwkwk….

Daripada lama, aku jawab, “Ustadz, sak pengadeg cukup mukenah saja.” hehehehe… (Logikanya dapatkan kan? Mukenah adalah peningset sak pengadeg. kalau pakai mukena maka dari ujung rambut sampai ujung kaki tertutupi.hihihi….)

Ada yang menarik jika membahas jodohku ini, laki-laki yang sekarang jadi Ayahnya Zulki. Heh?hihihi…

Aku mengenalnya tahun 2009, di KAMMI. Hanya sebentar, sebab setelah itu dia aktif membantu di medan yang lain. Mungkin beberapa kali di forum yang sama tapi aku tidak memperhatikan sama sekali. (Iyalah… ngapain merhatiin ikhwan. huuueee). Saat itu aku di KAMDA dan dia di Komsat UNDAR. Pernah untuk urusan organisasi, aku mengirim SMS tapi dia tidak membalas, aku email juga tidak direspon, bahkan aku telepon juga tidak diangkat. Saking keselnya aku sampai bilang sendiri: Aku gak mau hubungi dia lagi.

Nah, saat terima amplop biodatanya, nomor HP nya aku cek. Wow! Nomor yang sama. Masih tersimpan di HP ku dengan Nama “Pak Yuhyihal”. Tersimpan sejak 2009, tidak ada komunikasi sama sekali dalam rentang 4 tahun itu, kecuali komunikasiku yang tidak dia respon. Dan 2013 biodatanya datang padaku.

Hemmm….!

Allah begitu rapi menyusun puzzle hidup hamba-Nya.

Jombang, 27 Ramadhan 1439 H.