De javu Dzulki

 Hari ini, tanggal 28 Februari 2019, de javu. Pulang kerja, setelah mampir ke SMPIT ARJ untuk membersamai anak-anak Kelas Menulis, ternyata sampai rumah disambut Dzulki dengan kondisi demam dan muntah-muntah.

De javu, kamis juga, tanggal 8 Februari kemarin, saat Dzulki tergeletak lemas, badan demam saat aku pulang kerja. Dan sama, ayahnya tidak mengabari sama sekali.

“Iya, dia demam,” jawabnya saat aku konfirmasi.

“Kenapa aku tidak dikabari?”

“Aku bisa menjaganya,” jawabnya setenang mungkin.

Oke, aku berusaha tenang. Belajar dari yang sudah-sudah, kepanikan tidak akan bermanfaat untuk segera memilih solusi. Akhirnya aku mulai mengopres dia. Tapi sampai esok hari demamnya stabil.

Hanya muntah-muntahnya sudah hilang. Minum airnya masih banyak, makannya masih mau, dan dia banyak tidur. Aku masih tidak khawatir.

Sampai pada hari Sabtunya, akhirnya aku tidak bisa tenang lagi. Harus ke dokter. Ayahnya yang baru berangkat kerja langsung aku minta pulang dan mengantar ke klinik. Berangkatlah ke klinik sekitar jam 10.00 an.

“Adik batuk pilek, Bu. Saya resep obat ya, kalau tiga hari demam tidak turun kita cek lab,” kata dokter yang masih muda.

“Sebenarnya, idealnya anak demam berapa hari harus dibawa ke dokter?” tanyaku.

“Ibu sudah benar, tiga hari demam tidak turun setelah ditangani pertama di rumah, maka dibawa ke dokter,” jawabnya.

Aku mengangguk saja dan segera pamit.

Kondisi Dzulki agaknya membaik dengan jalan keluar rumah. Mungkin suasana mempengaruhi. Sebelum pulang, dia minta mampir beli bubur kacang hijau. Baiklah, kita mampir.
Sampai rumah, bubur dimakan dengan lahap, susu mau, air putih sesering mungkin dia minum, aku lega. Semoga tidak perlu kembali ke klinik. Sembuh!

Sabtu malam terlalui dengan mulus, tanpa begadang. Dzulki juga bisa tidur setelah makan obat dari dokter. Pagi harinya, Hari Ahad, demamnya turun. Suhu tubuhnya normal, dan berangkatlah dia untuk tampil hafalan di acara seminar parenting yang digagas sekolahnya. Sebenarnya, aku ditunjuk untuk jadi moderator di acara itu, tapi sejak Dzulki sakit aku mengonfirmasi ustadzahnya agar dicarikan pengganti.

Awalnya Ayah tidak setuju Dzulki tampil. Pertimbangannya agar istirahat. Tapi ustadzahnya Dzulki WA, “Mas Kafka tidak mau tampil kalau tidak ada Mas Dzulki, kalau bisa Mas Dzulki hadir ya, setelah itu bisa pulang untuk istirahat.”

Nah, karena demamnya suhda turun dan dia berwajah cerah ceria, maka kuputuskan Dzulki ikut tampil. Alhamdulillah tampilannya baik, dia bawa microfon yang sebelumnya sudah dijanjikan ustadzahnya. Hehehehe…

Sebenarnya sabtu malam itu ada tragedi. Ahahaha… Saat Dzulki membaik, ternyata aku alergi, seluruh badan bentol-bentol… Bengkak semua! Tapi demi Dzulki tampil, cus saja!

Nah, pulang tampil, siangnya, Dzulki demam lagi. Hingga hari Senin demamnya tidak turun. Barulah hari Selasa dia membaik. Karena sudah 3 hari izin tidak kerja, maka aku pamit ke dia untuk kerja. Siang aku telepon Mbahbuknya dia masih baik-baik saja. Tapi jam 15.00an, Mbahbuknya telepon demamnya tinggi.

Aku langsung menghubungi ayahnya agar pulang. Akupun langsung pulang. Tanpa mandi ataupun ganti baju, langsung kubawa dia ke klinik. Cek lab dan hasilnya sesuatu.

“DB, Bu. Trombositnya 81.000. Langsung ke IGD!”

“Tanpa rujukan, Dok?” tanyaku bingung.

“Tidak perlu, Bu. Langsung IGD. Trombositnya sudah 81.000. Typusnya positif juga.”

Tanpa bertanya lagi akhirnya menuju RS Muslimat. Sampai di IGD ternyata kamar penuh.

“Trombosit adik sudah segini ya, Bu?” Kata petugas di IGD.

Aku hanya bisa mengangguk. Kalut, tapi aku harus menguatkan Dzulki.

“Aku tidak mau ke rumah sakit, Bu!” Katanya.

Aku mendekapnya erat. Sejak tadi dia terus digendonganku. Meski badannya sudah panjang, aku masih menggendongnya terlebih saat dia sakit.

“Kemana ini?” Tanya ayahnya.

Ayahnya tampak sangat panik. Aku berusaha menenangkan sebisa mungkin.

“Aku berharap tidak ke RSUD. Kasihan bercampur dengan banyak pasien.”

“Berarti kemana?”

“RS Pelengkap.”

Meluncur kesana. Dzulki masih kudekap erat sambil terus kuciumi kepalanya.

Sampai di RS Pelengkap ternyata lebih ramai lagi.

“Mohon maaf sekali, kamar penuh. Kami tidak bisa menerima pasien.”

Allah, ada apa malam ini? Begitu banyaknyakah anak sakit? Aku hampir tumbang. Ingin pulang saja rasanya.

“Kita telepon rumah sakit saja,” usulku.

Tapi naas, googling nomor telepon ternyata internet lemot. Sambil googling, akhirnya aku mengajak untuk ke RS Muhammadiyah.

“Kita kok ke rumah sakit banyak? Dzulki mau pulang saja,” kata Dzulki.

Aku menciumi kepalanya, “Mas Dzulki malam ini harus tidur di rumah sakit. Kita cari rumah sakit dulu,” aku berusaha menerangkan.

“Aku tidur di kamarku saja!” bantahnya.

Aku hampir menangis, tapi tak kulakukan, sebab ritme nafasku saja pasti dia rasakan sebab dia sedang kugendong.

“Dengar Ibu ya, Nak. Kita tidur di rumah sakit dulu beberapa malam. Ibu akan menemani terus. Selalu doa sama Allah ya!”

Dzulki mengangguk. Aku sedikit lega.

“Ibu temani Dzulki ya!”

“Selalu.”

Akhirnya aku masuk ke IGD RS Muhammadiyah. Kondisinya tidak jauh beda dengan sebelumnya. Ramai sekali. Aku pernah opname disini, tidak seramai ini IGDnya.

“Kamar anak-anak tinggal satu, kelas tiga. Bagaimana, Bu?”

“Iya, saya ambil. Saya ke ayahnya dulu ya, Pak. Tas saya ada di ayahnya,” kataku.

Ayah memang kuminta stay di depan, tanpa parkir, biar tidak mondar mandir lama kalau-kalau kamar penuh.

“Ada, Yah kelas tiga. isinya 4 pasien.”

“Signal bagus, kita kontak rumah sakit lain dulu.”

“Begini saja, Ayah ke RS dr.Moedjito, aku disini calling rumah sakit lainnya.”

Aku kembali dan minta waktu pada petaugs untuk mencari RS lain. Ayahnya ke RS dr.Moedjito.

Aku telepon RSNU, dijanjikan akan dikonfirmasi kamar diatas jam 22.00, RS Islam penuh juga. Ayahnya pun kembali dengan hasil nihil alias penuh juga.

Akhirnya aku menata hati, bersiap untuk menerima jika harus opname di RSUD.

“Kamar seruni kelas 2 ada, Bu. Silahkan kesini.”

Aku segera menata hati, menerima. Yang buruk bagi kita bisa jadi baik untuk kita.

“Bismillah ke RSUD, Yah!”

“Yakin?”

“Kita tata hati, niat ikhtiyar pengobatan anak!”

Ayah sepakat dan meluncurlah ke RSUD.
Dzulki terus memelukku. Aku terus meyakinkan bahwa ibu menemaninya selalu.

“Kita berjuang bersama untuk sehat ya, Nak. Ibu berjuang, Mas Dzulki berjuang, ayah juga berjuang. Doa sama Allah ya…. Bismillah!”

Dia mengangguk. Bahkan saat masuk IGD dia pasrah, mau begitu saja saat dibaringkan, diperiksa awal, bahkan saat harus pasang infus dia hanya menangis tanpa menarik tangannya. Aku seperti tak punya hati lagi. Sudah pada titik tak bisa menangis.

Cek ulang dilakukan sesuai prosedur. Selama menunggu cek (ayah mengurus administrasi), Dzulki terus minum air. Aku menceritakan berbagai kisah dan dia minta mengaji (hafalan). Saat tidur merintih dia juga suka dzikir: Yaa Allah Yaa Rabb! Yaa Allah Yaa Rabb.

Aku benar-benar leleh mendengar rintihannya. Padahal untuk dzikir seperti itu aku tidak pernah memintanya. Mungkin ustadzahnya yang mengajari.

“Ibu, kondisi adik baik-baik saja. DB nya sudah melalui masa kritis dan trombositnya sudah naik. Sekarang 105.000. Typus juga dalam batas aman. Jadi bisa dibawa pulang.”

Aku merasa aneh dengan keterangan dokter. Bagaimana bisa dalam waktu 3 jam hasil berubah sedang Dzulki hanya minum air saja?

Hasil lab dibentangkan padaku dan aku masih tidak percaya.

Ayah sempat menebak-nebak, “Apa efek dzikirnya? Dia pejuang Al-Qur’an….”

Aku mengimani keistimewaan para pejuang qur’an, tapi anakku masih belum sempurna hafalannya. Tapi pertolongan Allah pasti kuimani.

“Tapi di paru-paru Adik sepertinya ada cairan yang masuk. Kita sinar X ya, Bu!”

Aku mengangguk. Dzulki memang batuknya lebih hebat dari biasanya. Bahkan kalau sudah panik, bisa batuk terus menerus.

Sinar X dilakukan sampai 2 kali dan hasilnya tidak ada cairan yang masuk. Dia boleh pulang. Tapi jam sudah menunjuk jam 00.00. Dzulki sudah terinfus dan dia sedang tidur sangat nyenyak.

Akhirnya Ayah diskusi dengan dokter, meminta agar dibiarkan sampai infus habis baru pulang. Dan dokter setuju.
Aku menimbang bersama Ayah.

Benarkah Dzulki akan aman jika pulang? Maka kuputuskan untuk diskusi lagi dengan dokter.

“Dok, biar dia disini sampai besok pagi! Biar dilihat dokter anak. Jika memang kondisinya baik, besok kami pulang.”

“Kami orangtuanya senang saja bisa pulang, tapi khawatirnya malah tidak baik buat anak saya, Dok,” tambahku.

Akhirnya dokter setuju. Jam 03.00 barulah keluar IGD dan masuk ruang rawat inap. Dzulki tidur dengan nyenyak. Ini cukup membahagiakanku meski aku fix tidak tidur.

Ternyata oh ternyata, hari itu adalah hari dimulainya Dzulki berjuang.

“DB, Typus masih harus dikontrol. Dan ini radang paru-paru.”

Aku menabahkan diri. Radang memberi kode bahwa akan butuh waktu untuk memasukkan antibiotik ke tubuh Dzulki. Setidaknya 3-5 hari.

Dzulki sempat tantrum. Dia takut perawat, menolak dijenguk, bahkan tidak mau disentuh siapapun termasuk aku. Dia minta pulang terus menerus, menangis, dan tidak tidur. Dua hari pertama berat sekali, aku hampir mengeluh tidak kuat sama Allah.

“Ibu, jangan bilang teman ibu ya kalau aku sakit,” begitu katanya.

Aku langsung sadar, dia tidak mau dijenguk. Ah, rasanya melted mendengar itu.

“Ayo, ditata hatinya. Niat mengobatkan anak!”

Suami terus menyemangati. Dia lebih lelah, harus mobile segala keperluanku dengan Dzulki. Pulang membawakan baju, masih kerja, dan mondar-mandir jika aku dan Dzulki perlu sesuatu.

Alhamdulillah, fasilitas di RSUD baik. Tidak seperti yang kutakutkan di awal. Hanya kondisinya memang sesuatu. Dzulki di kelas dua masih nyaman. Kamar mandi dalam, dan berbagi ruang dengan satu orang saja. Yang kelas 3 malah sampai di lorong rumah sakit. Bed berjajar mirip mainan kereta, dan tidak ada kamar mandi khusus.

Fix 7 hari Dzulki opname. Dia baru benar-benar memeluk takdir di hari ke lima. Sebelumnya, aku perlu energi ekstra untuk meyakinkannya. Malah 3 hari pertama harus ganti infus tiap malam. Dia tantrum dan merusak infusnya.

Masuk tanggal 12 Februari dan keluar tanggal 19 Februari. Mau pulang juga drama. Trombositnya meluncur ke 51.000. Siang hari administrasi sudah beres, sore cek lab terakhir dan itu hasilnya. Yaa Rabb….

Barang-barang separuh lebih sudah diangkut Mbahkung sejak siang. Dzulki sudah bahagia dengan mau pulang. Lha kok trombosit turun.

” Kami konsulkan dengan dokternya dulu ya, Bu. Kalau dokter tidak mengizinkan berarti disini dulu.”

Mendengar itu kalut diriku. Salat magrib kulalui dengan galau. Aku bingung harus meminta apa dalam doa. Ingin pulang, tapi jika ternyata Dzulki memang masih harus berobat mau bagaimana?

Lepas magrib akhirnya dapat kabar boleh pulang…. Dan tepat azan isya’ aku keluar rumah sakit. Menggendong Dzulki untuk pulang.

Dzulki sudah sangat bahagia. Dia sembuh. Alhamdulillah, makannya menjadi lahap. Dia gendutan. Heheheh…

Tapi de javu.

Hari ini, kamis lagi, dua pekan berjarak, dia demam. Muntah-muntah dan batuk. Mirip kejadian itu. Sama, pulang sekolah demam dan ayahnya tidak mengabariku.

MHS aku oles ke seluruh tubuhnya. Kompres tidak berjeda, minyak zaitun sudah dia lahap, kini dia tidur.

Panasnya mulai turun sejak jam 21.00. semoga segera sembuh, Nak! Ibu tahu perjuanganmu selama ini. Sejak kecil memang sudah asma. Dan kamu tidak pernah suka dengan es krim, bahkan pulang opname kamu tidak mau menyentuh coklat sama sekali. Motoran juga savety, berjaket, pakai masker, dan helm. Tapi untuk aktifmu, aktif ala anak laki-laki, aku tahu itu fitrahmu, jadi kalau capek kadang harus ngedrop.

Never mind, seiring bertambahnya usia, kau akan tumbuh lebih kuat insyaallah!

Love you, dear!

Tulisan ini buatmu, Sholih!
*Dzulkifli Halvi Amrulloh*