Drama Usia Sekolah Anak

Dzulki lahir tanggal 9 Oktober 2014. Tanggal lahir menjadi penting saat ini untuk keperluan sekolah. Ini isu lama sih, yang terbaru domisili menjadi penting untuk keperluan sekolah. Zonasi, euy!

Balik ke tanggal lahir Dzulki. Sebab lahirnya bulan oktober, bukan Juni, euuuu, agak repot mengatur sekolahnya. Dia masuk Kelompok Bermain di usia 3 tahun 8 bulan, kemudian tahun ini dia berusia 4 tahun 8 bulan. Setelah KB (Kelompok Bermain) harusnya TK kan? Tapi kalau dia TK tahun ini, nanti masuk SD usianya 6 tahun 8 bulan. Belum 7 tahun!!!

Ya, semua tahu pasti, kalau aturannya sekarang anak masuk SD usianya harus 7 tahun. Ada yang bilang 6,5 tahun boleh, ada yang bilang harus pas 7 tahun. Aku belum cari informasi valid dan terkini sih, tapi pengalaman anak dari kakak sepupuku, minimal harus 7 tahun. Anaknya itu sampai harus menempuh TK 3 tahun lantaran daftar SD tidak diterima dan tidak disarankan oleh guru SD maupun guru TK-nya.

Nah, mengaca pada anaknya sepupuku dan hasil konsultasi sana-sini, curhat kesana-kemari, maka daripada Dzulki TK 3 tahun, lebih baik Play Group 2 tahun. Yes, tahun ini tidak TK dulu, stay di Play Group.

Aku akan sharing beberapa jejak pendapat hasil konsul dan curhatku :

Pertama, pengalaman pribadiku. Aku memasuki jenjang pendidikan di usia yang dianjurkan alias normal. Selama sekolah semua berjalan sangat lancar. Hampir tidak ada kendala. Selalu juara 1, cerdas cermat tingkat kecamatan dan kabupaten ikut, beberapa kali juara, dipuji dan dibanggakan guru hingga tetangga, dibully anak-anak istimewa dan selalu semangat sangat jam istirahat tiba. Tapi apa yang terjadi? Aku sempat ada di titik bosan sekolah saat kelas 4 SD.

Bosan yang benar-benar bosan. Tiap hari jadi uring-uringan Emak karena bangun tidur begitu sulit, sarapan ogah-ogahan sampai muntah, ke sekolah malas-malasan, hingga tidak belajar. Hingga aku ingin tidak melanjutkan sekolah.

Sayangnya, aku hanya turun di peringkat 2. Dan tidak pernah kepenatanku itu aku sampaikan ke orangtua atau guru. Semua berjalan normal dan biasa-biasa saja seiring waktu beranjak membawaku lebih dewasa, lebih matang, yaitu saat aku sudah mulai berangan tentang cita-cita.

Di kelas 5 SD, barulah aku kembali semangat, sebab aku sudah mulai punya tujuan akan menjadi apa dan bagaimana.

Pengalamanku ini yang membuatku bertekad agar Dzulki tidak mengalaminya. Biar dia sekarang tetap di Playgroup dengan harapan saat dia sudah masuk SD, kematangan jiwanya sudah baik dan dia akan mengerti tujuannya sekolah apa.

Keputusanku ini dikuatka oleh beberapa sahabat.

“Kalau belum tujuh sudah SD, nanti pas kelas empat tampak efeknya,” begitu kata teman yang berprofesi sebagai guru SD.

“Biar SD nya tujuh tahun lebih, apalagi dia laki-laki, psikologisnya beda sama perempuan.”

“Beban anak sekolah sekarang berat. Biar saja dia masuk SD usia tujuh lebih daripada tujuh tahun kurang.”

Begitulah, dan masih banyak lagi suara-suara sejenia yang akhirnya menguatkan tekadku untuk Dzulki stay di playgroup tahun ini.

Kedua, untuk menguatkan fisiknya. Harapanku dan suami, biar Dzulki tetap playgroup dulu, menguatkan fisiknya. Semoga saat SD, kekebalan tubuhnya oke sehingga dia bisa optimal belajar di sekolah.

Setahun kemarin, hampir tiap bulan dia tidak masuk seminggu karena sakit. Bahkan yang opname kemarim dia harus 2 pekan lebih dalam sebulan tidak masuk.

Ketiga, Dzulki anak jaman now. Hehehe…..

Dulu, aku gak pernah nyeletuk bilang, “Aku gak mau sekolah.” Bukan karena takut, tapi memang gak pernah saja bilang begitu sekalipum sedang bosan, paling aku rasakan saja tanpa diungkapkan. Lha, anak jaman now kayaknya beda.

Dzulki, kalau tiba hari Rabu atau Kamis, pasti bertanya kapan dia libur. Kalau sedang asyik bermain di pagi hari, selalu bilang gak mau sekolah kalau diajak mandi. Kesadaran dan kemauannya untuk sekolah tidak setinggi anak jaman old. Bisa jadi karena dia belum paham kenapa harus sekolah. Belum punya cita-cita.

Baik, setidaknya tiga hal itu yang bisa aku bagi kali ini. Semoga bermanfaat, Emak Idear!

Sekarang semua sudah terjadi, tinggal orangtuanya tebal kuping saat banyak yang heran, “Lho, kok belum TK?”

Playgroup ada remidi.

Hahahahahahaha!!!!!![]