FLP dan 5 Alasan Aku Mencintainya

Mencintai tanpa alasan bukanlah cinta. Sebab cinta selalu menuntut kenapa dan mengapa. Uiiih, iyakah?

Cinta menjadi bagian hidupku salah satunya berwujud FLP (Forum Lingkar Pena). Aku mengejarnya sejak aku awal kuliah, tahun 2007 silam. Wow, 12 tahun yang lalu, Idear! Saat itu aku sedang punya hobi baru, membaca novel dan kumpulan cerpen Bunda Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipit Senja, Afifah Afra, Izzatul Jannah dan seterusnya. Tiap baca profil penulis, tercantum FLP. Kepoku menjadi semakin bertambah.

Hingga pada tahun 2008, melalui kepesertaanku di sebuah training motivasi di kampus, ternyata pematerinya adalah sekretaris FLP pada zamannya, Mister Gudir a.k.a Pak Ardy Subagyo. Langsung saja, dengan hati-hati aku catat alamat email beliau dan berujung aku kirim email yang intinya bagaimana biar bisa gabung FLP.

Awalnya, sangat merasa minder, tak pantas untuk berdekatan dengan FLP. Jujur, pamornya level angkasa di mataku. Tapi namanya sudah cintrong, level gak level maju terus!!!! Dijawab sama Pak Ardy dan di tahun yang sama ada seminar kepenulisan FLP di kampus, pembicaranya Bunda Afifah Afra. Yes!!!

Aku benar-benar PD untuk mengklaim bahwa diriku adalah peserta terantusias di acara itu. Aku yang sudah punya buku How to be A Smart Writer begitu semangat menenteng buku, masuk aula dan ikut seminar dengan bahagia yang teramat sangat. Cinta seolah menemukan jalannya untuk selangkah lebih dekat. Lebih bahagia lagi saat di akhir acara sempat mengobrol eksklusif denga Bunda Afifah Afra yang saat itu sedang menunggu mobil. Ahahahah! Aku sangat mengagumi gaya bercerita tentang Oreocrhomis Afra yang hidup dalam cerpen karya beliau. Dan saat itulah titik motivasi layaknya bom yang terus menggedor-gedor semangatku untuk menulis di tahun-tahun setelahnya, meski tak kunjung bergabung dengan FLP di Jombang.

Setelah seminar itu, FLP Jombang tak kunjung menerima pelabuhan cintaku. Info kegiatan tidak pernah sampai padaku, hingga di tahun 2012 (kalau gak salah) aku terhubung dengan Pak Adam Muhammad yang saat itu sebagai Ketua FLP Wilayah Jawa Timur. Dari beliau beberapa pertemuan FLP di rumah beliau aku ikut, dan akhirnya kembali vacuum hingga tahun 2015.

Tahun 2015 FLP Jombang mulai bangkit, dimotori oleh seorang Bunda mungil nan cantik bernama Umi Kulsum. Saya digandeng dengan sangat membahagiakan, langsung mak bedunduk jadi pengurus bersama penulis-penulis hebat di Jombang. Sejak itu, aku akhirnya aktif di FLP. Dapat NRA pula. hahahaha! Dan kini FLP telah memasuki usia 22 tahunnya.

Kalau ditanya sampai kapan akan aktif di FLP, maka akan kujawab bahwa tak akan pernah aku meninggalkannya. Kenapa? Sebab cinta padaku salah satunya telah berwujud FLP. Sebabnya akan kuurai dalam 5 hal.

Yang pertama, FLP mengajarkanku hakikat belajar sepanjang nyawa. Tidak ada kata berhenti dalam belajar. Setiap bertemu dengan teman-teman FLP, mengikuti agenda-agenda FLP, aku selalu tersadar bahwa belajar itu sepanjang nyawa. Menulis membutuhkan banyak ilmu dan menulis akan membuat kita haus ilmu. DI FLP tidak kujumpai manusia yang jumawa, justru sebaliknya, hati yang tulus belajar, terus rendah hati dalam belajar selalu kutemui di dalamnya. Ini adalah alasan pertamaku mencintai FLP.

Kedua, FLP membuatku memiliki banyak saudara. Meski pertemuan terjadi setahun sekali-dua kali, teman-teman di FLP dari berbagai belahan dunia adalah saudara. Saling mendoakan, saling bertegur-sapa di grup, saling membantu, ukhuwah yang indah kutemukan di FLP. Grup alumni Munas Bandung yang selalu hangat, Grup Se-Jatim yang selalu penuh keseruan dan hal-hal keren, hingga grup cabang Jombang yang penuh haru biru. Perjuangan yang tak pernah merasa sendirian, perjuangan yang dijalani bebarengan, saling support, saling memberi semangat, dan saling mendoakan. Tidak ada yang merasa unggul lebih dari atau kurang dari yang lain. Diskusi bernas, saling membantu. Ah, pokoknya ukhuwahnya the best FLP.

Ketiga, kekuatan istiqomah kudapatkan di FLP. Motivasi untuk rajin menulis, membuat utuh ide di angan-angan agar terwujud menjadi tulisan, dan bersegera menulis, muncul dengan berkobar saat melihat grup FLP. Belum lagi tantangan-tantangan yang menjadi program FLP. Ada Reading Challenge yang terus memotivasi agar selalu membaca dan membaca, Writing Challenge yang so pasti harus menulis tanpa henti, dan Nge-Blog.

Nah, khusus yang terakhir, nge-blog. Ini benar-benar terengah-engah aku. Semangat nge-blog muncul saat melihat list blogger-blogger ketce FLP mampang link-nya setiap hari Senin. Kalau sudah mengintip list, langsung malamnya buka blog, dan nulis. Eits, tapi percaya gak percaya, sampai sekarang aku gak pernah cantumkan blogku di list. Ahahahaha! Siaa benar-benar minder. Huhuhuhu….

Ajaibnya, minder itu berujung aku ikutan lomba blog ini. Wkwkwkwkw!!!!

Keempat yes, alasanku mencintai FLP adalah aku menjadi aktivis seutuhnya di FLP. Dari dulu aku senang aktif di organisasi. di FLP, aku menjadi aktivis yang utuh, sebab aku cinta kepenulisan, aku mendapatkan pengalaman organisasi, dan ilmu keislaman nempel kuat di FLP. FLP merangkum semua itu dalam 3 pilarnya: Keislaman, keorganisasian, dan kepenulisan.

Kelima, FLP menunjukkanku jalan juang yang abadi. Berkarya adalah perjuangan, terus berkarya berarti terus berjuang. FLP menunjukkan padaku bahwa karya sekecil apapun akan abadi. Tulisan-tulisan kita adalah aset abadi. karena abadi, maka karya-karya kita bukan sekedar karya. sekecil apapun, sesederhana apa itu karya, dia harus bermakna. Karya abadi harus penuh tanggungjawab, harus penuh manfaat.

Menulis tidak sekedar menulis, tapi juga harus bertanggungjawab. Efek apa yang akan timbul dari karya kita, itulah tanggungjawab kita. Menulis itu tidak sekedar menulis, tapi mengandung hikmah, ada manfaat, mencerahkan, menginspirasi. Kisah tidak sekedar bertutur tapi juga “tutur-tutur” alias menyimpan nasehat yang baik. Uh, dalem bingits yes, seperti cintaku pada FLP yang sedalam samudera. Huih!

Okey, sampai disini, jika Idear yang baca belum gabung FLP, yuk, gabung! Kalau mau kepo dulu, boleh tapi jangan lama-lama.Hehehe![]

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog dari BloggerFLP pada rangkaian Milad FLP 22 Tahun