Sepanjang doaku ketika jomblo, aku ingin menikah di Bulan Ramadhan. Tapi ternyata tidak terjadi. hehehe….. Rasanya selalu terlambat membagi kisah ini. Ramadhan hampir berakhir tapi tulisan tentang ini baru muncul sekarang. hehehe… Tapi moment-nya pas kayaknya ya, sebab undangan menikah beruntun datang, seolah mengingatkanku untuk menulis tentang ini. Katanya orang Jawa, waktu baik tanpa hitung-hitungan, mencari hari pernikaha ya di akhir-akhir ramadhan begini. Tapi bukan ini sih yang membuatku berharap menikah di Bulan Ramadhan. So, apa alasannya? Ternyata aku tidak memiliki alasan. Whahahaha….

Saking besarnya harapan menikah di Bulan Ramadhan, saat ada proposal menikah masuk di awal rajab, aku langsung 60% yakin dan siap Go! Seolah Allah swt. benar-benar menjawab doaku tentang waktu yang aku impikan untuk momentum keren sepanjang hidupku. Mulailah aku berhitung maju, Rajab-Sya’ban-Ramadhan, pas! Maksimal 3 bulan proses A-Z pernikahan memang sudah kupatok tidak lebih dari 3 bulan.

Sisa prosentase, 40% aku ikhtiarkan sebaik mungkin. Agak unik, jika sebelumnya, seorang ustadzah datang menemuiku kemudian membawa proposal nikah seorang laki-laki, kali ini lain. Seorang ustadz memintaku datang ke rumah beliau. Sampai disana, aku diminta untuk menunggu, cukup lama. Dan entah karena apa, aku menurut saja, tanpa tahu apa yang harus aku tunggu. Si laki-laki-kah? Kurir pembawa biodatanya-kah? atau tukang bakso? sebab saat itu jam 12.00 an.

Lama membunuh waktu, entah berapa kali aku membaca judul buku-buku yang berjajar di rak dinding ruang tamu. Sampai hampir 2 jam, Ustadz baru buka suara, ternyata yang harus aku tunggu adalah lembaran biodata laki-laki itu. Ada rasa penasaran, bukan penasaran dengan laki-laki itu, tapi penasaran dengan skenario Allah swt.

“Mengapa Allah swt. membuatku menunggu lembaran biodata itu?” Batinku terus, hingga datang seseorang yang kemudian melangkah ke jalan samping ruang tamu. Tak ada curiga apapun, sebab aku tidak mengenal lelaki itu, anggapanku dia tamu lain, sebab rumah ustadz ini adalah percetakan yang lumayan besar, sehingga lalu lalang orang terutama laki-laki cukup kerap.

Tak lama, amplop coklat besar tersodor padaku, dengan ragu aku menerimanya.

“Kenal dengan ikhwan  itu?” Kata ustadz sambil menunjuk seseorang yang keluar dari pintu samping. Lelaki yang sama dengan yang masuk beberapa menit tadi.

Aku menggeleng, sebab memang tidak kenal.

“Dia ikhwan-nya.”

Ow, badanku tersasa berat merespon dalam bentuk apapun. Mungkinkah Malin Kundang dikutuk jadi batu awalnya begini rasanya? hehehe….

Segera aku pamit saat itu. Amplop coklat mana? Tenang, dia aman di jok motor. hahaha….

Sampai besoknya, amplop coklat masih di jok motor lho, tidak berpindah. Hew?

Karena hariku saat itu sibuk, dan bahagia sekali. Kakak di asrama yang usianya sudah terlebel kuat stigma pera*an t*a akhirnya menikah. So, lupa sejenak duduk-duduk di ruang tamu mengeja judul deretan buku sampai hampir 3 jam hanya untuk si amplop coklat. Aaarrrgghhhh!

Pulang walimah, hujan. Aku sibuk mengamankan gaunku (Halah… gaun ape…! Pokonya gitu deh) dan di tengah jalan, memori amplop coklat muncul. Beloklah laju motorku, menuju rumah seorang ustadz yang kupercaya (bukan ustadz pemberi amplop coklat).

Ternyata oh ternyata! Beliau sudah tahu maksud kedatanganku. Eitz, bukan… bukan karena kesaktian ala-ala, tapi karena sebelumnya beliau sudah diajak diskusi oleh tim saat ingin memproses perjodohan ini.

Intinya beliau menaruh harapan untuk aku melanjutkan proses ini. So, bismillah….lanjut ta’aruf!

Ta’aruf berjalan hari sabtu, sebab dia libur sabtu dan ahad. di rumah ustadzahku, tapi tetap saja aku harus menunggu. Kerennya, kalau saat menunggu biodatanya aku dihibur meneliti judul buku, kali ini aku bermain-main dengan gadis kecil, putri ustadzahku ini.

Lumayan, hampir 1 jam, akhirnya mulai ta’arufnya. Wih, suara lantang, sebab saat kuliah dia Sang Orator Aksi. Jawaban-jawabannya diplomatis, tegas. Hatiku mantap deh intinya.

Harapan menikah di Bulan Ramadhan semakin kuat. Seminggu setelah ta’aruf, ada kabar lelaki itu akan datang ke rumah, melamar, khitbah.

Secepat itu? Harapan menikah di Bulan Ramadhan lagi-lagi menguat. Apalagi orangtua tidak protes, langsung meng-iya-kan. Padahal ketemu laki-laki itu saja belum, hanya dikasih lihat ustadzahku melalui hape BB nya yang baru-baru itu BB lagi trend.

Rombongan keluarganya datang beneran, tentu saja harapan menikah di Bulan Ramadhan semakin kuat. Pertemuan dua keluarga untuk pertama kalinya, pertemuan kedua antara aku dengannya tanpa memandang detail rupanya kayak apa. hahaha…

Selesai, hantaran khitbah, peningset sudah bertengger di atas lemariku.

Tapi, rencana Allah swt. begitu hebat. dalam dua pekan setelah khitbah, tanggal pernikahan terus bergeser, Ramadhan berganti Syawal, Syawal berganti Dzulhijjah, Dzulhijjah berganti tahun depan, dan tahun depan kapan berganti tidak ada jawaban.

Bukan dari si lelaki itu. Justru dia sama sekali tidak bersuara, tapi dia “menurut” pada ibunya.

Oh, Ibu, anakmu begitu taat!

Dan dengan berat aku memilih mengakhiri proses ini. Artinya, aku akhiri pula harapanku menikah di bulan Ramadhan. Alasannya? Aku tidak siap menunggu. Menunggu itu berat. Eaaa…. Sebab fitnahnya kuat. Wew, dalam yes, Dilan kalah!

Intinya nego dan pelonggaran sudah coba kulakukan, tapi ternyata aku tak sanggup lagi. Uuuhhh…. Macam drama! hihihi….

Kecewa?

Tidak!

Yang aku rasakan pertama kali saat aku mengakhiri proses ini adalah rasa cinta, antara aku dengan orangtuaku, yang begitu kuat mendampingi proses pernikahan anak perempuannya, yang begitu sabar mendampingi proses pernikahan anaknya se-syar’i mungkin.

Yang aku rasakan juga besarnya cinta Allah swt. kepadaku, yang mendewasakanku dengan kisah hidup semacam ini.

Dan doa yang pertama kali kupanjat saat proses ini berakhir adalah: Kuatkan orangtuaku, dan kuatkan lelaki itu beserta keluarganya.

Bagiku ini sederhana: Tidak berjodoh.

Jika tidak berjodoh, melepasnya begitu mudah. Jika berjodoh, berpautnya-pun begitu mudah. Bi idznillah!

Dengan pengalaman ini semakin kuat kepercayaanku, MENGAPA ISLAM MELARANG PACARAN?

Sebab proses yang syar’i itu memudahkan. Saya kenal lelaki itu saat ta’aruf, tanpa ada bentuk rasa apapun, sehingga ketika proses terhenti, tidak sampai pada pernikahan, mengakhirinya tanpa meninggalkan apapun, bahkan bisa berbuah mendoakan yang terbaik.

Ah, cukup! Semoga tidak ada yang menangis membaca ini. Just share yes! Semoga bermanfaat!

Kisah yang lain insyaallah aku share, semoga tidak lupa. hahaha…..