Idearest Moms!

My Sweety Boy, namanya Dzulki, Oktober nanti usianya 4 tahun. Bulan Juli kemarin dia sudah mulai masuk Kelompok Bermain. Wah,terdeteksi banget kan hebohnya Mom baru seperti akyu saat mendampingi anak sekolah perdana? Bukan ini sih yang akan aku bagi lewat coretan ini, tapi kapan-kapan pasti aku share deh pengalaman MOS perdana Dzulki yang seru-seru kecut gimana begitu. Hehehe…

So, coretan apa kali ini?

Moms, pernah mengalami dialog unik dengan si kecil kan? Macam ini nih.

Dzulki sangat antusias dengan uang akhir-akhir ini, setiap lihat aku atau ayahnya atau Mbahbuk atau Mbahkung bahkan Mbah Buyut bawa uang, dia pasti akan minta, “Aku mau duit.”

“Buat apa duit?” Tanya Mbahbuknya.

“Buat gempa bumi.”

Nah, ketebak kan, Moms? Sekali di sekolahnya ada pembelajaran berbagi. Momennya sih sedekah untuk membantu korban gempa di Lombok NTB. Saking mendadaknya, pengumuman sedekahnya hanya H-beberapa jam saja, melalui WAG Walisantri. Jadi ya, bisanya berbagi berupa uang. Simpel juga kan? Pasti ribet kalau bawa barang bantuan dari Jombang ke NTB. Fix, uang saja.

“Ki, ini nanti buat ‘gempa Lombok’ ya!” Emaknya memberi instruksi sambil meletakkan amplop disaku celana olahraganya. (Eit, amplopnya gak kosong kok. Wkwkwkk)

“Buat lombok?”

Yups. Nanti bilang ke Ustadzah ya: Buat Lombok, Ustadzah. Gitu ya!” Emaknya kembali menerangkan.

“Jangan, Bu….!” Wadaw, what happen? Eikeh berpikir keras. Egosentrisnya kok muncul di saat begini yes?

“Iya, buat Lombok, Nak. Teman-teman Dzulki juga akan sedekah nanti buat Lombok,” Emak-emak pantang menyerah pokoknya!!!!

“Jangan!!!! Bahaya!!!!!”

“Kok bahaya???!!!” Emaknya gagal paham. Kan kita gak ke Lombok, apanya yang bahaya?

“Kalau makan lombok bahaya. Perutnya sakit.”

What????!!!!!!!

$$$$$$$$$$$******%%%%%

Saat sesi bercerita, sampailah di kisah Si Tamak, Qorun.

“Ini hartanya Qorun?” Dengan semangat Dzulki menunjuk gambar harta Qorun yang tertimbun tanah.

Emaknya mengangguk tak mau kalah semangat, “Iya, ini harta Qorun. Karena tidak mau berbagi dengan sesama, jadi Allah swt. mengubur dia dan hartanya.”

“Hartanya kena gempa?”

Hihihihi…… Dia menyamakan timbunan tanah di harta Qorun dengan gempa. Emmm…. pemandangannya mirip sih, berbagai harta dan tanah melebur jadi satu. jadi aku mengangguk saja.

“Zuki (Dzulki) besok gak mau sekolah!”

Lha, apa hubungannya cerita Qorun dengan mogok sekolah ya????

Baiklah, Emak akan menginvestigasi. “Kenapa Dzulki tidak mau sekolah?”

“Zuki mau berbagi jajan sama Mas Al dan teman-teman lainnya,” Katanya.

Aku sih berpikir ini statement hasil kerjanya tadi pagi. Aku bawakan dia beberapa kue dan dia makan bersama teman-temannya.

“Zuki takut kena gempa.” Pipinya sudah menggelembung menahan sedih.

@#$%^&&**

“Zuki mau berbagi biar tidak kena gempa bumi.”

Hahhhh????!!!!!

@#$%^^&$$$$

Terbaru semalam, Moms.

Dzulki menunjukkan cover belakang majalah Bobo. Sebagai emak yang peka, aku mengulang penjelasan. Yes, kalau suka, satu cerita bisa cerita berpuluh-puluh kali.

“Meteor,” Kataku menunjuk meteor. Memang page itu tentang Mengenal Benda langit: Meteor dan Meteorid.

“Meteorid kalau jatuh ke bumi disebut meteor,” Emaknya bergaya ahli benda angkasa gitu.

Parahnya, ada gambar dua meteor yang dikartunkan punya wajah  yang seolah sedang bercakap.

“Ini ngomong apa, Bu?”

Huahahahaha…. Emaknya memutar otak.

“Mungkin mereka mau mengaji bersama.”

Yes, Emaknya berhasil menggiringnya untuk mau mengaji. Sebab sudah waktunya dia setoran (hafalan qur’an) hari ini.

“Zuki mau susu.”

Okey, Baby! Setiap setoran selalu diawali minum susu. Mungkin biar dia rilex. wkwkwkwk!

“Baiklah, antar ibu buat susu ya!”

Dia gembira pastinya. Langsung berdiri dan menggandengku. Tapi tiba-tiba kakinya kurang seimbang jadi hampir jatuh gitu, Moms.

“Hati-hati, Sholih!”

Dia tersenyum, “Jatuh kayak meteor ya?”

Wkwkwkwkwk…… dirinya disamakan dengan meteor. Dzulkid kalau jatuh disebut Dzulki. Lah?

Idearest Moms!

Setiap orangtua selalu ingin anaknya tumbuh dengan cerdas dan membanggakan. Bahkan untuk mencapai itu, Moms harus berusaha dengan sangat hati-hati dan selektif memilih pendidikan anak-anak kan? Dari kecil sudah berbagai les kita fasilitasi untuk mereka, mainan edukatif kita belikan, metode-metode jitu arahan ilmu-ilmu parenting kita terapkan, dan masih banyak lagi hal untuk mengasah kecerdasan mereka. Eh, berasa closing statement untuk artikel parenting. Hehehe…..!

Moms, pasti lebih tahu lah kalau ilmu parenting. Cerita ini hanya sharing ya, Moms. Intinya sih, sebagai Moms, ayo bersiap mendampingi si kecil belajar!

Sampai disini dulu yes. Komentar ya, Moms. Share pengalaman dan tukar ide sangat berharga bagi eikeh, si emak anyaran ini. Thank’s!