Kecanduan Transportasi Online

Dulu, bepergian ke luar kota memakai transportasi umum pasti ribet. Perlu mencatat , bahkan bertanya kendaraan apa, adanya jam berapa, turun mana, oper apa, dan berapa ongkosnya. Sekarang, semua itu terjawab oleh transpostasi online. Ke luar kota dengan transportasi online tak perlu lagi bingung harus naik apa, jam beroperasinya jam berapa, bahkan tanpa perlu oper langsung sampai tujuan. Tentang harga, secara umum sangat terjangkau. Yang bilang mahal pasti ujungnya memaklumi sebab fasilitas yang dihadirkan sepadan.


Meski jarang sekali naik transportasi online, aku menilai kini ia menjadi alternatif pilihan mayoritas orang untuk pergi tanpa ribet. Segala masalah tentang perjalanan, jawabannya transportasi online. Tidak ada lagi alasan tidak bisa pergi karena tidak ada kendaraan atau tidak ada yang mengantar, pakai transportasi online semua beres.

da temanku yang LDM. sehari-hari dia mengurus dua anak balitanya dan jauh dengan suami. Awal aku berpikir akan sulit untuk bertemu dengannya di suatu tempat yang dia harus keluar rumah. Supernya, janjian dengannya untuk pertemuan kajian, atau menghadiri acara tertentu sangat mudah baginya. Always, transportasi online andalannya. Simpel dan aman membawa anak-anak dibanding harus motoran sendiri.

Aku sendiri termasuk yang jarang memakai transportasi online. Pertama naik itu saat di Bandung, Munas FLP. Waktu itu bareng sama rombongan FLP Sidoarjo. Selepas belanja di pasar (entah apa nama pasarnya) kami memutuskan untuk naik transportasi online menuju penginapan. Aku yang belum pernah sama sekali bahkan aplikasinya tidak kupunya saat itu memilih untuk manut. Kami berlima waktu itu, dan bersepakat u.menanggung bersama biayanya.


Aku takjub waktu itu, tidak ada lima menit dari klik pemesanan, mobil sudah datang. Begitu masuk mobil, kenyamanan pasti, dan sopirnya WOW!!!!


Bandung kuterka sebagai alasan utama keramahan sopirnya. Orang Bandung bicaranya super sopan, di pasar saja, penjual yang tampangnya garang, begitu menawarkan barang jualannya super ramah. Satu saat aku akan cerita tentang Bandung yang sempat kucicipi selama tiga hari.


Kembali ke tranposrtasi online di Bandung. Sopirnya super ramah. Perbincangan standar, saling bertanya asal, tujuan kami di Bandung ikut acara apa, dan sedikit-sedikit dia cerita tentang jalanan Bandung yang ada saat-saat dan titik tertentu kemacetan, dan sebagainya. Tentu saja, dengan gaya komunikasinya yang sangat ramah


Ditambah lagi wajah Sundanya khas, aku langsung ingat Raffi Ahmad dan Ariel Noah. Iya, beneran, Kang sopirnya tampan dan sopan. Hehehe.


Lebih takjub lagi saat ketua rombongan menyerahkan uang warna hijau yang hanya selembar itu ke Kang Sopir.


Apalagi yang kurang dengan tranportasi online macam ini, murah untuk ukuran bepergian yang tanpa kerempongan haqiuqiu. Nyaman pula, belum lagi kalau ketemu Kang Sopir ramah, baik parasnya, lembut nyetirnya. Uh, komplit! Bisa menikmati indahnya kota Bandung.


Setelah Bandung, aku kembali memilih transportasi online di perjalananku saat di Surabaya. Dua kali aku memakai transportasi online di Surabaya seturun daei stasiun. Yang pertama saat turun di stasiun Gubeng menuju hotel yang aku lupa namanya. Satu lainnya dari stasiun Wonokromo ke Hotel Cleo untuk ikut acara Google. Kedua kesempatan pakai transportaso online ini menyisakan kesan yang sama dengan saat di Bandung. Kenyamanan berkendara, privasi, dan terjangkau. Tentang keramahan sopir, basicly sama sekalipun khas berbeda. Tidak lagi kebayang Raffi Ahmad atau Ariel Noah lagi, tapi sama-sama ramah.


Namun, zona merah transportasi online membuat mood berantakan diawal. Keluar daei stasiun tidak serta merta bisa masuk mobil dan melesat ke tujuan. Harus berjalan sekian meter untuk bisa naik. Saat balik ke stasiun juga begitu, mobil tidak bisa mengantar dekat pintu masuk statiun. Mereka harus memarkir di jarak beberapa meter untuk menurunkan penumpang.


Itu saja sih pengalamanku naik transportasi online. Pengalaman yang gak berpengalaman kali ya, sebab hanya tiga kali saja itupun transportasi online berupa mobil. Untuk motor aku gak bisa review sih, cuma sekali aku dapati suami pulang dengan ojek motor online sebab gak bawa motor dan aku langsung ketagihan dibuatnya. Pasalnya, kini tidak ada lagi ketidakmampuan kita yang beralasan tentang terbatasnya mobilitas dan kendaraan. Transportasi online bisa jadi alternatif.


Bahkan akhir-akhir ini tim ciwi-ciwi di kantor juga mengandalkan transportasi online untuk order makanan terutama saat makan siang. Relatif mahal sih kalau makanan, menurutku. Tapi daripada beli sendiri, harus bayar parkir, mengantri, tersengat cahaya matahari, dan bahan bakar. Oh, ada lagi keuntungannya, order kita sesuai pesanan, gak harus ada lagi tambahan-tambahan, efeknya lagi-lagi lebih terjangkau dan hemat.

Saking candunya, sekarang untuk CODan untuk mengirim barang, dokumen, dan lain sebagainya pakai transportasi online. Sebab demgan begitu, setidaknya kemampuan kerja tidak terkerdilkan dengan kegiatan mengatar surat. Lebih efektif dan efesien, sehingga meningkatkan kinerja[]