Tulisan ini jadi pada tanggal 30 Maret, pekan pertama perpanjangan masa darurat bencana wabah covid-19. Ada banyak hal yang telah kita lalui dalam dua pekan terakhir ini. Semoga membawa keberkahan dan hikmah istimewa bagi hidup kita.

Sedikit curhat, sebelum pembahasan ini saya sampaikan. Saya sendiri, sempat jatuh dalam masa darurat dua pekan kemarin. Pekan pertama saya terserang psikosomatik hampir tiap malam dan hendak keluar rumah. Ada rasa ketakutan yang luar biasa, membayangkan orang-orang terdekat saya mengalami hal-hal buruk.

Pekan kedua, saya mulai berdamai. Menenangkan diri, menata amanah-amanah yang sempat tak maksimal di pekan sebelumnya.
Nah, di pekan ketiga, saya berharap tidak ada lagi psikosomatik dan apapun yang menghambat saya untuk menjalani masa-masa sulit ini. Saya targetkan, mulai pekan ini untuk bangkit.

Saya menceritakan ini dengan harapan, andaikata ada yang mengalami hal serupa, semoga segera bangkit dan berjuang. Setiap orang memiliki masa terjatuh. Kemudian dia menikmati segala lukanya. Namun, jeda jatuh itu jangan lama-lama. Percepat dan teruskan perjuangan. Apapun bentuk kesedihan itu.

Saya akan membagikan kisah Nabi saw yang termaktub dalam tafsir QS. Asy-Syarh. Surah yang sangat kita hafal. Bahkan di surah itu ada bunyi kalimat yang diulang dalam 2 ayat.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh:5-6)

Surah ini mengisahkan kondisi Muhammad saw yang merasa gelisah dan cemas atas reaksi kaumnya terhadap dakwah yang diserukan. Kemudian, Allah swt menghibur dengan melapangkan hati beliau dengan janji pertolongan dalam perjalanan dakwah yang dinisbahkanNya.

Dalam setiap kesempitan, terdapat kelapangan. Dalam setiap kekurangan sarana untuk mencapai suatu keinginan, terdapat pula jalan keluar. Kunci untuk mencapai itu adalah berpegang pada kesabaran dan tawakal kepada Allah swt.

Dalam tafsirnya disebutkan, ayat ini seakan-akan menyatakan bahwa bila keadaan telah terlalu gawat, maka dengan sendirinya kita akan keluar dengan selamat dari kesusahan tersebut, dengan melalui segala jalan yang ditempuh, sambil tawakal kepada Allah swt.

Jadi, jangan mengeluh, kapan datangnya kemudahan, kapan selesainya kesempitan ini, dan seterusnya. Fokuslah pada satu hal: syukur.

Dalam surah ini, cara bersyukur seorang mukmin adalah dengan tekun beramal salih dan tawakal. Tekun beramal salih sambil tawakal diwujudkan dengan terus beramal. Setelah selesai satu urusan, segera beralih pada urusan selanjutnya. Mengapa begitu?

Karena terus beramal salih akan membuat jiwa menemui ketenangan dan kelapangan hati.

Mari ambil hikmah dari surah ini. Dalam masa-masa sulit ini. Covid-19 bukan sekadar bencana wabah, tapi juga bencana sosial, bahkan bencana mental. Imun jasadiyah, imun ruhiyah, dan imun fikriyah harus seimbang.

Sudah banyak informasi mengenai menjaga kesehatan dan kebersihan sebagai wujud penguatan imun jasadiyah. Begitu pula dengan imun fikriyah. Berbagai informasi banyak diposting di berbagai media sosial. Bahkan, para psikolog sudah bersama-sama melayani konsultasi agar secara mental masyarakat kuat.

Nah, sudah saatnya kita mengambil peran untuk menguatkan ruhiyah. Mari mulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang sekitar kita yang dapat kita jangkau. Kuatkan ruhiyah dengan rasa syukur. Tekun beramal salih, istilah kekiniannya adalah produktif. Ayo, produktif dimana saja!

Sekalipun mobilitas terbatas, kita harus tetap produktif. Targetkan hal baik dengan sebaik mungkin.

Kelak, saat bencana wabah ini berakhir, kita akan kembali normal. Jangan sampai kita bingung akan melakukan apa setelah begitu lama membatasi mobilitas, di rumah saja.

Anggaplah saat ini adalah masa untuk mengumpulkan kekuatan, sehingga kita akan keluar dari masa sulit ini dengan mempersembahkan karya terbaik kita.

Apa saja yang bisa kita lakukan, masing-masing kita pasti bisa merumuskan. Intinya, mulai targetkan diri untuk menekuni amal salih. Jangan lupa, disambi dengan tawakal. Sebab Allah swt adalah satu-satunya Penguasa Alam Semesta.

Wallahu’alam bish shawwab.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

With love💙🤗