Ada yang berbeda di kelas menulis hari Selasa kemarin. Jika biasanya anak-anak menunggu kehadiranku dengan duduk-duduk di kursi sambil bercengkerama dengan temannya, maka kali ini semua kursi telah menyingkir, menyibak posisi tengah ruang hingga lapang. Tentu saja anak-anak sudah bersemburat duduk bersila. Kebanyakan mereka asyik dengan buku bacaannya, yang lain meraut pensil, sisanya saling bicara.

Sapa dan salam saya disambut dengan ceria. Lebih ceria lagi saat saya meminta mereka merapatkan lingkaran dan memulai kelas menulis.

“Kita akan menulis apa hari ini?” Tanya salah seorang dari mereka.

Nah, mulailah kelas menulis kami. Kali ini kami akan menulis dengan metode free writing yang idenya dari nama kita masing-masing. Aku mengarahkan mereka untuk menulis nama masing-masing, kemudian meminta mereka menuliskan tiga kata yang mereka pikirkan saat membaca namanya. Dari tiga kata itu, jadilah sebuah kumpulan kalimat.

Sampai pada proses menuliskaj nama dan memunculkan tiga kata dari namanya, lingkaran masih rapat, tapi pada proses selanjutnya, mengembangkan tiga kata menjadi cerita, aku instruksi untuk bebas gaya.

Hampir tidak ada perubahan posisi yang signifikan, kecuali seorang anak, namanya Zahra. Dia memilih untuk lebih merapatkan diri ke bangku, otomatis dia keluar lingkaran. Setelah aku dekati, ternyata ia baru menuliskan 1 kata dari namanya.

“Mbak Zahra, kata pertama yang muncul apa?” Aku bertanya.

Yang ditanya hanya tersenyum, perlahan akhirnya menunjukkan lembarannya. Aku membaca dengan upaya agak keras, sebab tulisan itu dengan pensil dan kacamataku tak ada (mur-nya lepas sebelah belum direparasi. hihihi…)

ZAHRA IZZATUL HAQ

Bunda

Tertegun. Tapi aku berusaha menyabarkan diri untuk menunggu ide besar itu sempurna. Dan inilah hasilnya.

ZAHRA IZZATUL HAQ

Bunda
Ayah
Sayang

Nama saya Zahra Izzatul Haq. Saya lahir tahun 2007. Nama Zahra Izzatul Haq diberikan oleh Ayah dan Bundaku tersayang. Bunda dan Ayah memberi nama itu dengan harapan aku menjadi anak perempuan yang senantiasa membela kebenaran. Aku menyayangi mereka. Rasa sayangku pada mereka sebesar rasa sayang mereka kepadaku.

Cinta.
Itulah kata pertama yang muncul padaku usai membacanya. Ada cinta yang benar-benar terurai dengan tegas, terejawantahkan dengan lugas.

Keluarga.
Setelah ‘Cinta’, berikutnya adalah ‘Keluarga’. Jika ada tempat yang paling penuh dengan cinta, maka jawabannya adalah keluarga.

Zahra menginspirasiku tentang keluarga yang penuh cinta.

Orangtua mana yang tidak bangga saat anaknya menyadari besar cintanya dan membalasnya dengan bakti dan cinta yang luar biasa?

Membesarkan anak dengan cinta adalah niscaya, memahamkan anak dengan cinta tanggungjawab orangtua. Pada hal mendasar, tentang arti sebuah nama pada anak, orangtua yang memahamkan dengan penuh cinta akan membuat si anak menggenggam namanya dengan bangga.

Usai kelas menulis, aku melewati halaman sekolah untuk mneuju parkiran motor. Lapangan yang tidak pernah sepi. Di satu sisi ada latihan baris berbaris, di sisi yang tersisa bola sedang direbutkan banyak kaki. Aku berusaha menerobos sambil berharap bola tidak menimpuk kepalaku. Duh, malunya jika itu terjadi. Hehehehe…..

Saat asyik melintas itulah langkahku terhenti, sebab ada yang menyapa.

“Assalamu’alaikum, Ustadzah!”

Aku tertegun, di hadapanku sudah berdiri seorang siswa, dengan tangannya dilipat di dada memberi salam. Tak lupa senyumnya dipasang dengan manis meski napasnya berburu naik-turun efek bermain bola.

Benar-benar aku tidak sempat membalas alamnya dengan suara keras, hanya dalam hati. Malah yang terucap adalah, “Mas Ayyas?!!!”

Kalau ada yang mendokumentasi, mungkin mirip di sinetron, ada wajah terkejut plus bahagia seperti baru melihat wajah yang lama tidak terlihat.

Siswa yang di hadapanku mengangguk dan senyumnya melebar.

“Kelas berapa sekarang?” Tanyaku dengan girang. Hihihihi…..!

“Kelas enam, Ustadzah,” Jawabnya dengan bangga.

Wow! Aku berbinar, takjub, “Habis ini SMP donk? Salam ke Umi ya?” Kataku, sebelum kemudian mengucap salam, pamit. Sebenarnya pamit cepat-cepatku karena bola sudah melayang-layan diantara kami. Aku khawatir ketimpuk. Eh?

Menuju motor aku masih geleng-geleng.

“Ayyas sudah sebesar itu? Kalau saja dia kelas tiga, bukan kelas enam, maka pipinya sudah aku cubit,” Gumamku dalam hati sambil tertawa sendiri, geli. Wkwkwkwkw….

Ayyas.

Putra sholih salah seorang guru saya. Dulu masih sangat kecil saat  sering ikut kajian umminya dan sering bermain denganku. Yang palin aku ingat, dia suka menyanyi. entah sekarang. Hahahaha…..

Tapi, sapaannya tadi benar-benar mengingatkanku, betapa ia tumbuh dengan cinta. Keluarganya membesarkannya dengan cinta yang tegas, tidak samar-samar.

Ayah, Bunda! Anak-anak itu polos, dia lebih mudah mengimitasi apa yang ia lihat, apa yang ia rasa, dan apa yang ia dapatkan. Sebagai orangtua, agar anak kita tumbuh menjadi manusia yang penyayang, maka ia harus melihat wujud sayang, ia harus merasa disayangi, dan ia harus mendapatkan kasih sayang.

Jangan lagi ada sayang yang dibungkus dengan hadiah-hadiah mahal tanpa perjumpaan! Jangan lagi menampakkan cinta dengan uang. Jangan samarkan![]

(Endingnya, aku baru sadar. Ternyata Zahra adalah putrinya Bunda Umi Kulsum. Hihihi…..!)