Kuliner adalah hasil olahan yang berupa masakan. Masakan tersebut berupa lauk pauk, makanan (penganan), dan minuman. Itu adalah definisi kuliner yang ku dapat di internet. Hehehe….

Aku kurang cakap membahas kuliner, sebab aku terlahir di kota santri yang wisata kulinernya tidak setenar tempat-tempat lain. Bahkan kerabat atau kenalan dari luar kota sering bingung saat berkunjung ke Jombang. Di Jombang, kuliner semua daerah banyak ditemui. Soto Lamongan, Pecel madiun, Sate Madura, lalapan, ikan bakar, keripik tempe, lontong sayur, lontong kupang, onde-onde mojokerto, kerupuk udang sidoarjo, dan sebagainya ini sudah umum semua ya? So, aku tidak terinspirasi membahas kuliner Jombang.

Aku akan bercerita saja tentang kuliner di dua keluarga. Keluarga siapa? Keluargaku dan keluarga suamiku. Aku asli Jombang dan suami asli Jombang. Terus? Lanjut baca saja deh. Hahahaha!

Aku menikah pada Oktober 2013, usia 24 tahun 6 bulan. Selama usiaku itu, di rumah, koki satu-satunya dan terbaik adalah perempuan yang aku panggil Emak. Masa kecil kulalui di perumahan Telkom Samarinda, yang disana tetangga dari berbagai suku, Banjar, Dayak, Sunda, Jawa, dan lain-lain mengantarku memilih panggilan untuk ibu adalah Mamak. Tapi sepulang ke Jombang, usia TK, ternyata di Jombang tidak ada Mamak, adanya Emak, jadilah aku ubah panggilan untuk ibuku dari Mamak menjadi Emak. Tapi kita tidak akan membahas Emak atau Mamak, yang jelas beliau koki handal legendaries sepanjang zamanku.

Kembali ke kuliner keluargaku. Kami tidak hobi makan di warung, ekonomi pas-pasan. Hihihi…. Bahkan, sekolah selalu bawa bekal, sampai SMA. Hanya kuliash yang tidak bawa bekal. Sekarang, kerja juga bawa bekal sejak makan siang diwujudkan uang (Siapa yang mau makan siang dengan uang. Hahahah….!)

Tiap akhir pekan atau saat bapak gajian, barulah makan masakan warung, meski tidak di warung. Dapat gaji, pulangnya Bapak pasti bawa bakso atau sate yang jumlah porsinya setengah dari jumlah penghuni rumah. Di makan bersama-sama, aku sama Emak dan adikku sama Bapak. Sehari-hari juga tidak ada acara menghabiskan uang jajajn, sebab uang jajan hanya untuk sekolah saja. Tapi Emak rajin membuat makanan. Ote-ote (You know ote-ote?), dadar jagung, nagasari, lepet, lapis, bubur beras merah, kacang hijau, pisang goreng, selalu ada untuk camilan. Kalau adikku teriak memanggil tukang bakso, Emak selalu bilang, “Melu o wong e dodolan bakso kono!” Hahahaha… dan itu ampuh untuk aku dan adik tidak mengulangi lagi. Daripada berteriak memanggil tukang bakso, mending mengunyah ote-ote yang terlalu kaya sayur bagiku saat itu.

Emak yang pandai membuat berbagai makanan selalu kreatif, soto tahu, rawon tahu, bali kentang, perkedel non daging, dadar jagung wortel, sayur bayam, sayur sop, acar, kare tahu tempe, tumis pepaya, hemmm… semua itu selalu nikmat bagiku. Tapi ada beberapa masakan yang ternyata Emakku tidak canggih membuatnya dan baru aku tahu saat aku memiliki keluarga baru.

Di rumah mertua, hari pertama harus geleng-geleng. Meja makan menghidangkan semangkuk sayur namanya lompong. Sayuran yang lebih mirip batang daun pisang. Dan itulah saat pertama aku memakannya. Agak aneh, tapi di depan mertua masak iya aku memuntahkannya. Duh, menderita sedikit deh!

Beberapa hari kemudian, ada lagi masakan yang aneh di meja makan rumah mertua. “botokan” yang kukenal adalah “botokan” daun singkong, tapi ini daun yang cukup keras.

“Ini sayur apa, Bu?” Tanyaku, beneran pakai bahasa Indonesia, sebab mertuaku ala-ala begiu. Hahahaha….! Alasanku saja sih, sebab bahasa jawa karma-krama-anku belum mahir (sampai sekarang).

“Lere.”

Apa itu Lere? Ternyata daunnya laos. Bukan Negara Laos ya, ini laos bumbu dapur itu. Kata ibu mertua sih baik untuk kesehatan, dan seterusnya.

Saat pulang aku cerita ke Emak, dua masakan itu, lompong dan lere, kenapa tidak pernah mengenalkan masakan itu pada lidahku selama 24 tahun 6 bulan? Jawabannya Emak, “Beda generasi.”

Hehehe…. Lompong dan lere kata Emak, itu adalah makanan perjuangan, zaman berjuang dulu masakan itu ada, tapi sekarang sudah modern jadi masak yang lain saja. Padahal itu hanya alibi Emak. Sebenarnya Emak tidak bisa memasak lompong dan lere, selalu gatot alias gagal total.

Mertuaku memang sudah hampir 60 tahun, dan Emak baru kisaran 45 tahun. Selera beda, masakan beda. Anaknya tidak dikenalkan masakan zaman berjuang, padalah berjuang kan selalu dibutuhkan dalam hidup ini. Ih, apa sih?

Masih sama-sama Jombang. Emak tinggal di Jombang akhir selatan dan Ibu tinggal di Jombang akhir  utara. Aku menemukan kuliner baru diantaranya.

Dua keluarga yang masih satu daerah saja berbeda dalam hal meja makan, maka sebuah keniscayaan saat dua keluarga bertemu, mengikat laki-laki dan perempuan untuk bersatu dalam pernikahan akan ada perbedaan. Namun, perbedaan itu akan indah jika termakanakan sebagai kekayaan, hal yang baru, dan istimewa.

Apakah suamiku juga demikian, menemukan kuliner asing di keluargaku yang seumurnya (32 tahun waktu itu) belum dinikmati? Satu yang agak mengejutkan, saat aku memasak tumis buncis. Aku potong serong dan tipis buncis yang hijau-hijau manis itu hingga mirip serutan buncis, kemudian aku tumis dengan bumbu uleg bawang merah, tumbar, merica dan cabai. Kasih laos tipis, dan tidak lupa kecap manis. Apa komentar suami?

“Masakan aneh yang pertama masuk ke lambungku.”

Ternyata Ibu mertua belum pernah masak tumis buncis. Wew!

“Tapi enak,” Komentarnya. Hoorrrreeeee!

Sejak saat itu, tumis buncis jadi menu andalanku merayu suami. Hehehe…..!

Sudah, ah! Nanti yang jomblo baper. Xixixixixi…!

(Yang di poto adalah rawon tahu ala Emak, menu kesukaan adikku)