Market Day

Anak kecil itu tercipta menyenangkan dan menarik perhatian. Apa saja yang mereka lakukan selalu jadi cerita yang unik. Iya gak sih? Seperti tingkah nak kanak di sekolahnya Dzulki. Setiap video aktivitas di sekolah diunggah ke grup wali santri, maka berbagai emot tertawa, emot bahagia, pujian-pujian akan muncul betebaran. Tiap wali santri akan mencari anaknya masing-masing. Kalau tidak ketemu? Maka ustadzahnya yang diserbu pertanyaan: Anak saya dimana, Ustadzah? Mas A gak mau ikut kegiatan apa, Ustadzah? Mbak C kok diam saja gak mau bunyi hafalannya? Dan banyak lagi pertanyaan serupa. Lucccuuuu!!!!!

Hari Jumat kemarin kelucuan-kelucuan juga menghiasi acara market day. Bahkan kelucuan mungkin terjadi sejak acara market day diumumkan seminggu sebelum acara. Dzulki sendiri tampak stay cool, meski sejak diumumkan Emaknya ini selalu membahas. Jadi, emaknya yes yang lucu?

“Ki, hari Jumat market day ya?” Tanyaku. Ssssstttt…. Ini adalah pertanyaan pancingan!

Dzulki dengan mantap mengangguk, “Iya, Ibu yang tumbas.”

Aku mengangguk cepat.

“Nanti aku kayak Mail, bilang: Beli beli! Beli beli!” Katanya.

“Iya, nanti Ibu dan Ayah yang tumbas.”

Tiba-tiba wajah cerahnya berubah masam. “Enggak, Bu!!!! Ibu yang tumbas, Dzulki yang jualan, ayah juga jualan,” Sanggahnya.

“Lho, ayah sama kayak ibu, bagian tumbas, Nak,” Mak Ngeyel beraksi.

“Ibu salah. Ayah kan muslim sama kayak Dzulki. Ibu itu muslimah, gak sama dengan ayah.”

Ahahahahahaaa! Aku berpikir konyol, mana ada hubungan market day dengan gender.?Baiklah, sampaiaku tidak lagi membahas tentang peran ayah di market day.

Kehebohan selanjutnya adalah berpikir produk yang akan dijual. Kelas Dzulki kebagian menjual aneka kue basah. Aduh, ke dapur saja inginnya patas, lha kok malah rencana buat kue-kuean segala. Sepuluh menit pengumuman disebar oleh Ustadzah, grup masih sepi.

Aku chat sama wali santri yang memiliki kedekatan emosional denganku. Saling bertukar kekonyolan ide tentang produk yang akan dijual. Alternatif yang muncul adalah kue lapis, pisang coklat, atau nagasari. Pilihan lagi, mau buat sendiri alias home made atau berangkat lebih pagi dan mampir pasar. Dialog berakhir dengan meruncing ke alternatif kedua, sebab kalau yang diambil nomor satu, entah nanti beneran jadi sesuai namanya atau malah hancur rupa dan rasa. Wkwkwkwk!

“Tidak ada keterangan harus home made kan?” Begitulah kesimpulan kami, Emak-Emak berangan-angan praktis.

Baru mengakhiri chat ala emak-emak, ternyata di grup ada satu wali santri yang muncul dengan polos bertanya, “Ini harus buat sendiri atau bagaimana, Ustadzah?”

Mampuslah buat kue!!!!!

Of course, Ustadzah menekankan agar ananda dilibatkan. Baiklah, alternatif tidak berubah, berangkat lebih awal, mampir pasar, beli kue basah, dan tidak lupa melibatkan ananda, “Nak, ini namanya pengadaan produk. Produk itu tidak harus buat sendiri, bisa sinergi alias kulakan.” Hihihihi!

Fix, list mulai merayap, para wali santri setor rencana produk yang akan dijual. Dengan santai nama Dzulki kuiisi nama produk jualan: mendut. Idear tahu mendut kan?

Sampai H-3, grup sepi dari persiapan market day, barulah H-2 muncul pertanyaan yang memporak-porandakan rencanaku.

“Bunda, kue moci-moci itu sama dengan mendut,” ujar salah seorang wali santri.

Ow ow ow! Aku harus memutar otak untuk mengganti menu mendut. Ternyata beda istilah, moci-moci itu ya mendut. Dan akhirnya muncullah pertanyaan polosku, tentu saja di grup yang membernya emak-emak dan bapak-bapak ketce wali santri.

“Kalau lumpia itu kue basah bukan ya?”

Krik krik krik!!!!

Lama, baru ada yang respon. Responnya positif, lumpia masuk kategori kue basah. I don’t know, itu benar atau tidak, yang pasti aku langsung edit mendut jadi lumpia. Anggap saja lumpia basah berarti kue basah, sebab tidak ada lumpia kering.

Ya, namanya juga emak-emak, yang dipikir lapis, yang ditulis mendut, editannya lumpia, ternyata malam sebelum market day yang dimasak adalah roti kukus. Jangan heran, ini B aja! Namanya juga emak-emak gitu lho!
Yup, masak roti kukus. Dengan segala kerempongan. Mulai dari takaran tepung dan gula yang tidak akurat, kertas kue yang kebesaran, hingga Dzulki yang antusias buru-buru ingin incip. Alhasil, kuenya bantat, Mak! Hikz!

Tapi secara rasa oke, gulanya kebanyakan. Manisnya aduhai mirip akyu. Eh?

Yang sukses adalah kukusan terakhir, sekitar 10 cup. Dan itulah yang dibawa ke sekolah untuk market day.

Taaarraaa!!!!

Paginya, wali santri yang kebanyakan para Bunda saling sapa ala emak-emak, membahas serba-serbi persiapan market day. Satu yang dominan adalah kisah buru-buru ke pasar alias hampir semuanya pengadaan produknya sinergi. Hihihihi!

Okey, lanjuy membahas tampilan anak-anak sebelum acara puncak market day yang seru. Penampilan pertama adalah kelas Ar-Rahman. Nah, ini kelas Dzulki. Saat MC memanggil mereka, satu per satu anak baris, naik ke panggung sambil membawa kertas karton ukuran kurang lebih A4. Kertasnya dibalik, sepertinya kertas itu berisi kata yang akan membentuk kalimat saat dibuka bersamaan.

Baiklah, seketika krucil-krucil itu naik ke panggung kecil, para bunda sudah bersiap kamera. Mereka tampil membawakan Doa Al-Qur’an dengan kompak meski suaranya timbul tenggelam. Dan diakhir penampilan, mereka membalik kertasnya dan… Taaarrraaa! Ada tulisan: AR RAHMAN CINTA AL-QUR’AN.

Karena bahagia, para Bunda yang mengabadikan minta anak-anak itu berpose agar dapat didokumentasikan.
“Tunggu, tahan ya!” Seruan itu muncul bersahutan.

Sedetik dua detik mereka mengangkat kertas itu tinggi-tinggi dengan semangat, tapi 5 detik berikutnya, seorang anak menyeletuk, “Ustadzah, kok lama sih!”
Sontak semuanya tertawa. Kehebohan berlangsung kembali saat kelas lainnya, Ar Rahim dan Al Quds tampil. Kelas Ar Rahim tampil bernyanyi koor, dan Al Quds tampil dengan separuh hapalan dan separuhnya lagi menyanyi. Menurut keterangan Ustadzahnya, yang muslim terbiasa hafalan jadi tidak mau tampil nyanyi. Jadilah tampilannya, parapmuslimah nyanyi naik kereta api tut tut tut, dan yang muslim hafalan qur’an. Bersamaan, so, begitulah!  Yang pasti para Bunda tetap saja terhibur dan bangga dengan anak-anak.

Itulah anak-anak. Mereka menyenangkan dan selalu menarik perhatian.

Nah, yang kutnggu adalah saat jualan. Dzulki terus berteriak kecil, “Beli beli! Beli-beli!”

Roti kukus seribuan laku, teman-temannya belum habis, dia sudah membawa baki kemana-mana dalam keadaan kosong. Entah karena iba melihat kue kukus yang bantet ataukah memang ingin segera mencicipi kue itu. Yang penting laku deh! Terbayar deh gundahku sepekan persiapan market day. (Apaan coba???!!!)

Yang lucu adalah Cilla, gadis mungil temannya Dzulki. Dia paling akhir, dagangannya masih banyak. Mamanya membesarkan hatinya dengan berniat memborong semua kue, “Kesini, Mbak Cilla, Mama beli kuenya!”

Akhirnya, ibu-ibu yang berkerumun ikut membeli kue itu, termasuk aku. Nah, uniknya, wajah Cilla berubah manyun saat kuenya dibeli.

“Jangan beli, nanti kueku habis!”Ujarnya.

What???!!!!

Pantesan jualannya gak habis-habis, ternyata memang dia gak mau jual. Ahahahaha….!

Anak-anak selalu menyenangkan dan menarik perhatian kan?[]