Rasa memiliki seringkali kita simpan di diri kita. Merasa memiliki ayah, ibu, pasangan, anak, bahkan sahabat dan rekan kerja. Merasa memiliki uang, baju, makanan, kendaraan, rumah, dan lain-lain. Pun juga rasa memiliki kesabaran, rasa syukur, dan iman.

“Milik Allah SWT segala yang ada di langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284)

Ayah kita, ibu kita, pasangan kita, anak-anak, hingga sahabat karib kita, dan semua manusia yang terhubung dengan kita bukanlah milik kita. Sebab bukan milik kita, maka jangan pernah bergantung pada mereka.

Rasulullah SAW adalah manusia yang disetting Allah SWT untuk tidak bergantung pada manusia. Ayahanda Rasul meninggal dunia saat beliau masih di dalam kandungan. Ibunda juga meninggal dunia saat beliau masih sangat kecil. Dalam asuhan kakek yang sangat mencintai, beliau juga masih harus merasakan ditinggal.

Sepeninggal kakek Abdul Muthalib, Rasulullah SAW aman dan nyaman dalam asuhan pamanda, Abu Thalib. Namun, lagi-lagi Rasulullah SAW merasakan kehilangan. Abu Thalib meninggal di masa-masa awal kenabian. Padahal saat itu yang paling bisa menjamin Rasulullah SAW dari kegarangan musuh Islam adalah pamanda. Ternyata, Allah swt tidak menginginkan Nabi SAW bergantung dengan manusia.

Dari sisi romantisme, Rasul harus kehilangan sosok yang paling dicinta, Khadijah RA. padahal, Rasul benar-benar mendapat dukungan yang utuh dan hangat dari sosok istri tercinta. Nyatanya, Allah SWT memisahkan Rasul SAW dengan Khadijah RA di dunia begitu cepat. Tak terganti, sekalipun setelahnya dikaruniakan sosok muda nan cantik jelita, Aisyah RA.

Allah SWT menjaga Rasulullah SAW agar tidak pernah bergantung pada manusia. Sebab memang yang layak atas semua hal pada diri kita adalah Allah SWT. Semua bentuk cinta, kenyamanan, dan rasa aman sekalipun, bukan milik kita atau milik manusia yang seolah milik kita. Semua itu adalah milik Allah SWT.

Jadi, cara “memeluk’ orang-orang yang kita sayangi adalah dengan melepaskan semua ‘kebergantungan’ kepada mereka. Memeluk orang-orang tercinta dalam taat adalah mencintai mereka tanpa menggantungkan apapun padanya. Sebab, hanya Allah SWT tempat kita bergantung dan meminta segalanya.

Selain kepada manusia, seringkali kita merasa memiliki keduniawian, seperti harta dan popularitas. Dua yang saya sebut adalah perhiasan dunia yang sangat melenakan. Rasa memiliki dua hal itu sering datang dengan tiba-tiba dan sangat halus.

Rasul SAW mencontohkan kepada kita untuk memeluknya dengan santai. Beliau hidup dengan snagat sederhana, tapi tidak pernah merasa kaya atau miskin. Sahabat RA yang menangisi alas tidurnya justru dihibur.

Rasul SAW memang memberikan rumah masing-masing kepada para istri. Tetapi, jika ditilik kembali, rumah-rumah itu sangat sederhana. Pun rumah beliau sendiri ukurannya sangat sempit. Bahkan, dikisahkan saat beliau mendirikan salat malam hari, Aisyah harus melungker.

Harta itu letakkan di luar pikiran, bukan di dalam pikiran. Tidak perlu cemas harta tidak banyak. Pun saat harta berlimpah, jangan bangga! Allah SWT sudah menjamin kehidupan seluruh makhluknya.

“Dan tiada satupun makhluk yang bergerak di bumi melainkan dijamin Allah SWT rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Kuncinya ada pada ‘bergerak (ikhtiar). Selama kita ikhtiar, rezeki akan Allah SWT jamin.

Harta yang ada di genggaman kita itu bukan milik kita. Jadi, kenapa masih ragu untuk membelanjakannya di jalan Allah SWT? bahkan, pada harta yang ada di genggaman kita ada hak saudara-saudara kita. Para fakir, miskin, dan seterusnya.

Begitu juga dengan harta yang tidak tergenggam, itu bukan milik kita. Untuk apa kita melampaui batas dalam mengejarnya? Allah SWT pemiliknya, bukan kita.

Pun tentang popularitas. Sepenting apa popularitas di dunia jika surga tak mengenal kita? Nama baik kita tidak lebih dan tidak kurang karena Allah SWT sedang menutup aib kita. Jika Allah SWT yang melakukan itu semua, maka sebenarnya siapa yang layak terkenal?

Berhentilah membuka mata dan mulut dunia agar memuji kita! Buka mata dan mulut kita untuk menghadap kepada Allah SWT! banyak berdzikirdan pujilah Allah SWT dengan pujian setinggi-tingginya. Sebab puja dan puji adalah milik Allah SWT.

Jadi, memeluk harta dan popularitas dalam taat adalah dengan tidak menjadi budak harta dan popularitas.

Terakhir, tentang rasa memiliki kesabaran, kesyukuran, bahkan iman. Keimanan dan ketakwaan adalah ujian yang tiada pernah ada wisudanya. Mungkin wisudanya ada, tapi bukan di dunia. Kelak di akhirat. Hidup di dunia ini adalah momen untuk terus memperbaiki iman dan takwa dan memupuk sabar dan syukur. Tidak ada istirahatnya.

Bagaimana agar semua itu ringan? Peluklah semua itu dengan taat. Peluklah dengan kesadaran terbaik bahwa semua itu milik Allah SWT bukan milik kita. Rasa sabar adalah milik Allah SWT, minta pada-Nya agar rasa itu ada pada kegelisan kita. Rasa syukur itu adalah milik Allah SWT maka minta pada-Nya agar rasa itu ada pada kebahagiaan kita.

Memeluk semua itu dalam taat adalah proses untuk senantiasa menjadi hamba Allah SWT seutuhnya. Melekatkan dalam jiwa dan raga bahwasanya Allah SWT adalah Dzat yang menguasai seluruh alam semesta beserta isinya. Kita adalah bagian dari kepunyaan-Nya. Lantas, bagaimana bisa bagian itu memiliki bagian yang lain?[]

“Milik Allah SWT segala yang ada di langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284).[]

Artikel ini ditulis sebagai materi Tabligh Akbar Dakwah Muslimah Indonesia yang dilaksanakan pada Kamis, 19 November 2020 melalui WAG.