Merancang Masa Depan

Hai, Idears! Tahun baru segera datang, apa yang kamu siapkan untuk menyambutnya? Please, jangan jawab dengan persiapan kalian di jam 00.00, please, jangan! Kuharap kalian sudah siap dengan berbagai resolusi unik nan menawan untuk menjalani kehidupan di tahun baru nanti.

Nah, sebelum Desember habis, yang belum menyusun rancangan masa depan di tahun baru, segeralah buat! Sebab rancangan masa depan berperan 50% untuk kenyataan yang diinginkan. Kira-kira begitu kata motivasi tentang rancang-merancang. Bahkan ada kalimat motivasi yang lebih ekstrim tentang merancang masa depan: Merancang masa depan dengan baik sama dengan menempuh separuh perjalanan menuju keberhasilan. So, tunggu apa lagi, kerjakan!!!!

Membahas tentang merancang masa depan, Idear semua mulai benar-benar merancang masa depan saat usia berapa? Kalau aku, merancang masa depan sampai ditulis bahkan digambar macam skema itu saat tahun 2007, akhir masa SMA. Berawal dari menonton video Danang Sang pembuat Jejak, kisah mahasiwa IPB yang membuat daftar target hidup yang ternyata setiap target hidupnya satu per satu terwujud dengan cara Allah swt.. Kemudian dilanjut dengan terbitnya novel Kang Abik yang fenomenal waktu itu, Ayat-Ayat Cinta. Karakter Fahri begitu kuat menghipnotis banyak remaja muslim saat itu. Hingga gaya hidupnya membuat peta kehidupan diikuti banyak orang pada masanya, termasuk aku.

Tradisi ini terus berlanjut dan seolah menguat saat tahun 2011, aku kerja di sebuah lembaga amil zakat dan direktur yang menjabat waktu itu lebih gokil tentang rancang-merancang. karena jaman sudah mulai serba dikomputerisasi waktu itu, rancangannya ada di laptop dengan folder data yang sangat rapi. Pada satu moment beliau menyampaikan bagaimana beliau menyusun rancangan target-targetnya dengan detail, baik urusan kantor sampai urusan keluarga. Beliau memiliki 1 istri dengan 6 anak. Ditunjukkan secara terbuka bagaimana setiap orang yang menjadi tanggungjawab Beliau dibuatkan folder masing-masing. Ada folder istri, anak pertama, kedua, ketiga, dst. Belum lagi ditambah bapak, ibu, mertua, adik perempuan, dan lain sebagainya. Semuanya detail dan Beliau memiliki target untuk masing-masing. Bahkan aku mengulik dari istri beliau, ternyata rancangan itu dibuat bersama-sama. Setiap tahun ada RAKER KELUARGA. Hah, keluarga ada rakernya???? Keren, Idears! Akhirnya, sejak jombloku berakhir akupun mengikuti jejak beliau: RAKER KELUARGA. Hehehe! 

Sebenarnya, aku memang tipe orang yang terencana, bahkan terlalu sampai-sampai sahabatku  banyak yang kesal. Apapun yang di luar rencana sulit aku terima, ini menjadi bekal untuk aku selalu rajin membuat peta hidup atau rancangan masa depan macam Pak Danang ataupun tokoh fiktif Fahri.

Dari 2007 sampai sekarang, keajaiban-keajaiban seperti yang dirasakan Danang Sang pembuat Jejak hampir selalu kualami, bahkan yang dramatis full romantis seperti Fahri dalam Novel Ayat-Ayat cinta pun ada. Salah satunya saat sejak 2007 aku menargetkan menikah di usia 25 tahun, ternyata kesampaian. Benar-benar dengan cara Allah swt.  Padahal di detik-detik menuju usia itu, 2 tahun terakhir tidak ada laki-laki yang datang. Amazing!

Oke, back to topic! Selama 10 tahun lebih aku merancang masa depan, membuat peta kehidupan, meski tidak sedetail Pak Direktur, aku menyadari satu hal dalam penyusunan rancangan masa depan. Apakah itu?

Ternyata selama ini rancangan itu menyusunkan daftar impian saja. Daftar keinginan-keinginan tersusun menjulang luar biasa. Padahal semakin tinggi pohon, pucuknya akan digelitik sepoi angin. Harusnya rancangan masa depan berisi dua hal: Siap bersyukur saat target tercapai dan lapang menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Aku belajar pada lembaran-lembaran rancangan masa depan yang kubuat (akhir tahun ada evaluasi), pada target yang tercapai ternyata bahagia tiada tara itu terasa seolah keajaiban khusus Allah swt.kasih untukku dengan sangat spesial. Namun, saat hantaman masalah datang di tengah-tengah rancangan masa depan, kesiapan menerimanya tidak ada. Syukur sering hampir terlewat karena bahagia luar biasa, dan kesanggupan menerima hantaman sangat terbatas, intinya, sering tidak siap.

Jadi, mari kita siapkan dua rubrik untuk menyambut tahun baru! Rubrik kesiapan untuk bersyukur atas impian yang tercapai, dan rubrik kesediaan untuk menerima hantaman yang tidak kita inginkan, hal-hal yang harus kita lepaskan, sesuatu yang bukan untuk kebaikan kita sekalipun baik di mata kita.

Oke, the last, manusia bisa merancang dan Allah mutlak merevisinya hingga sempurna![]