Nuansa Cinta Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa bagi kaum muslim di seluruh dunia. Ada ibadah besar di bulan ini yakni ibadah haji, ibadah qurban, yang menyimpan sejuta hikmah di dalamnya. Perjuangan dan romantisme keluarga Ibrahim teruji di bulan ini. Bagaimana makna sebuah kehidupan cinta suami istri, konsep keluarga Ibrahim menjalankan tugas dan perannya sebagai ayah, Ismail sebagai anak, Hajar sebagai istri, semua terangkum apik di Bulan Dzulhijjah. Keren!

Aku sendiri menikmati Dzulhijjah dengan unik sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya sejak aku bekerja di LAZ (Lembaga Amil Zakat). Bagi lembaga seperti kami, dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua momen penting dan samgat sibuk. Namun, dibandingkan dengan Syawal, Dzulhijjah lebih benar-benar hari raya bagiku. Why?

Satu, sebab tidak ada lembur di malam takbiran. Ini menjadi penting, terutama setelah menikah. H-1 sebelum hari raya Idul Fitri, adalah waktu yang sangat sibuk. Sehingga, saya tidak pernah mudik. Ya, masih sama-sama Jombang kan umumnya mudik H-1, tapi karena H-1 selalu sibuk, jadinya mudik lokalnya benar-benar pas Hari H nya lebaran. Nah, di Dzulhijjah, saya bisa mudik. Menikmati takbiran di rumah mertua dan esoknya sholat Ied di masjid dengan saudara-saudara ipar.

Ya, sebagai amil zakat, Idul Adha selalu disibukkan dengan kegiatan qurban. Setiap tahun, program qurban selalu memberikan tantangan dan pengalaman berharga, sebab kami selalu menembus daerah-daerah pedalamana untuk penyaluran hewan qurban.

Meskipun petualangan bukan hobi, disini aku banyak belajar untuk lebih berani dan menyukai penjelejahan. Setidaknya aku berhasil untuk ikut menembus hutan, menyeberangi sungai tanpa jembatan, hingga tersesat saat pencarian satu titik lokasi pedalaman. Di Jombang, daerah pedalaman yang pernah aku kunjungi karena program qurban ini diantara adalah Rapahombo, Nampu, dan Cepit. Ketiganya akan kubagikan ceritanya.

Rapahombo. Ini adalah dusun yang akses ke kotanya sangat rumit. Hutan belantara sejauh 2 km harus ditempuh dengan jalan yang sangat sulit medannya. Ada beberapa alternatif jalan menurut warga sana, namun bagiku jalan manapun itu, tetap sulit medannya. Karena letaknya yang terpencil dan akses ke kota sangat jauh, tentu saja fasilitas umum disana sangat terbatas. Ada sekolah SD Negeri, dan itu adalah satu-satunya sekolah. Alhasil, warga sana mayoritas lulusan SD saja. Klinik kesehatan juga belum ada, sehingga untuk berobat manakala sakit, warga perlu perjuangan besar. Tandu yang diangkat bersama-sama, menjadi pilihan satu-satunya hingga saat ini. Sebab mobil tidak bisa mengakses tempat ini. Jika kamu pernah menonton film Jenderal Soedirman, begitulah cara warga menandu orang sakit atau wanita hendak melahirkan. Yes, disana tidak ada bidan, jadi untuk melahirkan, harus ditandu dulu sampai ke puskesmas kecamatan.

Iya, Dusun Rapahombo ada di Desa Klitih Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang.

Saat ke Rapahombo, kami bertemu dengan seorang guru swasta di SDN disana, usia masih samgat belia, tiga puluhan tahun, dan beliau tinggal di Kecamatan Diwek. Diwek itu kecamatan sebelah tempat tinggalku.

Setiap hari guru itu pulang pergi mengajar. Berangkat sekitar pukul 06.00 menggunakan motor trail, sepatu boot, helm pembalap dan jaket tebal. Penampilan ini jauh dari umumnya penampilan guru. Semua itu dilakukan sebab tidak jarang dia jatuh saat berkendara. Jalan yang licinnya liar biasa saat hujan dan debunya sangat tebal di musim kemarau membuatnya sering jatuh di tengah-tengah hutan itu. Demi pendidikan anak-anak disana, Pak Guru ini berjuang dengan sangat istimewa. Keren!

Idul Adha setelah di Rapahombo, berikutnya kami berhasil menembus Dusun Nampu. Masih di Plandaan, daerah pedalaman satu ini istimewa sebab menuju kesana, harus menyeberangi sungai tujuh kali. Duh, mirip film-film kolosal ya. Hehehehe….

Bersyukur sekali saat itu musim kemarau, sungai jelaa sedang surut, sehingga motor-motor rombangan kami cukup mudah menyeberangi sungai yang tidak memiliki jembatan itu. Dibandingkan dengan Rapahombo, Nampu lebih terpencil. Sisana penduduknya juga lebih sedikit., Sekitar 40 KK dan jumlah lansianya cukup banyam dibandingkan dengan jumlah anak balitanya.

Selain itu, di Idul Adha berikitnya ada Desa target kami bernama Dusun Cepit. Sesuai namanya, dusun itu terjepit di tengah-tengah hutan. Akses jalan lebih dekat dibandingkan dua daerah sebelumnya, mobil juga bisa masuk, namun fasilitas dosana sangat terbatas. Tidak ada sekolahan, klinik kesehatab apalagi, bahkan ketua dusunnya tidak tinggal disitu.

Toko kelontong sama sekali tidak ada. Seriap hari anak-anak harus menempuh jalan menyusuro hutan untuk sekolah. Kalau musim hujan, para ayah dan ibu harus menggendong anak-anaknya untuk menuju sekolah sebab jalanan sangat licin. Ya, benar-benar perjuangan!

Itu mungkin kenapa saat Idul Adha, aku juga tidak bisa libur panjang, sebab harus menjalankan amanah sebagai amil zakat. Namun nuansa cinta aku dapatkan di aktivitasku sebagai amil. Sambutan warga yang hangat dan keterbukaan mereka dengan orang asing membuat hati ini terenyuh. Betapa rasa syukur hinggal di hati mereka, yang bertahan untuk hidup di daerah pedalaman seperti itu.

Aku berpikir, krnapa mereka tidak memilih untuk pergi dan mencari penghidupan yang lebih layak? Cinta kamping halaman menjadi alasan utama mereka bertahan. Nah, kan, lagi-lagi nuansa cinta kutemukan di Bulan Berkah Dzulhijjah.

Dua, Dzulhijjah itu istimewa, sejak aku mengenal arti sebuah cinta. Sebab pernikahanku terjadi di Bulan Dzulhijjah. Ya, mirip-mirip lebaran jomloku lah. Dzulhijjah adalah bulan aku tidak lagi berstatus JOMLO. Hehehehe….

Tahun 2013, hijriyahnya tahun 1434, hari tasyrik yang terakhir, itulah tanggal akad nikah terucap. Eciiiee….

Setahun setelahnya, di hari tasyrik yang terakhir pula, aku menjadi seorang ibu. Dzulki lahir. Oh, betapa bahagianya!

Kedua momen besar itu aku alami di bulan Dzulhijjah. Bagiku ini istimewa. Keluarga Ibrahim mengukir jejak rahasia keluarga sesurga di bulan Dzulhijjah. Semoga aku juga bisa mengukir kisah sesurga. Aamiin.[]