Perdana ke Bioskop karena Film Hayya

Aku lahir tahun 1989 bulan April tanggal 16 dan aku baru ke bioskop kemarin itu, tanggal 23 September 2019. Ini serius. Hahahaha!

Bukan karena menganggap pergi ke bioskop itu tabu, dilarang orang tua atau apapun yang prinsipil, tapi memang tidak pernah keturutan saja. Lahir dan besar di Jombang, kota kecil yang konon terkenal banyak pesantren dengan jumlah santri yang yuhui membuatku jauh dari gedung bioskop. Ingat sih, dulu waktu masih SD, sekitar akhir tahun ’90an, di desaku masih sering ada layar tancap. Aku membayangkan bioskop mungkin mirip-mirip itulah, hanya berbeda antara indoor dan outdoor.

Pernah saat awal kuliah, tahun 2007/2008, sangat ingin nonton film di bioskop. Waktu itu film Ayat-Ayat Cinta tayang menggemparkan anak-anak muda yang sedang semangat hijrah. Tapi keinginan itu tidak kesampaian. Disusul kemudian Film Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 yang benar-benar heboh. Teman-teman pada rombongan pergi ke Suarabaya, ke Malang, atau sekedar ke Kediri untuk nonton. Aku bukannya tidak mau ikut nonton, tapi selalu ketinggalan. Ada saja hal yang membuatku tidak nonton.

Sampai kemarin itu, ada info film bagus, Hayya. Teman di ODOJ menawarkan untuk sinergi dengan FLP Jombang mau menggelar NOBAR alias Nonton Bareng Hayya di bioskop bahkan mendatangkan Hamas Syahid.

Jombang memang baru memiliki gedung bioskop lagi setelah sekian purnama gedung bioskop bernama Plaza Teater berubah menjadi gedung yang sedikit menyeramkan (menurutku). Nama bioskop barunya adalah NSC. Please, jangan tanya kepanjangannya apa aku tidak tahu dan malas mencari tahu. Tempatnya ada di Mall mungil kebanggaan Jombang, Linggajati lantai 2. Ada dua studia dengan setiap studio kapasitasnya 180 penonton. Begitulah info yang kudapat dari salah seorang panitia.

Aku yakinkan bahwa ini benar-benar bioskop. Itu tadi, setelah sekian purnama, sekarang di Jombang ada bioskop. Saat aku share publikasi NOBAR Film Hayya di sebuah member grup, member grup ragu.

“Benarkah di Jombang ada bioskop? Jangan-jangan hoax seperti bukit teletubies yang ternyata toilet. Hahahaha….”

Sungguh, memang begitulah Jombang. Eits, tapi yang ini benar-benar bioskop. Sumpil! Wkwkwkwk

balik lagi ke Nobar Hayya. Panitia hanya punya waktu dua pekan saja menyiapkan segalanya. Dan karena aku sudah bukan lagi ketua FLP Jombang maka aku tidak terlibat secara teknis. Rapat panitia tidak datang (karena tidak ada pemberitahuan), tidak masuk grup panitia, bahkan baru beli tiket seminggu sebelum acara.

Aku pesan 3 tiket, untuk aku, Dzulki, dan suami. Aku menegaskan lagi ke teman-teman yang jadi panitia: Apakah aku perlu terlibat?

Jawabannya adalah TIDAK.

Baiklah, aku mengagendakan hari itu full nonton tanpa diribeti dengan amanah sebagai panitia. Aku senang sekali, karena ini adalah debut nonton di bioskop sepanjang hidupku. Hahahaha

Sampai di H-2 acara, salah seorang panitia merayuku agar melepas tiket yang sudah kupesan. Alasannya pendaftar membludak dan diutamakan orang umum dulu sebagai bagian dari syiar kita tentang Palestina. Baiklah, aku iya saja, apalagi saat tahu ternyata H+1 bioskop masih akan memutar dan pantia akan nonton di H+1. Yup, panitia pun tak dapat kursi buat nonton. Saking antusiasnya warga Jombang menyambut Film Hayya. Keren!

Maka, aku dan suami beralih agenda. Aku janji akan pulang tepat waktu dan seru-seruan sendiri di rumah. Dzulki juga sudah aku sounding kalau batal, sebab sebelumnya dia sudah menunggu-nunggu akan menonton film di layar yang lebar sekali.

Tibalah hari H. Saat makan siang, telepon masuk dari ketua panitia. Entah kenapa aku meng-iyakan saja saat dia memintaku menyiapkan puisi, dan pembaca puisi untuk ditampilkan sebagai rangkaian acara Nobar.

Agak bingung awalnya. Mau buat puisi aku blank sebab belum nonton Hayya dan sama sekali tidak tahu filmnya seperti apa. Maka kuputuskan menghubungi Pak Ali Muakhir. Alhamdulillah, beliau merekomendasikan dua puisi Bunda Helvy Tiana Rosa yang menjadi lirik soundtrack Hayya itu sendiri. Oke, puisi beres.

Kedua, aku share di grup pengurus FLP Jombang, dan sudah ada dua orang yang siap membaca puisi. Keren, good job, FLP Jombang! Karena dua orang itu masih perjalanan dari Surabaya menuju Jombang, maka kami janjian untuk berlatih baca puisi sore hari, sepulang aku kerja.

Sore hari datang, aku segera ke Abata, basecamp tercinta, untuk latihan puisi. Lebih tepatnya sih, aku jadi komentator, sebab aku tidak jago perpuisian. Hahahaha

Suami sudah aku telepon, mengabari kalau aku akan pulang terlambat karena harus membantu persiapan pertunjukan puisi dulu. Oiya, film diputar jam 18.00. Jadi, perkiraanku maghrib latihan akan selesai dan aku bisa pulang. Tapi ternyata, semuanya berubah.

Bunda Umi meminta kami pindah tempat latihan puisi. Beliau minta kami semua ke Edotel sebab Bunda Umi sendirian menunggu kedatangan Hamas dan rombongan. Sesampainya di Edotel, keseruan dimulai.

Tersebab suatu hal, semua panitia berkumpul untuk koordinasi. Info terbarunya adalah Hamas tidak akan bertahan sampai acara selesai sedangkan ada dua studio yang dipesan. Diskusi panitia mengalir begitu saja. Aku yang bukan bagian dari panitia berusaha menarik diri dari kerumunan diskusi panitia. Namun apa, saat aku berdiri dari duduk dengan tujuan mau berlalu, Bunda Umi dan teh Eka yang ada di samping kanan dan kiriku menarikku untuk duduk kembali.

Baiklah, aku menurut. Ternyata, di satu kesimpulan diskusi, Bunda Umi berkata, “Tidak ada solusi lain, kita perlu satu MC lagi dan itu adalah dikau!” Sambil menunjukku dan ulala…..

Aku menolak dengan berbagai jurus dan tidak mempan. Maka lihatlah ketidakjelasanku. Mulai dari seragam panitia, yang harusnya merah merona aku biru penuh haru. Eh, yang dipoto ada satu cowok pakai kemeja biru itu bukan suamiku, melainkan ketua ODOJ Jombang. Entah kenapa bisa samaan berdua saja gitu. Katanya sih tidak sempat pulang, jadi pakai seragam ngajar. Hahaha! Semuanya datang cantik mewangi, aku pulang kantor, pakai seragam kantor itu dari bawah sampai atas. Wajah super lecek, habis makan cilok dengan gaya anak SD nongkrong di alun-alun, belum mandi, tiba-tiba harus jadi MC artis Mas Gagah, eh, Mas Hamas.

Itu sudah jam 17.00 maka kuputusakan untuk ke kamar mandi Edotel, sekedar cuci muka, memperbaiki tatanan jilbab, salat maghrib, dan berangkat ke bioskop. Yeyyy! Akhirnya ke bioskop. Bukan untuk nonton karena tidak punya tiket. Ke bioskop pertama kali untuk jadi MC Tahu Bulat alias dadakan.

Setelah jadi MC, lanjut menenangkan diri. Panitia heboh menanti giliran poto sama Hamas, artisnya. Nah, sebelum poto sama artis, adik-adik FLP Jombang mau poto sama aku dulu. Artis MC Tahu Bulat dengan debut pertamanya ke bioskop tapi gak nonton film. Wwkwkwkwkwk

Setelah itu poto bersama semua panitia. Nah, di tengah-tengah poto bersama panitia itulah, tiba-tiba Hamas keluar dari ruangan, bersiap melayani permintaan poto panitia. Lihat ekspresi kami saat asyik poto tiba-tiba artisnya muncul.

Tapi tahu tidak, yang menarik bagiku adalah, ternyata sekarang kalau ketemu artis itu tidak lagi ramai minta tandatangan, tapi ramai minta poto. Di tempat yang lain begitu juga tidak ya?[]