Siang itu aku putuskan untuk berhenti sejenak dari aktivitas rutin yang sudah mulai membuatku jenuh. Ya, aku berada di titik jenuh yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku memilih berjalan-jalan ke alun-alun kota sambil menunggu waktu sholat ashar. Aku rencanakan untuk sholat di masjid jami’ alun-alun dengan harapan aku bisa lebih kusyuk dan berdoa agar Allah swt. memberiku petunjuk untukku melangkah dalam hidup ini.

Saat itu alun-alun belum terlalu ramai hingga aku melangkah ke masjid saat adzan ashar berkumandang. Aku ambil air wudhu, air yang segar itu membasahi wajahku. Ada yang menyegarkan dan pikiranku lebih tenang. Kujalani sholat ashar dan setelahnya aku berdoa seperti yang aku rancang sebelumnya: Mengharap Allah stw. Memberiku petunjuk.

Usai sholat ashar aku memilih sudut teras masjid yang memberiku kesempatan memandang alun-alun kota. Suasana sudah mulai ramai mejelang sore. Berbagai keramaian, dari hilir mudik pasangan muda-mudi, pasangan paruh baya yang masih terlihat kemesraannya, hingga lansia yang masih saling setia menggandeng tangan satu sama lain saling menjaga. Ada juga beberapa rombongan keluarga, komplit : orangtua dan anak-anak mereka. Dalam hati aku berpikir: Bisakah aku bahagai seperti mereka? Terdengar melankolis memang, tapi kenyataannya saat itu kebahagiaannku seperti jauh hilang entah kemana.

Di keramaian yang nampak, tiba-tiba aku terfokus pada pemandangan pasangan suami istri yang merumput bersama anak balitanya. Keluarga kecil itu tampak ceria. Si kecil yang sedang belajar berjalan secara bergantian ia melangkah menuju ayahnya, kemudian ganti menuju ibunya dengan riang gembira. Sesekali kakinya yang belum kuat benar berjalan itu tertekuk membuatnya jatuh, tapi apa yang terjadi? Anak itu malah tertawa dan segera berusaha bangkit dan melangkah lagi menuju ayah dan ibunya yang merentangkan tangan untuk menyambut anaknya. Orangtua sang anak juga tampak tertawa penuh bahagia menyaksikan anaknya yang beberapa kali jatuh dan bangun lagi dengan terus memberi dukungan agar sang anak tidak putus asa latihan berjalan.melihat itu aku menjadi ikut gembira.

Seketika itu aku berpikir, Apakah saat aku kecil juga seperti anak itu? Latihan berjalan dengan semangat meski beberapa kali jatuh dan orangtuaku selalu mendukungku agar aku tidak putus asa berlatih? Berarti saat kecil aku sudah menjadi orang yang hebat, bergembira dengan terus belajar tanpa berputus asa. Memberi kebahagiaan bagi semua orang di sekitarku. Orangtuaku tentu mengajari aku agar menjadi orang yang kuat. Lalu, mengapa beberapa hari ini aku hampir menyerah dan putus asa?

Lelah dan jenuh bekerja, mengurus anak, berhubungan dengan orang lain adalah aktivitas yang memang wajar terjadi dalam kehidupan. Harusnya aku tidak putus asa meski kelelahan menghampiri dengan sangat. Harusnya aku bersyukur dipercaya dengan berbagai amanah untuk kujalankan.

Alhamdulillah, peristiwa kecil sore itu adalah kehendak Allah yang memberiku petunjuk untuk bahagia menjalani hidup.kejenuhanku hilang dan rasa bahagia itu kembali kurasakan. Memang benar, Allah bisa jadi memberikan kebahagiaan dari peristiwa di depan kita, sekalipun itu peristiwa kecil, seperti yang kualami ini.[]