Sakit Gigi Saat Hamil Dzulki

Tentang lirik lagu yang melegenda, “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”, aku sama sekali tidak sepakat. Sebab nyatanya, aku lebih berhasil bertahan saat sakit hati daripada sakit gigi. Ini serius,. No bokis. No kaleng-kaleng.


Alhamdulillah, aku sangat jarang sakit gigi. Pertama sakit gigi, saat itu aku kelas IV SD. Sakitnya sejak maghrib sampai keesokan harinya. Tidak makan obat oral saat itu, hanya pipiku dioles minyak tawon semalam suntuk. Sakitnya? Duh, jangan ditanya! Sakitnya kelas IV SD, rasa sakitnya masih terus terkenang sampai sekarang.


Cenut-cenutnya luar biasa. Dipakai tidur malah ritmenya jelas sekali, dipakai nonton film kesukaan tidak mempan, bahkan mendengar orang berdialog rasanya ingin marah.


Sendirian di kamar dengan cenut-cenut rasanya nelangsa. Ingin diperhatikan, tapi siapa juga yang menjenguk orang sakit gigi? Ingin ditemani, tapi tiap melihat orang yang baik-baik saja, apalagi mengajak bicara, rasanya ingin marah saat itu juga.


Sakit gigi kembali aku alami, untuk yang kedua kalinya adalah saat aku hamil Dzulki. Seorang temanku pernah berbagi pengalaman, dia sakit gigi hanya saat mengandung saja. Usai meahirkan, gifi yang sakit copot dengan sendirinya.


“Anak empat, ya, empat gigi copot,” begitu katanya. Serem banhetz ya!!!?


Konon, kata Mbah Putri saat melihat gigiku, beliau memprediksi aku bakalan jarang sakit gigi. Gigiku, tambah beliau, adalah jenis gigi yang kuat, tidak sensitif.
Dan, setelah masa kanak-kanakku berganti menuju masa emak-emak, ternyata aku kembali sakit gigi. Di usia kehamilan yang baru dua minggu, gigiku tiba-tiba sakit.


Cenut-cenutnya tidak sedahsyat saat aku kelas IV SD, tapi karena hari itu aku ada jam mengajar full, benar-benar full dari jam pertama sampai jam terakhir, maka kelelahan membuat sakit gigiku terasa lumayan. Sampai di jam keempat selesai, aku memutuskan ke dokter.

Diantar suami waktu itu, tapi hanya diantar, sebab jam pelajaran menantinya. Tentu saja, dengan janji menjemput setelah 2 jam pelajarannya selesai. Aku berhitung kebiasaan ke dokter gigi, waktunya akan pas, pikirku.
Dental Care yang kukunjungi tidak seberapa ramai. Oh, ya, ini adalah pertama kalinya aku ke dental care. Namanya apa aku lupa. Biasanya aku ke klinik faskes 1 BPJS, tapi berhitung antrian, maka aku putuskan ke dengal care.

Setelah registrasi, aku diajak masuk ke ruang dokter. Masyaallah, ruangannya bagus sekali. Nyaman, sejuk, harum, dan tentu saja, dokternya ramah sekali. Ah, lagi-lagi aku lupa nama dokter cantik yang bermata sipit itu.


Aku mendapatkan pelayanan prima. Begitu duduk di kursi khusus itu, monitor di depanku menyala. Gigiku jelas tampak di layat yang cukup luas itu. Bahkan sangat detail.


“Bagus semua giginya, Mbak. Bersih…” pujinya. Sayangnya pujian tidak meringankan cenut-cenut gigiku.


“Tapi ini sakit, Dok,” keluhku.
Dokter cantik itu mulai memeriksa seluruh gigiku dengan detail. Sesekali memakai memintaku berkumur.

“Sebelumnya pernah sakit gigi?”
Aku mengangguk, “Saat kelas empat, dan baru ini terjadi lagi.”


Dokternya manggut-manggut.
“Apakah pengaruh kehamilan ya, Dok?” tanyaku sambil santai leyeh-leyeh di kursi khusus itu.


“Mbak lagi hamil?”


Ekspresi dokter lucu. Rupa-rupa ekspresinya saat aku mengangguk sebagai jawaban. Pikirku dokter itu tidak percaya, sebab memang saat itu BB ku hanya 36 kg.

“Berapa bulan?”


“2 pekan, Dok.”


Seluruh peralatan praktik langsung terlepas dari jangkauan, dokter itu langsung kembali ke kursinya.


“Kita belum bisa observasi lebih jauh, Mbak, sebab bahaya bagi kehamilan. Diagnosa saya, gigi bungsu mau tumbuh.”


“Tapi sakit, Dok,” rengekku.


“Saya tidak berani, Mbak. Sembilan bulan lagi, setelah melahirkan balik kesini ya, kita lihat lagi,” jelasnya dengan ramah.

“Tidak ada obatnya, Dok?”

“Saya resep obat kumur, nanti pulang dipakai satu kali setelah itu stop!”

Akhirnya aku mengangguk. Menyerah, undur diri dari ruang dokter yang nyaman itu.

Seorang berbaju perawat menghampiriku, memintaku duduk menunggu obat yang diresepkan. Obat apa? Obat kumur. Hehehe….


Tak lama, aku dapat juga obat kumurnya dan tak lupa pesan penting: minum sekali, hentikan!


Tibalah aku ke kasir untuk pembayaran, aku sudah siapkan lahir batin untuk kesembuhan sakit gigiku. Aku siapkan budget sekitar sejuta untuk itu.

Melihat kondisi tempat, fasilitas, pelayanan yang sangat mewah, pasti harganya kisaran 1-2 juta, pikirku. Dan ternyata oh ternyata…..


“Sepuluh ribu, Mbak.”


Aku masih tidak percaya. Sepuluh ribu?

“Biaya konsultasinya, Mbak?” Tanyaku.

“Free, Mbak, sebab dokternya belum melakukan apa-apa. Kalau hamil jamgan ke dokter gigi ya, Mbak!”

Heheheeee…. Mana aku tahu coba.


Yup, aku keluar dari dental care super mewah hanya habis uang sepuluh ribu saja. Fantastis!!!!


Karena tidak mungkin menunggu jemputan, maka aku balik ke tempat kerja naik becak. Haduuhhh, ada-ada saja, ke dental care bayar sepuluh ribu, pulang naik becak, duduk sendiri sambil memangku helm seolah sudah hamil 9 bulan. Wkwkwk…. tapi bumil kan selalu benar. Hewhew!


Akhirnya, aku memutuskan untuk sedekah ke tukang becak. Sambil yerus berdoa agar segera sembuh.


Sampai di tempat kerja, semua heboh mendengar aku bercerita pengalamanku. Bahkan ada yang keesokan harinya ke dental care hanya karena tergiur dengan ceritaku. Pelayanan keren, harga murah pakai bingitz.


Seminggu kemudian saat aku sudah bebas dari sakit gigi, Bu Yoni, teman sejawatku heboh sendiri.


“Bu Syilviiiii…… Sepuluh ribu apanya????!!!!”


“Iya, sepuluh ribu…. Bu Yoni dari sana?” Tanyaku.

“Iya, kemarin.” Wajahnya kusut menjawabnya


“Habis berapa?” Tanyaku


“Tujuh ratus ribu, belum perawatannya.”
Haaaaa!!!!!


“Tapi bagus kan?”


“Iya, Bagus. Tapi mahal…..” Wajahnya memelas.


Aku nyengir saja. Memang aku benar kan ya, pengalamanku hanya bayar swpuluh ribu saja.


“Bu Syilvi sembuhnya pakai apa?”


Akunya senyum-senyum.


“Periksa ke bidan, habis tiga puluh tiga ribu.”


Semua yang menyimakku langsung tepuk jidat.[]