Saling Percaya (1)

Hai, Idear Mak, Para Emak yang kaya ide luar biasa! Dari judulnya, ketebak pastinya kalau coretan kali ini terdiri dari beberapa bagian. Maklum, Mak, sedang rindu menulis cerbung. hihihi…

Aku hanya akan share tentang hubungan orangtua dan anak. Widih, mirip materi parenting prolognya yes? Tenang, Mak! kita kalem wae yes. Parenting tipis-tipis lah. Okey.

Pada bagian ini pembahasan pada Anak yang percaya kepada orangtuanya. Dalem bingitz yes??!!! Oke, cuss….

DRAMA ROMANTIS DALAM SEKEPING BISKUIT

“Ada coklatnya ta?” Tanya Dzulki saat emaknya ini sedang asyik makan biskuit bermerk B*SVIT.

Aku mengangguk sambil menyodorkan biskuit padanya. Dia mengambil sekeping biskuit.

“Langsung dimakan ya, tidak dipisah-pisah!” Kataku. Yang emak-emak pasti tahu, anak selalu ‘mreteli’ alias membongkar biskuit sandwich kemudian yang dimakan isinya saja. Dan emaknya dapat biskuitnya yang hambar tanpa rasa. Eh?

Dzulki tidak menurut ternyata!!!!!!
Dia tetap ‘mreteli’ biskuit itu, dan berbaris kalimat sudah siap aku ucapkan, tapi terhenti saat dia menyodorkan tangannya bergerak ingin menyuapiku.

“Coklatnya buat ibu ya!” Katanya.
Uhhh, melted, Mak!!!!

Kali ini, aku mengunyah coklat. Barisan kalimat itu menyusut menjadi satu kata, “Kenapa?”

Dia menggeleng, sebelum kemudian menjawab, “Aku rotinya saja,”

Aku masih berusaha investigasi hasil perbuatan romantisnya. Pokoknya Emak pantang menyerah!!!!

“Apa karena Dzulki sedang batuk, jadi stop dulu makan coklat?”

Yang ditanya asyik makan biskuitnya. krik krik krik!

Baiklah, yang jelas kamu sukses akting drama romantis kali ini, my dear!

TIDAK LOMPAT-LOMPAT SAAT SENTRA

Saat menjemput Dzulki di sekolah, ustadzahnya memberikan evaluasi singkat kegiatan hari ini.

“Batuk terus, Bunda,” Kata Ustadzah favorit Dzulki. Satu waktu nanti aku akan ceritakan tentang beliau.

Aku tersenyum, meyakinkan bahwa batuknya memang demikian adanya dan tidak perlu dikhawatirkan.

“Tadi saat sentra diminta untuk lompat di huruf-huruf hijaiyah Mas Dzulki tidak mau,” Jelas beliau lagi.

Ow, kenapa ya, Ustadzah?” Tanyaku, sebab lompat, lari, memanjat adalah kegiatan favorit Dzulki.

“Katanya ‘masih batuk, tidak boleh lompat-lompat dulu‘”

Wew!!!!!!!

(Flashback: Di rumah sering aku ingatkan untuk tidak lompat dan lari dulu saat dia batuk, sebab kalau terlalu capek asmanya sering kambuh.)

Sesampai di rumah, ustadzah fasilitatornya mengirim chat WA padaku, isinya pemberitahuan bahwa kelas hari ini pemberian hadiah untuk ananda berupa pasta coklat, tapi Dzulki tidak dibukakan, coklatnya boleh dibawa pulang dan untuk makan harus izin ibu.

Aku tengok tas, coklat tidak ada. Aku tidak yakin Dzulki memakan coklat itu.

“Tadi dapat coklat dari ustadzah?” Tanyaku, dan dia mengangguk.

“Sekarang dimana coklatnya?” Tanyaku lagi.

“Dimakan Mas Al,” Jawabnya sambil asyik mainan.

Well, dia benar-benar tidak makan, Mak!

Bahkan ada dua hari berturut-turut tiap pulang sekolah di tas Dzulki ada permen Y*PI. Dia bilang bikasih ustadzah, tapi makannya sama ibu. Akhirnya, setiap kali makan, permen berbentuk tanda cinta itu kami pegang barengan di sisi-sisi yang berlawanan. Kali ini aku harus menang, mendapatkan bagian yang paling banyak tanpa ada protes darinya.

“Ayo, Ki, kita tarik bareng ya! Dzulki masih batuk jadi permennya harus berbagi dengan ibu.”

Dia mengangguk gembira. Mungkin baginya yang penting makan permen, meski hanya secuil. Hahahaha!

CUKUP SATU SAJA

Dari awal, jika Dzulki ingin sesuatu maka boleh memiliki tidak lebih dari satu. Ikut belanja ingin jajan, maka boleh memilih 1 item saja. Perjanjian ini sebenarnya tidak sengaja aku lakukan padanya, tapi ternyata mengendap. Setiap ikut ke toko, dia akan membeli 1 barang keinginannya. Agak galau sih, kadang bisa berganti sampai 5 kali juga sebelum menentukan 1 item barang yang dia beli.

Hingga saat di sekolah ada bazar buku, biasa, selalu ada promo, beli 3 lebih hemat. Dan Emaknya tertarik!!!!

“Yang mana saja, Ki?” Aku menawarkan agar dia memilih 3 item.

“Yang Thomas,” Jawabnya sambil mainan pasir.

“Lalu yang mana lagi?”

“Yang Thomas ibu!!!!”

Kemudian ada walisantri lain yang ikut menggodanya, “Jangan beli satu, beli yang banyak!”

“Satu cukup,” Jawabnya ringan.

“Kalau satu cepat habis, beli yang banyak biar tidak cepat habis!”

“Satu saja, Ustadz!!!” Katanya dengan emosi. Eeeaaa! (Entah inspirasi darimana hingga walisantri itu dia panggil ustadz. tapi mending daripada dipanggil yang lain. wkwkwkw!)

Akhirnya, terbeli 1 buku mewarnai dengan harga 3.500. Fix!

SALING PERCAYA

Aku semakin yakin, sebagai Emak Dzulki, aku harus terus belajar menjadi orangtua yang baik.

Anak dan orangtua harus saling percaya. Sebab tidak selamanya ada bersama. Sebagai orangtua, mari ajarkan anak dengan penuh kejujuran dan kejujuran penuh, sehingga anak akan percaya kepada orangtuanya dengan penuh pula. Prinsip baik yang ditanamkan pada anak sejak dini akan membuat anak tumbuh sebagai manusia yang memiliki prinsip baik yang akan dia pegang teguh.

Satu lagi yang terkadang khilaf bagi emak-emak, apalagi macam saya. Tanpa sadar terkadang kita sendiri yang menghancurkan konsep yang sudah tertanam pada anak kita. Seperti saat anak sudah kekeh beli 1 item, emaknya tergiur promo. Heheheh!

Mari belajar menjadi orangtua yang baik, ya, Mak![]