Saling Percaya (2)

Menjadi orangtua yang sabar. Uuhh, Sulit yes, Moms? Inginnya tuh serba instan, tiba-tiba anak bisa apa, otomatis anak berprestasi apa gitu. Saya sendiri jadi orangtua banyak tidak sabarnya.

Membersamai Dzulki saat pertama kali sekolah. Usianya 3 tahun 8 bulan. Keputusan besar memang melepasnya mengenal dunia sekolah di usia itu. Padahal target sebelumnya dia tanpa Kelompok Bermain (KB), langsung TK saja. Alasannya adalah, pengalaman saya sebagai emaknya, dulu sekolah TK (karena belum ada KB) sejak usia 3 tahun. So, hampir 4 tahun di TK, dan pada saat kelas III SD, saya mengalami kebosanan sekolah yang traumanya sampai saya besar masih saya rasakan. Iiih, zerem yes?!!!

Tapi karena hasil konsultasi kesana kemari menyimpulkan perlunya anak jaman now menempuh pendidikan usia dini pra sekolah semacam KB, masuklah Dzulki ke RUTABA (Rumah Tahfidz Balita dan Anak) untuk jenjang KB. mengapa saya pilih RUTABA, next insyaallah saya share.

Kembali ke momen hari pertama Dzulki sekolah. Duh, yang H2C alias harap-harap cemas tak lain adalah saya. Ayahnya sampai berkali-kali komentar, “Siapa yang sekolah, siapa yang ribet!”

Mulai dari countdown hari H sekolah, hingga ribet menyiapkan apa yang harus dibawa Dzulki esok hari. Ditambah selalu bertanya tanpa perlu penjawab, “Besok Dzulki gimana ya di sekolah?” Hahaha!

Okey, pekan pertama sekolah, aturannya boleh ditunggu oleh orangtuanya. Tapi pekan berikutnya dan seterusnya tidak boleh. Berundinglah saya dengan suami, eh lebih tepatnya saya bernegosiasi dengan suami. Ingin Dzulki ada yang nunggu, padahal kondisinya sama-sama ada pekerjaan di jam sekolahnya.

Sebenarnya pertimbanganku adalah, Dzulki selama ini anak rumahan bingitz. Aktivitasnya banyak di rumah, bermain di rumah diasuh Mbahbuknya (nenek). Jarang bermain dengan anak-anak tetangga. Paling bermain hanya sore hari dan kebanyakan bermainnya ya di rumah, anak-anak tetangga yang datang. Jadi, saya mengkhawatirkan caranya bersosial.

MOS ke-1: Naluri emak baper mendominasi. Saat pamit, Dzulki nangis, akhirnya aku duduk di teras sekolah hingga jam 09.00. Jam sekolahnya karena MOS jadi 07.30 – 11.00. Kalau normal pulang jam 12.30, kecuali Jumat jam 11.00 memang. Cara saya meninggalkan dia di sekolah adalah dengan diam-diam. Ini akhirnya yang menjadi teguran saya dari suami, “Katanya mau menanamkan kejujuran agar saling percaya?” Hikkk!!!!

MOS ke-2: Berhasil melepasnya jam 08.00 dan pamit, meski dia berderai air mata. Dan di kantor asaya biasa saja, mungkin karena sedang spaneng rapat. Sebenarnya juga, di hari kedua ini Dzulki telah menemukan tambatan hatinya, Eh?! Ke seorang ustadzah yang pandai menggambar. Gambar apa saja bisa, jadi dia senang. 🙂 Dan saya putuskan untuk meminta ustadzahnya dekat dengan Dzulki agar dia merasa nyaman di sekolah. Saat itu yang terpikir hanya satu: Bagaimana Dzulki nyaman di sekolah. Endingnya dapat teguran lagi, “Dia tidak boleh bergantung pada seseorang!”

Ah, nanti dipikir, yang penting sekarang dia nyaman. Pikir saya waktu itu.

MOS ke-3: Berhasil meninggalkannya normal, hanya mengantar saja. Tapi di kantor saya terus menghitung jam, kapan jam 11.00. Hahahaha!

Saat menjemput menjadi momen yang dramatis bagi emaknya. Dan anaknya jadi ikut melow. Uuhhh!!!!

MOS ke-4: Dzulki demam, tapi dia minta sekolah. Sudah mulai nyaman mungkin, atau dia seolah tidak punya pilihan selain menuruti orangtuanya agar dia sekolah. Alhasil, pulang sekolah hingga hari Ahadnya dia sakit. Dan…. Saya hampir menyerah. Rasa-rasanya menyekolahkan dia di saat ini kurang tepat. Mundur deh, tahun depan saja.

Hingga, ada obrolan dengan salah satu teman yang profesinya guru PAUD menasehati saya. “Percaya pada Dzulki bahwa dia mampu!”

“Kalau ibunya tidak percaya kemampuan anaknya, bagaimana dia percaya kalau dirinya mampu?”

Aku diam saja, tercekat.

“Dzulki, di sekolah, gak mungkin disiksa sama ustadzahnya. Terus apa yang kamu pikirkan?”

Iya juga ya? Malah ustadzahnya baiknya super banget.

“Saling percaya. Percaya pada Dzulki, percaya pada ustadzahnya. Ikhlaskan! Kasihan ustadzahnya repot banget itu, harus handle anak yang ortunya gak ikhlas nitipkan.”

Oke, oke! Baiklah, sadar saya di titik ini.

Sekolah pekan kedua, Dzulki mulai saya antar ke sekolah dengan belajar keikhlasan. Diawali dengan minta maaf ke dia dan ustadzahnya. Memang benar, sebagai orangtuanya, keikhlasan pada anak penting untuk langkah-langkah kebaikan anak.

Idear Moms, so pasti semua orangtua ingin anaknya menjadi yang terbaik. Namun, ada satu hal fatal yang sering terabaikan. Untuk saling percaya dalam melewati masa-masa yang mungkin sulit bagi anak dan bagi kita sebagai ortunya. Mari belajar menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita!