Seribu Satu

Seribu satu, Tomat!

Beberapa hari yang lalu, belum mive on dari harga bawang merah yang tembus 30k/kg. Pagi ini ternyata sudah harus menghadapi kenyataan tentang sebuah tomat.


Belanja ke warung tetangga yang selang satu rumah pagi-pagi, lepas mengepel, ya sekitar jam 05.15. awalnya mau beli lauk saja, sebab sudah ancang-ancang masak sayur asem. Tapi sesampai di warung, patinnya begitu menggoda. Jadilah berubah pikiran, gak usah sayur asem, langsung saja asem-asem patin. Sayutnya cancel buat besok. Ahahahaha…


Patin kuambil, setelah itu ambil bumbu soto. Eh, ketahuan kalau gak bumbui sendiri! Biar saja, wakti mefet, Mak, daeipada telat ke kantor harus infak terpaksa 50k!!!!


Lanjut, setelah ambil ikan patin dan bumbu soto, aku mencari-cari bahan yang mewakili esensi asem-asem, antara belimbing wuluh, kedondong, atau tomat. Tapi tak tampak hidung mereka. Hidung tomat atau kedondong kayak apa ya?


“Belimbing wuluh wonten?” tanyaku pada penjualnya.


“Mboten wonten, wontene asem jawi,” jawabnya.


Aku menggeleng sambil senyum, setelah itu memberi keputusan, “tomat mawon.”


“Pinten?”


Haduh, berapa ya? “Kedik mawon,” jawabku.


Penjual itu langsung mengambil tomat yang terselip disebuah besek di dekatku. Aku tidak menyangka disitu tadi ada tomat, bahkan prediksiku itu adalah tomat alone, tomat jomblo yang bersembunyi di besek.


“Setunggal ewu.”


Aku kaget mendengar itu. Tomat sebuah, dengan kematangan masih 50% itu seharga seribu/buah?


Akhirnya aku pulang dengan membawa dua bungkus patin, bumbu soto yang siap pakai, dan sebuah tomat yang masih hijau kekuningan.


Sebenarnya mudah saja minta belimbing wuluh ke tetangga, kanan kiri tetangga ada yang punya pohon belimbing wuluh. Tapi rasanya ke rumah orang jam segitu akan menganggu privasi, itulah kenapa saya memilih beli, gak dapat pula. Hewhewhew!

Balik ke tomat yes, Idear! Pembahasanki bukan tentang harga murah atau mahalnya. Tapi kagetku adalah karena aku langsung terlempar berpikir saat-saat harga tomat jatuh, 800 rupiah/kg, bahkan sampai-sampai petani frustasi dan ada yang membuang seluruh hasil panen tomatnya ke parit. Uh, saking apanya ya??!!


Pertanyaan terbesarku, apakah ketika harga pasar itu anjlok bebas, harga pupuk juga anjlok bebas?


Tidak hanya tomat sih, barang-barang lainnya juga demikian, yang fenomenal adalah cabai.


Beberapa respon saat aku unggah bahasan ini ke status WA adalah sebagai berikut:

“Jangan mengeluh ke pemerintah, nanti disuruh nanam sendiri!”


“Nandur dewe, Syil! Enak gak mbas…”
Dll.


Ah, sudahlah! Lupakan, sepertinya sudah mulai berat obrolan kita yes!


Aku mau berbagi tip saja untuk asem-asem patin. Bumbunya:

  1. Bawang putih
  2. Daun salam
  3. Lengkuas
  4. Kunyit
  5. Ketumbar
  6. Belimbing wuluh/kedondong/tomat
  7. Irisan patin
  8. Garam
  9. Gula
  10. Jahe

Nah, simpel.kan? Cara mengolahnya, aku biasanya cukup iris-iris, disangrai, tuang air dan saat sudah mendidih patin yang sudah bersih dimasukkan, biarkan terpanasi beberapa menit ke depan.

Nah, kalau gak mau repot, saya tinggal beli bumbu soto, disangrai dengan bawang putih serta bawang merah sedikit, daun salam, kemudian tuang air hingga mendidih barulah masukkan patinnya.

Simpel kan, Idear! Salam tomat dari emak-emak! Wkwkwkwk….