Snorkeling di Gili Ketapang

Gali informasinya tentang Gili Labak, giliran berangkat tujuannya Gili Ketapang. Sebenarnya Gili Labak itu terinspirasi sama teman-teman FLP Jatim waktu itu Silatwil ke Gili Labak, Madura. Saat itu karena bersamaan dengan agenda kantor, saya absen. Dari hasil lihat-lihat poto yang diunggah teman-teman di grup jadilah mupeng.

Dari situlah, saat akhirnya jadi panitia liburan kantor, aku mengusulkan alternatif tujuan yang salah satunya Gili Labak. Tim liburan akhirnya cari info, termasuk aku, dengan sangat semangat menghubungi teman FLP Pamekasan yang dulu jadi panitia Silatwil FLP Jatim.

Gili Labak memang indah, dan bagus sekali untuk snorkeling, infonya demikian. Pun kondisi pantainya, masih dari sumber informan, masih sangat kondusif alias tidak banyak pencemaran. Lalu, apa yang membuat berpindah gili?

Ternyata, jauhnya pakai banget. Pihak travel tidak merekomendasikan saat peserta rihlah anak bayi-nya. Haduh, dari ini saja, mana mungkin! Di kantor, tahun ini, ada beberapa bayi mungil lahir. Nak kanak usia balita jangan ditanya, lumayan banyak. Yup, kantor kami produktif memang, termasuk dalam hal nak kanak.

Benarkah sebegitu jauhnya? Masih dari informasi, penyeberangan ke Gili Labak bisa 4 sampai 5 jam itupun jika gelombang laut bersahabat. Salah seorang anggota FLP Jombang sendiri komentar, “Jauh, Bun. Siap-siap mabuk laut!”

Nah, kan, jadi ngeri, belum juga berangkat liburan sudah disuruh siap-siap mabuk laut!

Dari situlah tujuan berubah. Jadilah kami pergi ke Gili Ketapang.

Rombongan ada sekitar 50 orang. Setengah di dalamnya adalah anak-anak, balita, dan bayi. Berangkat dari Jombang jam 06.00, perjalanan 3 jam dengan 2 kali rehat, sampailah di Pelabuhan Gili Ketapang. Seturunnya dari bus, langsung disambut guide yang cantik lagi ramah. Kami diajak naik ke kapal yang muat menampung jumlah kami.

Duh, Si Ayah, ke Gili ketapang pakai baju Singapore! Pas pulang malah pakai baju Manado oleh-oleh Bunaken. hahaha

Semua wajah merona, kena sinar matahari jelang siang. Emak-emak rempong pakai sunscreen dan sejenisnya, termausk aku. Bapak-bapak mulai mengenakan topi, kecuali suamiku, sibuk dengan tongsisnya dan ngajak poto. Perjalanan pakai kapal sekitar 30 menit, dan sampailah kami di Gili Ketapang.

Ini bukan suamiku, ini Pak Faishol, yang dengan terpaksa liburan menjomblo karena istri dan anaknya bertugas di negara api. Hehehe

Seperti namanya, gili, pulau kecil ini benar-benar kecil. Kami beruntung karena datang di hari Jumat, serasa pulau ini milik kami. Kabarnya, keesokan harinya sudah ada rombongan sekitar 300 orang yang akan berlibur kesini. Wow! Ada gazebo-gazebo bambu yang siap dikavling per keluarga. Tentu saja dekat sekali dengan pantai.

Sesampai di Gili Ketapang, bapak-bapak sudah bersiap diri untuk Salat Jumat. Emak-emak dan anak-anak mulai berkreasi. Yang punya bayi, pilihan terbaik adalah mulai menidurkan si kecil tanpa menyalakan kipas angin. Angin pantai sudah semilir. Kreasi yang lainnya palagi sekalian main di pantai.

Yang unik di pulau ini, menurutku adalah domba yang cara hidupnya mirip kucing. Kalau di desaku, domba diikat, ditempatkan di kandang khusus, dikasih makan dan minum. Nah, disini, domba tanpa tali, bisa jalan-jalan sesukanya, dan mengendus dan memakan apapun yang dapat dia jangkau. Duh, anak-anak senangnya bukan main, mereka malah mengejar domba-domba dengan riang. Bahkan kata suami saat di masjid juga domba-domba itu berkeliaran di halaman masjid, sampai-sampai menganggu jalan orang yang akan ke tempat wudhu. Mungkin karena tidak terbiasa, jadinya seolah menganggu.

Usai Salat Jumat, kami bersiap untuk snorkeling. Inilah yang ditunggu-tunggu, inti dari liburan kami kali ini. Wajib, poto dulu sebelum snorkeling. Rata-rata para jomblowati dan bapak-bapak yang snorkeling, emak-emak pada megangi anak-anaknya, lagi-lagi termasuk diriku. Byiuh, diriku sudah benar-benar jadi emak!

kembali kami naik kapal, menuju tengah laut, dan disitulah satu per satu menceburkan diri untuk snorkeling. Hemm… mupeng diriku! Ayahnya Dzulki sudah antusias, turun duluan dan dengan kemampuan renang yang sangat tipis berusaha menikmati asinnya air laut. Giliran salah satu ibu-ibu yang kelar nyemplung dengan dipegangi anak dan suami, aku maju untuk meminjam pelampung dan alat lainnya. Kemana, Mak? Snorkeling donk. Meski dipegangi suami terus. Hahahaha

Eh, Dzuki bagaimana? Dia anteng saja duduk didampingi temanku sambil menyemangati diriku yang terkatung-katung di laut.

Ini saat sudah selesai, mau naik, eh, lupa belum take a picture!

Pemandangan bawah lautnya bagus, ada ikan nemo, tapi aku tidak bisa poto. Sangat tidak kuat bertahan lama di air, ya, karena aku tidak bisa berenang. Inilah supernya, tidak bisa berenang tapi maksa buat snorkeling.

ini Pak Choifin. Nemonya sedang sembunyi.

Puas snorkeling kurang lebih 2 jam, kami balik lagi ke pulau kecil tadi. Menikmati makan siang yang sudah disiapkan dengan menu cumi asam pedas manis, ikan bakar, sambel pedes pakai banget, dan nasi yang hangat. Sedap banget, terlebih ikan bakarnya!

Oh, ya, kami ambil paket liburan Gili Ketapang ini biaya per orang 90k dengan paket lengkap. Mulai dari perahu selama liburan, makan siang, snorkeling plus poto di dalam laut. Untuk emak-emak dan anak-anak yang tidak snorkeling biayanya 50k/per orang.

Sore hari, sekitar jam 15.30 kami naik kapal untuk kembali ke Pelabuhan Gili Ketapang, lanjut pulang naik bus, mampir di pusat oleh-oleh Probolinggo sambil salat, lanjut lagi perjalanan, mampir di Mojokerto untuk makan malam. Sampai di Jombang jam 20.30.

Bagi sekawanan manusia yang lebih suka liburan tipis-tipis, seperti aku dan teman-teman di kantor, Gili ketapang cocok banget. Dari Jombang, tidak seberapa jauh, dan cukup memuaskan. Setidaknya, bagi orang Jombang, ketemu pantai ini istimewa.[]