Hai, Idear Para Traveller! Jangan ngaku traveller Jawa Timuran jika belum ke Sumber Maroon. Aku bukan traveller, tapi aku sudah kesana. Wkwkwkwk!

Rekreasi bareng teman-teman kantor yang selalu penuh guncangan. What? Guncangan sebenarnya. Bayangkan saja, benar-benar di luar prediksi. Kata panitia dari Jombang menuju Sumber Maroon dengan lewat tol hanya perlu waktu sekitar 2 jam. Nyatanya, 6 jam barulah menapak disana. Macet di Lawang dan Singosari memang tidak terbantahkan, tapi sebenarnya kemarin itu macet tidak terlalu, bahkan hanya merayap. Tapi jelas beda lah ya rayapan bus kapasitas 60 seats dengan motor. hiuhahaha!

Pulang pergi, asam lambung lincah meloncat-loncat, apalagi dua hari sebelumnya kena Kopi Challenge. Lengkaplah, obat lambung minum setiap 3-4 jam sekali. Bahkan temanku ada yang minum antangin dua kali saat berangkat. Haduhh! Benar-benar perjuangan, wisata tiket miring yang menguras mood perjalanan liburan. Suamiku sepanjang perjalanan komentar terus, “Ada orang rekreasi kok wajahnya stres begitu.”

Benar-benar melelahkan bagiku, Cinta! (Cie, tak lah kujawab itu di depannya, di hati saja. Wkwkwk…)

Lanjut cerita jalan-jalan ke Sumber Maroon yes!

Konon, Sumber Maroon ini adalah sebuah sumber mata air yang dimanfaatkan penduduk untuk memenuhi kebutuhan air, dari langsung dikonsumsi (air minum) sampai keseruan penduduk mencuci baju berjamaah. Namun, teman-teman UMM mengembangkan sumber ini menjadi wisata lokal yang seru.

Pengunjungnya di hari libur luar biasa. Sampai berdesak-desakkan. Tujuan mereka hanya satu, tubing. meluncur mengikuti arus sumber dengan ban yang harga sewanya hanya Rp. 5.000,- saja. Sekali sewa, bisa pakai sepuasnya. Mau bolak-balik hulu ke hilir sampai 10 kali juga bisa. tidak dipungut biaya lagi. Tubing berantai menjadi favorit pengunjung. Intinya disana bebas bermain air semodel yang disuka.

Sayangnya, wisata air tidak begitu menarik bagi Dzulki. Dia sangat anti kalau dengan air dingin. Es krim tak nak, es apapun tak nak. Berenang juga paling lama 30 menit. Nah, di Sumber Maroon kemarin, dia tidak basah sama sekali. hahahah… Hanya saat mau pulang, dia merapat ke pinggir sumber kemudian meraih air dengan telapak tangan dan membasuh wajah seperti gaya berwudhu.

“Sudah, Bu. Sudah basah.”

Hahahaha! Mungkin dia merasa bersalah, sebab aku hampir tiap menit bertanya, “Dzulki mau main air?”

Dan dia selalu bilang, “Enggak!”

Lucunya, setelah membasuh wajahnya, dia bilang lagi, “Sebentar sudah kering.” Wkwkwkwk….!

Oiya, tiket masuknya juga murah pakai bingitz. Dewasa Rp. 3.000,- dan anak-anak diatas 5 tahun Rp. 2.000.-. Jajajan disana juga sangat normal harganya. Mulai dari jajanan ala wisata, pop mie, es krim, dll. hingga pentol dan sosis raksasa yang dibakar, dan yang pasti khas jajanan Malang, sempol.

Karena Dzulki tidak mau main air, ayahnya juga di Cool Man yang tidak pernah berekspresi WOW, ditambah aku sedang tidak dalam mode waterproof (artikan sendiri, yang cewek pasti ngerti), akhirnya rekreasi kami bertiga adalah menikmati orang-orang tubing, berendam, dll. sambil makan es krim, sempol, pop mie, setelah itu poto-poto. Dan sesi poto selalu gagal, Dzulki susah diajak poto. sekali bisa emaknya yang tidak kompak berekspresi. Ya sudah, yang penting liburan.

Terus oleh-olehnya apa? Gak pake oleh-oleh, Idear! Hikz. Sungguh terlalu. Jauh-jauh dari Jombang ke Malang, gak ada oleh-oleh. Rencananya mampir di SAE Pujon, ternyata sampai sana susu segar habis. So, tetap kesana untuk sholat dan beli cilok. hahaha!

Lagi-lagi, ya sudah, yang penting liburan. Dzulki sangat menikmati pemandangan sepanjang tol alias pemandangan alat transportasi berat di proyek pembangunan yang masih terus berjalan. Emaknya menikmati tidur di bus dan ayahnya sibuk ngemong anak dan istrinya. Hihihi![]