Bilamana Kita Harus Berbagi?


Sabda Rasulullah saw.:
Dari Abu Musa Al-Asyary ra. dari Nabi Muhammad saw. bersabda, “Tiap-tiap
Muslim haruslah bersedekah”; Sahabat bertanya; “Bagaimana kalau dia
tidak mampu Ya Rasulullah?”; Nabi menjawab, “Dia harus berusaha
dengan kedua tangan (tenaga)nya hingga berhasil untuk dirinya dan untuk
bersedekah”; Sahabat bertanya, “bagaimana kalau dia tidak
mampu?”; Nabi menjawab; ” menolong orang yang mempunyai
kebutuhan dan keluhan”; Sahabat bertanya, “bagaimana kalau dia tidak
mampu?”; Nabi menjawab, “Dia melakukan sesuatu perbuatan baik atau
menahan dirinya dari perbuatan munkar (kejahatan) itupun merupakan shodaqoh
baginya”.
Allah swt.
berfirman:
…….. dan tetaplah kamu ber-INFAQ untuk agama Allah, dan janganlah kamu
menjerumuskan diri dengan tanganmu sendiri kelembah kecelakaan (karena
menghentikan INFAQ itu).” (Q-S. Al Baqarah ayat 195)
Dari firman Allah swt. dan sabda Rosul saw.,
maka telah sangat terang bahwa berbagi dalam bentuk infaq dan sedekah adalah
amalan yang implementasinya harus tumbuh subur dalam kehidupan kita. Dengan
upaya yang maksimal seperti yang termaktub dalam hadist diatas, saat tidak
mampu bersedekah dengan harta, maka ada alternatif-alternatif keringanan, yang
pada intinya adalah setiap muslim bersedekah, dalam keadaan sempit maupun
lapang. Dan Allah swt.telah memperingatkan agar kita tidak menjerumuskan diri
sendiri karena kita tidak berinfaq.
Sebuah potret hidup seorang sahabat yang
implementasi berbaginya (infaq dan sedekah) tumbuh mendarah daging, beliau
adalah Ikrimah, sosok yang jiwa dermanya luar biasa meski dalam keadaan sempit
sekalipun.
Terkisah, setelah masuk Islam, Ikrimah bersumpah,
“Demi Dzat yang telah menyelamatkanku di saat perang Badar.” Ia bersyukur
kepada Tuhannya karena ia tidak mati terbunuh dalam perang Badar. Ia masih
tetap hidup sampai akhirnya Allah pun memuliakannya dengan Islam. Ia selalu
membawa Mushaf sambil menangis, “Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.”
Pada saat perang Yarmuk meletus dengan
hebatnya dan pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam, maka singa yang
buas, Ikrimah, pun bangkit dan berkata, “Minggirlah wahai Khalid bin Walid,
biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi
Rasulullah saw. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi? Demi Allah
tidak, selamanya tidak akan terjadi!”
Ikrimah berteriak, “Siapakah yang akan
membaiatku untuk mati?” Pamannya, Harits bin Hisyam, dan juga Dhirar bin
Al-Azwar berdiri untuk membaiatnya. Ikut bersama mereka empat ratus pasukan
muslim. Mereka memasuki arena peperangan hingga mereka dapat mengalahkan
pasukan Romawi, dan Allah pun memberikan kemenangan dan kemuliaan bagi
pasukan-Nya.
Perang
pun selesai. Ikrimah tegeletak terkena tujuh puluh tikaman di dadanya. Sedang
di sampingnya adalah Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Al-Harits
memanggil-manggil meminta air. Namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan, maka
ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy bin Abi
Rabi’ah juga sangat kehausan. Ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ayyasy.”
Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air
dengan cepat menuju Ikrimah dan Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada.
Subhaanallaah!!!

Saudara, marilah
kita suburkan berbagi dengan sesama dalam diri dan hidup kita. Sempit dan
lapang hanyalah kondisi, bukan alasan berbagi atau tidak. Setiap detakan waktu
adalah kesempatan kita untuk beramal, dan berbagi tidak ada batasan waktu. Oleh
karena itu semoga kita semua senantiasa saling berbagi dengan kemampuan
masing-masing. []

Berbagi adalah Keseimbangan

….. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al-Mulk:3)
Allah menciptakan
segalanya adalah dengan prinsip seimbang. Dalam penciptaan langit, Allah
menciptakan pula bumi, dalam penciptaan malam, siangpun ada. juga laki-laki dan
perempuan, baik dan buruk, besar dan kecil, miskin dan kaya, hingga surga dan
neraka. Subhanallah! Semuanya seimbang.
Berbicara tentang
keseimbangan miskin dan kaya, dua keadaan ini adalah sebuah sunatullah dalam
hidup manusia. Kondisi ini akan tetap ada dalam kehidupan dan semua punya
peluang sama untuk mencapai salah satunya. Hanya saja setiap manusia berbeda
dalam menyikapi kondisi ini.
Bukan karena
bekerja manusia kaya dan karena tidak bekerja manusia miskin, karena bekerja
bukanlah sebab datangnya rezeki bagi manusia. Rezeki adalah pemberian Allah
swt. pemberian yang mana ada pertanggungjawaban bagi manusia. Nah, pertanggungjawaban
inilah yang kemudian membuat kondisi miskin dan kaya seimbang.
Allah SWT berfirman, Katakanlah:
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”.
dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan
Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba’ : 39)
Zakat dalam aturan
Allah swt. adalah ibadah wajib bagi ummat muslim. Dan ibadah ini adalah bentuk
menyeimbangkan antara miskin dan kaya.
Dalam QS At-taubah
ayat 103, Allah berfirman:
“Ambilah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

Rasulullah saw. juga bersabda, “Islam dibangun atas lima rukun : syahadat
“la ilaha illaLah muhammadar rosululLoh”,
menegakkan sholat, membayar
zakat,
menunaikan ibadah haji dan shoum di bulan ramadhan.”

Menurut bahasa, zakat adalah tumbuh (numuww),Suci (thaharah) dan bersih Berkembang
dan bertambah (ziyadah) , sedangkan menurut Istilah Fiqh artinya menyerahkan
sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orangorang
yang berhak menerimanya

Dari sini, maka tujuan zakat ada 2,
yakni:
Yang pertama, membersihkan : Membersihkan jiwa orang yang memiliki kelebihan harta
dari kekikiran, membersihkan hati fakir miskin dari sifat iri dan dengki, membersihkan
masyarakat dari benih perpecahan, dan membersihkan harta dari hak
orang lain
Tujuan zakat yang kedua adalah mengembangkan: Mengembangkan
kepribadian orang yang memiliki kelebihan harta dari eksistensi
moralnya, Mengembangkan kepribadian fakir miskin, mengembangkan dan
melipatgandakan nilai harta, sebagai Sarana jaminan sosial dalam islam
dan sebagai sarana mengurangi terjadinya kesenjangan sosial
Selain zakat, ada ibadah sunnah yang berkaitan dengan
harta, yakni infaq dan sedekah. Sebagai ibadah sunnah, infaq punya tujuan,
yaitu mengharap ridho Allah dan melatih diri untuk berbagi dengan yang
memerlukan. Dan manfaat sedekah adalah untuk dapat mencegah datangnya bala. Untuk
dapat memelihara harta dari hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk
mengharap keberkahan harta yang dimiliki.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:177)

Selain itu, ada juga firman Allah swt yang artinya:
Dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros.(QS.Al-Isra’:26)

Juga telah disampaikan bahwa bekerja merupakan bentuk
ikhtiarnya manusia memperoleh rezeki, namun, bekerja bukanlah sebab dari
datangnya rezeki karena rezeki itu adalah pemberian Allah swt. Manusia
mendapatkan rezekinya adalah karena Allah swt yang memberi, bukan karena ia
bekerja.
Oleh sebab itu, maka dalam penerimaan rezeki dari
Allah swt. disitu juga ada hak yang bukan hak kita. Dalam QS.Al-Isra’:26 yang
senada dengan QS.Ar-Rum:38, telah Allah swt. sampaikan bahwa dalam harta
(rezeki) yang kita terima ada hak orang lain.

Oleh karenanya, rezeki yang Allah berikan kepada
manusia bukanlah bulat-bulat milik kita pribadi, ada hak orang lain disana,
orng yang memerlukan. Dan saat kita menyerahkan hak mereka atas rezeki kita
maka Allah swt. menjanjikan pahala dan nikmat yang berlipat pula. Wallahu’alam
bish shawwab![
red-].