Palestina, Perjuanganmu Bukan Drama

Saat ada kesempatan interview Syekh Jehad beberapa hari yang lalu, pertanyaanku tentang Palestina terjawab sudah. Selama ini aku berpikir, tidakkah ummat muslim yang berjuang disana merasakan takut saat nyawa mereka seolah diujung pengakhiran? Apakah rasa takut itu benar-benar tidak ada, sedangkan mereka manusia-manusia biasa?

Takut adalah fitrah, tapi mengapa aku tak menemukannya di dalam perjuangan rakyat Palestina?

“Syekh, pernahkah pada satu titik, pejuang Palestina merasakan ketakutan saat melawan zionis?”

Syekh Jehad menjawab dengan suara rendah, “Na’am….”

Kemudian beliau menjelaskan, rasa takut ada sebab mereka adalah manusia biasa. Apalagi anak-anak, ada yang ditangkap oleh Yahudi, dan dia menangis takut. (Sampai di kalimat ini, dadaku sesak, ada tangis yang tertahan, membayangkan seorang anak menangis meronta saat tangan kecilnya dicengkeram musuh-musuh Allah swt.). Tapi, lanjut beliau, mereka selalu dikuatkan, diyakinkan oleh orangtua mereka, terutama ibunya, bahwa jihad ini untuk Islam, untuk Allah swt., dan syahid menjanjikan surga. Masyaallah!

(Menulis ini, dadaku kembali sesak)

Perjuangan saudara-saudara kita di Palestina bukan drama yang setiap adegannya bisa dinikmati ketegangannya. Perlawanan mereka terhadap musuh-musuh Allah swt.nyata. Penjelasan Syekh Jehad membuatku bangga sekaligus malu: Apa yang kurisaukan selama ini? Ujian-ujian hidup tak penting menyita banyak waktuku yang seharusnya termanfaatkan dengan maksimal.

Tugas perempuan Pelestina, kata Syekh Jehad, adalah menggantikan peran laki-laki. Mereka yang ada di garda terdepan saat penyerangan Al-Aqsha terjadi. Sebab banyak laki-laki Palestina yang ditawan, dipenjarakan. Maka, kesetaraan gender mana lagi yang sibuk digaungkan selama ini, jika di Palestina-pun perempuan maju, ikut berperang? Perempuan Palestina adalah perempuan yang kuat. Peran domestiknya ganda, memastikan anak-anaknya tumbuh dan kuat jasadiyah, fikriyah, dan rukhiyahnya. Hadir sebagai istri yang mengikhlaskan suaminya berperang, meninggalkan rumah tanpa ada jaminan pulang dengan atau tanpa suara salamnya lagi, dengan atau tanpa sapaan kasihnya lagi, dengan atau tanpa nyawa. Masih ada tambahan, mereka turut berjuang dengan segala jiwa mereka. Ini nyata, bukan drama.

Mendampingi anak-anaknya menghafal Al-Qur’an, menyiapkan makanan-makanan terbaik untuk jasadiyah mereka, dan terus menanamkan keyakinan betapa perjuangan ini untuk Allah swt. sehingga tidak perlu ragu, risau, bahkan takut. Jika teman-teman sempat melihat poto seorang balita, yang masih menggunakan popok begitu kuat dan pemberaninya mata bening itu. tangan kanannya memegang botol susu dan tangan kirinya menggenggam batu. (nyesek!)

Sekali lagi ini bukan drama, yang bisa dinikmati ketegangannya. Masih dari cerita Syekh Jehad, guru beliau, tempat beliau muraja’ah, dua kali masuk penjara karena ketahuan menyusupkan bahan pangan untuk pejuang Palestina. Sampai disini, bayangan saya Guru ini akan tenang di penjara biasa saja, dikurung, selesai.

“Di dalam sel beliau ada anjing, yang jika beliau duduk atau tidur, maka anjing itu menggonggong. Jadi, selama 2 mingguan beliau harus berdiri.”

Allahu Akbar, Allah yang menguatkan hamba-hamba-Nya!

Ini bukan drama yang bisa dinikmati ketegangannya dengan duduk menyeduh teh. Bukan! Perjuangan Palestina nyata, bukan drama.

Jika tidak mampu berjuang bersama mereka, siapapun itu, mohon tidak menikmati ketegangannya. Mohon tidak memandang remeh perjuangan mereka, para pejuang Al-Quds yang mungkin jika kita jadi mereka, kita tidak akan sekuat mereka.[]

 

Jombang, 28 Ramadhan 1439 H.