Tahun Kedua Dzulki di Rutaba

Satu sore saat Dzulki menikmati waktu-waktu menanti kereta api melintas, Ustadzahnya yang cantik nan baik hati merespon statusku yang kontennya poto itu.

Dzulki memang sangat suka dengan alat transportasi, kereta api, bus, mobil, dan sejenisnya. Tapi bukan itu yang hendak kubahas. Pesan ustadzahnya Dzulki, mengingatkan aku yang nyatanya Dzulki sudah satu tahun sekolah. Dalam beberapa hari kedepan, dia akan menjalani tahun kedua sekolahnya.

Ingat pasti dengan drama haru hura awal-awal dia sekolah. Emaknya yang baper nyetrum ke anaknya. Ahahahaha! Baca disini

Ada banyak pengalaman yang berhikmah di tahun pertama sekolah. Mulai dari kisahnya yang harus mengondisikan kesehatan fisik, hingga membangun mentalnya bersosial, bahkan eksplore potensinya. Usianya 3 tahun 8 bulan saat pertama sekolah. Semoga apa-apa yang sudah dia lalui setahun di sekolah menjadi bekal kebaikan untuk masa depannya kelak.

Tentang kesehatan, layaknya anak-anak usianya, aku harus jadi emak-emak super protective. Pneumonia katanya memang sakitnya anak-anak, tapi aku gak mau lengah. Semoga sehat selalu, dear!

Kisah tentang itu bisa baca artikelnya

Tentang mentalnya. Jiwa pemberaninya mulai tumbuh. Kemandiriannya sedikit demi sedikit terbina, dan seni mengambil keputusannya mulai nampak. Weh!

Dia sudah bisa menentukan sikap, ada kala dia tidak mau dipoto, tidak mau tampil, mau menghandle satu pekerjaan, mau menekuni satu kegiatan, dan seterusnya.

Kehidupan sosialnya juga mulai beragam. Pernah ustadzahnya sharing yang intinya Dzulki sangat polos, dia hanya kenal dunia ini putih dan sebagai emaknya aku diminta untuk mengenalkannya akan beragamnya warna dunia ini dan bagaimana dia harus menyikapi. Alhamdulillah, tidak sulit mengondisikannya tentang ini!

Yang masih jadi PR besarku dan ayahnya adalah mengajarkannya tentang sopan santun. Mungkin belum waktunya saja, kami akan bersabar. Jadi, sekarang, bagi Dzulki semua orang adalah temannya. Dia bertingkah layaknya dengan temannya. Masih PR banget mengenalkan padanya tentang hormat kepada yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Next artikel, aku akan share saat PR ini tuntas. Insyaallah.

Terakhir tentang eksplorasi potensinya. Ini bukan kesimpulan, bahkan masih terlalu dini untuk dijadikan asumsi awal. Dzulki beda denganku dan ini tantangan istimewa bagiku sebagai emaknya. Ahahahaha!

Melihat kemampuannya berkreasi pada gambar-gambar yang dia buat, jelas bukan aku asalnya. Di usianya 3 tahunan, dia sudah bisa menghambar detail barang yang ada di hadapannya. Sampai hal-hal terkecil dia mampu menggambarkan. Secara keindahan belum tentunya, tapi secara dasar bentuk, lekuk, dan tata letaknya membuatku kagum. Aku gak bisa gambar sama sekali soalnya. Heheheh….

Kalau untuk hafalan Al-Qur’an, aku akan sharing di artikel berikutnya ya, Moms! Insyaallah.

Yang jelas, masuk tahun kedua Dzulki di sekolah di Rutaba kali ini dramanya masih ada sih, meski tidak seheboh tahun pertama sekolah. Hari pertama: Dia sudah bilang “Aku gak mau sekolah” berujung dengan berangkat agak siang.

Hari kedua: drama tidak mau pakai sepatu. Okelah, pakai sandal jepit tayo kesayangannya.

Hari ketiga: Maksa bawa mainan truk tanki size besar nan panjang. Setelah nego alot dengan Ayah, jadilah bawa kepala truk-nya saja, tanki-nya ditinggal di rumah. Wkwkwkkw!

Hari keempat: Masih besok.

Ya, begitulah catatan drama sekolahnya seorang Dzulki. Idear Moms punya kisah unik juga tentang sekolah anak? Sharing, yuk![]