Tidak Berjodoh

Judulnya sedih gak sih? Kenapa membahas tentang tidak berjodoh, lebih baik membahas tentang jodoh, kasih yang bersambut, atau cinta yang bertemu. Eits, terkadang membahas yang pahit itu energi. Energi untuk kuat menjalani lakon kehidupan. Duh, anggap saja mirip saat membahas kopi, dia pahit tapi selalu dicari sebagai sumber inspirasi atau sekedar untuk kuat menjalani hidup. Eeaaa!

Pernahkah kamu mengalami patah takdir alias kecewa saat dia yang kamu anggap jodohmu ternyata menikah dengan orang lain, atau bahkan dengan sahabatmu sendiri? Uh!!!

Lalu apa yang kamu lakukan? Berdiam diri di sudut kamar sambil berlinang air mata bak model video klip lagu ratapan cinta tak bersambut atau kamu memilih jalan-jalan di taman bunga sambil nangis dan menyanyikan lagu layaknya drama film India?

Ssssttt! Sini, aku kasih bocoran. Jodoh itu tidak akan tertukar, guys! Tidak mungkin jodohmu tertukar dengan jodoh sahabatmu, mustahil jodohnya orang lain tertukar dengan jodohmu. Tidak akan terjadi!!!!

Sebab Allah swt.telah memasangkan masing-masing kita. Tertulis dengan rapi di lauhul mahfudz dan ini sempurna. Nah, jika lembaran tentang jodoh kita telah sempurna disusun di langit, kenapa pula kita begitu gusar saat dia (yang seolah-olah jodoh) ternyata menikah bukan dengan kita? Lucu gak sih? Kamu bisa ketawa sambil guling-guling mengingatnya kelak.

Ya, iya juga sih jika alasannya manusiawi menangisi dia (seolah-olah jodoh) yang menikah bukan dengan kita. Tapi, jangan terlalu ya! Satu atau dua tahun setelahnya, mengingat air mata dan sedihmu tentangnya bisa menjadi lelucon mandirimu atau bahkan kamu akan illfeel dengan dirimu sendiri.

Gak percaya?????

Oke, tentang tidak berjodoh. Kuyakinkan pada semua orang, percayalah bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan menyempurnakan! Pergaulan laki-laki dengan perempuan diatur sedemikian rupa sehingga hal-hal kecil akan menjadi solusi untuk permasalahan yang besar.

Dalam hal pernikahan, Islam telah memberikan petunjuk tata cara hingga tata laksana. Ini sudah sangat booming, banyak yang telah membahasnya. Aku sampaikan secara umum saja ya, tata cara pernikahan ada 3 yaitu:
1. Ta’aruf
2. Khitbah
3. Nikah

Ada adabnya saat melalui berbagai proses itu. Bukan sekedar menjalankan prosesnya. Adab-adab ini yang akan menjadi kekuatan, pondasi utama. Yang jika tahapan itu lancar hingga pernikahan maka kuatlah keberkahan pernikahannya, namun jika proses itu harus terhenti di salah satu tahapan maka tidak ada hati yang tumbang.

Oke, kita bahas yang pertama, ta’aruf. Ini adalah tahapan paling awal menuju pernikahan. Dimulai dengan ta’aruf proposal. Saling membaca data diri, melihat poto, hingga menggali informasi-informasi mendasar yang diperlukan.

Setelah saling oke barulah ta’aruf dengan bertemu dan saling bicara untuk saling mengenal dilakukan. Adab mendasar dari tahapan ini adalah keterlibatan orang shalih. Tidak benar ta’aruf itu berdua-duaan tanpa ada yang mendampingi. Tidak benar pula ta’aruf adalah kesempatan kita mengenal secara mendalam dan detail untuk hal-hal yang tidal sewajarnya. Sebab ta’aruf bukanlah pacaran syar’i. Dan tidak ada pacaran syar’i di semesta ini.

Kedua adalah khitbah. Tahapan ini bukanlah penentu pernikahan benar-bemar terjadi. Sehingga dalam tahapan ini tidak dibenarkan untuk membebaskan hati kita terbang menyusun sarang cinta bernama rumah tangga dengan dia. Ehm.

Ketiga adalah pernikahan. Pun jika khitbah telah dilalui, tidak berarti kebebasan hati sepenuhnya dibiarkan liar. Sebab dia belum pasti jodoh kita. Apapun bisa terjadi, salah satunya adalah pembatalan pernikahan.

Tidak ada jaminan sekali kita berproses maka terlampaui semua dengan lancar. Kemungkinan bisa saja terjadi hingga akad nikah terucap dan para saksi berucap sah. Namun, jika tahapan-tahapan itj dilalui dengan baik dan benar sesuai ketentuan Islam, maka kita akan siap menerima konsekuensi apapun dalam proses ini. Sekalipun jika dia yang telah bersama denganmu melampaui tahapan pernikahan ternyata tidak berjodoh.

Aku akan share kisah sebagai pelajaran dan semoga bisa diambil hikmah.

Sebelum benar-benar menikah dengan suami saya, eeccciiiee…. Aku pernah mengalami kegagalan di tahapan proses pernikahan. Berawal dari ta’aruf aku sudah sangat mantap. Tidak ada kejanggalan apapun di tahapan ta’aruf. Kami saling menerima prinsip dan orientasi-orientasi dan konsep pernikahan. Hingga khitbah dilaksanakan, dan benar-benar terlaksana dengan lancar. Namun setelah khitbah ternyata tidak pernah terjadi pernikahan.

Iya, sudah khitbah. Dua keluarga telah bertemu, duduk dan makan bersama. Saling bercengkerama dan diskusi tentang gambaran walimah, bahkan tetangga dan sanak saudara sudah mencicipi kue-kue hantaran yang dihias bagus, bahkan aku sudah menerima sebongkah seserahan yang disebut sebagai peningset, namu nyatanya tidak ada pernikahan yang terjadi.

Tapi apa yang aku rasakan? Sedih? Kecewa? Putus asa? Meratapi nasib?

TIDAK.

Tidak ada semua itu.

Justru aku legowo, lapang hati, dan ikhlas. Benarkah?

Baiklah, awal-awal aku sedih iya. Tapi hanya sebentar. Dan sedihku bukan tentang aku dan dia yang tidak berjodoh. Sedihku adalah tentang ketidaksiapanku menguatkan keluarga. Meyakinkan orangtua bahwa ini takdir yang harus diterima.

Pasti, untuk pernikahan, orang yang palinh bahagia bukanlah kita, tapi kedua orangtua kita. Ini berlaku sebaliknya, saat ada kegagalan kita menuju pernikahan, maka yang paling sakit adalah orangtua kita.

Saat aku terima takdir tidak jadi menikah dengan dia meski telah khitbah, saat itu pula orangtuaku masih terus berusaha melawan takdir. Mencoba memberikan beberapa solusi untuk kemungkinan pernikahan terjadi. Kenapa aku begitu mudah menerima sedang orangtuaku tidak?

Sebab aku tidak pernah berusaha melabuhkan kecenderungan hati padanya selama menjalani tahapan-tahapan itu. Aku tidak pernah berharap apapun padanya. Sedangkan orangtuaku, jelas ada harapan untuk pernikahan anaknya. Ini sangat wajar.

Tentang aku yang begitu mudah menerima, kok bisa? Iya, bisa. Sebab sebelumnya kami tidak saling kenal, hanya saling tahu. Dari awal aku telah berazzam untuk tidak komunikasi apapun selama proses terjadi. Nomor hape di biodata sama sekali tidak kusentuh. Segala komunikasi kami melalui ustadz/ah yang mendampingi. Bajkan sampai khitbah tidak sekalipun aku menghubunginya secata pribadi, begitu pula dengan dia.

Adab ini memberi solusi sangat dahsyat saat kemungkinan gagala terjadi. Saat tahu tahapan usai di khitbah saja tanpa ada pernikahans. Satu yang muncul dalam doa: Semoga kami saling ikhlas dan segera bertemu dengan jodoh masing-masing.

Aku menerima ini dengan dua kata saja: TIDAK BERJODOH. Tanpa tapi.

Setiap ditanya kenapa tidak jadi menikah dengannya? Kok bisa gak jadi nikah?

Jawabannya: TIDAK BERJODOH.

Andai saja mau dibahas, bisa saja aku bilang: Tidak berjodoh, tapi sebenarnya kami saling cocok saat ta’aruf. Tidak berjodoh, tapi sebenarnya kami telah berusaha dengan penuh pengorbanan. Dst.

Saat itu aku memilih dua kata saja untuk menjawab tanya orang atau bahkan tanya dari diriku sendiri: TIDAK BERJODOH.

Ini lebih membuat hati lapang. Bahkan tidak ada prasangka diantara siapa saja. Tidak menyisakan kecewa atau bahkan dendam. Islam telah mengaturnya sedemikian rupa. Membatasi pergaulan lawan jenis, mengajarkan adab-adab yang ada sehingga membawa kemaslahatan bagi manusia.

Sebaliknya, jika manusianya sendiri yang melanggar, tidak menegakkan aturan dan adab-adab, maka manusia akan rapuh. Ini yang banyak kita jumpai di kalangan muda mudi. Melihat gebetan jalan dengan yang lain, hatinya sudah patah. Menerima undangan mantan, jatuh pingsan. Putus cinta, bunuh diri. Uh, tragis!!

Sekali lagi, jodoh tidak akan tertukar. Jadi, jalani hidup dengan taat aturan, perhatikan adab, insyaallah apapun takdir yang turun, kita akan menerimanya dengan lapang. Jodoh itu tidak perlu dirisaukan siapa dan kapannya, sebab Allah swt.telah menyusunnya dengan sempurna di langit. Yang perlu kita risaukan adalah kesanggupan kita menjunjung islam sebagai landasan kita menuju pernikahan. Iya kan?[]